Uni Eropa berkomitmen terlibat dalam pelestarian lingkungan di negara mitranya. Aneka program digelar untuk pelestarian itu.
29 Okt 2024 19:45 WIB · Internasional
Oleh Mahdi Muhammad - [email protected]
Perutusan Tetap Uni Eropa untuk ASEAN menggelar lagi Pekan Diplomasi Hijau 2024 di Jakarta, Minggu (27/10/2023). Kegiatan pekan ini merupakan yang kedua setelah September 2023.
Dubes Uni Eropa untuk ASEAN Sujiro Seam mengatakan, UE berkomitmen kuat mendukung mitranya melaksanakan program transisi energi bersih. Dukungan juga diberikan kepada ASEAN.
Pekan Diplomasi Hijau UE menjadi salah satu pelantar kampanye global UE untuk mempromosikan dan mendorong kerja sama dan pemahaman perubahan iklim masyarakat. Tujuannya, menginspirasi publik agar bersama bergerak memitigasi dampak perubahan iklim.
UE membuat kegiatan beragam di setiap negara anggota ASEAN. Di negara lain wujudnya mulai dari penanaman pohon, pengumpulan sampah, hingga bersih pantai dan sungai.
Di Indonesia, Pekan Diplomasi Hijau, antara lain, dimeriahkan dengan lari dan jalan santai 5 kilometer. Kegiatan itu dipusatkan di sekitar Gelora Bung Karno, Jakarta.
Seam menyatakan, kegiatan ini menjadi kesempatan bagus untuk mendorong dan memotivasi individu, komunitas, dan organisasi untuk melakukan tindakan nyata melindungi, melestarikan, dan memulihkan kondisi lingkungan. ”Untuk saat ini dan generasi mendatang,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/10/29/495da8c26ce57954478bee7643430aad-Medal_Presentation_with_the_Ambassador_of_the_European_Union_to_ASEAN_H.E._Sujiro_Seam_and_participants.jpg)
Kegiatan ini menjadi bagian dari program besar UE-ASEAN Strategic Partnership 2023-2027. Kemitraan itu termasuk Pembangunan Bersih dan Berkelanjutan (Green and Sustainable Development). Salah satunya adalah ambisi UE untuk mengurangi gas rumah kaca hingga 55 persen pada tahun 2030.
Wujud kemitraan itu, antara lain, lewat isu gambut. Ada program ASEAN Sustainable of Peatland and Haze Mitigation atau lebih dikenali sebagai SUPA.
Fokus program itu untuk restorasi sekaligus pemanfaatan lahan gambut. Bersama hutan bakau di pesisir dan padang lamun di perairan, gambut penting untuk penyimpanan karbon secara alami. Selain itu, ketiga hal tersebut juga bagian dari Ekosistem Karbon Biru (EKB).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/10/29/655743c651f135a19f6cb5cdfd9ba607-tree_planting.jpg)
Indonesia kini sedang menjajaki peluang pemanfaatan EKB. Tujuannya untuk mitigasi perubahan iklim dan menekan emisi gas rumah kaca.
ASEAN merupakan tempat bagi 56 persen kawasan gambut global. Lahan gambut ASEAN ditaksir menyimpan hingga 68 miliar metrik ton karbon. Kawasan itu, bersama bakau, juga menjadi habitat aneka flora dan fauna. Sebagian masuk daftar terancam punah.
Di Indonesia, berdasarkan data Badan Restorasi Gambut dan Mangrove, luas lahan gambut mencapai 13,430 juta hektar. Indonesia juga punya 3,36 juta hektar lahan bahan bakau.
Radomir Jansky, Wakil Kepala Misi Delegasi UE untuk ASEAN, Selasa (29/10/2024), menjelaskan, UE memiliki ketertarikan dalam kerja sama pengelolaan ekonomi biru, termasuk di dalamnya karbon biru. Hal itu tidak lepas dari fakta UE sebagai konsumen besar produk makanan laut yang berkualitas dan berkelanjutan.
UE, lanjut Jansky, mengakui pentingnya ekosistem laut. UE juga memandang penting perlindungan keanekaragaman hayati untuk tujuan ekonomi yang berkelanjutan di tempat asal bahan pangan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/19/00da52b7-fb7c-4aee-9aea-2a55186b53f0.jpg)
Jansky mengatakan, dukungan terhadap negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, untuk mengembangkan karbon biru dan ekonomi biru tidak terlepas dari pemberlakuan model ekonomi biru berkelanjutan atau sustainable blue economy (SBE). SBE diadopsi sejak 21 Mei 2021. Ekonomi biru adalah bagian dari Kesepakatan Biru Uni Eropa, desain besar kebijakan hijau organisasi ini.
”UE memberikan dukungan komprehensif kepada ASEAN (dan Indonesia) dalam ekonomi biru, termasuk perikanan berkelanjutan (penelitian kelautan, pelabuhan perikanan yang aman), penanganan sampah laut, pengelolaan kawasan lindung laut (segitiga karang), serta kondisi tenaga kerja di sektor perikanan,” katanya.
Untuk program SUPA di ASEAN, UE mengucurkan dana sekitar 24 miliar dollar, AS bersumber dari UE dan Pemerintah Jerman, guna mendukung Strategi dan Rencana Aksi ASEAN untuk Pengelolaan Lahan Gambut Berkelanjutan 2023-2030. ”Ini termasuk memfasilitasi pertukaran pengetahuan, dukungan kelembagaan, dan program advokasi masyarakat,” ujarnya.
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Kris Mada