Di Tengah Gelombang Serangan ke Ukraina, Menlu AS-Rusia Bertemu

Rubio dan Lavrov menyatakan berbagi "ide baru" soal perang di Ukraina. Namun, ide itu tak lantas menuju ke perdamaian.

10 Jul 2025 20:44 WIB · Internasional

Oleh Iwan Santosa

KUALA LUMPUR, KAMIS — Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov bertemu di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis (10/7/2025). Pertemuan digelar di tengah gelombang serangan Rusia ke Ukraina.

Rubio mengatakan, mereka berdua berbagi ”ide baru” soal Ukraina dalam pertemuan itu. ”Ini bukan pendekatan baru. Ini ide baru atau konsep baru yang akan saya bawa kembali ke Presiden (Donald Trump) untuk dibahas,” kata Rubio kepada wartawan.

Ia menambahkan, ide baru itu tidak otomatis menuju ke perdamaian. Namun, ide itu berpotensi membuka pintu menuju perdamaian.

Kepada Lavrov, Rubio menyampaikan ”kekecewaan dan frustrasi” Trump terhadap lambatnya kemajuan penyelesaian Perang Ukraina. ”Saya menggemakan yang dikatakan presiden, baik kekecewaan maupun frustrasi, atas kurangnya kemajuan,” ujar Rubio.

Sementara Kementerian Luar Negeri Rusia menyebutkan, Lavrov dan Rubio bertukar pikiran secara terus terang soal Perang Ukraina dalam pertemuan itu. ”Pertukaran pandangan yang substantif dan terus terang berlangsung dalam penyelesaian situasi di Ukraina,” sebut pernyataan Kemenlu Rusia.

US Secretary of State Marco Rubio Marco Rubio (C) walks with Malaysia's Foreign Affairs Minister Mohamad Hasan (R) before the ASEAN Post-Ministerial Conference with the United States during the 58th Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) Foreign Ministers’ meeting and related meetings at the Convention Centre in Kuala Lumpur on July 10, 2025. (Photo by MOHD RASFAN / AFP)

Dalam pernyataan yang dirilis tak lama setelah pertemuan, Kemenlu Rusia menyebutkan, kedua negara menegaskan kembali komitmen masing-masing untuk menemukan solusi damai atas konflik yang terjadi. Mereka juga membahas bagaimana memulihkan perekonomian AS-Rusia dan kerja sama kemanusiaan.

”Pentingnya kerja lebih lanjut untuk memulihkan hubungan diplomatik secara bilateral juga dibahas,” sebut pernyataan itu.

Ini merupakan pertemuan kedua Rubio-Lavrov. Mereka bertemu pertama kali pada Februari di Riyadh, Arab Saudi, saat pemerintahan Trump mengupayakan perdamaian Ukraina-Rusia.

Pertemuan mereka di Malaysia berlangsung selama 50 menit. ”Kami perlu melihat peta jalan yang maju tentang bagaimana konflik ini bisa berakhir. Kami berbagi beberapa ide tentang seperti apa kelihatannya nanti. Kami akan terus terlibat untuk mencari peluang guna membuat perbedaan,” papar Rubio.

Rubio dan Lavrov sama-sama menghadiri pertemuan para menteri ASEAN (AMM). ASEAN bersama para mitra wicara, seperti Jepang, China, Korea Selatan, India, Australia, Rusia, dan AS, yang membahas kerja sama dan berbagai isu regional dan global.

Russia's Foreign Minister Sergei Lavrov, left, departs after a meeting at the 58th ASEAN Foreign Ministers' meeting and related meetings at the Convention Centre in Kuala Lumpur on July 10, 2025. (Mandel Ngan/Pool Photo via AP)

Serangan Rusia

Pertemuan Lavrov-Rubio digelar di tengah serangan gencar Rusia ke Ukraina, Kamis. BBC melaporkan, sekurangnya 728 pesawat nirawak (drone) dan 13 rudal Rusia ditembakkan ke Ukraina. Ini serangan besar ketiga dalam dua pekan terakhir.

Ratusan drone dan rudal Rusia itu menyasar ibu kota Ukraina, Kyiv, dan wilayah lain di Ukraina. Serangan itu menghantam delapan distrik di Kyiv. Dua orang dilaporkan tewas dan 23 orang terluka akibat serangan itu.

”Perumahan, mobil, gudang, kantor, dan berbagai bangunan lainnya terbakar,” kata pejabat setempat, Tymur Tkachenko, dalam akun Telegram.

Raungan sirene tanda bahaya serangan udara menggema di seluruh kota sepanjang malam. Terlihat kilatan api dari berbagai senjata artileri pertahanan udara menerangi gelapnya malam saat serangan Rusia terjadi.

Warga kota berhamburan menyelamatkan diri berlindung di stasiun kereta bawah tanah. Mereka tidur di lantai beralas tikar, membawa hewan peliharaan, sambil menunggu serangan udara Rusia mereda.

Ledakan dan senapan mesin antipesawat mengguncang kota. Jendela-jendela bergetar dan meledak, mobil-mobil terbakar. ”Ini teror karena terjadi setiap malam saat orang-orang tidur,” ujar Karyna Volf (25), warga Kyiv yang buru-buru keluar dari apartemennya sebelum dihantam drone.

Petugas pemadam kebakaran Ukraina memadamkan api di sebuah bangunan tempat tinggal menyusul serangan rudal dan pesawat nirawak Rusia di Kyiv, Ukraina, Kamis (10/7/20250. Serangan ini menewaskan dua orang dan belasan mengalami luka-luka.

Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan mereka menghantam target ”industri militer” di Kyiv dan pangkalan militer.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut serangan terbaru Rusia sebagai eskalasi teror. ”Ratusan drone Shahed setiap malam, serangan rudal terus-menerus, serangan masif atas kota-kota Ukraina,” ujarnya dalam unggahan di Telegram.

Rusia belakangan ini berupaya membuat pertahanan udara Ukraina kewalahan dengan serangan besar, termasuk meningkatkan jumlah drone pengecoh. Pada Rabu malam, Rusia menembakkan lebih dari 700 drone serang dan pengecoh.

”Terus meningkatnya ukuran serangan kemungkinan dimaksudkan untuk menyokong upaya Rusia melemahkan moral Ukraina di tengah agresi konstan Rusia,” sebut pernyataan Study of War, lembaga pemikir yang berbasis di Washington, Rabu malam.

Bersamaan dengan bombardir itu, pasukan darat Rusia memulai langkah baru untuk menerobos sebagian dari 1.000 kilometer garis depan pertempuran. Di situ, pasukan Ukraina yang kekurangan tenaga digempur habis-habisan. Ini bisa jadi periode penting dalam perang tersebut.

”Saat ini, laju kemajuan Rusia semakin cepat dan serangan musim panas kemungkinan akan memberikan tekanan yang sangat besar pada pasukan Ukraina,” tulis Jack Watling, peneliti senior lembaga pemikir militer RUSI dalam analisis yang diterbitkan pada Rabu.

Tekanan tersebut telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan pejabat Ukraina. Mereka merasa tidak yakin akan kelanjutan bantuan militer yang vital dari AS dan kebijakan Trump terhadap Rusia.

”Para mitra perlu bertindak lebih cepat dalam investasi produksi senjata dan pengembangan teknologi. Kita perlu bertindak lebih cepat dalam menjatuhkan sanksi dan menekan Rusia agar merasakan konsekuensi terornya,” ujar Zelenskyy.

Dua putaran perundingan damai langsung antara delegasi Rusia dan Ukraina tidak menghasilkan kemajuan dalam menghentikan pertempuran. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, Kamis, mengatakan, belum ada tanggal untuk kemungkinan putaran ketiga perundingan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase