Konflik di Timur Tengah menimbulkan korban di kalangan sipil bahkan berdampak ke global. Indonesia siap menjadi mediator asal dengan persetujuan pihak yang bertikai.
03 Mar 2026 19:22 WIB · Politik & Hukum
AP
JAKARTA, KOMPAS — Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla melihat Presiden Prabowo Subianto siap menjadi penengah dalam konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat. Namun, hal tersebut membutuhkan persetujuan dari pihak-pihak yang bertikai.
Hal tersebut disampaikan Kalla saat menerima kunjungan Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi di kediamannya, Jakarta, Selasa (3/3/2026). Dalam pembicaraan itu, Boroujerdi menyampaikan kondisi langsung dari negaranya, mulai dari perlawanan hingga warga sipil yang menjadi korban.
Oleh karena itu, Boroujerdi menyampaikan kepada Kalla, Iran membutuhkan dukungan dari umat Islam. Salah satunya dari Indonesia, salah satu negara dengan komposisi Muslim terbanyak di dunia.
”Dalam kunjungan Dubes Iran, telah disampaikan situasi terakhir yang terjadi di Iran dan juga perlawanan rakyat Iran serta korban yang dicapai oleh kebanyakan sipil seperti anak sekolah dan sebagainya,” ujar Kalla seusai pertemuan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/03/b8916c947b1a365e7a3fe1cc0437b1c7-WhatsApp_Image_2026_03_03_at_16.52.01.jpeg)
Menurut Kalla, untuk mendukung upaya perdamaian, Presiden Prabowo siap untuk menjadi penengah dalam konflik tersebut. Dia juga berujar, masyarakat dan Pemerintah Indonesia pada prinsipnya mendukung upaya perdamaian.
Namun, mediasi ini bisa dijalankan jika pihak-pihak yang bertikai sepakat atas keterlibatan Indonesia. Menurut Kalla, kemungkinan mediasi ini masih akan dibicarakan lebih lanjut dengan pemerintah dan bergantung pada kesediaan semua pihak yang terlibat.
”Presiden Prabowo siap untuk menjadi penengah dalam konflik ini. Namun, tentu dibutuhkan persetujuan kedua belah pihak. Ini hal yang selalu dipikirkan oleh mereka,” ucap Kalla.
Dalam kesempatan berbeda, Dubes Iran di Indonesia juga menerima surat dukacita atas meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dari Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri. Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) ini menegaskan, kemerdekaan adalah hak segala bangsa.
Surat ini disampaikan oleh Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto dan Ketua DPP Bidang Luar Negeri PDI-P Ahmad Basarah. Mereka diterima Boroujerdi di Kedutaan Besar Republik Islam Iran, Jakarta, Selasa (3/3/2026) pukul 15.20 WIB.
”PDI Perjuangan berpikir, bersikap, dan bertindak dengan menjalankan ideologi Pancasila, baik bagi rakyat Indonesia maupun dunia. Sikap itulah yang disampaikan Ibu Megawati Soekarnoputri ketika menyampaikan surat dukacita atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran Ayatollah Ali Khamenei,” kata Hasto.
”Pembukaan UUD 1945 menegaskan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Sikap itulah yang menjadi doktrin politik luar negeri bebas aktif,” lanjutnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/03/ab8ea662eae61ac69140c31e349661fb-WhatsApp_Image_2026_03_03_at_17.31.22.jpeg)
Dalam keterangan terpisah, Sekretaris Jenderal Partai Gelora Indonesia Mahfuz Sidik juga mengingatkan dampak serius terhadap perang di Timur Tengah terus berlanjut. Mahfuz yang pernah menjabat anggota Komisi I DPR periode 2010-2017 ini membeberkan, setidaknya ada lima dampak serius yang akan mengancam dalam konflik ini.
Pertama, kekacauan politik di kawasan Timur Tengah. Saling serang di antara Israel dan sekutunya terhadap Iran bisa memicu pembentukan garis depan atau front bersama antara Israel, AS, dan negara-negara yang menjadi basis militer AS. Hal tersebut berisiko terhadap stabilitas politik domestik di negara masing-masing.
”Sejumlah negara Teluk yang menjadi basis militer AS terjebak pada dilema menyikapi serangan pembalasan Iran. Jika Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Bahrain, dan Kuwait membentuk front bersama Israel dan Amerika Serikat untuk menghadapi Iran, ada risiko domestik penolakan dari warganya dan berpotensi memicu kekacauan politik,” paparnya.
Kedua, Mahfuz mengaitkan dengan keseimbangan kekuatan militer di Timur Tengah. Jika kekuatan militer Iran berhasil dijatuhkan, Israel akan menjadi kekuatan dominan di kawasan itu. Apalagi, Israel sudah beberapa kali menyerang negara tetangga sehingga menjadi mimpi buruk bagi kawasan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/03/9972071e-f530-4323-8c35-34ebe0cc6f2b_jpg.jpg)
”Serangan rudal Israel ke wilayah Qatar untuk menyasar delegasi Hamas beberapa waktu lalu sudah menjadi mimpi buruk bagi negara di kawasan ini. Belum lagi militer Amerika Serikat telah melingkari seluruh kawasan tersebut,” kata Mahfuz.
Kekuatan dominan ini juga dikhawatirkan berujung pada potensi perluasan agresi militer Israel di kawasan sebagai dampak ketiga. Mahfuz mengingatkan, dalam agresi Israel terhadap Gaza dua tahun terakhir, beberapa kali Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu secara terbuka menafikan konsep solusi dua negara dan menyuarakan ambisi zionis mewujudkan Israel Raya.
”Kehancuran Iran sebagai kekuatan terakhir poros perlawanan terhadap Israel akan memuluskan ambisi Israel. Artinya, wilayah negara Lebanon, Suriah, Irak, Jordania, Mesir, dan Arab Saudi akan menjadi sasaran agresi militer lanjutan pihak Israel,” ungkapnya.
Tidak hanya dari segi militer dan politik, Mahfuz berujar, dampak keempat dari konflik Iran di kawasan yang berlarut-larut memicu krisis ekonomi dunia. Hal ini terjadi karena Selat Hormuz dan Selat Baab el-Mandab diblokir selama perang berlangsung.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/03/1d1ed523-a5c6-4dde-a006-6686cd6ff9c5.jpg)
Perang berlarut akan sangat mengganggu rantai pasok energi dunia dan pada gilirannya memicu krisis ekonomi dunia.
Mahfuz menjabarkan, lalu lintas Selat Hormuz mencakup 20-30 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Sementara itu, Selat Baab el-Mandab di jalur Laut Merah mencakup 12 persen pasokan minyak dan 10-15 persen perdagangan maritim dunia.
”Perang berlarut akan sangat mengganggu rantai pasok energi dunia dan pada gilirannya memicu krisis ekonomi dunia,” lanjutnya.
Sementara dampak kelima, Mahfuz melihat ada potensi terciptanya perang asimetris terbaru, karena Iran memiliki jaringan proksi dan penganut Syiah yang tersebar di banyak negara. ”Ini dapat dikelola untuk melawan kepentingan Israel dan Amerika Serikat di mana pun,” ujarnya.
Penulis:
Machradin Wahyudi RitongaEditor:
C. Wahyu Haryo PPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar