Dininabobokan Euforia Timnas, Sepak Bola Indonesia Tidak Baik-baik Saja

Banyak masalah masih mengemuka di sepak bola nasional. Liga masih dipayungi keputusan kontroversi hingga kericuhan suporter tetap menjadi noda.

19 Feb 2025 19:24 WIB · Olahraga

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar

Dalam tiga hari terakhir kericuhan suporter kembali mengemuka di kompetisi profesional Indonesia, BRI Liga 1 dan Pegadaian Liga 2. Aksi anarkistis dan vandalisme suporter tak lepas dari belum adanya pembenahan hal-hal mendasar yang dilakukan PSSI, kecuali memoles tim nasional dengan pemain-pemain naturalisasi.

Sejak media massa marak membahas kerusuhan suporter pada dekade 1970-an, perjalanan waktu dalam lima dekade tidak banyak mengubah kultur sepak bola nasional. Aksi tidak terpuji suporter tetap mencoreng wajah kompetisi Indonesia.

Oknum The Jakmania, pendukung Persija Jakarta, misalnya, melakukan tindak kekerasan kepada suporter Persib Bandung pada derbi klasik di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (16/2/2025). Pertandingan berakhir 2-2 sempat diwarnai kericuhan karena kehadiran bobotoh, sebutan suporter Persib, di stadion. Kehadiran pendukung tim tamu sejatinya telah dilarang.

Selain sempat ada ”api” di dalam tribune, kerusuhan juga tercipta di luar arena pertandingan. Beberapa oknum suporter terlibat pertikaian di sejumlah fasilitas publik, salah satunya stasiun kereta.

”Kami menyayangkan apa yang terjadi di laga Persija versus Persib. Kami harus bekerja lebih keras lagi di laga-laga kandang berikutnya agar hal negatif tidak terulang,” ujar Direktur Persija Mohamad Prapanca dalam keterangan pers.

Suporter menyalakan flare saat laga Persib Bandung menghadapi Persija Jakarta di pada pekan keenam Liga 1 2024/2025 di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, Senin (23/9/2024). Persib Bandung menang 2-0 dalam laga ini.

Dua hari kemudian, giliran ribuan pendukung Persela Lamongan menginvasi lapangan Stadion Pusat Olahraga Tuban, Jawa Timur, ketika tim mereka menjalani duel pamungkas playoff promosi kontra Persijap Jepara. Dalam kondisi tertinggal 0-1 di sisa 11 menit babak kedua rampung, pendukung Persela masuk ke dalam lapangan dan merusak fasilitas stadion.

Stadion Pusat Olahraga Tuban adalah kandang darurat sejumlah tim Liga 2 musim ini, seperti Persela dan Gresik United. Kepala Dinas Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Budporapar) Tuban M Emawan Putra mengatakan, kerusakan stadion meliputi 70 persen kaca di dalam seluruh bagian bangunan, pagar pembatas tribune, hingga rumput juga mengalami kerusakan.

”Taksiran kerugian Rp 200 juta hingga Rp 300 juta,” ujar Emawan dalam keterangan tertulis.

Kerusuhan suporter itu menunjukkan insan sepak bola Indonesia belum belajar dari Tragedi Kanjuruhan, 1 Oktober 2022, yang menghilangkan 135 nyawa.

Tragedi sepak bola terbesar di Asia itu tidak bermakna apa-apa. Bahkan, pemangku kepentingan berusaha untuk mengikis pihak-pihak yang menuntut keadilan dan enggan melupakan tragedi itu. Puncaknya, renovasi arena berdarah, Stadion Kanjuruhan, dilakukan dengan anggaran negara.

Beberapa remaja duduk di bangku di salah satu warung kopi di sebelah pintu 13 Stadion Kanjuruhan di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu (2/4/2023) sore. Meski setengah tahun berlalu, nuansa duka masih terasa di tempat ini.

Ketika hanya tinggal hitungan hari Arema FC kembali berkandang di Kanjuruhan, kerusuhan kembali meledak. Itu menandakan pemerintah, utamanya Kementerian Pemuda dan Olahraga, serta PSSI belum berhasil membina suporter.

Kegiatan sarasehan pimpinan suporter yang sempat mengemuka di awal kepemimpinan Ketua Umum PSSI Erick Thohir tidak memberikan pengaruh signifikan. Larangan suporter tim tamu datang ke stadion pun gagal mengantisipasi sejumlah aksi kerusuhan antarsuporter.

Pembinaan suporter yang menjadi amanah Tim Gabungan Pencari Fakta Tragedi Kanjuruhan gagal dilakukan. Tidak ada program akselerasi yang dilakukan PSSI untuk membenahi kultur sepak bola di akar rumput.

Selain itu, aturan terhadap suporter sejatinya sudah menjadi amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan. Di dalam dasar hukum itu sudah jelas kewajiban dan hak dari suporter, tetapi dalam praktiknya hal itu belum berjalan memasuki tahun ketiga UU Keolahragaan berlaku.

Fenomena penurunan

Di tengah sikap sejumlah suporter yang belum cukup dewasa untuk memaknai rivalitas di lapangan hijau, masalah juga tersaji dengan fenonema penurunan animo suporter yang menyaksikan langsung pertandingan Liga 1.

Persib Melawan Madura United - Polisi mengusir seorang suporter yang menerobos ke pinggir lapangan seusai laga Persib Bandung melawan Madura United dalam Go-Jek Traveloka Liga 1 di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, Jawa Barat, Kamis (19/10). Laga Persib melawan Madura United ini berakhir imbang 0-0. Kompas/Rony Ariyanto Nugroho (RON) 19-10-2017

Musim 2024-2025 berpotensi mencatatkan jumlah okupansi tribune stadion terendah sejak era Liga 1 dimulai pada 2017. Hingga pekan ke-23, laga-laga Liga 1 hanya menarik minat 886.972 suporter datang langsung ke stadion. Artinya, setiap pertandingan hanya disaksikan rerata 5.039 pasang mata.

Merujuk jumlah itu, maka tingkat keterisian stadion di pengujung musim ini bakal hanya menyentuh sekitar 1,3 juta penonton. Jumlah itu sudah menurun dibandingkan dengan 1.569.123 penonton atau rata-rata 5.726 penonton per gim pada musim 2023-2024.

Sejak Liga 1 2017, fenomena penurunan tingkat keterisian stadion terjadi konsisten setiap musim. Pada Liga 1 2017, jumlah rerata suporter menyaksikan langsung laga ialah 10.501 suporter per gim atau jumlah akumulasi 3.098.004 penonton.

Namun, angka rerata itu menurun musim-musim selanjutnya. Dimulai dari 9.678 penonton per gim pada musim 2018, lalu menjadi 7.506 penonton per gim pada 2022-2023 yang merupakan musim pertama pascapandemi Covid-19 memperlakukan kehadiran kembali suporter ke stadion.

Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru Ferry Paulus mengemukakan, penurunan suporter ke stadion itu menjadi pekerjaan rumah bersama. Situasi stadion yang mayoritas mengalami renovasi juga menjadi penyebab tribune arena pertandingan sering terlihat lowong.

”Setelah stadion serah terima (kepada klub) akan ada paket-paket untuk menarik minat penonton. Namun, memang daya beli masyarakat agak menurun itu, meskipun (kualitas) liganya bertumbuh,” kata Ferry, beberapa waktu lalu.

Suporter Persebaya yang dikenal dengan julukan Bonek menyalakan flare seusai laga Persebaya melawan Persija dalam Shopee Liga 1 2019 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Sabtu (24/8/2019). Pertandingan berakhir imbang 1-1.Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

Dampak kompetisi

Aksi tidak terpuji suporter ditambah animo masyarakat yang menurun tidak bisa dilepaskan dari kualitas kompetisi nasional. Kekecewaan pencinta sepak bola yang kebablasan menyebabkan sejumlah kericuhan pecah memasuki masa-masa krusial musim ini.

Hal itu terlihat ketika kericuhan terjadi pada laga Deltras Sidoarjo kontra Persibo Bojonegoro, 11 Januari lalu, di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Jawa Timur. Tindakan tidak sportif dari pemain dan suporter Deltras disebabkan keputusan wasit yang dianggap kontroversi mengesahkan gol penyama kedudukan Persibo.

Peristiwa itu terjadi di tengah pembenahan perangkat pertandingan Liga 1 dengan menyajikan asisten wasit video (VAR), peningkatkan kualitas wasit, serta keterlibatan wasit asing, protes terhadap kualitas wasit juga masih mengemuka.

Sempat pula hadir sejumlah keputusan kontroversi pada duel PSPS Pekanbaru kontra Persiraja Banda Aceh yang dimenangi PSPS 1-0, 11 Februari, di Stadion Kaharuddin Nasution, Pekanbaru, Riau. Tim pelatih dan pemain Persiraja memprotes kepemimpinan wasit Amri Nurhadi.

Pelatih Persib Bojan Hodak pun mempertanyakan keputusan PT LIB dan PSSI tidak menggunakan wasit impor untuk memimpin laga timnya menghadapi Persija. Padahal, kata Hodak, derbi klasik itu menyajikan tensi pertandingan yang amat tinggi.

Laga putaran pertama perebutan tempat ketiga dan keempat seri championship Liga 1 2023/2024 antara Bali United FC kontra Borneo FC Samarinda di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Sabtu (25/5/2024) malam, berakhir imbang dengan skor 0-0. Dokumentasi Bali United menampilkan momen wasit menunjukkan kartu merah, yang diberikan ke pemain Bali United Eber Henrique Ferreira de Bessa dalam laga di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Sabtu (25/5/2024) malam.

Selama Januari hingga Februari ini terdapat dua wasit asing yang didatangkan PSSI, yakni Ko Hyung-jin (Korea Selatan) dan Clifford Daypuyat (Filipina). Ko memimpin duel Persebaya versus Malut United, 17 Januari. Adapun Daypuyat bertugas pada dua gim playoff promosi Liga 2 antara Deltras melawan PSPS serta FC Bekasi menghadapi Adhyaksa FC.

Memasuki periode akhir Liga 1, PSSI mendatangkan kembali dua wasit impor asal Singapura, Muhammad Taqi dan Clarence Leow.

”Kami mendatangkan wasit asing di Liga 1 dan Liga dengan tujuan pembelajaran bagi wasit lokal demi menimbang pengalaman dan meningkatkan kualitas. Kemudian, wasit internasional itu juga diharapkan membantu kualitas liga kita makin profesional,” tutur Erick yang juga Ketua Komite Wasit PSSI.

Memang sudah ada langkah untuk perbaikan kompetisi oleh PSSI, tetapi perubahan secara normal tidak cukup. Pembenahan liga dan pembinaan suporter perlu aksi akselerasi dari para pemangku kepentingan olahraga demi perubahan benar-benar terasa di akar rumput.

Percepatan pembenahan sepak bola nasional hanya menyentuh timnas yang sejatinya ”ceri” di puncak ”kue: pembinaan sepak bola nasional. Cerinya memang merekah merah dan indah, tetapi kuenya tidak sedap dilihat dan disantap.


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey