Dinilai Semakin Toksik, Medsos X Ditinggalkan Media-media di Eropa

Tidak tahan dengan maraknya disinformasi, misinformasi, dan ujaran kebencian, sejumlah media massa memilih tidak lagi menggunakan X.

16 Nov 2024 12:19 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

STOCKHOLM, SABTU — Tiga publikasi surat kabar di Eropa memutuskan menutup akun mereka di media sosial X dengan alasan pelantar tersebut sudah tercemar ujaran kebencian, disinformasi, dan misinformasi. Ini menambah daftar media dan jenama yang keluar dari pelantar milik Elon Musk tersebut karena tidak ada moderasi konten.

Surat kabar acuan Swedia, Dagens Nyheter (DN), mengumumkan berhenti mengunggah konten mereka di akun X pada Jumat (15/11/2024). Mereka menyusul surat kabar acuan Inggris, The Guardian, dan media Spanyol, La Vanguardia, untuk melepas kehadiran di pelantar tersebut.

Ketiga koran itu tidak akan mengunggah artikel ataupun produk jurnalistik mereka di X, terlepas banyaknya pengikut. Sebagai gambaran, Guardian memiliki 11 juta pengikut di X.

”X bermasalah sejak Elon Musk mengambil alih. X menjadi kanal penyebaran ambisi politik Donald Trump dan ini jaringan disinformasi yang toksik,” kata Pemimpin Redaksi DN Pete Wolodarski.

Tangkapan surat kabar Swedia Dagens Nyheter di Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (16/11/2024).

Sementara itu, melalui pernyataan tertulis, Guardian mengatakan, walaupun memiliki banyak manfaat, X sudah tercemar dengan maraknya ujaran kebencian dan disinformasi. Dulu, unggahan seperti itu dimoderasi, tetapi tim yang bertugas untuk moderasi telah dipecat oleh Musk. Kini, unggahan berisi teori konspirasi dan fitnah beredar bebas di X dengan alasan Musk mendukung kebebasan berekspresi tanpa kecuali.

Tajuk rencana La Vanguardia menulis, percuma mengunggah produk jurnalistik bermutu di X. Pelantar itu telah menjadi ruang gema disinformasi yang menghalangi akses publik terhadap nalar dan kebenaran.

Ujaran kebencian terhadap kelompok etnis tertentu, diskriminasi jender, dan teori-teori konspirasi merajalela di X serta justru menjadi konten yang paling banyak diakses pengguna. Bahkan, konten-konten toksik ini yang menarik perhatian pengiklan sehingga X menjadi ruang perputaran disinformasi.

”Kami pasti akan kehilangan sejumlah pelanggan, tetapi ini pertarungan demi produk jurnalistik bermutu dan reputasi surat kabar kami,” kata Pemimpin Redaksi La Vanguardia Jordi Juan.

Quote

Kami pasti akan kehilangan sejumlah pelanggan, tetapi ini pertarungan demi produk jurnalistik bermutu dan reputasi surat kabar kami.

Pengelola X tidak segera memberikan pernyataan saat diminta komentar mengenai keputusan La Vanguardia. Menanggapi keputusan Guardian, pemilik X, Elon Musk, mengunggah pesan di X: ”Mereka tidak relevan”.

Pada Oktober 2022, ketika Musk membeli Twitter, ia mengatakan hendak menghapus sistem centang biru yang menandakan keaslian akun, termasuk pada akun-akun media massa. Ketika itu, ia mengatakan ingin meminta siapa pun yang menghendaki centang biru untuk membayar X. Artinya, centang biru tidak lagi menjadi penanda keabsahan suatu akun, tetapi bisa diperoleh oleh mereka yang mau mengucurkan uang.

Centang biru kini harus berlangganan 8-11 dollar AS per bulan. Selain itu, juga ada centang emas dengan biaya langganan mencapai 1.000 dollar AS per bulan. Perusahaan-perusahaan media massa umumnya kini memiliki centang emas di samping nama akunnya.

Cabut dari X

Selain ketiga surat kabar itu, radio NPR dari Amerika Serikat telah lebih dulu menutup 52 akun mereka di X pada 2023. Penyebabnya ialah ketika X melabeli setiap akun NPR dengan keterangan ”media terafiliasi pemerintah”. Padahal, NPR adalah media independen.

NPR adalah singkatan dari National Public Radio dan merupakan lembaga penyiaran nirlaba. Kata national pada namanya membuat pengelola X keliru mengartikan sebagai terafiliasi pemerintah. X kemudian mengganti keterangan dengan ”media yang didanai pemerintah”.

Penyebutan itu juga tidak tepat karena, walaupun ada sokongan dari pemerintah, mayoritas pendanaan NPR tetap dari iklan. Pemberitaan mereka tidak berpihak kepada siapa pun. Selain itu, persoalan dari label ”didanai pemerintah” di dalam industri media arus utama ialah merujuk kepada media yang menjadi corong pemerintah otoriter, misalnya di China dan Rusia.

CEO NPR Katherine Maher saat tampil sebagai pembicara pada ajang Web Summit di Lisabon, Portugal, 12 November 2024.

Stephen Barnard, pakar tentang manipulasi media dari Butler University, AS, memperkirakan, bakal lebih banyak media akan meninggalkan X. ”Seberapa banyak sepertinya akan tergantung pada langkah-langkah yang diambil X, Musk, dan pemerintahan Trump berkaitan dengan media dan jurnalisme,” ujarnya.

Barnard berpendapat, tidak banyak kerugian yang akan dialami perusahaan media jika meninggalkan X. ”X menggerakkan relatif sedikit aliran pembaca ke situs-situs media jika dibandingkan dengan platform-platform lainnya,” katanya.

Pada Rabu (13/11/2024), mantan presenter CNN, Don Lemon, juga mengumumkan meninggalkan X. ”Saya pernah percaya, (X) ini tempat untuk perdebatan dan diskusi yang jujur, transparansi, dan kebebasan bicara, tetapi kini saya merasa tidak sesuai dengan tujuan itu lagi,” cuitnya di X.

Pada Maret 2024, Lemon mengungkapkan, Musk membatalkan kerja samanya dengan X, tidak lama setelah Lemon mewawancarai miliarder terkaya di dunia itu.

Selain media massa, terdapat beberapa jenama yang memutuskan berhenti dari X. Rumah mode Balenciaga menghentikan akun mereka karena tidak tahan dengan berbagai unggahan ekstrem di X. Jenama 3M, Target, dan Best Buy juga keluar dari pelantar tersebut.

Retail Sales

Beberapa korporasi, yakni Disney, IBM, Comcast, Apple, dan Paramount berhenti beriklan di X. Mereka menemukan iklan-iklan mereka dipasang di konten-konten ujaran kebencian ataupun teori konspirasi.

Bulan lalu, seperti dilaporkan Reuters, kepolisian Inggris juga tidak lagi menggunakan X untuk mengunggah pesan-pesannya. Hal serupa dilakukan sejumlah lembaga amal, organisasi kesehatan, dan pendidikan di Inggris. Pemerintah Inggris tetap mengunggah pesan di X, tetapi tidak menggunakan platform berbayar media sosial itu.

Digugat

Pada saat yang sama, X tengah menghadapi gugatan dari berbagai media, yaitu Le Figaro, Les Echos, Le Parisien, Le Monde, Courrier International, Huffington Post, dan Le Nouvel Obs. Gugatan ini karena X mengunggah ulang isi karya jurnalistik media-media tersebut secara gratis dan terkadang tanpa menyebut sumber.

Perbuatan ini melanggar undang-undang hak cipta dan kekayaan intelektual. Selain itu, merebut perusahaan media massa dari kesempatan memperoleh pendapatan. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi
 | 

Penyelaras Bahasa:

teguh candra