LIGA CHAMPIONS

Diawali David Raya, Diakhiri ”Para Penamat” Arsenal

Kombinasi penampilan heroik Raya dan para pemain cadangan membuat Arsenal bisa pulang dengan kemenangan dari markas Sporting CP.  Arsenal keluar dari tren buruk.

08 Apr 2026 07:19 WIB · Olahraga

AFP/PATRICIA DE MELO MOREIRA

Oleh Kelvin Hianusa

LISABON, SELASA — Jangan terlalu terpaku dengan sebelas nama pertama Arsenal, tetapi coba lihat siapa nama-nama yang ada di bangku cadangan tim. Sebab, pemain pengganti yang dijuluki ”para penamat” oleh Manajer Mikel Arteta itu sering menjadi pembeda sesungguhnya. Tuah itu kembali terbukti di Lisabon.

Arsenal berhasil mencuri kemenangan sulit atas Sporting CP dengan skor 1-0 dalam laga pertama perempat final Liga Champions di Stadion Jose Alvalade, Lisabon, Portugal, Rabu (8/4/2026) WIB. Setelah berjibaku selama 90 menit waktu normal, gol kemenangan tim tamu baru datang saat laga memasuki menit pertama injury time. 

Pahlawan kemenangan ”Si Meriam” adalah penyerang Kai Havertz dan pemain sayap Gabriel Martinelli. Martinelli mengejutkan dua pemain Sporting dengan dribel berisiko ke area dalam, lalu mengirim umpan terobosan ke Havertz yang berdiri bebas di kotak penalti. Havertz  mengeksekusi peluang dengan sempurna.

”Hebat. Kualitasnya memang luar biasa. Dia melakukannya dengan sangat baik, jadi pujian untuk Martinelli,” kata Havertz soal asis rekannya.

”Selalu indah untuk bisa mencetak gol pada menit-menit akhir, terutama bisa melakukannya di depan para pendukung (tandang). Kami membawa pulang hasil itu untuk pekan depan,” lanjutnya.

Sporting's Maximiliano Araujo, center, watches as Arsenal's Kai Havertz scores his sides first goal past Sporting's goalkeeper Rui Silva during the Champions League quarterfinals, first leg, soccer match between Sporting CP and Arsenal, in Lisbon, Tuesday, April 7, 2026. (AP Photo/Armando Franca)

Ada kesamaan di antara Havertz dan Martinelli. Mereka sama-sama dimasukkan dari bangku cadangan untuk menyegarkan penampilan tim yang sangat monoton. Havertz masuk menggantikan Martin Odegaard pada menit ke-70, sementara Martinelli menggantikan Leandro Trossard pada enam menit setelah itu.

Sebelum keduanya berada di lapangan, Arsenal hanya mampu menghasilkan dua tembakan tepat sasaran selama 76 menit. Mereka hanya mengandalkan ancaman dari bola mati. Setelah mereka masuk, tim asuhan Arteta mampu menambah dua tembakan ke gawang, salah satunya berujung gol.

Arteta sempat berpikir, timnya tidak akan mencetak gol di Lisabon. ”Kami kurang cepat, tajam, dan efisien di pertahanan mereka. Kami kekurangan sentuhan akhir. Pada akhirnya ada momen ajaib dari ’para penamat’ kami untuk memenangi laga. Itulah pengaruh yang kami butuhkan dari pemain pada tahap seperti ini,” ujarnya.

Sejak awal musim, Arteta enggan menyebut pemain dari bangku cadangan sebagai pelapis. Dia memberikan julukan ”’para penamat” atau ”the finishers” karena punya tugas khusus untuk mereka. Dengan kedalaman tim yang sangat mumpuni musim ini, mereka memiliki banyak senjata rahasia dari bangku cadangan.

Peran ”para penamat” Arsenal krusial karena pendekatan hati-hati ala Arteta. Mereka sering tidak ingin tancap gas sejak menit awal agar tidak kecolongan. Dia tidak khawatir jika laga berakhir 0-0 saat jeda. Ketika butuh gol, mereka baru akan intens menyerang di paruh kedua. Kans pemain cadangan untuk unjuk gigi pun lebih besar.

TOPSHOT - Sporting Lisbon's Mozambican forward #10 Geny Catamo (L) reacts during the UEFA Champions League quarter final first leg football match between Sporting CP and Arsenal at Jose Alvalade stadium in Lisbon on April 7, 2026. (Photo by FILIPE AMORIM / AFP)

Terbukti, pemain Arsenal dengan kontribusi gol terbanyak di Liga Champions adalah Martinelli (6 gol, 2 asis). Padahal, penyerang asal Brasil itu baru lima kali menjadi pemain mula dari sepuluh pertandingan. Adapun di Liga Inggris musim ini, Arsenal juga memuncaki daftar tim dengan penyumbang gol terbanyak dari bangku cadangan (22 gol).

Diselamatkan Raya

Peran kiper Arsenal David Raya tidak kalah penting. Jika tanpa penampilan gemilangnya sepanjang laga, momen ajaib Havertz mungkin tidak akan tercipta. Terlihat jelas kerinduan Arsenal terhadap penjaga gawang tim nasional Spanyol itu di dua laga terakhir saat mereka mengalami kekalahan beruntun.

Raya, menggantikan Kepa Arrizabalaga, melakukan penyelamatan sebanyak lima kali. Peluang-peluang Sporting sangat berbahaya, salah satunya di babak pertama. Raya dengan refleks secepat kilat mampu menepis tembakan bek sayap Maxi Araujo. Tembakan itu berubah arah, dari ke gawang jadi membentur mistar.

Untuk konteks, Sporting menjamu Arsenal dengan rekor 16 kemenangan beruntun di kandang dan total produktivitas 50 gol. Raya, bersama Arsenal, menghentikan laju fenomenal Trincao dan rekan-rekan. ”Ada dua momen di mana dia (Raya) melakukan penyelamatan besar. Inilah Liga Champions, selalu ditentukan dari dua kotak penalti,” puji Arteta.

Raya pula yang membuat Arsenal bisa lebih tenang dalam membangun serangan. Mereka tidak terlalu panik saat ditekan intens oleh Sporting. Tim tuan rumah tampil sangat agresif dengan blok pertahanan tinggi yang bisa tiba-tiba menggunakan skema man-to-man atau satu lawan satu.

Arsenal's manager Mikel Arteta talks to Arsenal's goalkeeper David Raya during the Champions League quarterfinals, first leg, soccer match between Sporting CP and Arsenal, in Lisbon, Tuesday, April 7, 2026. (AP Photo/Armando Franca)

Pelatih Sporting Rui Borges mengatakan, timnya hanya kurang beruntung. ”Laga ini cukup seimbang. Sporting bahkan memiliki peluang mencetak gol terbaik. Hanya saja, persoalan kecil konsentrasi merugikan kami. Itu membuat frustrasi karena terjadi pada menit-menit akhir, tetapi kami harus terus maju,” ujar sang pelatih. 

Laga kedua akan berlangsung di kandang Arsenal, Stadion Emirates, London, Inggris, pekan depan. Misi Sporting menjadi lebih berat berkali-kali lipat. Mereka harus menang di kandang Arsenal. Sebelum itu, Sporting perlu mencetak gol ke gawang Raya yang baru kebobolan lima kali di sepanjang turnamen. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji