Hubungan diplomasi tidak melulu soal investasi dan pariwisata. Hubungan Indonesia-Vatikan berlandaskan kebudayaan demi membangun kemanusiaan dan perdamaian dunia.
10 Des 2024 19:40 WIB · Internasional
Hubungan bilateral antarnegara biasanya dititikberatkan pada kerja sama perdagangan, investasi, atau pertahanan. Indonesia memiliki hubungan unik dengan Takhta Suci Vatikan karena kekhususan dalam kerja sama yang dibangun, yakni diplomasi antarwarga atau people-to-people untuk menjalin dialog budaya dan membangun peradaban yang saling menopang.
Vatikan sebagai pusat Gereja Katolik se-dunia mengoordinasikan kegiatan rohani, termasuk jejaring pendidikan sekolah-sekolah Katolik, hingga dukungan dalam lobi diplomasi di tingkat dunia.
Dalam sejarahnya, Takhta Suci Vatikan mendukung kemerdekaan Republik Indonesia dengan memberikan pengakuan pada 6 Juli 1947 saat Belanda secara de jure masih mendominasi panggung politik Indonesia di dunia internasional. Dalam situasi tak menentu tersebut, tanpa kekuatan militer, Vatikan memberikan dukungan penuh bagi Republik Indonesia.
Lebih dari dua pekan kemudian, Belanda melancarkan Agresi I pada 21 Juli 1947, membuat posisi Republik Indonesia terdesak. Vatikan bergeming. Dukungan diplomasi bagi Indonesia tetap diberikan hingga Belanda memberikan pengakuan kedaulatan pada 29 Desember 1949.
Sekitar tiga tahun setelah memberi pengakuan atas kemerdekaan RI, seperti dilansir laman KBRI untuk Takhta Suci Vatikan, Indonesia dan Vatikan menjalin hubungan diplomatik resmi pada 25 Mei 1950. Tahun depan, hubungan itu memasuki usia 75 tahun.
Menjelang 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Vatikan, relasi itu terasa semakin dekat. Apalagi, tahun 2024 menjadi spesial berkat kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia dalam rangkaian tur lawatan Asia-Oceania. Ini lawatan ketiga Paus ke Indonesia setelah Paus Paulus VI pada 1970 dan Paus Yohanes Paulus II pada 1989.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/05/189eecd8-0192-4864-90a0-0878084c2854_jpg.jpg)
Setelah lawatan Paus Fransiskus tersebut, hubungan Indonesia-Vatikan semakin erat, terutama dalam kerja sama peradaban dan kemanusiaan. Terkait hal ini, pada 4 Desember 2024 KBRI Vatikan bersama Sanggar Seni Ki Ageng Ganjur, Yogyakarta, menggelar pertunjukan seni budaya di pelataran Basilika Santo Petrus yang dihadiri Paus Fransiskus menjelang acara bertemu umat Katolik.
KBRI Vatikan dalam keterangan resmi menjelaskan, Gending Kebo Giro dan Shalawat Badar dimainkan di pelataran Basilika Santo Petrus, salah satu pusat kegiatan rohani Umat Katolik sedunia.
Rombongan seni Indonesia mendapat kesempatan khusus untuk tampil dalam audiensi umum yang diberikan Paus kepada masyarakat umum setiap Rabu. Padahal, banyak delegasi negara lain juga yang hadir dan siap mengisi acara. Rombongan seniman Skotlandia dengan alat musik bag pipe, misalnya, hadir di sebelah orkes gamelan Ki Agung Ganjur.
Dalam acara tersebut, umat Katolik dari berbagai negara di seluruh dunia hadir untuk berdoa bersama di pelataran Gereja Basilika Santo Petrus. ”Mirip suasana istighotsah kubro dan shalawatan di Indonesia,” kata Ngatawi Al Zastrouw, pemimpin orkes Ki Ageng Ganjur, saat dihubungi, Selasa (10/12/2024).
Suara gamelan pun mengalun merdu dan sekaligus magis memecah suasana pagi berkabut di Vatikan yang dingin dengan suhu 8 derajat celsius.
Pada penampilan 4 Desember itu, Gending Kebo Giro yang bermakna keselarasan manusia secara lahir dan batin dalam kehidupan di dunia dan menuju ke swargaloka dimainkan dengan khidmat sekitar pukul 09.10 waktu setempat. Kebo Giro dimainkan mengiringi umat yang berjalan ramai-ramai menuju Basilika Santo Petrus.
Suara gamelan pun mengalun merdu dan sekaligus magis memecah suasana pagi berkabut di Vatikan yang dingin dengan suhu 8 derajat celsius.
Paus Fransiskus kemudian tiba pukul 10.00 waktu setempat mengendarai jip terbuka dan kemudian menyapa umat. Paus menyalami para anggota orkes tradisional yang memainkan aneka alat musik tradisional Indonesia tersebut.
Al Zastrouw mengatakan, Bapa Paus juga mengizinkan mereka melantunkan shalawat Badar. Para awak Sanggar Seni Ki Ageng Ganjur pun melantunkan shalawat dengan iringan rebana dan angklung.
Paus mengacungkan dua jempol, lalu tersenyum saat mendengar lantunan shalawat Badar. Paus Fransiskus kemudian menyalami para seniman-seniwati Indonesia yang didampingi Duta Besar RI untuk Takhta Suci Trias Kuncahyono.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/10/fcdebc83ae125bfd5f81e36f4bc54302-vatikan_PAUS.jpg)
”Ini menunjukkan semangat dialog agama, peradaban, dan kemanusiaan. Seni yang kami usung juga mengangkat tradisi budaya Nusantara dan bukan sekadar urusan ritual keagamaan,” kata Al Zastrouw yang mendirikan sanggar seni itu sejak tahun 1990-an atas dorongan KH Abdurrahman Wahid (kelak menjadi Presiden Ke-4 Republik Indonesia).
Lantunan shalawat di Basilika Santo Petrus itu menjadi bukti persaudaraan antarumat beragama. ”Itu juga menjadi ekspresi kultural atas semangat Cinta Nabi yang dapat disampaikan di mana saja,” ujar Al Zastrouw.
Ia mengatakan, rombongan Ki Ageng Ganjur sudah tiba dan berkegiatan sejak 2 Desember 2024. Rombongan mengadakan pertemuan di Diskateri Vatikan. Di sana berlangsung dialog lintas agama yang dipandu Romo Markus, pakar Islamologi.
Rombongan juga mengadakan pertunjukan di KBRI Vatikan bersama Gong Wisnu Swara asal Italia. Musik yang dimainkan menggabungkan gamelan, musik Timur Tengah dan jazz Barat.
”Ada sekurangnya 20 duta besar hadir. Kami tampil diiringi sinden asli Italia,” tutur Al Zastrouw.
Menurut Dubes Trias, biasanya acara sejenis dihadiri lima orang duta besar. Kali ini banyak duta besar antusias menghadiri acara KBRI Vatikan.
Menurut Al Zastrouw, kerja sama dengan Vatikan sangatlah strategis, semisal kerja sama Vatikan-Al Azhar dalam membangun dialog kemanusiaan dan peradaban. ”Ini bukan sekadar hubungan antaragama, tetapi juga memperkuat peradaban dan kemanusiaan,” katanya.
Dia mengingatkan, kunjungan Paus Fransiskus ke Katedral dan Masjid Istiqlal di Jakarta pada September 2024 telah memperkuat komitmen membangun kerja sama kemanusiaan dan peradaban yang diwadahi dalam kerangan hubungan bilateral Indonesia-Vatikan.
”Dampaknya sangat luas, yakni demi memperkuat solidaritas kemanusiaan di dunia,” kata Al Zastrouw.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/10/570adfce6eedbccb42616fc9a7870686-WhatsApp_Image_2024_12_10_at_18.53.06.jpeg)
Trias menambahkan, misi seni Ki Ageng Ganjur adalah peristiwa monumental dalam gerakan kebudayaan untuk membangun persaudaraan antarumat manusia dan perdamaian dunia. ”Misi budaya ini menunjukkan Indonesia sebagai bangsa moderat, toleran, dan bersaudara. Apa yang dinyatakan Paus Fransiskus soal Pancasila sebagai perajut keberagaman bangsa adalah benar adanya,” kata Trias.
Dalam keseharian, KBRI Vatikan juga aktif mempromosikan kegiatan budaya Nusantara dan berhubungan dekat dengan para rohaniwan asal Indonesia yang berada di Vatikan dan Italia.
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Muhammad Samsul HadiPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase