Di Tengah Ribut Nuklir Iran, Rusia Berpacu dengan Pengembangan Nuklir

Nuklir bagi Rusia bukan hal baru. Rusia mendukung hak Iran mengembangkan nuklir untuk tujuan damai.

23 Jun 2025 15:30 WIB · Internasional

Oleh Fransisca Romana Ninik W

Di tengah keributan program nuklir Iran oleh Amerika Serikat dan Israel, beberapa negara leluasa mengembangkan nuklir untuk tujuan damai. Mereka ”berlomba” mendapatkan teknologi terbaru untuk memanfaatkan nuklir. Rusia salah satunya.

AS campur tangan dalam konflik Iran-Israel dengan mengebom fasilitas nuklir Iran di sejumlah kota, Minggu (22/6/2025). Situasi ini menimbulkan guncangan baru bagi dunia.

Rusia, sekutu Iran, telah memperingatkan AS agar tidak memperkeruh konflik yang sudah terjadi. Namun, AS mengabaikannya. Dalam waktu dekat, delegasi Iran akan bertemu dengan Rusia untuk membahas perkembangan baru tersebut.

Rusia mendukung hak Iran mengembangkan nuklir untuk tujuan damai. Dilansir kantor berita Turki, Anadolu, Presiden Rusia Vladimir Putin telah menegaskan, Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) ”tidak menemukan bukti” Iran akan membangun senjata nuklir.

”Kami yakin Iran punya hak untuk menggunakan energi nuklir secara damai, dan kami siap membantu,” kata Putin.

Nuklir bagi Rusia bukan hal baru. Laman Rosatom, perusahaan energi atom milik negara, menyebutkan, penelitian di bidang fisika nuklir di Uni Soviet telah dimulai sejak paruh pertama abad ke-20.

Pengunjung berdiri di dekat lambang atom di Museum Atom di Moskwa, Rusia, Minggu (22/6/2025).

Rosatom, Minggu, mengundang wartawan dari sejumlah negara di Asia dan Afrika, termasuk Indonesia, untuk melihat sejarah pengembangan nuklir Rusia di Museum Atom di bagian utara Moskwa.

Museum itu ramai dikunjungi warga pada hari libur. Gerimis yang turun sejak pagi tidak menyurutkan anak-anak hingga orang tua untuk mengeksplorasi museum.

Setelah foto ”wajib” di depan simbol atom di area kedatangan, para wartawan mengikuti tur dipandu Valeria, yang hanya mau disebut dengan satu nama. ”Museum ini dibuka pada 2023, didedikasikan untuk teknologi dan industri nuklir. Ada berbagai cerita, asal muasal industri nuklir di Rusia, yang dimulai sejak era Uni Soviet,” kata Valeria.

Bangunan museum terdiri atas tujuh lantai di area seluas 25.000 meter persegi. Tiga lantai di antaranya berada di bawah tanah. Di situ tergambar perjalanan pengembangan nuklir era Uni Soviet hingga sekarang.

Valeria mengisahkan, pada 1941 di bawah kepemimpinan Igor Kurchatov, ilmuwan dan peneliti, Uni Soviet mulai mengembangkan nuklir. Dia bahkan bisa membuat reaktor nuklir pertama dan mendirikan pembangkit tenaga nuklir pertama di kawasan Eurasia.

”Kehidupan manusia tidak abadi, tetapi ilmu dan pengetahuan melampaui ambang batas selama berabad-abad,” demikian kata-kata terkenal Kurchatov yang disematkan di dinding museum.

Pengunjung memotret replika Tsar Bomba di Museum Atom, Moskwa, Rusia, Minggu (22/6/2025).

Valeria menjelaskan, tak lama setelah AS menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945, Uni Soviet sadar bisa menjadi target berikutnya. Kesadaran itulah yang menuntun Soviet menciptakan bom atom pertamanya.

Hingga 1949, Uni Soviet memiliki dua hulu ledak. Jumlah itu amat sedikit dibandingkan AS yang lebih dulu mengembangkan nuklir dan memiliki 170 hulu ledak. Kedua negara pun berlomba memiliki lebih banyak hulu ledak.

Maka, pada 1961, AS punya 22.229 hulu ledak dan Uni Soviet punya 2.492 hulu ledak. Pada tahun itu pula Uni Soviet membuat Tsar Bomba, bom atom terkuat yang pernah dibuat. Beratnya hingga 20 ton. Replika bom itu ditampilkan di museum, beserta hulu ledaknya.

Menyadari dampak perlombaan hulu ledak, diinisiasilah Traktat Moskwa tahun 1963 yang intinya melarang semua jenis uji nuklir. Ini langkah signifikan dalam pengendalian senjata nuklir di era Perang Dingin. Pengunjung bisa ikut menandatangani traktat itu lewat fitur interaktif yang dipajang di Museum Atom.

Rosatom menyebutkan, bencana nuklir Chernobyl pada 1986 menghambat perkembangan industri tenaga nuklir. Namun, pada saat yang sama, kecelakaan tragis itu mendorong peninjauan ulang terhadap pendekatan keselamatan.

Tantangan lebih jauh terjadi pada era 1990-an kala Uni Soviet bubar, yang bahkan membuat industri nuklir mengalami stagnasi. Meski demikian, industri ini bisa bertahan. Pada tahun 2000-an, pembangunan unit daya PLTN dilanjutkan hingga berdiri di Rostov dan Kalinin.

Valeria, pemandu di Museum Atom di Moskwa, Rusia, menjelaskan kepada para wartawan yang berkunjung, Minggu (22/6/2025).

Valeria pun membawa rombongan wartawan ke lantai dasar, tempat yang disebut sebagai ”Time to Dream”. Di situ ditampilkan aneka capaian pengembangan nuklir Rusia, mulai dari kapal pemecah es bertenaga nuklir, kapal selam bertenaga nuklir, mobil bertenaga nuklir bernama Ford Nucleon, modul dan reaktor, hingga PLTN terapung pertama di dunia.

Menurut Valeria, nuklir telah membawa manfaat sedemikian rupa bagi warga Rusia. Salah satunya memberikan sumber listrik melimpah sehingga warga menikmati harga murah.

Selain Rusia, sejumlah negara juga mengembangkan nuklir untuk tujuan damai. Uni Emirat Arab mengembangkan energi nuklir untuk listrik dan memiliki perjanjian pedoman keselamatan dengan IAEA. China juga mengembangkan tenaga nuklir dan berjanji mendorong perlucutan senjata nuklir, sementara tetap memodernisasi persenjataan nuklirnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari