Ditinggal Dedi Mulyadi, Rob dan Banjir Melanda Jabar

Sejumlah daerah di Jabar dilanda bencana. Hal itu terjadi saat Gubernur Dedi Mulyadi datang ke lokasi bencana di Sumatera.

05 Des 2025 19:51 WIB · Metropolitan

Oleh Cornelius Helmy Herlambang

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mendatangi kawasan terdampak bencana Sumatera Barat dan Sumatera Utara sejak Kamis (4/12/2025). Saat bersamaan, sejumlah daerah di Jabar justru dilanda beragam bencana. 

Peristiwa ini terjadi dalam masa Status Siaga Darurat Bencana Banjir, Banjir Bandang, Cuaca Ekstrem, Gelombang Ekstrem, Abrasi, dan Tanah Longsor sebagaimana tercantum dalam Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 360/Kep.626-BPBD/2025, berlaku dari 15 September 2025 hingga 30 April 2026.

Hingga Jumat (5/12/2025), Jabar dilanda sejumlah bencana alam. Selain banjir, ada juga kejadian rob dan longsor. 

Di Subang, misalnya, rob menggenangi rumah warga sejak Kamis, sekitar pukul 07.00 WIB. Banjir menggenangi Desa Mayangan dan Desa Legon di Kecamatan Legonkulon, Desa Patimban di Kecamatan Pusakanagara, dan Desa Muara di Kecamatan Blanakan.

Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebanyak 861 kepala keluarga atau 2.648 jiwa terdampak. Kerusakan material sekitar 861 rumah warga turut terendam. Ketinggian air 20-50 sentimeter. 

”Sejumlah akses jalan di beberapa titik terputus akibat genangan, menghambat mobilitas masyarakat dan memperlambat distribusi bantuan,” kata Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Jumat.

Suasana lokasi banjir di Indramayu, Jawa Barat, Jumat (5/12/2025). Selain Indramayu, banjir juga terjadi di Kabupaten Bandung.

Pada waktu bersamaan, Indramayu yang berada berbatasan dengan Subang juga  dilanda bencana serupa. Di sana, air laut pasang meluap melalui Sungai Perawan dan Sungai Nippon, menggenangi jalan-jalan di Desa Eretan Kulon, Kecamatan Kandanghaur. Ketinggian air 50-60 cm. 

Data sementara menyebutkan, rob di Indramayu berdampak pada 2.568 kepala keluarga atau sekitar 8.033 jiwa, serta merendam sekitar 1.512 unit rumah. 

Selain rob, banjir juga terjadi di sejumlah daerah. Hadi Rakhmat, Pranata Humas Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jabar, mengatakan, banjir terjadi di Kabupaten Subang dan Kabupaten Bandung. 

Di Subang, banjir terjadi di Desa Mayang, Kecamatan Cisalak. Hingga Jumat, sebanyak 6 rumah rusak berat dan 24 rumah rusak sedang, serta 10 rumah rusak ringan. Berdampak pada 192 warga, 47 di antaranya mengungsi. 

Sebagian warga RW 006, Desa Citereup, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, bertahan di lantai dua rumah, Minggu (9/3/2025). Sebagian warga lainnya memilih mengungsi ke mesjid terdekat karena ketinggian air di beberapa titik mencapai 2 meter.

Sementara di Kabupaten Bandung, banjir Citarum merendam 2.129 rumah di delapan kecamatan. Kecamatan tersebut yaitu Dayeuhkolot, Bojongsoang, Baleendah, dan Kecamatan Soreang. Selain itu, Kecamatan Banjaran, Ciwidey, Margaasih, dan Kecamatan Katapang. Akibat kejadian ini, 3.165 warga terdampak.

Sementara itu, longsor terjadi di tiga kecamatan di Sukabumi, yaitu Ciemas, Parakansalak, dan Sagaranten. Longsor tidak terjadi di sekitar permukiman sehingga tidak memakan korban jiwa. 

”Ada dua jembatan dan satu jalan yang menghubungkan antardesa yang terdampak,” kata Hadi.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.

Menanggapi ini, Dedi Mulyadi mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan kepala daerah yang wilayahnya dilanda bencana. Rumah yang rusak dan sawah akibat rob dan banjir di Subang, misalnya, akan dibantu dibangun dan dipulihkan. 

Di Kabupaten Bandung, dia juga sudah menginstruksikan bupati untuk menghentikan alih fungsi lahan yang mengubah daerah resapan air menjadi lahan sayur dan daerah wisata.

”Bila tidak dicegah sejak dini, banjir akan terus terjadi dan memicu banjir setiap musim hujan,” katanya. 










Kerabat Kerja

Penulis:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto