Dukungan dini PAN kepada Prabowo Subianto untuk maju di Pilpres 2029 dinilai sebagai langkah strategis untuk mengincar posisi calon wapres.
22 Apr 2025 20:17 WIB · Politik & Hukum
JAKARTA, KOMPAS — Presiden Prabowo Subianto enggan menanggapi dukungan dari Partai Amanat Nasional atau PAN untuk maju di Pemilihan Presiden atau Pilpres 2029. Ketua Umum Partai Gerindra yang juga telah didorong partainya untuk maju di Pilpres 2029 tersebut mengaku masih ingin fokus bekerja untuk rakyat.
”Nantilah itu, ya. Kita kerja dulu untuk rakyat,” ujar Presiden Prabowo Subianto menanggapi dukungan dari PAN saat wawancara cegat di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (22/4/2025).
Dalam acara Halalbihalal dan Pengumuman Pengurus DPP PAN di Kantor DPP PAN, Jakarta, 20 April lalu, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan memastikan partainya akan tetap mendukung Prabowo apabila kembali maju di Pilpres 2029. Baginya, hal yang terpenting di Pemilu 2029 adalah menjadikan PAN masuk partai empat besar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/24/2373538d-ddb3-4f81-a6a6-477ff0da9626_jpg.jpg)
Zulkifli pun meminta seluruh kader PAN agar satu komando dan tidak saling bertengkar soal politik. Ia pun mempersilakan siapa pun kadernya jika ingin maju menjadi cawapres di Pilpres 2029.
”Saya hanya minta satu syarat, satu komando. Habis waktu kita bertengkar soal politik, jangan lagi. Kita ingin jadi empat besar. Itu tujuan kita. Tujuan kita bukan ingin bertengkar. Kalau ada yang pengin wapres, silakan saja,” ujarnya.
Ia mengaku telah menyampaikan hal itu kepada Prabowo. Ia mengatakan tak masalah Prabowo menjadi capres, tetapi soal pemilihan cawapres perlu dibicarakan.
”Saya juga sampaikan kepada Pak Prabowo, ’Yang penting, Pak (Prabowo), partai saya besar. Itu yang paling penting. Kalau capres silakan, kalau wapres kita bicara’. Iya, kan, kita bicara, gitu. Jadi lihat kekuatan kita seperti ini yang terlihat saja saudara saksikan,” ucapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/09/dbf34025-5726-4349-be4e-47d4324b54e5_jpg.jpg)
Sebelum dukungan dari PAN, Kongres Luar Biasa (KLB) Gerindra yang digelar mendadak di Kompleks Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, 13 Februari lalu, telah meminta Prabowo agar bersedia dicalonkan sebagai calon presiden (capres) dalam Pilpres 2029. Atas permintaan ini, Prabowo juga meminta diberi waktu untuk menyelesaikan tugas kepresidenannya dan memenuhi janji kepada rakyat.
Kepala Departemen Politik dan Perubahan Sosial Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes berpendapat, dukungan PAN terhadap Prabowo merupakan langkah strategis untuk mengincar posisi bakal calon wapres pendamping Prabowo dalam Pilpres 2029. Oleh karena itu, dukungan PAN tidak serta-merta diberikan kepada Gibran.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/19/6b6ef0c7-9921-445e-891d-a3f20501f6a0_jpg.jpg)
Prabowo, lanjut Arya, masih menjadi figur yang kuat pada Pilpres 2029. Tidak hanya menjadi petahana, Prabowo juga menawarkan berbagai produk populis, seperti makanan bergizi, pembangunan koperasi, dan program-program lain yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat.
”Pengumuman DPP PAN menjadi momen untuk menunjukkan sikap dukungan tersebut. PAN kemungkinan besar melihat Prabowo akan menjadi figur dominan pada 2029. Oleh karena itu, lebih realistis jika menempatkan kader sebagai calon wakil presiden, bukan menyiapkan calon presiden sendiri,” ujarnya.
Meski demikian, Arya tetap menilai dinamika politik menuju Pilpres 2029 masih sangat cair. Dia melihat, beberapa partai memilih diam, sementara yang lain mengambil sikap terbuka. Namun, manuver yang terlalu dini juga dianggap berisiko, terutama bagi partai yang berada di dalam pemerintahan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/15/ec99fed9-d2b8-4dad-a55e-0dcf3fc809e5_jpg.jpg)
”Jika sebuah partai yang ada di koalisi tiba-tiba mencalonkan kandidat yang lain, tentu akan mengganggu hubungannya dengan presiden. Jadi, beberapa partai memang memilih untuk tidak bermanuver terkait 2029 karena ini masih jauh,” papar Arya.
Meskipun wacana Pilpres 2029 mulai mengemuka, Arya melihat, partai-partai politik pendukung Prabowo harus tetap fokus pada kinerja pemerintahan. Di sisi lain, kekuatan oposisi yang solid di luar pemerintahan juga belum terlihat, sehingga semua peluang bisa saja terjadi.
”Perubahan-perubahan positioning politik itu masih sangat terbuka lebar dengan waktu yang masih panjang. Karena itu, lebih baik partai-partai koalisi fokus terhadap kinerjanya di pemerintahan,” kata Arya.
Penulis:
Iqbal BasyariEditor:
A. Ponco AnggoroPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul