Diego Garcia menjadi pusat operasi militer AS di Vietnam, Afghanistan, Irak, dan Timur Tengah. PBB perintahkan Diego Garcia dikembalikan di bawah Republik Mauritius.
23 Mar 2026 15:00 WIB · Internasional
AP/US Navy
Perang Amerika Serikat-Israel terhadap Iran terus meluas, tidak terbatas di Timur Tengah. Pada Jumat (20/3/2026), tersiar kabar rudal menyasar Pangkalan Diego Garcia.
Pulau bagian dari Kepulauan Chagos itu dikendalikan Inggris dan disewakan ke AS. Dari pesisir Iran, pulau itu berjarak 4.000 kilometer.
Inggris, pada Sabtu (21/3), menyatakan bahwa Iran menembakkan dua rudal ke Diego Garcia yang terletak di tengah Samudra Hindia. Pada Minggu (22/3), Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Mark Rutte mengatakan tak yakin rudal itu ditembakkan Iran.
Adapun Menteri Luar Negeri Iran Abbas Aragchi menegaskan, Teheran tak punya rudal berjangkauan sejauh itu. Rudal Iran disebut paling jauh berjangkauan 2.000 km.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/10/31/4c37c742-a23c-4cee-b07a-827bb27e88fe.jpg)
Siapapun pemilik rudal yang mengarah ke Diego Garcia, serangan itu menjadi isu penting. Pulau itu menjadi ”kapal induk” bagi operasional militer AS sejak era Perang Vietnam, Perang Afghanistan, Perang Irak, dan kini Perang Iran.
Inggris semula menolak memberi izin bagi AS menggunakan Diego Garcia sebagai pangkalan untuk menyerang Iran. Namun, setelah Iran melancarkan serangan balasan ke Negara Teluk yang menampung militer AS, Inggris mengizinkan AS menggunakan Diego Garcia dan pangkalan lainnya untuk pengebom AS beroperasi menyerang basis rudal Iran. Pemerintah Inggris mengklaim pangkalan mereka bisa digunakan untuk kepentingan terbatas dan operasi ”mempertahankan diri”.
AS dan Israel melancarkan agresi sejak 28 Februari 2026 ke Iran. Serangan dilancarkan AS di tengah perundingan damai soal nuklir Iran. Iran membalas dengan menyerang wilayah Israel dan berbagai aset AS di Timur Tengah.
Pulau Diego Garcia merupakan atol di Kepulauan Chagos dengan luas 44 kilometer persegi. Pulau itu dilengkapi landas pacu untuk pesawat pengebom milik militer AS. Pulau itu disebut AS sebagai pijakan berharga di Samudra Hindia untuk operasi di Timur Tengah, Asia Selatan, dan Asia Timur.
Diego Garcia terletak 3.500 kilometer di timur Tanzania (Afrika timur), 726 kilometer di selatan Maladewa, 1.796 kilometer barat daya India, 2.877 kilometer sebelah barat Pulau Sumatera.
Ada sekurangnya 2.500 prajurit dan staf sipil AS di wilayah yang secara teknis bagian dari British Indian Ocean Territory (BIOT). Pada 2008, Inggris mengakui Pangkalan Diego Garcia digunakan dalam pengangkutan para tersangka teror versi AS. Semasa perang Israel-Hamas pada 2023-2025, AS menempatkan armada pengebom B-2 Spirit di Diego Garcia setelah menghantam posisi Houthi di Yaman.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/14/4272e54d-2d25-496b-8725-7ce1ca476a2e.jpg)
Pulau itu menjadi pangkalan militer Inggris pada 1970 setelah mengusir seluruh warga Chagos. Selanjutnya AS menyewa pengkalan itu selama 50 tahun sejak 1966 dengan perpanjangan waktu 20 tahun. Sewa berakhir pada 2036. Inggris juga mendapat potongan harga pembelian rudal nuklir Polaris dari AS sebagai imbalan menyewakan pangkalan di Diego Garcia.
Diego Garcia tidak bisa dikunjungi orang biasa. Pulau tersebut tertutup dan hanya diperuntukkan bagi personel militer dan staf pangkalan yang bekerja untuk AS ataupun Inggris.
BBC berhasil masuk ke Diego Garcia pada September 2024 setelah berbulan-bulan mengurus izin untuk meliput pencari suaka warga Tamil Sri Lanka yang terdampar di sana. Inggris harus meminta izin kepada AS sebelum memberikan kesempatan bagi BBC.
Mereka berada di Diego Garcia selama lima hari bersama tim pengadilan dan penasihat hukum yang mengurus para pencari suaka. Rombongan BBC diantar dengan bus kuning mirip bus sekolah di AS.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/14/6082bb79-fa28-4b7a-878d-81a80477aafb.jpg)
Laporan BBC menyebutkan, di atas hanggar pesawat yang membawa rombongan terpasang tulisan ”Diego Garcia Tapak Kaki Kebebasan” (Foot Print of Freedom) dengan bendera Inggris dan AS berkibar.
Terdapat mobil patroli polisi Inggris, kelab malam bernama Brit Club dengan logo anjing Bulldog, juga Britannia Road dan Churchill Road.
Namun, karena digunakan sebagai pangkalan militer AS, kendaraan berjalan di sisi kanan, seperti di AS, bukannya di sisi kiri sebagai kelaziman di Inggris dan wilayah koloni.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/08/20446491-508f-4ba9-bc9e-a3fa4deee359.jpg)
Jual-beli di Diego Garcia menggunakan mata uang dolar AS. Berbagai alat elektronik menggunakan colokan listrik sistem AS. Makanan yang disajikan di sana adalah menu AS dengan tater tots dan biskuit mirip dengan biskuit Inggris.
Secara administratif wilayah itu diatur dari Inggris walau di lokasi lebih banyak personel dan sumber daya dikendalikan oleh pihak AS. Inggris mengeluarkan biaya puluhan juta pound sterling tiap tahun untuk subsidi Diego Garcia.
Keseharian hidup di sana sangat santai. Para prajurit dan kontraktor sipil mengendarai sepeda motor atau bersepeda. Terlihat saat sore hari orang-orang bermain tenis atau berselancar angin di laut.
Terdapat gedung bioskop, lapangan boling, hingga museum dan kedai penjual cendera mata berupa kaus dan cangkir dengan tulisan dan lambang wilayah Diego Garcia.
Laman BIOT menyebutkan, Diego Garcia memiliki keragaman biomaritim terkaya di wilayah seberang lautan Inggris. Lautan bersih, terumbu karang terawat, dan menjadi surga kepiting kenari yang dilindungi, seperti halnya di Ternate dan Maluku Utara. Bekas gereja Perancis, rumah tuan kebun Inggris, wisma tamu, dan hunian warga Diego Garcia atau disebut Orang Chagosian masih tersisa meski dimakan usia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/23/315dfa23628b6e150e6d4e79b2eb1f66-prabu_siliwangi_mauritius.jpg)
Ketika Inggris mengambil alih Kepulauan Chagos, lebih dari 1.000 warga lokal diusir keluar untuk pembukaan pangkalan militer di sana. Pekerja dan budak didatangkan penjajah Eropa ke Diego Garcia dari Madagaskar dan Mozambik untuk bekerja di perkebunan kelapa di masa kekuasaan Perancis yang dilanjutkan Inggris.
Mereka mengembangkan identitas tersendiri berupa bahasa, musik, dan budaya khas.
Nota Kementerian Luar Negeri Inggris tahun 1966 menyebut pengosongan Diego Garcia tidak akan menyisakan warga asli dan hanya burung camar yang tinggal di pulau itu. Pada 1967, warga mulai dikumpulkan untuk diusir dari Diego Garcia. Hewan ternak dan anjing peliharaan dibunuh.
Warga Diego Garcia dipindahkan ke Mauritius atau Seychelles. Ada juga warga Diego Garcia yang akhirnya mendapat kewarganegaraan Inggris pada 2002.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/22/f4b550a6cfbbde9845bb4852c6e1f911-Britain_Chagos.jpeg)
Liseby Elyse, warga Diego Garcia, dalam kesaksian menyebutkan, mereka diusir begitu saja. ”Kami hidup tenang dan bahagia di sana. Tahu-tahu kami diusir dari tanah lahir kami begitu saja seperti mengusir hewan,” katanya.
Pengusiran seluruh penduduk Diego Garcia memenuhi kriteria kejahatan terhadap kemanusiaan. Warga menggugat, Republik Mauritius juga mengajukan perlawanan.
Republik Mauritius menggugat kepemilikan Diego Garcia dari Inggris. PBB akhirnya memutuskan Diego Garcia sebagai wilayah Mauritius pada 2025. Sebagai jalan keluar, Inggris meminta hak sewa wilayah tersebut selama 99 tahun dengan kemungkinan perpanjangan 40 tahun.
Walter Ladwig III, pengajar Hubungan Internasional King’s College di London, Inggris, mengatakan, Diego Garcia bernilai strategis. ”Namun tingkat pengamanannya berlebihan dibandingkan dengan fasilitas militer serupa sehingga menimbulkan tanda Tanya,” katanya. (AP)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase