Di Balik Buyarnya Gencatan Senjata di Jalur Gaza

Serangan Israel itu tidak terlepas dari dukungan penuh Presiden AS Donald Trump. Ada pula faktor kebuntuan perundingan gencatan senjata dan politik domestik Israel.

21 Mar 2025 11:59 WIB · Opini

Oleh Musthafa Abd. Rahman

Gencatan senjata di Jalur Gaza yang terwujud sejak 19 Januari 2025, secara de facto, telah buyar menyusul Israel kembali melancarkan serangan udara secara masif di berbagai titik di Jalur Gaza sejak hari Sabtu 15 Maret 2025.

Pesawat tempur Israel pada hari Sabtu 15 Maret 2025 menggempur sasaran di Beit Lahiya, Jalur Gaza Utara, yang membawa korban 9 orang tewas dari warga Palestina. Pada hari Minggu 16 Maret 2025, Israel kembali menggempur berbagai sasaran di Jalur Gaza yang membawa korban 12 orang tewas dari warga Palestina.

Namun, serangan Israel paling masif terjadi pada hari Selasa 18 Maret 2025. Sumber militer Israel mengungkapkan, sekitar 100 pesawat tempur terlibat dalam serangan baru secara masif di Jalur Gaza pada hari Selasa itu.

Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan, sedikitnya 439 warga Palestina tewas dan 528 lainnya luka-luka akibat serangan udara Israel tersebut. Korban tewas dan luka-luka akan terus bertambah seiring dengan terus berlanjutnya gempuran Israel itu. Serangan baru Israel tersebut tentu tak terlepas dari dukungan penuh pemerintah Presiden AS Donald Trump atas serangan Israel itu.

TOPSHOT - In this picture, taken from Israel's southern border with the Gaza Strip, an Israeli military helicopter fires its machine gun on March 19, 2025. Israel on March 18 launched its most intense strikes on the Gaza Strip since a January 19 ceasefire with Palestinian militant group Hamas ended more than 15 months of war. (Photo by Jack GUEZ / AFP)
TOPSHOT - An Israeli army Merkava main battle tank moves at a position in southern Israel along the border fence with the northern Gaza Strip on March 18, 2025. Israel on March 18 unleashed its most intense strikes on the Gaza Strip since a January ceasefire, with rescuers reporting 220 people killed, and Hamas accusing Benjamin Netanyahu of deciding to "resume war" after a deadlock on extending the truce. (Photo by Menahem KAHANA / AFP)

Israel dan Hamas dengan perantara Mesir, Qatar, dan AS pada pertengahan Januari 2025 berhasil mencapai kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza dalam tiga tahap. Setiap tahap dari tiga tahap itu berlangsung 42 hari.

Namun, pasca-berakhirnya gencatan senjata tahap pertama pada 1 Maret 2025, Israel menolak melanjutkan gencatan senjata tahap kedua. Israel yang didukung AS minta perpanjangan gencatan senjata tahap pertama hingga selama bulan Ramadhan, yakni sampai 30 Maret 2025 dan ditambah hari paskah Yahudi, yakni hingga 19 April 2025.

Pada masa perpanjangan gencatan senjata tahap pertama itu, Israel yang didukung AS menuntut pembebasan 50 persen dari 24 warga Israel yang masih hidup dan disekap Hamas sampai saat ini. Hamas semula menolak perpanjangan gencatan senjata tahap pertama itu dan bersikeras pembebasan semua sisa tawanan Israel akan dilakukan pada masa gencatan senjata tahap kedua nanti. Kompensasi yang diminta Hamas adalah Israel harus mundur dari seluruh wilayah Jalur Gaza dan pembukaan akses secara menyeluruh bagi bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.

Dibawah bujukan Mesir dan Qatar, Hamas akhirnya bersedia menempuh jalan tengah, yaitu membebaskan seorang tawanan berkewarganegaraan AS dan 4 jasad tawanan Israel yang tewas pada masa perpanjangan gencatan senjata tahap pertama ini.

 Yael Alexander holds a poster of her son, Edan, who was taken hostage by Hamas militants on Oct. 7, 2023, during a weekly rally for families of hostages held in the Gaza Strip and their supporters, in Tel Aviv, Israel, Saturday, Feb. 22, 2025. (AP Photo/Maya Alleruzzo)

Namun, Israel dan AS menolak opsi jalan tengah yang ditawarkan Hamas itu. Israel tetap ngotot dengan memberi dua opsi, yaitu Hamas harus membebaskan minimal 50 persen sisa tawanan yang masih hidup itu atau perang dimulai lagi.

Hamas pun tetap menolak tuntutan Israel tersebut karena tawanan Israel merupakan kartu truf dalam daya tawar Hamas pada perundingan gencatan senjata tahap kedua nanti. Kebuntuan perundingan soal pembebasan jumlah tawanan Israel yang harus dibebaskan pada masa perpanjangan gencatan senjata tahap pertama itu mengantarkan Israel memutuskan memulai perang lagi di Jalur Gaza.

Politik domestik Israel

Kebuntuan perundingan itu kebetulan memiliki titik temu kepentingan dengan situasi krisis politik dalam negeri Israel yang membutuhkan memulai perang lagi di Jalur Gaza dalam upaya mengatasi krisis politik tersebut. Segera setelah perang berkobar lagi di Jalur Gaza, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengangkat lagi Itamar Ben Gvir yang dikenal sebagai politisi garis keras sebagai menteri keamanan nasional.

Netanyahu butuh partai Otzma Yehudit (memiliki 6 kursi di Knesset) yang dipimpin Ben Gvir dalam upaya mengamankan suara Knesset untuk rancangan APBN yang masuk sidang Knesset pada akhir Maret 2025.

Israelis protest against Prime Minister Benjamin Netanyahu's plan to dismiss the head of the Shin Bet internal security service, and call for the release of hostages held by Hamas in the Gaza Strip, outside the Knesset, Israel's parliament in Jerusalem, on Thursday, March 20, 2025. (AP Photo/Ohad Zwigenberg)

Sebelumnya Ben Gvir keluar dari koalisi Netanyahu sebagai protes atas gencatan senjata di Jalur Gaza. Selain itu, berkobarnya perang Gaza bisa mengatasi pula dampak dari keputusan kontroversial Netanyahu yang memecat Kepala Shin Bet (dinas intelijen dalam negeri Israel) Ronen Bar.

Netanyahu memecat Bar karena sering beda pendapat soal perang Gaza dan juga diduga Shin Bet sedang melakukan penyelidikan dugaan sejumlah ajudan Netanyahu menerima dana secara tidak sah dari Qatar yang dikenal dengan Qatar Gate.

Namun, isu pemecatan Bar menuai kritik dari kubu oposisi dan publik Israel karena isu pemecatan Bar sangat politis bukan dilatarbelakangi profesionalisme.

Rakyat Israel pun hari Rabu 19 Maret 2025 menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran dengan menutup jalan raya antara kota Tel Aviv dan Jerusalem sebagai protes atas pemecatan Ronen Bar itu. Maka, Netanyanhu mengobarkan lagi perang Gaza agar elite politik dan publik Israel bisa melupakan isu pemecatan Bar tersebut.

Faktor Houthi

Dalam konteks regional, buyarnya gencatan senjata di Jalur Gaza tidak terlepas dari eskalasi militer di Laut Merah dengan berkobarnya konflik militer AS dan kelompok Al Houthi di Yaman. Serangkaian serangan Israel ke Jalur Gaza itu bersamaan dengan serangkaian serangan AS atas berbagai sasaran kelompok Al Houthi di Yaman.

Presiden AS Donald Trump melalui Truth Social pada Sabtu 15 Maret 2025 mengumumkan, mulainya operasi militer AS atas berbagai sasaran kelompok Al Houthi di Yaman dengan dalih kelompok yang pro-Iran mengancam keamanan AS dan internasional di Laut Merah.

TOPSHOT - A displaced Palestinian child gestures as he pushes a cart carrying water containers near a camp set up at a landfil in the Yarmuk area in Gaza City on March 20, 2025. Israel bombarded Gaza and pressed its ground operations on March 20, after issuing what it called a "last warning" for Palestinians to return hostages and remove Hamas from power. (Photo by Omar AL-QATTAA / AFP)

Pengumuman Trump itu menanggapi ancaman kelompok Al Houthi yang akan melancarkan serangan atas sasaran Israel dan negara pendukungnya di Laut Merah. Ancaman kelompok Al Houthi itu sebagai solidaritas atas warga Palestina di Jalur Gaza yang kembali diblokade Israel dengan melarang bantuan kemanusiaan masuk ke Jalur Gaza sejak 3 Maret 2025.

Menlu AS Marco Rubio pada hari Minggu 16 Maret 2025 mengungkapkan, kelompok Al Houthi telah melakukan 174 serangan ke kapal AS dan 164 serangan ke kapal kargo milik berbagai negara di Laut Merah. Seusai pengumuman Trump itu, pesawat tempur AS pada Sabtu 15 Maret 2025 langsung menggempur sasaran di ibu kota Sana’a yang membawa korban sembilan warga Yaman tewas.

Pesawat tempur AS pada hari Minggu 16 Maret 2025 kembali menggempur kota Sana’a dan Provinsi Saada di Yaman yang membawa korban 11 tewas di Provinsi Saada dan 13 tewas di kota Sana’a. Adapun kelompok Al Houthi membalas dengan menembakkan rudal balistik ke pangkalan udara Nevatim, Israel, pada hari Selasa 18 Maret 2025. Kelompok Al Houthi juga mengerahkan drone untuk menyerang kapal induk AS, Harry S Truman, di Laut Merah pada Selasa 18 Maret 2025.

Eskalasi militer di Yaman dan Laut Merah antara AS dan kelompok Al Houthi itu bisa jadi mendorong Trump memberi lampu hijau kepada Netanyahu agar mengobarkan perang lagi di Jalur Gaza karena antara Hamas dan kelompok Al Houthi mungkin kini dipandang sebagai gerakan perlawanan yang tidak terpisahkan satu sama lain.

__________

Musthafa Abd Rahman, wartawan Kompas 1991-2022

Musthafa Abd Rahman (MUS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Musthafa Abd. Rahman
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .