Diberi Kompensasi Mudik Rp 3 Juta, Kusir Delman di Garut Ingin Jadi Joki Profesional

Kusir delman mendapat dana kompensasi selama arus mudik Lebaran. Namun, mereka berharap bisa lepas dari kerasnya persaingan usaha dengan ojek daring.

20 Mar 2025 17:53 WIB · Nusantara

Oleh Cornelius Helmy Herlambang

Pemerintah Provinsi Jabar memberikan kompensasi bagi delman agar tidak beroperasi sementara selama arus mudik-balik Lebaran tahun ini. Namun, para kusir juga ingin perbaikan kualitas hidup selamanya.

Kompensasi mudik itu menjadi rezeki pelipur lara bagi kehidupan mereka yang tidak mudah. Hal itu seperti dirasakan oleh Atep Ruhiyat (48), warga Pangatikan, Garut, Jawa Barat.

Air mata Atep menetes ketika ia mendapat rezeki ”nomplok” dari Gubernur Jabar Dedi Mulyadi, saat acara Pemberian Kompensasi Biaya Operasional untuk Delman Selama Arus Mudik Lebaran di Garut, Kamis (20/3/2025). Dedi mengatakan akan membeli kambingnya seharga Rp 8 juta dan memberikan uang untuk perbaikan rumah Rp 40 juta.

Setiap ada yang menyalaminya, Atep mendadak haru. Saat ada yang memberi selamat, seketika kusir delman itu menangis lagi.

”Selamet nya, milik euy (selamat ya, beruntung sekali),” kata Wawan, rekan Atep sesama kusir delman.

"Panteslah kamu meunang, (pantaslah kamu mendapatkan itu),” ujar Ipin, kusir yang masih berkerabat dengan Atep.

”Jadi ieu mah Lebaran (Jadi ini berlebaran). Rezeki moal kamana (tidak akan ke mana),” kata lelaki berkumis tebal. Kali ini, Atep tidak tahu siapa dia. Namun, Atep tetap menyambut ucapan selamat atas rezeki yang ia peroleh itu dengan senang hati.

Atep menjadi bintang dalam acara tersebut. Melalui acara itu, kusir delman di Garut dijanjikan uang kompensasi Rp 3 juta yang akan disalurkan dalam dua tahap, masing-masing Rp 1,5 juta.

Kusir delman hadir di acara pemberian kompensasi Delman selama arus mudik Lebaran di Garut, Kamis (20/3/2025). Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi hadir dalam acara itu.

Skema ini diterapkan untuk memastikan para kusir mengikuti kebijakan tidak beroperasi di badan jalan selama arus mudik. Harapannya, hal itu bisa meminimalkan kemacetan ketika masa mudik Lebaran.

Selain di Garut, kompensasi serupa diberikan untuk kusir delman di Tasikmalaya, Cirebon, hingga Subang. Sedikitnya 1.000 orang yang mendapat kompensasi dengan syarat lain memiliki tabungan Bank BJB itu.

Dedi mengatakan, dana kompensasi itu berasal dari pemotongan belanja perjalanan dinas pegawai Pemprov Jabar sebesar Rp 6 miliar. ”Biasanya digunakan untuk perjalanan dinas, tetapi kali ini diberikan kepada masyarakat,” katanya.

Kehidupan berat

Akan tetapi, tidak seperti kusir lainnya, Atep mendapat uang  jauh lebih banyak hari itu. Duduk di barisan paling depan, dia dipanggil Dedi menemaninya bicara di hadapan ratusan kusir lainnya.

Ditanyai Dedi tentang kehidupannya, Atep lantas berkeluh kesah. Dia menceritakan rumah kecilnya yang hampir roboh hingga susahnya menjual domba untuk bekal berlebaran tiga anaknya.

”Saya datang ke sini sembari berharap ada yang mau beli domba saya. Uangnya untuk perbaikan rumah. Tapi belum ada yang mau beli,” kata Atep yang mendapat Rp 40.000 per hari dari hasilnya menarik delman.

Mendengar itu, Dedi lantas mengatakan bakal membeli domba itu Rp 8 juta. Tidak hanya itu, ada Rp 40 juta yang akan dia berikan untuk biaya perbaikan rumah.

Mendengar itu, Atep menangis. Pertemuan pertamanya dengan Dedi ternyata berujung dapat uang puluhan juta.

”Terima kasih. Saya sulit berkata-kata,” katanya meneteskan air mata. ”Saya akan berikan si Roek, domba saya yang paling besar,” ujar Atep lagi.

Potret kusir delman di Garut, Kamis (20/3/2025). Banyak kusir delman di Garut berprofesi sebagai joki balap kuda untuk menambah penghasilan keluarga.

Saat Kompas bertanya kepada beberapa kusir yang memberi selamat kepada Atep, semuanya mengatakan Atep pantas mendapatkannya. Rumah Atep memang benar-benar mau roboh. Beberapa kali disurvei pemda setempat untuk bedah rumah, niat itu belum kesampaian.

”Atep pekerja keras yang pantas mendapat bantuan itu. Selain jadi kusir, dia kerja jadi pengurus kuda dan buruh ternak domba,” kata Iding (55), kusir lain dari Pangatikan.   

Muhidin (45), kusir asal Tarogong, juga mengatakan Atep sangat beruntung. Dia menyesal tidak duduk di depan seperti Atep. Saat pertemuan, ia berada jauh di belakang. ”Padahal, saya juga kebetulan sangat butuh uang,” kata Muhidin.

Muhidin baru saja berduka. Dia mesti merelakan kematian Marukawa, kuda sandel berusia lima tahun.

Dua tahun terakhir, Marukawa menjadi teman menghidupi empat anak Muhidin. Dalam sehari, mereka bisa mengumpulkan Rp 40.000-Rp 50.000.

”Marukawa mati kena penyakit kejang. Saya dulu beli Rp 15 juta, tapi hanya dibeli Rp 3 juta sama tukang daging,” katanya.

Tanpa Marukawa, Muhidin tidak punya pekerjaan. Butuh Rp 17 juta untuk membeli kuda baru. Dia kini hanya berharap dari kebaikan kawan-kawannya untuk membantu mengurus kuda. ”Selain cari pakan, saya sedikit bisa pijat kuda,” katanya.

Akan tetapi, tetap saja itu hanya selingan. Penghasilannya tidak menentu. Tidak setiap hari ia pulang membawa uang.

”Sementara hanya mengandalkan uang kompensasi mudik ini. Tidak tahu jika ini habis mau kerja apa lagi,” kata Muhidin.

Muhidin (45), salah satu kusir delman di Garut, Kamis (20/3/2025). Muhidin menjadi penerima dana kompensasi bagi kusir selama arus mudik Lebaran.

Berharap kuda pacu

Keluh kesah Muhidin terdengar Ipan Sopiandi (35), koordinator lapangan wilayah Tarogong Kidul di Paguyuban Delman Garut. Ipan juga bersyukur kusir bisa mendapat kompensasi ini.

Di tengah kondisi ekonomi yang berat ini, kompensasi menjadi harapan merayakan Lebaran. Sebagai ucapan syukur, dia berjanji akan meminta kusir-kusir di wilayahnya tidak beroperasi selama arus mudik-balik atau selama dua minggu.

”Delman biasanya mangkal di jalan protokol, dekat pusat perbelanjaan, dan tempat keramaian lainnya. Kalau waktu arus mudik bisa bikin macet perjalanan orang-orang di jalur selatan” kata Ipan.

Akan tetapi, ke depan, Ipan berharap kusir mendapat lebih dari sekadar kompensasi sementara. Dia menyebut masa depan kusir di Garut berpotensi tidak cerah.

Akibat persaingan ketat dengan pengemudi ojek daring (ojek online/ojol), kian hari, pendapatan semakin turun. Mendapat Rp 40.000 per hari terbilang sudah sangat baik. Padahal, setelah dikurangi biaya pakan kuda dan ongkos harian lainnya, seorang kusir kerap hanya mengantongi setengahnya.

”Kalau seperti dia (Muhidin) kudanya mati, mau beli lagi harganya belasan juta. Uang dari mana? Kalau dibiarkan terus begini, delman pasti akan hilang. Padahal, nyaris ada 600 kusir di Garut yang kini tengah berjuang menghidupi keluarganya,” kata Ipan. Wajahnya masam saat mengatakan itu.

Quote

Kemampuan joki yang juga kusir asal Garut sedang ditakuti daerah pesaing seperti Bandung hingga Kuningan. Bila ada wadah untuk membina keahlian mereka tentu bakat-bakat besar bisa muncul ke kompetisi lebih baik.

Ditanya usulan solusinya, wajah Ipan mendadak semringah. ”Sudah lama saya ingin ditanya begini sama wartawan,” katanya.

Dia menyebut, ceruk yang bisa dimanfaatkan adalah pengembangan kuda pacu Garut. Kuda pacu Garut terlalu lama tenggelam di antara tenarnya domba Garut.

Ipan mengatakan, balap kuda diadakan hampir setiap minggu di beberapa daerah di Garut. Ia mencontohkan balapan kuda di Cihuni, Leles, hingga Pangantikan. Meski tidak digelar di pacuan kuda, acara itu sukses memacu ekonomi warga.

Dia mencontohkan, hampir semua joki adalah kusir delman. Apabila menarik delman hanya dapat Rp 40.000 per hari, kusir bisa mendapat Rp 500.000 jika menang sekali lomba. Bahkan, kusir yang jadi perawat kuda bisa mendapat tambahan penghasilan Rp 1,5 juta per bulan.

”Kemampuan joki yang juga kusir asal Garut sedang ditakuti daerah pesaing, seperti Bandung hingga Kuningan. Apabila ada wadah untuk membina keahlian mereka tentu bakat-bakat besar bisa muncul ke kompetisi lebih baik,” kata Ipan, yang mengaku aktif di Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Garut.

Tidak hanya manusianya, kuda-kuda dari Garut juga terkenal tangguh di arena pacuan. Selain jenis silangan Sandelwood, ada silangan Manhattan Cafe hingga ras murni Thoroughbred.

”Saya bayangkan bila ada tempat pembibitan kuda yang ideal, pasti sangat bagus. Ada banyak orang yang bisa bekerja di sana. Tidak perlu menarik delman dan bikin macet jalan,” ujar Ipan.

Suasana start lomba kelas C 1.600 meter cabang pacuan kuda PON Aceh-Sumut 2024 di Lapangan Pacuan Kuda HM Hasan Gayo, Blang Bebangka, Kecamatan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, Kamis (12/9/2024). Selama dua hari penyelenggaraan pacuan kuda, 11-12 September, DKI Jakarta dan Kalimantan Selatan keluar menjadi yang terbaik dengan masing-masing meraih empat emas dari total 10 kelas perlombaan. Sisanya, Jawa Timur dan Jawa Barat masing-masing meraih satu emas. Adapun tuan rumah Aceh harus puas meraih satu perunggu.

Haji Ubung (65), Ketua Paguyuban Delman Garut, juga tidak sabar menyampaikan rencana besar itu kepada Dedi Mulyadi. Apalagi, Dedi sudah bersedia hadir dalam pacuan kuda di Kecamatan Leles yang akan dilakukan seminggu setelah Lebaran tahun ini.

Potensi pacuan kuda Garut, kata Ubung, saat ini belum terlihat. Jika dikembangkan bisa menjadi solusi ekonomi. Kusir bisa jadi joki profesional hingga pengurus kuda pacu.

”Pacuan kuda juga bisa dan atraksi wisata menarik di Garut. Bila dikelola profesional, bisa mendatangkan kompetisi yang menarik dilihat banyak wisatawan,” katanya.

Kompensasi selama arus mudik-balik bagi para kusir itu bisa jadi rezeki berlimpah meski sementara. Namun, apabila didampingi lebih baik, mereka mungkin bisa sejahtera lebih lama.


Kerabat Kerja

Penulis:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Editor:

Rini Kustiasih