Selama sembilan bulan, setidaknya ada 10 telepon langsung antara Presiden Prabowo Subianto dan pemimpin negara lain. Sebagian menghasilkan kesepakatan strategis.
18 Jul 2025 09:00 WIB · Politik & Hukum
Perjalanan panjang dari Tanah Air menuju Arab Saudi, Brasil, Inggris, Belgia, Perancis, dan Belarus selama dua pekan seolah tak membuat Prabowo Subianto lelah. Seusai melakukan sejumlah kunjungan kenegaraan, bertemu dengan para pemimpin negara dan organisasi internasional, serta berpidato di forum multilateral, Presiden berusia 73 tahun itu masih menghubungi pemimpin Amerika Serikat.
Lewat sambungan telepon, Selasa (15/7/2025) malam, saat masih berada di Eropa, Prabowo menghubungi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Lewat hubungan telepon itu, Prabowo negosiasi agar ada penurunan tarif bea masuk produk ekspor Indonesia ke Amerika Serikat. Momen itu pun dibagikan Prabowo di akun pribadinya di Instagram.
Percakapan antarkedua pemimpin negara yang sama-sama belum satu tahun menjabat itu berlangsung alot. Selama 17 menit, tarik ulur kepentingan dua negara terjadi hingga akhirnya Trump bersedia menurunkan tarif pajak resiprokal Indonesia dari 32 persen menjadi 19 persen.
Namun, sebagai gantinya, Prabowo juga memberikan kelonggaran berupa bebas akses seluruh produk ekspor AS ke Indonesia ditambah dengan komitmen membeli sejumlah produk negara adidaya tersebut yang nilainya mencapai miliaran dollar AS. ”Ya, saya tetap nego. Saya katakan beliau ini (Trump) seorang negosiator yang cukup keras juga,” ujar Prabowo setelah mendarat dari rangkaian lawatannya di Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, Rabu (16/7/2025) sore.
Meski terlibat dalam perundingan yang sangat serius, menurut Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, pembicaraan antara Prabowo dan Trump berlangsung dalam nuansa yang hangat. Keduanya mampu memahami kepentingan negara masing-masing sehingga bisa mencapai titik temu yang berujung pada kesepakatan untuk menurunkan tarif bea masuk produk ekspor Indonesia. Adapun tarif yang dikenakan pada Indonesia, termasuk yang terendah se-Asia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/17/b82192555eb0893437f8dd10ea89aed6-cropped_image.jpg)
”Setelah berbagai upaya negosiasi dilakukan oleh Pemerintah Indonesia, Presiden Prabowo sendiri secara langsung melakukan negosiasi penurunan tarif dengan Presiden Donald Trump yang adalah seorang negosiator tangguh,” kata Teddy yang berada dałam satu ruangan dengan Presiden Prabowo saat perundingan dengan Trump berlangsung.
Kehangatan hingga kesepakatan antara Prabowo dan Trump tidak bisa dilepaskan dari proses komunikasi keduanya yang telah berlangsung lama.
Sebelumnya, Prabowo juga pernah menerima telepon dari Trump pada pertengahan Juni 2025. Dałam percakapan yang berlangsung selama 15 menit, Prabowo dan Trump sama-sama kembali mengucapkan selamat atas keterpilihan masing-masing. Keduanya pun sepakat meningkatkan hubungan kerja sama kedua negara serta berkomitmen menjaga stabilitas dan perdamaian global. Momen itu diunggah di akun pribadinya di Instagram pada 13 Juni 2025.
Prabowo juga pernah menerima telepon dari Trump pada pertengahan Juni 2025.
Pada 11 November 2024, Prabowo juga sempat menelepon untuk mengucapkan selamat atas kembali terpilihnya Trump sebagai Presiden AS dari hasil pemilihan presiden AS 2024. Saat telepon berlangsung, Prabowo yang dilantik sebagai Presiden ke-8 RI pada 20 Oktober 2024 tengah mengadakan rangkaian lawatan kenegaraan, salah satunya ke AS untuk menemui Presiden Joe Biden.
Dalam pembicaraan telepon yang tak lebih dari tiga menit itu, Prabowo menyampaikan keinginan untuk bertemu dengan Trump. Sementara itu, Trump memuji kepemimpinan Prabowo dan berniat untuk berkunjung ke Indonesia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/23/790577ac-7484-44c3-8057-e91fd739bd47_jpeg.jpg)
Diplomasi telepon yang digencarkan Presiden Prabowo pun tidak hanya dilakukan terhadap Trump. Selama sembilan bulan terakhir, setidaknya ada 10 sambungan telepon antara Prabowo dan presiden atau pemimpin negara lainnya.
Dalam foto-foto yang dipublikasikan di akun media sosial pribadi dan pemberitaan Sekretariat Presiden, mayoritas pembicaraan telepon dilakukan menggunakan telepon genggam iPhone yang terciri dari tiga kamera belakangnya yang khas. Prabowo memegang telepon bergantian dengan tangan kiri dan kanan, tetapi hampir selalu mendengarkan suara dari telepon tanpa menempelkannya ke telinga.
Umumnya, Presiden Prabowo didampingi oleh Teddy dalam setiap pembicaraan telepon dengan para pemimpin dari sejumlah negara.
Awal Juni lalu, misalnya, Prabowo menerima telepon dari Perdana Menteri Kanada Mark Carney yang mengundangnya untuk hadir ke Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7. Pada hari yang sama, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga menelepon Prabowo untuk mengucapkan selamat hari raya Idul Adha untuk masyarakat Indonesia.
Pada April 2025 setidaknya ada empat pemimpin negara yang berbicara melalui panggilan telepon dengan Prabowo. Mereka adalah Erdogan, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, Sultan Brunei Darussalam Sultan Hassanal Bolkiah, dan Presiden Perancis Emmanuel Macron.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/29/52478571-4192-4e7c-a87a-c3928f520bd3_jpg.jpg)
Dari telepon demi telepon, tidak hanya kedekatan pribadi yang terbangun antara Prabowo dan para pemimpin dunia. Tidak jarang pembicaraan mereka di udara berlanjut dengan kunjungan kenegaraan yang menghasilkan sejumlah kesepakatan bilateral strategis.
Dengan Emmanuel Macron, misalnya. Begitu pula dengan Erdogan. Terakhir, diplomasi telepon Prabowo pun membuahkan kesepakatan dengan Trump di tengah dinamika geoekonomi dan perang tarif yang mengkhawatirkan banyak negara.
Kontak telepon secara langsung hanya bisa dilakukan oleh para pemimpin yang sudah memiliki rasa saling percaya.
Pakar hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran, Bandung, Teuku Rezasyah, mengatakan, kontak langsung antarkepala negara memang kerap dilakukan bahkan sejak ratusan tahun lalu.
Praktik itu setidaknya mulai dilakukan di Eropa pada abad ke-19 ketika Britania Raya berada di bawah kepemimpinan Ratu Victoria. Komunikasi langsung antarkepala negara dimungkinkan karena banyak kalangan Istana yang saling terhubung akibat hubungan perkawinan.
Memasuki abad ke-21, kontak antar-kepala negara semakin sering terjadi. Apalagi, mereka kerap berjumpa dalam berbagai aktivitas internasional. Melalui berbagai pertemuan itu, para kepala negara juga berkesempatan tidak hanya saling mengenal. Mereka juga saling mempelajari kekhasan masing-masing dalam pengambilan keputusan, sebagaimana yang mereka ketahui lewat media massa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/17/276cfb13217eb13162b2fd30f2a3f5d2-cropped_image.jpg)
Kendati demikian, menurut Rezasyah, kontak telepon secara langsung hanya bisa dilakukan oleh para pemimpin yang sudah memiliki rasa saling percaya. Sebelum saling bicara mengenai kepentingan negara lewat sambungan telepon, mereka pun sudah memiliki perhitungan yang matang mengenai masalah-masalah yang tengah dihadapi bersama.
Oleh karena itu, diplomasi telepon yang dilakukan Presiden Prabowo terhadap presiden atau pemimpin negara lainnya menunjukkan adanya rasa saling percaya yang sudah terbangun. Rasa saling percaya itu juga bisa segera menyebar ke birokrasi negara sehingga dapat mempercepat pengerjaan berbagai agenda yang sebelumnya tertunda.
Akan tetapi, Rezasyah mengingatkan, praktik diplomasi telepon yang menghubungkan dua kepala negara secara langsung sebenarnya rentan untuk birokrasi. Hal tersebut dapat mendemotivasi para birokrat dan diplomat karena kredit pembangunan kerja sama antarnegara kini menjadi milik presiden. Padahal, sebelumnya diplomasi memiliki protokol ketat yang menempatkan para diplomat pada lini terdepan diplomasi negara.
Beberapa waktu lalu, Rezasyah juga pernah menyampaikan bahwa dalam birokrasi klasik, para diplomat memegang peran utama dalam komunikasi geopolitik. Para diplomat terbiasa mengatur lebih dulu komunikasi telepon antarkepala negara, bahkan telepon juga umumnya terjadi di hadapan mereka. Namun, dengan gaya diplomasi yang memungkinkan kontak telepon antarkepala negara terjadi secara langsung dan mendadak, peran diplomat tergerus. Kebijakan luar negeri yang diambil pun bergeser menjadi terkonsentrasi pada kepresidenan saja.
Selain itu, panggilan telepon antarpemimpin negara dalam arena diplomatik juga merupakan urusan yang sangat terorganisasi. Presiden umummya melakukan panggilan telepon melalui salah satu dari beberapa saluran yang aman. Di AS, contohnya, hanya bisa dilakukan di Ruang Sidang Gedung Putih, Ruang Oval, dan mobil kepresidenan. Ketidakpercayaan presiden terhadap sejumlah saluran komunikasi resmi itu bisa menjadi pelanggaran protokol yang mencolok (Kompas, 27/3/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/14/005b03ad-7d59-46a9-8716-82781f987226_jpg.jpg)
Menurut Rezasyah, presiden perlu membangun kesepahaman bahwa kerja-kerja diplomasi yang dilakukan presiden adalah kerja sama yang melibatkan semua pihak. Kesepakatan yang dicapai setelah perundingan melalui telepon juga bukan kerja individu pemimpin negara tetapi hasil kerja bersama. ”Kepala negara perlu meyakinkan birokrasi bahwa kesepakatan yang dihasilkan lewat telepon adalah keberhasilan bersama,” kata Rezasyah.
Peran langsung dan ketangguhan seorang presiden jelas akan memperkuat posisi sebuah negara ketika berdiplomasi dengan negara lain, apalagi negara adidaya. Namun, diplomasi yang dilakukan berbasis kerja sama tim tentu akan menjamin arah dan meminimalkan berbagai risiko yang bisa muncul selama diplomasi berlangsung.
Penulis:
Kurnia Yunita RahayuEditor:
Madina Nusrat