Menghadapi kenaikan harga bahan bakar jet, maskapai penerbangan melakukan sejumlah langkah guna menghadapi guncangan. Namun, langkah-langkah itu menimbulkan dilema.
01 Apr 2026 07:00 WIB · Internasional
AP / Matt Rourke
Krisis akibat serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran mengguncang banyak sektor. Industri penerbangan menjadi salah satu industri yang terguncang. Kenaikan harga dan keterbatasan pasokan Avtur menekan berbagai maskapai penerbangan.
Menurut Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), harga rata-rata bahan bakar jet naik menjadi hampir 200 dolar AS per barel pada 20 Maret 2026. Harga itu naik lebih dari dua kali lipat dari harga Februari yang berkisar 87 dolar AS per barel.
Berbagai maskapai penerbangan mulai menerapkan mitigasi menghadapi guncangan. Demi mempertahankan kelangsungan industri, sejumlah maskapai sudah menaikkan harga tiket. Kenaikan, antara lain, diumumkan Qantas Australia, Air NZ Selandia Baru, sampai United Airlines AS dan SAS yang didirikan negara-negara Nordik.
Sebagian maskapai membatalkan penerbangan dan mengurangi rute. Ada juga yang mengenakan biaya tambahan bahan bakar.
Manajemen maskapai memang dalam posisi dilematis. Jika menaikkan harga layanan, penumpang berkurang. Tidak menaikkan harga, biaya operasional melonjak terutama akibat kenaikan harga Avtur.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/24/6c1563f7-5cc3-4aa5-88bc-8b96f2dcd4ab.jpg)
Sebagian penumpang telah memilih moda transportasi lain yang dirasa lebih murah dibandingkan pesawat. Dampaknya, pendapatan maskapai berkurang.
Kondisi itu, merujuk pada ulasan The Conversation, 27 Maret 2026, menjadi salah satu dari pukulan ganda ke industri penerbangan akibat serangan AS-Israel ke Iran. Pukulan lain adalah kenaikan harga dan hambatan pasokan Avtur.
Biaya BBM merupakan komponen terbesar dalam pengoperasian penerbangan, sampai 30 persen dari pengeluaran. Selain besar, biaya BBM juga fluktuatif. Setelah BBM, komponen besar biaya operasional adalah tenaga kerja (25 persen) dan kepemilikan pesawat (15 persen).
Lonjakan harga BBM bisa menghapuskan potensi keuntungan setahun. Apalagi, kalau pendapatan merosot. Benar-benar badai ganda.
Sebelum AS-Israel menyerang Iran, IATA memperkirakan industri penerbangan akan meraup keuntungan 41 miliar dolar AS pada 2026. Krisis energi akibat serangan ke Iran menguapkan peluang itu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/31/af158eab-11ac-424c-9f48-e7efdf822f52_jpg.jpg)
Bagi Korean Air, kondisi sekarang amat genting. Akibatnya, mulai Rabu (1/4/2026), maskapai nasional Korea Selatan itu memasuki mode darurat. Wakil Pemimpin Korean Airlines Woo Ki-hong mengumumkan hal itu secara internal.
Dilaporkan BBC pada Selasa (31/3/2026), manajemen Korean Air akan mengurangi biaya internal. Hal itu memastikan perusahaan tetap stabil di tengah ketidakpastian ekonomi global.
”Korean Airlines akan melakukan efisiensi biaya di seluruh perusahaan melalui langkah-langkah yang didasarkan pada harga minyak. Langkah-langkah tersebut bukan hanya inisiatif pemotongan biaya satu kali, tetapi lebih merupakan kesempatan untuk memperkuat fondasi struktural,” kata Woo.
Maskapai lain di Korsel, Asiana Airlines dan Busan Airlines, juga mulai memasuki mode darurat. Korsel amat bergantung pada pasokan minyak dan gas dari Timur Tengah. Sejak AS-Israel menyerang Iran, pasokan dari Timur Tengah nyaris terhenti.
Sementara Air China, China Eastern Airlines, dan China Southern Airlines di China memilih berhati-hati memproyeksi kinerja 2026 akibat kenaikan harga Avtur. Pada triwulan III-2025, tiga maskapai itu mencatatkan keuntungan berkat permintaan perjalanan musim panas yang kuat.
Namun, mereka kesulitan mempertahankan kinerja itu di triwulan IV-2025. Penyebabnya, ekspansi kapasitas yang agresif dan persaingan yang semakin ketat.
Persaingan ini bukan hanya antarmaskapai, melainkan juga dengan jaringan kereta api cepat negara yang terus berkembang. Persaingan mendorong harga tiket menjadi lebih rendah meskipun volume penumpang meningkat.
Pada triwulan I-2026, penerbangan China melayani 94 juta penumpang, naik 4,7 persen dibandingkan triwulan I-2025.
Namun, para pengamat memperingatkan bahwa peningkatan jumlah penumpang saat liburan dapat terancam oleh kenaikan biaya bahan bakar yang tajam. Dengan kehatian-hatian, tiga maskapai penerbangan China memilih fokus pada pasar penerbangan internasional untuk 2026. Fokus itu diharapkan menjadi pendorong pertumbuhan yang membantu meningkatkan pendapatan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/31/79443cfa-2355-42c9-ab5c-6f919e89803f.jpeg)
CEO United Airlines Scott Kirby mengatakan kepada ABC News, pekan lalu, bahwa tiket pesawat perlu naik 20 persen. Hal itu agar maskapai dapat menutupi biaya bahan bakar yang tinggi.
Cathay Pacific Airways Hong Kong, merujuk pada Reuters edisi Selasa (31/3/2026), menaikkan tarif dengan cara menambahkan biaya tambahan bakar bakar pada tiket. Biaya tambahan itu sudah dua kali naik dalam sebulan terakhir.
Alhasil, mulai Rabu (1/4/2026), perjalanan pergi-pulang (PP) dari Sydney ke London akan dikenai biaya tambahan bahan bakar sebesar 800 dolar Australia. Sebelum konflik Iran, harga normal tiket PP kelas ekonomi di rute itu sekitar 2.000 dolar Australia atau sekitar 1.369,60 dolar AS.
Menurut Andrew Lobbenberg, Kepala Riset Ekuitas Transportasi Eropa Barclays, satu-satunya cara untuk menaikkan harga adalah dengan mengurangi kapasitas.
Apabila harga tiket pesawat naik, bagaimana dengan penumpang maskapai penerbangan berbiaya rendah? Penumpang pada maskapai ini bisa jadi akan paling kesulitan dengan kenaikan karena mereka lebih sensitif terhadap harga.
”Saya pikir, bagi para pelancong yang lebih sensitif terhadap harga, mereka berpotensi beralih ke moda lain, seperti kereta api atau bus atau alternatif lain,” ujar Nathan Gee, Kepala Riset Transportasi Asia-Pasifik Bank of America. (REUTERS)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul