Trump berada pada posisi sulit dalam perang melawan Iran. Melanjutkan perang akan menyedot dana besar. Upaya mengakhiri perang lewat negosiasi pun masih belum pasti.
23 Apr 2026 14:08 WIB · Internasional
AP/ALEX BRANDON
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pernah sesumbar dapat menuntaskan perang di Iran dalam 2-3 pekan. Namun, lebih dari 1,5 bulan berjalan, api perang masih berkobar. Trump terjebak dalam perang mahal yang ia mulai sendiri.
Kini, perang memasuki periode gencatan senjata. Trump memperpanjang gencatan yang semestinya berakhir pada Rabu (22/4/2026). Ia tidak menyebutkan tenggat masa perpanjangan gencatan tersebut.
Perundingan AS-Iran yang dimediasi oleh Pakistan juga belum membuahkan kesepakatan untuk mengakhiri perang. Negosiasi putaran kedua sedang dirancang. Namun, Iran tak kunjung memberikan kepastian menghadirinya.
Trump pun menghadapi dilema. Biaya untuk melanjutkan perang tidak murah. Di sisi lain, Iran terus mempropagandakan kemenangannya karena menganggap AS gagal mencapai tujuannya dalam perang itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/23/08c92ed19e76a5189452f8062dd897ab-APTOPIX_Trump.jpg)
”Dia (Trump) sebenarnya bisa saja meningkatkan intensitas dan terlibat dalam tindakan militer yang lebih gegabah. Namun, sejauh ini dia telah berhenti menggali lubang yang lebih dalam untuk dirinya sendiri,” kata Alex Vatanka, peneliti senior di Middle East Institute yang fokus mempelajari tentang Iran.
Mengendalikan Selat Hormuz menjadi salah satu kunci utama Iran menekan AS. Selat itu merupakan jalur vital energi global. Seperlima minyak dunia dikirim melalui perairan sempit yang memisahkan daratan utama Iran dengan Jazirah Arab tersebut.
Pasokan yang tersendat membuat harga minyak melonjak hingga sempat menembus di atas 100 dolar AS per barel. Krisis energi tidak terelakkan. Trump dikecam karena keputusannya menyerang Iran. Publik AS juga memprotesnya. Sebab, harga bahan bakar dan sejumlah barang di ”Negeri Paman Sam” juga ikut naik.
Ketegangan di Selat Hormuz meningkat dalam beberapa hari terakhir. AS memblokade kapal dan pelabuhan Iran. Militer AS bahkan menyerang kapal kargo berbendera Iran yang menuju pelabuhan Bandar Abbas di Iran, Minggu. Aksi ini dibalas oleh Iran dengan menembak kapal kontainer yang melintas di selat tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/21/2b50153d3ebebbe01397d3f156cd3c5f-cropped_image.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/23/08e79f57-0a24-4b34-87fe-0268c7fd36c4.jpg)
Iran menganggap blokade AS dengan mengerahkan angkatan laut merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata. Menurut Vatanka, AS dapat mempertahankan blokade itu, tetapi sulit untuk menerapkannya secara ketat.
”Dengan mendeklarasikan blokade angkatan laut selama gencatan senjata, Trump telah memaksa Iran untuk merespons. Hal ini merusak diplomasi Trump sendiri demi pencitraan dan terlihat kuat,” ujarnya.
Faktanya demikian, blokade Angkatan Laut AS justru menjadi salah satu ganjalan terbesar perundingan lanjutan AS-Iran. Bahkan, Iran mengisyaratkan bersedia menghadiri negosiasi kedua di Islamabad, Pakistan, asalkan blokade itu diakhiri.
Akan tetapi, Trump belum menunjukkan adanya pelonggaran blokade itu. Bahkan, senator Lindsey Graham, seorang Republikan yang telah lama mendukung serangan terhadap Iran, mengindikasikan blokade dapat berfungsi sebagai sarana tekanan utama AS dalam perang tersebut. ”Blokade akan semakin meluas dan dapat segera menjadi global,” tulisnya di media sosial X.
Di tengah masa perpanjangan gencatan senjata yang tidak jelas batasnya, Iran menyatakan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz selama blokade AS masih berlaku. Perseteruan ini semakin mempersulit negosiasi putaran kedua AS-Iran yang dimediasi oleh Pakistan.
Peneliti senior di Center for International Policy, Sina Toossi, mengatakan, Trump mempunyai dua pilihan terkait blokade tersebut. Pertama, mencabutnya yang akan memperkuat pengaruh Iran. Kedua, mempertahankannya, tetapi berisiko mengancam gencatan senjata.
”Pandangan yang berlaku di Teheran adalah waktu berpihak pada mereka dan konflik yang berkepanjangan akan menimbulkan biaya yang semakin besar bagi AS dan ekonomi global,” ucapnya.
Perang di Iran sangat mahal dan menghabiskan banyak sumber daya. Pada minggu pertama perang saja, AS menghabiskan sekitar 11,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp 195,33 triliun dalam operasi militer bertajuk Epic Fury tersebut. Dana itu dipakai untuk beragam keperluan, mulai dari penggunaan ribuan rudal hingga bahan bakar ratusan jet tempur.
Akan tetapi, pakar penganggaran perang di Harvard Kennedy School, AS, Profesor Linda Bilmes, memiliki perkiraan yang jauh lebih besar dari kalkulasi Pentagon tersebut. Bilmes memasukkan item yang lebih kompleks, mulai dari biaya rudal, pesawat tempur, kapal selam, kapal perusak, hingga gaji personel untuk penugasan jangka panjang. Selain itu, ia juga menghitung kerugian akibat tiga jet tempur F-15 yang jatuh di Kuwait akibat friendly fire serta jet tempur F-15 dan pesawat serang A-10 yang ditembak Iran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/04/1d01f30b980cab692a50154e6defde24-FILES_BRITAIN_US_MILITARY_AVIATION_ACCIDENT_137262259.jpg)
”Sulit untuk mengukur biaya pastinya. Namun, berdasarkan apa yang kita ketahui sekarang, biayanya sekitar 2 miliar dolar AS (sekitar Rp 34,59 triliun) per hari dalam biaya jangka pendek dan ini merupakan puncak gunung es,” ujarnya dilansir dari situs web Hks.harvard.edu.
Artinya, biaya perang akan terus membengkak. Sebab, dibutuhkan biaya tambahan, seperti perbaikan fasilitas dan pengisian kembali persediaan dengan sistem senjata yang jauh lebih canggih. Setidaknya 20 instalasi militer AS di Timur Tengah telah rusak parah selama perang, termasuk pangkalan militer dan sistem rudal. Perbaikan ini akan memakan waktu bertahun-tahun.
Ada juga biaya jangka panjang, termasuk dalam perawatan veteran. Tentara AS yang bertugas dalam perang di Iran telah terpapar racun, kontaminan, dan bahaya lingkungan, seperti pembakaran bahan bakar dan residu kimia yang dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh. Mereka berhak atas kompensasi cacat seumur hidup dan perawatan medis selama sisa hidupnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/17/5aece8067c8eab449fc40ec76a65998f-9479124.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/19/7b408b8ddd525f0a6ac8d8045bac0b13-9573358.jpg)
Perhitungan itu belum memasukkan biaya ekonomi lebih luas akibat kenaikan harga minyak, asuransi, makanan, dan kebutuhan lainnya. ”Saya yakin kita (AS) akan menghabiskan 1 triliun dolar AS (sekitar Rp 17,3 kuadriliun) untuk perang melawan Iran,” kata Bilmes.
Di tengah masa perpanjangan gencatan senjata yang tidak jelas batasnya, Iran menyatakan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz selama blokade AS masih berlaku. Perseteruan ini semakin mempersulit negosiasi putaran kedua AS-Iran yang dimediasi oleh Pakistan.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan, gencatan senjata hanya memiliki arti jika tidak dilanggar melalui blokade angkatan laut AS. ”Membuka kembali Selat Hormuz tidak mungkin dilakukan di tengah pelanggaran gencatan senjata yang terang-terangan,” ujarnya.
Trump mengaku memperpanjang gencatan senjata atas permintaan Pakistan. Dia ingin memberi waktu kepada para pemimpin Iran untuk mengajukan proposal guna mengakhiri perang.
Trump mengatakan kepada New York Post, pembicaraan dapat dilanjutkan di Pakistan dalam dua hingga tiga hari ke depan. Namun, Iran belum mengonfirmasi kehadiran delegasinya dalam negosiasi putaran kedua itu.
Dilansir dari Al Jazeera, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan, diplomasi tidak dilakukan dalam tekanan. Pihaknya menyambut baik jalan dialog untuk mengakhiri perang berkepanjangan.
”Pelanggaran komitmen, blokade, dan ancaman adalah hambatan utama bagi negosiasi yang tulus. Dunia melihat retorika munafik Anda (Trump) yang tak berkesudahan dan kontradiksi antara klaim dan tindakan,” ujarnya. (AFP)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra