Pengeboman fasilitas nuklir di Iran oleh Israel dan Amerika Serikat menyalahi aturan internasional. Apa pun konteksnya, fasilitas nuklir tidak boleh diserang.
22 Jun 2025 19:12 WIB · Sains & Teknologi
Pengeboman Amerika Serikat terhadap sejumlah fasilitas nuklir Iran pada Minggu (22/6/2025) dikecam sejumlah pihak di seluruh dunia. Penembakan roket ke fasilitas nuklir bisa memicu insiden nuklir, seperti yang terjadi pada reaktor Chernobyl dan Fukushima Daiichi. Insiden nuklir itu bisa melepaskan radiasi yang berdampak serius bagi manusia dan lingkungan sekitar.
”Saya telah berulang kali menyatakan bahwa fasilitas nuklir tidak boleh diserang,” kata Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) Rafael Mariano Grossi, seperti disampaikan dalam situs IAEA, Minggu, dari Vienna, Austria.
Pernyataan itu disampaikan seiring makin seriusnya situasi pascapenyerangan sejumlah fasilitas nuklir di Iran, baik oleh Israel maupun AS. Terlepas dari apa pun konteks dan keadaannya, serangan terhadap fasilitas nuklir berdampak serius terhadap keselamatan, keamanan, perlindungan nuklir, serta perdamaian dan keamanan regional dan internasional.
Berdasarkan laporan otoritas nuklir di Iran, serangan tersebut tidak menimbulkan peningkatan radiasi di luar tiga fasilitas nuklir Iran yang diserang, baik yang ada di Isfahan, Natanz, maupun Fordo. Karena itu, IAEA memperkirakan tidak ada konsekuensi kesehatan bagi masyarakat ataupun lingkungan di sekitar fasilitas nuklir tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/03/04/324dedeb-a4d7-4ec7-9b0b-ad644da86b4d.jpg)
”Kami akan terus memantau dan menilai situasi di Iran dan akan memberikan informasi lebih lanjut saat ada tambahan informasi terbaru,” ujarnya. Untuk menindaklanjuti persoalan ini, Grossi akan mengadakan pertemuan darurat Dewan Gubernur IAEA pada Senin (23/6/2025) mengingat ”situasi mendesak” yang terjadi di Iran pasacaserangan tersebut.
Sebelum dibom AS, ketiga kompleks besar nuklir di Iran yang dibom AS telah diserang Israel pada 13 dan 21 Juni 2025. Fasilitas nuklir di tiga tempat tersebut mengandung bahan bakar nuklir berupa uranium yang diperkaya ke berbagai tingkat. Namun, berdasarkan pemantauan yang dilakukan IAEA, tingkat pengayaan uranium yang dilakukan masih rendah.
Serangan Israel pada kompleks nuklir Isfahan, 13 Juni lalu, menyebabkan kerusakan empat bangunan, di antaranya pabrik pembuatan bahan bakar reakor dan fasilitas pengayaan logam uranium. Sementara serangan pada 21 Juni merusak enam bangunan, antara lain fasilitas produksi logam uranium alami dan terdeplesi yang belum beroperasi, bangunan tempat produksi pelet uranium dengan pengayaan rendah, dan perkantoran yang tidak mengandung nuklir.
Setiap serangan bersenjata dan ancaman terhadap fasilitas nuklir yang ditujukan untuk damai merupakan pelanggaran terhadap prinsip-prinsip PBB, hukum internasional, dan statuta IAEA.
Komplek Isfahan juga memiliki bengkel sentrifugasi yang digunakan untuk memperkaya uranium. Namun, IAEA menegaskan, fasilitas nuklir Iran yang diserang tidak mengandung bahan nuklir atau mengandung uranium dalam jumlah kecil, baik yang alami maupun yang sudah diperkaya dalam tingkat rendah. Dengan demikian, kontaminasi radioaktif yang terjadi terbatas pada bangunan yang rusak dan hancur semata, tidak menyebar ke lingkungan.
Kondisi serupa terjadi di kompleks nuklir Natanz. Berdasarkan analisis berkelanjutan menggunakan citra satelit resolusi tinggi yang dikumpulkan setelah serangan Israel, IAEA mengidentifikasi adanya unsur-unsur tambahan di ruang pengayaan bawah tanah di Natanz. Artinya, kerusakan yang terjadi dipastikan hanya terbatas pada fasilitas nuklirnya, tidak menimbulkan radiasi eksternal.
Berdasarkan jenis bahan bakar nuklir yang digunakan di Natanz, radiasi yang tersebar di ruang pengayaan bawah tanah itu diduga berasal dari isotop uranium yang terkandung dalam uranium heksafluorida, uranil fluorida, dan hidrogen fluorida. Radiasi dari senyawa ini akan menimbulkan bahaya besar jika terhirup atau tertelan.
Selama berada di fasilitas nuklir, perlindungan dari bahaya senyawa nuklir tersebut dapat dikelola secara efektif melalui penggunaan alat perlindungan diri yang tepat, khususnya untuk membantu pernapasan. Namun, jika zat kimia tersebut menyebar ke luar lingkungan, apalagi jika bersentuhan dengan air dan udara sekitar, maka bisa timbul dampak besar pada masyarakat umum.
Sejak serangan Israel ke sejumlah fasilitas nuklir pada 13 Juni, Grossi dalam pernyataannya kepada Dewan Gubernur IAEA kembali mengingatkan sejumlah resolusi Konferensi Umum IAEA yang salah satunya terkait serangan militer terhadap fasilitas nuklir.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/03/12/fb05c111-5f64-48c6-82a3-d208deaba37b.jpg)
Resolusi GC(XXIX)/RES/444 dan GC(XXXIV)/RES/533) menyebut setiap serangan bersenjata dan ancaman terhadap fasilitas nuklir yang ditujukan untuk damai merupakan pelanggaran terhadap prinsip-prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), hukum internasional, dan statuta IAEA.
Sementara dalam resolusi GC(XXXIV)/RES/533 diingatkan bahwa serangan bersenjata terhadap fasilitas nuklir dapat melepaskan radiasi yang mengandung konsekuensi serius baik di dalam maupun di luar batas-batas negara yang diserang.
Menyikapi eskalasi konflik di Iran, IAEA menegaskan akan tetap hadir di Iran. Inspeksi perlindungan akan terus dilakukan segera setelah situasinya memungkinkan sesuai Perjanjian Perlindungan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT).
”Eskalasi militer mengancam nyawa, meningkatkan kemungkinan pelepasan radiasi dengan konsekuensi serius pada manusia dan lingkungan, serta menunda upaya penting menuju solusi diplomatik untuk jaminan jangka panjang bahwa Iran tidak mendapatkan senjata nuklir,” kata Grossi pada Kamis (19/6/2025).
Meski berbeda penyebab, kecelakaan nuklir yang terjadi di Chernobyl dan Fukushima penting menjadi pengingat akan bahayanya dampak kecelakaan nuklir yang terjadi. Radiasi yang ditimbulkan dari kecelakaan tersebut berdampak besar bagi masyarakat sekitar, bahkan penduduk di lain negara.
Kecelakaan Chernobyl pada 1986, seperti ditulis World Nuclear Association (WNA), 17 Februari 2025, disebabkan oleh desain reaktor yang cacat dan dioperasikan oleh personel yang tidak memadai. Ledakan uap dan kebakaran reaktor yang ada di wilayah Uni Soviet, kini masuk Ukraina, melepaskan sedikitnya 5 persen inti reaktor radioaktif ke lingkungan. Akibatnya, pengendapan bahan radioaktif dari kecelakaan tersebut tersebar di banyak negara Eropa.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/04/26/bcc9315e-74f9-43b7-83b2-a25dc37c3aa3.jpg)
Kecelakaan ini mengakibatkan dua pekerja Chernobyl meninggal seketika dan 28 orang lainnya dalam beberapa minggu setelah ledakan akibat sindrom radiasi akut. Kecelakaan memicu pengungsian 350.000 penduduk. Selain itu, penelitian Komite Ilmiah PBB tentang Dampak Radiasi Atom menyimpulkan adanya sekitar 5.000 kasus kanker tiroid dengan 15 kasus di antaranya memicu kematian.
Sementara kecelakaan reaktor di pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi, Jepang, pada 2011 terjadi akibat gempa bumi besar yang diikuti tsunami setinggi 15 meter. Tsunami itu melumpuhkan pasokan listrik dan sistem pendinginan tiga reaktor.
Seperti ditulis WNA, 29 April 2024, tidak ada kematian langsung atau kasus penyakit akibat radiasi yang dilaporkan. Namun, kematian akibat gempa dan tsunami yang terjadi lebih dari 20.000 orang. Sekitar 100.000 orang di dekat lokasi reaktor diungsikan sebagai bentuk pencegahan.
Walau demikian, kedua peristiwa itu memicu kepanikan global mengingat radiasi yang dilepaskan bisa menyebar ke berbagai belahan dunia yang jauh dari lokasi kecelakaan. Karena itu, meski fasilitas nuklir yang diserang berada di Iran, dampaknya bisa merembet ke negara-negara di sekitarnya.
Karena itu, Grossi berharap semua pihak yang bertikai mengendalikan diri dengan maksimal guna menghindari eskalasi yang lebih tinggi.
Penulis:
Muchamad Zaid WahyudiEditor:
Ichwan SusantoPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti