Dibayangi Potensi Perang Dagang, Lima Jadi Tuan Rumah Pertemuan Joe Biden-Xi Jinping

Pertemuan Joe Biden dan Xi Jinping Sabtu nanti akan jadi pertemuan pamungkas keduanya. Pertemuan nanti dibayangi potensi perang dagang  yang semakin keras.

14 Nov 2024 21:30 WIB · Internasional

Oleh Mahdi Muhammad

WASHINGTON, KAMIS — Presiden Amerika Serikat Joe Biden dijadwalkan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di sela-sela pertemuan puncak pemimpin Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Lima, Peru, Sabtu (16/11/2024). Pertemuan nanti menjadi pertemuan ketiga sekaligus pertemuan pamungkas dua pemimpin adidaya ekonomi dunia. Pertemuan itu disebut-sebut dibayangi sejumlah isu, termasuk potensi perkerasan perang dagang, terutama ketika Donal Trump mulai menduduki jabatan presiden untuk kali kedua pada awal Januari 2025 mendatang.

”Pertemuan puncak itu akan membahas satu hal, apa yang diharapkan dari pemerintahan Trump soal perdagangan, aliansi,” kata Victor Cha, Presiden Departemen Geopolitik dan Kebijakan Luar Negeri CSIS dan Ketua CSIS Korea.

Ingatan para pemimpin dunia masih sangat nyata soal periode pertama Trump, yakni tahun 2017-2021. ”America First” yang menjadi jargon kampanye Trump membuat sikap dan kebijakan Pemerintah AS pada periode pertama itu mengejutkan banyak pihak. Kala itu, Trump memproteksi AS dari perdagangan global, mengancam aliansi atau kerja sama multilateral, menafikan pemanasan global, dan tetap mendorong ekstraksi serta penggunaan bahan bakar fosil, hingga keluar dari kerja sama pengelolaan nuklir Iran (JCPOA).

Khusus dengan China, AS terus memperkuat tekanannya melalui perang dagang. Pada masa jabatan pertama itu, Trump menerapkan tarif pada lebih dari 360 miliar dollar komoditas asal China. Tekanan itu memaksa Beijing pada tahun 2020 duduk bersama di meja perundingan yang hasilnya adalah kesepakatan yang, salah satunya, mewajibkan China membeli komoditas AS senilai 200 miliar dollar AS.

Akan tetapi, sebuah penelitian menunjukkan bahwa pada dasarnya China tidak membeli satupun barang yang dipersyaratkan dalam kesepakatan tersebut.

US President Joe Biden (R) and Chinese President Xi Jinping walk together after a meeting during the Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) Leaders' week in Woodside, California on November 15, 2023. Biden and Xi will try to prevent the superpowers' rivalry spilling into conflict when they meet for the first time in a year at a high-stakes summit in San Francisco on Wednesday. With tensions soaring over issues including Taiwan, sanctions and trade, the leaders of the world's largest economies are expected to hold at least three hours of talks at the Filoli country estate on the city's outskirts. (Photo by Brendan Smialowski / AFP) *** Local Caption *** Presiden AS Joe Biden dan Presiden China Xi Jinping berjalan bersama setelah pertemuan di Woodside, California, AS, Rabu (15/11/2023).

Sikap Washington ketika Gedung Putih dipimpin Biden juga tidak lebih lunak dibanding Trump. Perang dagang tetap terjadi, salah satunya dengan menaikkan tarif bea masuk beberapa produk China. Salah satunya adalah mobil listrik, yang dikenai bea masuk hingga 100 persen. Keputusan ini juga kemudian diikuti oleh sekutu AS, seperti Kanada dan Uni Eropa.

Ancaman perang dagang pada masa jabatan Trump yang kedua juga semakin kuat. Sebab, selama kampanye, Trump mengancam akan mengenakan tarif sebesar 60 persen pada semua komoditas ekspor China ke AS.

Tak hanya China yang diincar. AS juga menargetkan Meksiko, negara tetangga dekat AS. Trump mengancam akan menaikkan tarif sebesar 25 persen atau lebih untuk barang-barang yang berasal dari Meksiko, kecuali jika negara itu menghentikan penyelundupan narkoba dan ”kriminal” yang melintasi perbatasan dua negara.

Kronologi Perang Dagang AS-China Infografik 20200428

Penasihat Keamanan Nasioal Gedung Putih Jake Sullivan mengatakan, momentum pertemuan nanti akan menjadi sangat penting di tengah situasi transisi kepemimpinan. ”Itu adalah saat ketika pesaing dan musuh dapat melihat kemungkinan adanya peluang,” kata Sullivan. ”Jadi, sebagian dari apa yang akan dikomunikasikan Presiden Biden adalah bahwa kita (AS dan China) perlu menjaga stabilitas, kejelasan, dan prediktabilitas melalui transisi antara Amerika Serikat dan China ini.”

Dia menambahkan, Pemerintah AS di bawah Biden telah memperlihatkan bahwa meski bersaing, kedua negara memperlihatkan kemampuan untuk mengelola perbedaan, mencegah persaingan berubah menjadi konflik atau konfrontasi. Saluran komunikasi yang terbuka di antara kedua belah pihak menjadi salah satu hal yang membuat persaingan bisa dikelola.

Dua pejabat pemerintahan Biden mengatakan, komunikasi antarpejabat militer kedua negara telah terjalin dengan baik di semua tingkatan. ”Di tingkat senior, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Brown, Menteri Pertahanan Austin, dan komandan INDOPACOM telah bertemu atau melakukan panggilan telepon dengan rekan-rekan mereka dari China selama setahun terakhir,” katanya.

Selain itu, sejak Januari 2024, AS dan China telah memulai kembali pembicaraan koordinasi kebijakan pertahanan dan dilanjutkan pertemuan Kelompok Kerja Komunikasi dan Pencegahan Krisis di akhir Oktober. Diskusi lebih jauh juga terjadi soal pengendalian peluncuran peluru kendali. ”Untuk pertama kali, tahun ini, saya juga harus menambahkan, kedua belah pihak telah memberitahukan terlebih dahulu peluncuran ICBM masing-masing,” kata pejabat tersebut.

Suasana batin yang berbeda

Suasana kebatinan pertemuan nanti akan berbeda dengan beberapa pertemuan sebelumnya, terutama karena Biden akan segera lengser dari Gedung Putih setelah kandidat partainya, Kamala Harris, kalah dari Trump.  Apalagi saat di Lima nanti, Presiden akan meresmikan pelabuhan raksasa senilai 1,3 miliar dollar AS, yang akan memperlihatkan pengaruh regional ”Negeri Tirai Bambu” ini.

Dua pekerja melintasi ”banner” pertemuan tambahan dalam KTT APEC, Rabu (13/11/2024), yang berlangsung di Lima, Ibu Kota Peru. Menurut rencana, Presiden Amerika Serikat Joe Biden akan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping, Sabtu (16/11/2024).

”Ini bukan cara yang diharapkan AS untuk berpartisipasi dalam pertemuan puncak nanti,” kata Margaret Myers, Direktur Program China dan Amerika Latin di Inter-American Dialogue, sebuah kelompok kebijakan di Washington. ”Semua mata akan tertuju pada pelabuhan tersebut, apa yang dikatakan Xi tentangnya, dan bagaimana ia mengartikulasikan hubungan di seluruh Pasifik.”

Apalagi dengan potensi isolasionisme di bawah Trump terbuka, China akan dipandang sebagai alternatif ”negara payung”.

Pelabuhan Chancay yang terletak 60 kilometer timur laut Lima mungkin salah satu tanda yang paling jelas pergeseran negara-negara Amerika Latin. Cosco, raksasa pengiriman dan logistik asal China, mengendalikan 60 persen saham dalam proyek yang dikembangkan dengan mitra lokalnya, Volcan. Chancay, yang akan menjadi hub, akan memangkas waktu pengiriman barang dari dan ke China hingga 10 hari.

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto keluar dari pesawat setibanya di Pangkalan Angkatan Udara 8 di Callao, Peru, Rabu (13/11/2024). Peru menjadi lokasi tujuan kunjungan ketiga bagi Presiden Prabowo Subianto setelah sebelumnya berkunjung ke China dan Amerika Serikat.

Relasi yang membaik antara China dan negara-negara di kawasan mendorong peningkatan nilai perdagangannya. Menurut data Komisi Ekonomi untuk Amerika Latin dan Karibia, nilai perdagangan China dengan kawasan naik hingga 35 kali lipat selama periode 2000-2022, dengan nilai hampir 500 miliar dollar AS. Sebagian besar ekspor kawasan tersebut berasal dari Amerika Selatan, dan terkonsentrasi pada lima produk, yakni kacang kedelai, tembaga dan bijih besi, minyak, serta katoda tembaga.

Pada saat yang sama, keterlibatan diplomatik China di kawasan tersebut menjadi lebih efektif. Presiden Xi mengunjungi 11 negara Amerika Latin sejak menjadi presiden.

Eric Farnsworth, Wakil Presiden Council of The Americas, mengatakan, pemikiran bahwa China merupakan mitra yang lebih baik semakin menggaung di kawasan tersebut. ”Saya pikir Xi ingin terus memperkuatnya,” kata Farnsworth.

Dia juga menilai, bila negara-negara di kawasan Amerika Latin diwajibkan memilih, hal itu akan menjadi kesalahan strategis.

AS telah mengimbau Pemerintah Amerika Latin untuk menolak investasi telekomunikasi, khususnya menentang Huawei, raksasa teknologi China yang menurut dia dapat membuka pintu bagi mata-mata pemerintah dan militer negara itu. Demikian pula, pejabat AS telah menyuarakan kekhawatiran atas kemungkinan penggunaan ganda pelabuhan Chancay oleh angkatan laut Beijing di Pasifik—sebuah prospek yang dikesampingkan oleh pejabat China. (AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Mahdi Muhammad
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H