Selat Makassar kembali menelan kapal yang melintas di sana. Kombinasi kondisi alam dan mitigasi yang tidak ideal membuat kawasan itu terus memakan nyawa.
22 Okt 2025 13:39 WIB · Sains & Teknologi
Hingga hari ketujuh, kapal ambulans yang hilang kontak di Selat Makassar, Sulawesi Selatan, tidak kunjung ditemukan. Tubuh kapal entah ke mana. Tiga penumpangnya tidak ketahuan nasibnya. Hal ini kembali mengingatkan pada siapa saja tentang kerawanan berlayar di Selat Makassar.
Kejadian yang menimpa kapal ambulans itu jelas bukan yang pertama. Sudah beberapa kali terjadi kapal beserta penumpangnya hilang dan tidak diketahui kabarnya.
Hal itu ikut menimbulkan berbagai kisah dan cerita yang berseliweran dari mulut ke mulut. Lebih kurang kisahnya mirip dengan cerita legenda di dunia tentang kapal hantu atau ghost ship. Salah satu legenda terkenal soal ini adalah The Flying Dutchman, cerita rakyat maritim di Eropa.
Sebagian warga Majene, Sulawesi Barat, misalnya, bakal sulit lupa peristiwa tenggelamnya KM Teratai Prima pada 11 Januari 2009. Kapal ini tenggelam dan karam bersama lebih dari 300 penumpang.
Lokasinya dilaporkan di Selat Makassar, kawasan Tanjung Baturoro, Majene. Namun, lama dicari jejak kapal dan manusianya tak bisa ditemukan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/06/06/2cc93183-5d9c-4be7-988c-b536ddea9bd9.jpg)
Kisah kelam itu berlanjut di tahun 2018. Sebuah kapal motor yang membawa 43 penumpang terbalik lalu tenggelam. Sebanyak 13 orang tewas dan 8 orang lainnya hilang.
Akhir Mei 2022, KM Ladang Pertiwi yang membawa 50 penumpang juga tenggelam dalam perjalanan dari Pelabuhan Pelaotere ke Pulau Kalmas, Pangkajene Kepulauan (Pangkep). Hingga akhir pencarian, tubuh kapal dan 15 penumpang tak ditemukan.
Teror seperti tak pernah berhenti. Giliran KM Yuiee Jaya kehilangan kontak di sekitar Perairan Sabalana, Kabupaten Kepulauan Selayar. Hingga akhir pencarian, kapal itu dinyatakan hilang. Sebanyak 18 korban juga tidak pernah ditemukan. Selat Makassar seperti menelan mereka.
Selat Makassar diapit Pulau Sulawesi dan Pulau Kalimantan. Panjang antarpulau sekitar 800 kilometer. Kedalamannya bervariasi, dari 2.000 meter hingga 2.500 meter.
Selat ini tercatat masuk wilayah tektonik kompleks di tepi Lempeng Eurasia yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa di ujung selatan. Letaknya yang strategis menjadikan wilayah perairan ini menjadi salah satu alur laut Kepulauan Indonesia.
Meski strategis, bukan perkara mudah mengarungi Selat Makassar. M Ridwan Alimuddin, pegiat dan peneliti maritim yang kerap melakukan ekspedisi pelayaran, mengatakan, sebagai wilayah perairan, Selat Makasaar terbilang kompleks dan berbahaya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/06/02/0e585ce6-5b3f-4d70-8f6e-9cbe771b7aeb.jpg)
Selat itu, kata Ridwan, memiliki banyak tanjung, gugusan karang, dan pulau. Di antara pulau dan tanjung ini, banyak titik pusaran air dan angin yang berbahaya.
”Saat cuaca buruk dan kontur laut bergejolak, tanjung dan gugusan karang ini kerap tak terlihat,” kata Ridwan yang pernah terlibat dalam ekspedisi Pelayaran Padewakang dari Makassar ke Darwin, Australia, melewati Selat Makassar di tahun 2019.
Ridwan mengatakan, mitigasi terkait hal ini sebenarnya sudah dilakukan sejak era kolonial Belanda. Belanda, misalnya, membangun banyak mercusuar di sepanjang selat.
Bahkan, Selat Makassar juga banyak ditandai dalam peta lama Belanda dengan istilah Pater Noster. Umat Kristiani mengenal Pater Noster sebagai kata pembuka dalam ”Doa Bapa Kami”. Siapa pun yang hendak masuk Selat Makassar disarankan untuk berdoa agar selamat dalam perjalanan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2020/01/13/20191208REN04_1578907190_jpg.jpg)
”Dalam tradisi maritim, laut dipandang sebagai dunia lain yang kondisinya kadang di luar kendali. Maka, ritual dan doa menjadi pegangan saat akan melaut. Ada banyak titik di Selat Makassar di mana pelaut yang akan melintas memperbanyak doa karena berada di wilayah itu dianggap antara hidup dan mati,” kata Ridwan yang telah banyak melakukan ekspedisi pelayan di dalam hingga ke luar negeri.
Sampai sekarang, Ridwan mengatakan, kebiasaan itu masih dilakukan. Banyak pelaut dan nelayan percaya semua tanjung di Selat Makassar keramat.
Pada setiap perjalanan melewati tanjung ini, pelaut biasanya melambatkan laju perahu, berdoa dan kerap melarung makanan serupa sesaji. Ada pula pamali atau hal tabu yang tak boleh dilakukan, misalnya tidak boleh membuang air kecil, tidak berkata atau berpikiran negatif.
Pengajar Budaya Universitas Mulawarman yang juga kecil dan besar di pesisir Selat Makassar, Dahri Dahlan, mengatakan, momok laut membuat sejumlah titik ditandai dengan nama yang memiliki makna tertentu.
Ia mencontohkan Taka Bakkang, spot paling ditakuti pelaut Mandar dan Bugis. Letaknya di barat daya Pulau Kapoposang, Pangkep.
”Titik ini juga disebut To Salama’ yang berarti orang selamat atau orang suci. Pelaut menganggap To Salama’ adalah penunggu kawasan ini. Kapal sering karang di daerah ini karena di bawahnya adalah gugusan karang,” katanya.
Ada pula titik di sekitar Ujung Lero, Pinrang, yang dalam legenda disebut terdapat Gutita Kawao atau hantu gurita. Sementara di sekitar Pulau Bala-Balakang, Mamuju, ada titik yang disebut Pattinjang.
”Dalam bahasa Mandar, pattinjang berasal dari kata pattinja yang berarti nazar. Pelaut yang akan melewati wilayah ini biasanya bernazar. Jika selamat melewatinya, mereka akan melakukan sesuatu,” kata Dahri yang pernah meneliti tentang mantra pelaut.
Ridwan dan Dahri menyebut, laut yang dianggap sebagai dunia lain oleh pelaut membuat mereka menyiapkan banyak hal dengan matang. Salah satunya memilih kayu yang akan dibuat jadi kapal.
Ritual doa keselamatan dilakukan sejak kapal akan dibuat hingga memulai pelayaran. Bahkan keluarga yang ditinggal melakukan berbagai ritual hingga menghindari banyak pamali selama keluarga mereka melaut. Bahkan untuk berangkat pun ritual pemilihan hari baik akan dilakukan.
“Dulu, kalau ada keluarga kami yang berlayar, maka selama tiga hari berturut-turut, keluarga tak boleh meninggalkan rumah apalagi menginap di rumah keluarga lain. Selama tiga hari itu juga kami memperbanyak doa dan diminta tenang. Anak-anak tak boleh ribut karena dianggap akan membuat keluarga yang melaut tidak tenang,” kata Dahri.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/05/28/604efc88-9878-4399-9713-9fa191ad9c86.png)
Ridwan Alimuddin menambahkan, hingga kini, istri pelaut, terutama pada suku Mandar, punya peran mistik dan melakukan serangkaian ritual tolak bala saat suaminya melaut. Mereka akan mendatangi ustaz, ulama, atau orang pintar setiap Jumat selama suami mereka melaut.
Mereka juga membawa pisang dan beberapa kue lalu meminta didoakan. Salah satu kue wajib adalah benno, semacam popcorn yang buat dari beras.
”Seusai didoakan, kue itu ditabur di sekitar tenpat tidur suaminya atau tempat lain yang menjadi tempat favoritnya di rumah. Kue itu ringan dan serupa simbol dan harapan agar perahu suaminya mengapung. Saat angin kencang, maka keluarga di rumah akan mengambil guling atau kayu panjang dan diletakkan berdiri di pintu disertai mantra agar tiang layar perahu di laut tetap tegak,” kata Ridwan.
Di luar segala ritual, tradisi yang tak bisa dijelaskan oleh sains. Ridwan mengatakan, mitos maupun legenda sebenarnya adalah cara sederhana pelaut menjelaskan kondisi di laut. Mitos ini lebih kepada upaya memperingatkan orang-orang untuk berhati-hati.
Dalam kondisi kecelakaan di laut dan hingga kapal tenggelam atau tak ditemukan, menurut Ridwan, umumnya karena standar keselamatan yang tidak memenuhi syarat. Misalnya banyak kapal tak dilengkapi pelampung, alat komunikasi, dan sistem navigasi berbasis satelit.
”Karena keterbatasan alat komunikasi dan alat global positioning system (GPS) kadang ada rentang waktu yang cukup jauh antara peristiwa kecelakaan kapal dan pemberitahuan ke regu penolong. Belum lagi perjalanan menuju lokasi kejadian. Jadi, kapal biasanya keburu terbawa arus jauh atau tenggelam,” kata Ridwan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/05/29/8de1656a-b90d-4eb7-a974-53ead549dea5_jpg.jpg)
Dia mengatakan, jika kapal atau penumpang terbawa arus sejauh apa pun, biasanya setidaknya tiga hari akan kelihatan. Ini karena di sekitar Selat Makassar terdapat banyak pulau. Namun, berbeda jika kapal tenggelam dan biasanya bersama penumpang.
”Walaupun kapal kayu jika mesinnya di dalam, dalam kondisi dihantam badai dan bocor, tetap akan tenggelam,” katanya.
Dalam banyak peristiwa kecelakaan kapal, aparat kepolisian dan instansi terkait menyebut pengawasan juga menjadi poin penting. Kerap kapal berangkat dalam kondisi kelebihan muatan dan memaksa perjalanan di tengah cuaca buruk.
Kadang peringatan sudah dikeluarkan pihak syahbandar, tetapi nakhoda yang merasa berpengalaman kerap abai dan nekat berangkat hingga akhirnya mengalami kecelakaan.
Secara alami, Selat Makassar memang penuh tantangan dan tidak mudah diarungi. Namun, ulah manusia yang tidak mengindahkan keselamatan saat melintas di sana dampaknya bisa jauh lebih berbahaya.
Penulis:
Reny Sri AyuEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan