Disparitas Kualitas, Kisah Usang Abadi Turnamen Kelompok Usia Asia Tenggara

Pemerataan kualitas tim regional Asia Tenggara belum tercapai pada kelompok umur. Vietnam, Thailand, dan Indonesia bergantian merajai kawasan.

29 Jul 2025 14:20 WIB · Olahraga

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

Semifinal Kejuaraan ASEAN U-23 meneguhkan hegemoni tiga negara besar, Thailand, Indonesia, dan Vietnam pada turnamen sepak bola kelompok usia. Laju mereka masih sulit dibendung para rivalnya. Alhasil, ketiga negara itu sudah seperti pelanggan setia semifinal. Final antara Indonesia dan Vietnam serta keberhasilan Thailand merebut peringkat tiga menguatkan bukti bahwa pemerataan kualitas tim Asia Tenggara masih jauh panggang dari api.

Sebagaimana sudah diduga, Thailand tanpa kesulitan menaklukkan Filipina, 3-1, pada laga perebutan tempat ketiga di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (28/7/2025). Filipina menjadi negara terakhir yang mencoba mematahkan dominasi tiga negara besar sepak bola Asia Tenggara, tetapi tetap gagal.

Sejak edisi 2019, para semifinalis tidak pernah jauh-jauh dari Thailand, Indonesia, dan Vietnam. Juara, runner up, serta tim peringkat ketiga juga hanya berkutat di antara ketiga negara tersebut.

Distribusi raihan juara turut menjadi bukti betapa disparitas kualitas masih nyata adanya di Kejuaraan ASEAN U-23. Sejauh ini hanya ada tiga negara yang pernah menjadi juara. Tiga negara itu tidak lain dan tidak bukan adalah Vietnam, Indonesia, dan Thailand. Vietnam menjadi pengoleksi gelar terbanyak, yaitu dua kali. Adapun Thailand dan Indonesia masing-masing satu kali.

Pengecualian terjadi pada 2022 di mana untuk pertama kalinya Timor Leste dan Laos menembus semifinal. Namun, itu pun dipengaruhi pandemi Covid-19 yang membuat jumlah kontestan tidak lengkap lantaran Indonesia dan Myanmar menarik diri dari turnamen.

Pemain Thailand U-23 Sphon Noiwong (kiri) berebut bola dengan pemain Filipina Theo Jico Libarne (kanan) dalam pertandingan perebutan posisi tiga Kejuaraan ASEAN U-23 2025 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta, Selasa (28/7/2025). Thailand menang dengan skor 3-1.

Dengan demikian, Kejuaraan ASEAN U-23 2022 tidak bisa digunakan sebagai tolok ukur pemeratan kualitas antarnegara. Buktinya, ketika pandemi mereda dan jumlah kontestan kembali seperti semula pada edisi 2023, semifinal lagi-lagi diisi Indonesia, Thailand, dan Vietnam.

Pada edisi 2023, Vietnam keluar sebagai juara. Indonesia harus puas sebagai runner up. Adapun Thailand menempati peringkat ketiga. Pola serupa terjadi pada edisi 2025 di Jakarta. Final ulangan terwujud antara Vietnam dan Indonesia. Sementara Thailand kembali berhasil mengamankan peringkat ketiga.

Jika Kejuaraan ASEAN U-23 tidak cukup menjadi bukti, coba saja lihat SEA Games 2023. Dominasi Thailand, Vietnam, dan Indonesia pun masih bisa dilacak di sana. Cabang sepak bola SEA Games mewajibkan kontestan menurunkan tim U-22. Tim usia muda ketiga negara tersebut kembali jadi semifinalis ditambah Myanmar yang pada akhirnya menempati peringkat empat. Indonesia merebut emas usai mengalahkan Thailand. Adapun Vietnam harus puas menempati peringkat ketiga.

Pola seperti ini agaknya masih akan terus berlanjut pada Kejuaraan ASEAN U-23 beberapa edisi mendatang, kecuali jika negara lain mengikuti langkah Filipina. ”The Azkals” memainkan sejumlah pesepak bola keturunan yang menimba ilmu sepak bola di luar negeri.

Pemain Thailand U-23 Chinavat Prachuabmon (kanan) berebut bola dengan pemain Filipina Gavin Muen (kiri) dalam pertandingan perebutan posisi tiga Kejuaraan ASEAN U-23 2025 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta, Selasa (28/7/2025). Thailand menang dengan skor 3-1.

Mereka, antara lain, Otu Abang Banatao dan Gavin Muens yang punya garis keturunan Amerika Serikat. Lalu ada kiper Nicholas Guimaraes dari Jepang dan Noah Leddel dari Hong Kong. Out Abang Banatao tampil impresif dengan mencetak tiga gol pada Kejuaraan ASEAN U-23. Pengalamannya menimba ilmu di Akademi DC United di AS menjadi alasan ia begitu diandalkan Filipina.

”Kami mengandalkan mereka yang memiliki pengalaman untuk memperkuat tim kami,” ucap Pelatih Filipina Garrath McPherson.

Keputusan mengandalkan pemain keturunan tidak sia-sia. Meski kalah dari Indonesia, Filipina mampu lolos untuk pertama kalinya ke semifinal berkat mengalahkan Malaysia, 2-0, pada laga pembuka. Banatao jadi pahlawan kemenangan Filipina dengan mencetak semua gol tersebut. Kemenangan Filipina cukup mengejutkan mengingat Malaysia turut jadi kekuatan yang diperhitungkan di Asia Tenggara di bawah para ”big three”.

Bisa berbeda

Hal berbeda bisa terjadi pada kompetisi kelompok usia di belahan dunia lainnya. Tidak jarang sebuah tim tanpa tradisi kuat justru mampu berbicara banyak lewat tim yunior. Ini salah satunya terjadi pada Piala Dunia U-20 2023 di mana Gambia, Tunisia, dan Israel membuat kejutan dengan lolos hingga fase gugur.

Pemain Indonesia U-23 Frengky Deaner Missa (kanan) berebut bola dengan pemain Thailand U-23 Teerpat Pruetong dalam babak semifinal ASEAN Mandiri U-23 Championship Mandiri Cup 2025 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (25/7/2025). Indonesia U-23 melaju ke babak final usai mengalahkan Thailand U-23 lewat adu penalti. 



KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)

25-07-2025

Diketahui, timnas senior Gambia, Tunisia, dan Israel tidak punya prestasi mentereng di Piala Dunia. Akan tetapi, di level yunior, mereka mampu bersaing dengan negara-negara raksasa. Israel bahkan melaju hingga semifinal sebelum kalah dari Uruguay.

Fenomena serupa tidak terjadi di Kejuaraan ASEAN U-23. Dominasi Vietnam, Thailand, dan Indonesia berlanjut hingga ke tim yunior. Adapun tim yunior Kamboja, Laos, hingga Brunei Darussalam tetap tidak mampu menandingi kekuatan raksasa tradisional Asia Tenggara tersebut. Disparitas kualitas ini akan menjadi kisah usang yang tampaknya akan tetap terulang di masa-masa mendatang.


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto