Shortell menyebut layanan medik itu unik, mengapa? Tidak boleh ada perbedaan kualitas pada penanganan pasien karena melanggar etika dan hukum.
07 Nov 2025 17:00 WIB · Artikel Opini
Kompas/Heryunanto
Pertanyaan dalam judul pasti muncul di hati setiap pasien saat didiagnosis terkena penyakit serius. Sayangnya pasien tidak sepenuhnya paham, rumah sakit mana yang tepat untuk dirinya.
Situasi menjadi kian tidak menentu. Dalam 10 tahun terahir, pertumbuhan RS di Indonesia luar bisa, terutama di kota besar. RS besar, mewah, dan megah muncul bak jamur. Hal seperti ini tidak terjadi di negara lain. Pilihan pasien pun semakin banyak, tetapi semakin membingungkan. Apalagi, dengan kehadiran era media sosial, promosi kesehatan tidak terbendung lagi. Promotion is all about perception. Pesan Philip Kotler ini jeli ditangkap oleh pebisnis layanan medik. Tampilan di layar media sosial begitu menarik, perang persepsi tak terelakkan. Menyedihkan banyak dokter dan testimoni pasien tampil sebagai aktor promosi. Semangat menjual begitu besar membuat batas etika kian kabur. Di sisi lain, pasien semakin bingung memilih.
Kees Bertens, tokoh etika kelahiran Tilburg, Belanda, pernah mengingatkan, pasien bukan konsumen. Syarat sebagai konsumen, dia harus punya posisi tawar yang berimbang. Pasien tidak memiliki syarat itu. Dia dalam posisi terdesak saat membeli, dia tidak sepenuhnya tahu apa yang harus dia beli. Saat itu, terjadi hubungan yang sakral, kepercayaan dan pasien yang berserah diri. Dokter yang memutuskan, dia patuh dan dia membayar harga yang dia tidak tahu pasti dari mana asal hitung-hitungannya. Tanda tangan persetujuan berarti dia bersedia menerima segala risiko.
”Menempatkan pasien sebagai konsumen itu sungguh tidak tepat. Setiap pasien harus dilindungi,” kata Bertens.
Hadirnya era teknologi membawa harapan baru bagi dunia medik. Namun, anehnya, Thomas H Lee justru cemas. Profesor Harvard Medical School itu meramal pelayanan kesehatan akan berubah wajah. Mekanisme pasar akan mendorong terjadinya cutthroat competition. Lee mengingatkan, jika tidak dikendalikan dengan ketat oleh pemerintah, terjadi kekacauan.
Tiga hal wajib dilakukan pemerintah untuk mencegahnya. Pertama, pelayanan medik fundamental harus berubah. Layanan fragmented (doctor oriented) menjadi layanan integrated (system oriented). Kedua, peer group harus dihadirkan untuk memantau ketepatan dan keamanan setiap tindakan medik. Ketiga, setiap tindakan medik harus sepenuhnya terukur. Di sini perangkat outcome measurement di RS harus sudah siap mengukur setiap tindakan medik.
Presentasi Michael Porter tahun 2010 di Princeton University mengejutkan dunia, Hospital’s success is not identic with patient’s success. Porter cemas, ledakan teknologi akan mendorong RS untuk terus menerus menambah investasi. Ujungnya nanti pasien juga yang harus membayar dan menanggung segala risiko penggunaan teknologi baru itu. Tidak adil kata Porter, semangat layanan harus berubah, from maximal utilization to optimal patient care. Harus ada cara untuk menjaga kepentingan dan keselamatan masyarakat.
Dari sana, lahirlah konsep value based care, konsep layanan yang mengaitkan langsung biaya dengan keuntungan yang diterima pasien, artinya hasil setiap tindakan medik di RS harus diukur. Formula nya jelas: value = outcome/$ spent. RS dikatakan baik jika outcome tinggi, biayanya rendah. RS tidak baik jika outcome-nya tinggi, biaya tinggi. RS yang outcome buruk dilarang beroperasi karena membahayakan masyarakat. RS yang outcome-nya buruk, tetapi biayanya mahal jelas RS itu sedang melakukan kejahatan kemanusiaan. Harus diberi sanksi. Di sini pemerintah harus hadir menjaga masyarakat.
Layanan medis mempunyai dua sisi: Medical product is about what they get dan medical services is about how they get. Dengan kata lain, sisi medik dan ada sisi ”hotel”-nya. Keduanya memberi pengaruh pada isu terpenting saat ini. Sejatinya pasien hanya bisa merasakan cara melayaninya saja, tapi tidak mampu menilai kualitas tindakan medik yang diterima. Jadi, istilah ”terbaik” tidak sesuai untuk tindakan medik, mengapa? Terasa lebih menekankan pelayanannya, sangat beraroma jualan. Istilah ”penanganan yang tepat”, lebih sesuai secara etika. Lebih fokus pada apa yang diterima ketimbang cara melayaninya.
Barbara Starfield menyatakan kepuasan pasien tidak linier dengan ketepatan tindakannya. Pelayanan yang wah dan gedung mewah, tidak menjamin tindakan mediknya tepat. Pesannya, RS tidak boleh kompromi dengan tata penanganan pasien, tetapi jangan berlebihan dalam cara melayani. Semua hanya menambah biaya yang tak perlu saja dan ahirnya dibebankan ke pasien. ”We pay the food not the plate,” kata Starfield. Sebagus apapun piring tidak akan bisa menggantikan rasa makanan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/03/1cc7844b2d921c3907272134e2f29288-20250403_Opini_Refleksi_13_Tahun_Membangun_Universal_Health_Coverage_di_Indonesia.jpg)
Tentu sulit menerima penjelasan di atas tanpa contoh. Pengalaman diri sendiri, pada 2023 lalu, setelah 20 tahun pasang pacemaker, saatnya saya harus ganti yang ketiga kali. Rencana Juli 2023 dilakukan di RS swasta X Jakarta, total biaya di atas Rp 500 juta. Keponakan yang dokter spesialis jantung kaget, ”Mahal banget, coba second opinion.” Di RS swasta Y Jakarta, Rp 340 juta. Akhirnya diputuskan ke Australia. Untung asuransi berlaku. Atas rujukan GP (general practice, dokter umum) saya menjalani operasi ganti pacemaker di salah satu rumah sakit di Melbourne, Oktober 2023. Biayanya Rp 180 juta (kurs rupiah saat itu) dengan jenis pacemaker yang sama dengan di Jakarta. Mengapa tidak ke BPJS? Ada alasan tersendiri.
Selanjutnya, pertama saat pulang saya diberi patient experince survey form dari asuransi. Saya tulis jujur, semua excellent. Kedua, semua berkas laporan dan hasil survei ditembuskan ke email GP yang mengirim. Terasa benar mekanisme kontrol sistem berjalan optimal, sungguh saya merasa benar-benar terlindungi. Ketiga, RS tempat saya berobat adalah rumah sakit top di Melbourne. Namun, bangunannya kuno sederhana, biasa saja, tidak ada lobi mewah. Di depan cardiology wing, hanya ada kios kecil yang dijaga satu orang. Tampak benar upaya efisiensi dilakukan maksimal. Tidak ada sedikitpun belanja RS untuk kemewahan hotel side RS. Semua fokus pada optimal patient care.
Keempat, tidak ada iklan, promosi medsos atau terlihat aktor podcast jualan layanan medis. Orientasi ekosistem RS rapi mengatur ke mana pasien bisa/harus memperoleh layanan yang tepat, masyarakat terlindungi. Tidak ada tempat lagi untuk beriklan. Kelima, peran GP dalam rantai ekosistem penanganan pasien sangat penting. GP adalah koordinator, evaluator dan co-manage, yang menjaga agar layanan transparan, sepenuhnya terkontrol dan terintegrasi.
Shortell menyebut layanan medik itu unik, mengapa? Tidak boleh ada perbedaan kualitas pada penanganan pasien karena melanggar etika dan hukum karena menyangkut keselamatan pasien. Jika tidak ada perbedaan kualitas tentu tidak boleh ada perbedaan harga layanan. Pertanyaannya, apa yang sedang terjadi di dunia medis di negeri ini? Apakah arah perjalanan dunia medik dinegeri ini sudah benar?
Saatnya kita renungkan kembali pesan Avedis Donabedian, sang guru perumah-sakitan dunia: Healthcare is a sacred mission, it is a moral enterprise and scientific enterprise, but not fundamentally commercial one. We are not selling product. Doctors and nurses are stewards of something precious. The secret of quality is love. Benar, tugas RS bukan jualan produk kesehatan, melainkan ada misi yang jauh lebih sakral.
Ario Djatmiko, Pengamat dunia kedokteran
Penulis:
Ario DjatmikoEditor:
Johanes Waskita UtamaPenyelaras Bahasa:
Yuliana Karim