KTT APEC 2024 dibayangi kecemasan tentang perang dagang kian parah di era Donald Trump. Biden-Xi direncanakan bertemu di forum itu.
15 Nov 2024 09:24 WIB · Internasional
LIMA, JUMAT — Menteri Luar Negeri Sugiono menyoroti paradoks digital yang masih tajam di kawasan Asia Pasifik di salah satu pertemuan menteri dalam rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (KTT APEC) di Lima, Peru. Ia mendampingi Presiden Prabowo Subianto yang hadir dalam KTT APEC. Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Joe Biden dijadwalkan bertemu secara bilateral di sela-sela forum itu.
Sugiono mengungkapkan keprihatinan soal paradoks digital itu saat menjadi pembicara dalam pertemuan menteri APEC, Kamis (14/11/2024) waktu setempat atau Jumat (15/11/2024) waktu Indonesia. Paradoks digital yang ia maksud adalah di satu sisi kawasan Asia Pasifik merupakan pusat inovasi digital termaju di dunia. Di sisi lain terdapat kesenjangan yang sangat tajam.
Hal ini mengancam jutaan orang di kawasan yang bisa tertinggal dalam ekonomi global. Ini berdampak pada kemiskinan dan kesenjangan ekonomi yang kian parah.
”Saat ini, kawasan Asia Pasifik menghadapi paradoks. Asia Pasifik merupakan rumah bagi beberapa ekonomi digital dan pusat inovasi termaju di dunia. Namun, di sana juga kesenjangan digital tampak besar, yang mengancam akan meninggalkan jutaan orang di belakangnya,” kata Sugiono di hadapan para menteri dan delegasi yang hadir.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/15/135c3f766e82ffedc866dfb9f8b34a00-PHOTO_2024_11_15_06_48_43_2.jpg)
Keprihatinan Sugiono berdasarkan data dari statistik Persatuan Telekomunikasi Internasional (ITU). Data ITU memperlihatkan lebih dari 1,7 miliar orang di Asia Pasifik tidak memiliki akses internet.
Selain itu, hampir 70 persen pekerja berpenghasilan rendah dan menengah atau sebagian besar di negara-negara itu tidak memiliki keterampilan digital dasar. Hal ini membatasi partisipasi mereka dalam ekonomi digital.
Dari sisi jender, kaum perempuan di kawasan Asia Pasifik juga mempunyai kesempatan 20 persen lebih kecil untuk memperoleh akses ke internet. Hal-hal tersebut akan memperparah kesenjangan ekonomi dan sosial dari banyak sisi.
Menurut Sugiono, tantangan-tantangan ini mendesak diatasi. Bagi Indonesia, katanya, inovasi dan digitalisasi bukan sekadar alat. Keduanya adalah mesin transformasi ekonomi.
”Karena kita bercita-cita bergabung dengan lima ekonomi teratas dunia pada tahun 2045, kita harus memanfaatkan inovasi dan teknologi digital untuk menjembatani kesenjangan dan mengangkat semua lapisan masyarakat,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/14/edfc12dd40613778cbec00cc905a5f22-000_36MF2XH.jpg)
Sugiono mengatakan, Indonesia menyadari bahwa membangun infrastruktur digital yang kuat adalah langkah awal yang penting dalam perjalanan ini. Tanpa akses yang adil ke teknologi digital, peluang ekonomi tetap terkonsentrasi di antara orang-orang yang memiliki hak istimewa.
Indonesia juga menyadari akses ke infrastruktur digital harus disertai upaya meningkatkan keterampilan dan melatih kembali sumber daya manusia. Salah satunya dilakukan lewat program Inisiatif Desa Digital Indonesia. Program ini bertujuan membekali masyarakat perdesaan dengan keterampilan dan alat yang diperlukan untuk berpartisipasi dalam ekonomi digital.
Menurut Sugiono, program semacam itu menjembatani kesenjangan digital dengan memastikan kelompok rentan dan terpinggirkan dapat mengakses peluang dalam ekonomi formal.
Ia mengakui, transisi ke ekonomi formal memerlukan biaya dan menghadapi risiko besar, di antaranya potensi kehilangan pendapatan bagi mereka yang saat ini bergantung pada sektor informal.
Selain itu, dibutuhkan investasi sangat besar untuk membangun sistem pendukung. Namun, kata Sugiono, Indonesia yakin hal ini dapat dikurangi melalui strategi yang bertahap dan inklusif.
Saat ini, kawasan Asia Pasifik tengah menghadapi paradoks. Asia Pasifik merupakan rumah bagi beberapa ekonomi digital dan pusat inovasi termaju di dunia. Namun, di sana juga kesenjangan digital tampak besar.
Dalam paparannya, Sugiono menyebutkan, Indonesia telah menerapkan beberapa inisiatif untuk memfasilitasi transisi digital, di antaranya peningkatan akses ke pembiayaan untuk usaha mikro dan kecil, program pelatihan kewirausahaan, dan perlindungan jaminan sosial bagi pekerja sektor informal.
”Langkah-langkah ini tidak hanya memudahkan transisi, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat kita secara keseluruhan,” katanya.
Sugiono menyoroti pentingnya menjembatani kesenjangan digital di kawasan Asia Pasifik pada pemberdayaan perempuan. Hal ini termasuk menyediakan akses yang terjangkau ke perangkat, pelatihan keterampilan, dan strategi inklusif untuk mengintegrasikan perempuan ke dalam tenaga kerja digital.
Sebagai bagian dari upaya ini, Indonesia telah menerapkan kebijakan yang responsif jender. ”Dengan memprioritaskan upaya ini, kita dapat memastikan setiap orang, terlepas dari jenis kelamin atau latar belakang, dapat berkembang baik dalam ekonomi formal maupun global,” ujarnya.
Sugiono mengatakan, kemampuan Asia Pasifik menjembatani kesenjangan digital sangat penting untuk membuka potensi besar bagi pertumbuhan dan ketahanan. Ia mengatakan, kawasan Asia Pasifik memiliki potensi memimpin inovasi digital secara global.
Oleh karena itu, salah satu tujuan yang harus dikejar adalah memastikan Asia Pasifik dapat menjadi pemain utama dalam ekonomi digital. ”Mari kita pastikan tidak ada yang tertinggal saat kita merangkul era digital dan berusaha untuk menjadi pemimpin global dalam ekonomi digital,” ujar Sugiono.
Presiden Prabowo tiba di Bandara Internasional Jorge Chaves di Lima, Peru, Rabu (13/11/2024) malam, untuk mengikuti KTT APEC. Pada Kamis (14/11/2024) waktu setempat, Presiden Xi dan Presiden Biden tiba untuk hadir di forum yang sama.
Xi dan Biden dijadwalkan menggelar pertemuan bilateral pada Sabtu (16/11/2024) pekan ini. Hasil pertemuan sangat dinantikan, terutama di tengah kecemasan dunia akan semakin parahnya perang dagang China dan AS di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump yang segera datang.
Seorang pejabat Pemerintah AS mengatakan, pertemuan bilateral mereka kemungkinan akan menjadi pertemuan terakhir di antara pemimpin dua perekonomian terbesar di dunia sebelum Biden menyerahkan kendali kembali kepada Trump.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/15/766a92c4-4d4b-4f39-8d6d-0ee1c4435677_jpg.jpg)
Pada Kamis, para menteri APEC, termasuk Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken, mengadakan pertemuan tertutup untuk mengatur pertemuan bilateral Xi dan Biden. Pejabat Gedung Putih menegaskan, kunjungan Biden akan bersifat substantif. Sejumlah isu yang akan dibahas antara lain soal iklim, infrastruktur global, dan upaya antinarkotika.
Biden juga akan bertemu dengan Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba dan Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol pada Jumat (15/11/2024). Keduanya sekutu utama AS di Asia.
Sebelum meninggalkan Tokyo untuk menghadiri KTT APEC, Ishiba mengatakan, pembicaraan dengan Biden akan diupayakan untuk meneguhkan dan meningkatkan kerja sama trilateral AS, Jepang, Korea Selatan.
Mengenai China, Ishiba mengatakan, ada masalah di antara kedua negara. Namun, ada pula masalah yang harus ditangani bersama. ”Saya ingin bertukar pendapat secara terbuka tentang masalah ini,” kata Ishiba.
China bukan satu-satunya negara yang menjadi sasaran ekonomi Trump. Pemimpin AS yang baru terpilih itu mengancam akan mengenakan tarif sebesar 25 persen atau lebih atas barang-barang yang berasal dari Meksiko, yang juga anggota APEC, kecuali jika negara itu menghentikan serangan penjahat dan narkoba yang melintasi perbatasan.
Pertemuan Biden dengan Yoon dan Ishiba akan bertujuan memperkuat kemajuan yang telah dibuat sejak pertemuan awal mereka tahun lalu. Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih Jake Sullivan mengatakan, hal itu termasuk memperketat kerja sama keamanan dan ekonomi di tengah hubungan yang semakin tegang dengan China dan Korea Utara.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/15/9e1c3fff472af74f1204ec171c90e023-000_36MJ8UR.jpg)
Pertemuan tersebut juga akan menjadi kesempatan bagi mereka untuk membahas pasukan Korea Utara yang dikirim ke Rusia untuk membantu perang di Ukraina.
Sullivan mengatakan, pemerintahan Biden berupaya memastikan pertemuan tiga negara itu menjadi ciri kebijakan AS dan diharapkan dapat terus berlanjut di bawah Trump. Namun, kata Sullivan, hal itu tergantung tim presiden yang akan datang.
Biden berada di Peru sehari setelah bertemu dengan Trump di Gedung Putih. Mereka berdiskusi tentang konflik di Gaza, Lebanon, dan Ukraina. ”Saya ingin, saya meminta, pandangannya, dan ia memberikannya kepada saya,” kata Trump seperti dikutip dari media The New York Post .
Sullivan mengindikasikan, pejabat Gedung Putih juga menjelaskan kepada tim Trump bahwa hubungan AS-China yang rapuh adalah prioritas utama bagi pemerintahan yang akan datang. Ia menekankan, risiko terganggunya stabilitas di Selat Taiwan akan menjadi bencana bagi semua orang yang terlibat, baik bagi Taiwan, China, AS, maupun dunia.
”Karena besarnya risiko, meskipun tidak terlalu mungkin, itu adalah sesuatu yang harus menjadi prioritas utama,” kata Sullivan saat menggelar jumpa pers di pesawat kepresidenan AS, Air Force One.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/15/5be08b2b2d8b488f09a7a88150a69f0e-000_36MK46A.jpg)
Dibentuk pada 1989 dengan tujuan liberalisasi perdagangan regional, APEC beranggotakan 21 negara yang secara total mewakili sekitar 60 persen dari produk domestik bruto (PDB) dunia dan lebih dari 40 persen dari perdagangan global.
Program APEC difokuskan pada perdagangan dan investasi sebagai pertumbuhan inklusif. Pertemuan puncak di Peru dihadiri pula oleh Kanada dan Australia. Presiden Rusia Vladimir Putin memastikan tak hadir meskipun Rusia anggota APEC.
Ketidakpastian atas langkah ekonomi Trump selanjutnya membayangi pertemuan itu. Agenda ”America First” Trump dicirikan oleh sikap proteksionis terhadap perdagangan global, ekstraksi bahan bakar fosil, dan konflik asing.
Hal ini mengancam aliansi yang telah dibangun Biden pada berbagai isu, mulai dari perang di Ukraina dan Timur Tengah hingga perubahan iklim dan perdagangan.
Trump sebagai presiden terpilih AS telah mengancam akan mengenakan tarif hingga 60 persen pada impor barang-barang China. Namun, para ekonom mengatakan, pungutan yang bersifat menghukum akan merugikan ekonomi AS dan memengaruhi perdagangan dengan negara-negara tetangganya dan Eropa.
Selama ini, China memperluas pengaruhnya ke negara-negara anggota APEC di Amerika Latin melalui pembangunan infrastruktur dan proyek-proyek lain di bawah Inisiatif Sabuk dan Jalan.
Pada Kamis, Xi meresmikan pelabuhan pertama yang didanai China di Amerika Selatan, di Chancay, sebelah utara Lima. Dalam artikel yang ditulis untuk surat kabar El Peruano, Xi mengatakan, Beijing siap bekerja sama dengan Lima menuju multilateralisme sejati dan globalisasi ekonomi yang inklusif dan bermanfaat secara universal.
Dikutip dari media yang berafiliasi dengan Pemerintah China, Global Times, dalam pesan ucapan selamat kepada Trump, Xi meminta AS dan China dapat mengelola perbedaan dan bergaul di era baru. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan