Herman Deru berdalih Jakabaring Sport City tidak terbengkalai di era kepemimpinannya. Adapun sejumlah proyek di Palembang mangkrak karena terganjal masalah hukum.
22 Nov 2024 07:09 WIB · Politik & Hukum
Calon gubernur Sumatera Selatan nomor urut satu, Herman Deru, dituding menyebabkan Kompleks Olahraga Jakabaring atau Jakabaring Sport City terbengkalai dan banyak proyek di Palembang yang mangkrak selama kepemimpinannya sebagai Gubernur Sumsel 2018-2023. Namun, dengan tenang, Herman Deru justru berterima kasih karena diberikan kesempatan menjelaskan.
Permasalahan soal Kompleks Olahraga Jakabaring dan proyek-proyek di Palembang yang mangkrak itu mengemuka dalam segmen ketiga debat ketiga Pilkada Sumsel 2024 di Palembang, Kamis (21/11/2024). Dalam segmen tersebut, tiga pasangan calon (paslon) gubernur-wakil gubernur diminta untuk saling bertanya jawab.
Saat mendapatkan kesempatan bertanya kepada Herman Deru, calon gubernur nomor dua, Eddy Santana Putra, mengatakan, kekumuhan yang diwariskan Herman Deru tidak hanya rumah tidak layak huni dan daerah kumuh. Yang tak kalah mendapatkan banyak sorotan dari media, yakni Jakabaring Sport City (JSC) yang terbengkalai dan kumuh dalam lima tahun terakhir.
Setidaknya, Wisma Atlet dalam kondisi yang sangat mengenaskan karena disinyalir tidak ada pemeliharaan. Demikian Arena Dayung yang tidak kalah mengenaskan karena tidak ada pemeliharaan dan tidak pernah lagi dipakai.
Hal itu sangat disayangkan karena JSC dianggap sebagai aset olahraga luar biasa yang pembangunannya menelan anggaran ratusan miliar rupiah. ”Akan tetapi, karena tidak ada perhatian, aset yang sangat penting itu akhirnya terbengkalai dan kumuh. Apakah saudara tidak risi dengan kondisi tersebut,” ujar Eddy yang berpasangan dengan calon wakil gubernur, Riezky Aprilia.
Selain soal JSC, Eddy pun menyinggung Herman Deru yang dinilai membiarkan banyak proyek besar di Palembang yang mangkrak, seperti proyek pembangunan Masjid Raya Sriwijaya di kawasan Jakabaring dan renovasi Pasar Cinde di pusat kota Palembang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/22/69983001-ed0b-4e81-b89b-c95f73cafcb2_jpg.jpg)
Pembiaran itu menyebabkan lokasi proyek yang mangkrak menjadi kumuh. ”Proyek-proyek itu sudah terkatung-katung delapan tahun tanpa kejelasan. Bagaimana tanggapan saudara mengenai semua itu,” kata Eddy yang menjabat Wali Kota Palembang 2003-2013.
Saat diberikan kesempatan menjawab, Herman Deru terlebih dahulu berterima kasih karena diberikan pertanyaan seperti itu. Baginya, pertanyaan itu menjadi kesempatan untuk menjelaskan kepada masyarakat Sumsel mengenai permasalahan yang dialami JSC dan proyek-proyek mangkrak tersebut.
Terkait dengan JSC yang terbengkalai, Herman Deru mengatakan, isu itu baru muncul dalam setahun terakhir atau selepas dirinya tidak lagi menjabat sebagai Gubernur Sumsel. Saat masih menjabat sebagai orang nomor satu di Sumsel, Herman Deru dengan nada suara meninggi menyatakan tidak pernah ada yang mengeluhkan JSC terbengkalai. ”Jadi, apa yang terjadi dalam setahun terakhir yang perlu dipertanyakan,” tuturnya.
Tidak mungkin kita menganggarkan dana untuk proyek yang tanahnya saja belum ’clear and clean’ (untuk Masjid Sriwijaya), serta yang urusan dengan pihak ketiga atau perusahaan yang akan menjadi BOT (untuk Pasar Cinde) saja belum beres. Semua itu terjadi sebelum saya menjabat sebagai gubernur.
Setelah itu, Herman Deru beralih membahas Masjid Raya Sriwijaya. Menurut Herman Deru, Eddy adalah salah satu pihak yang menagih bahwa tanah lokasi pembangunan Masjid Raya Sriwijaya belum dibayar oleh pemerintah provinsi (pemprov).
”Artinya, pemprov melakukan pembangunan di lokasi yang belum sah menjadi tanahnya. Hal itu yang akhirnya menyebabkan beberapa orang berurusan dengan hukum,” ujar Herman Deru yang berpasangan dengan calon wakil gubernur, Cik Ujang.
Mengenai Pasar Cinde, Herman Deru menuturkan, pasar itu ialah bangunan berstatus Cagar Budaya Provinsi yang dibongkar untuk renovasi. Akhirnya, timbul residu dan investor yang akan membangunnya kabur. Hal itu juga menimbulkan masalah hukum yang mesti diselesaikan terlebih dahulu.
”Kalau police line atau urusan dengan aparat penegak hukumnya sudah selesai, barulah kita bisa menganggarkan dana untuk melanjutkan proyek tersebut. Tidak mungkin kita menganggarkan dana untuk proyek yang tanahnya saja belum clear and clean (untuk Masjid Sriwijaya), serta yang urusan dengan pihak ketiga atau perusahaan yang akan menjadi BOT (untuk Pasar Cinde) saja belum beres. Semua itu terjadi sebelum saya menjabat sebagai gubernur,” terang Herman Deru.
Merespons jawaban tersebut, Eddy menyampaikan, JSC terbengkalai sejak era kepemimpinan Herman Deru. Hal itu disinyalir bermula dari kerja sama dengan pihak ketiga yang dilakukan Herman Deru. Terkait dengan proyek Masjid Sriwijaya dan Pasar Cinde yang mangkrak, itu turut menjadi andil Herman Deru karena tidak ada kemauan untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi.
”Proyek-proyek itu menjadi mangkrak sepertiganya karena pembiaran yang dilakukan oleh Saudara. Kenapa saat memimpin, Saudara tidak bisa menyelesaikan permasalahan yang terjadi,” tegas Eddy yang menjadi anggota DPR RI 2019-2024.
Riezky menambahkan, maksud pertanyaan Eddy ialah ingin mengetahui bagaimana Herman Deru menyikapi kondisi JSC dan proyek-proyek yang mangkrak tersebut. Mereka ingin ada tata kelola yang benar untuk JSC dan proyek-proyek mangkrak agar bisa memberikan manfaat ekonomi untuk masyarakat ataupun daerah.
Berdasarkan pantauan Kompas, JSC adalah kompleks olahraga yang dibangun pertama kali untuk Pekan Olahraga Nasional Sumsel 2004. Kemudian, secara berkelanjutan, JSC menjadi tempat penyelenggaraan SEA Games Jakarta-Palembang 2011, Islamic Solidarity Games Palembang 2013, hingga terakhir, Asian Games Jakarta-Palembang 2018.
Asian Games baru berlalu enam tahun, kondisi sejumlah arena dan kawasan JSC memprihatinkan. Fasilitas di beberapa arena mengalami kerusakan cukup parah, seperti lapangan outdoor arena menembak yang sempat dianggap terlengkap di Indonesia dan tribune arena dayung yang sempat dianggap termegah di Indonesia. Lingkungan sekitar JSC pun tidak serapi dahulu tatkala menyambut para duta olahraga Asia.
Proyek-proyek itu menjadi mangkrak sepertiganya karena pembiaran yang dilakukan oleh Saudara. Kenapa saat memimpin, Saudara tidak bisa menyelesaikan permasalahan yang terjadi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/03/24/5f8b9a96-65e1-4c34-b817-bed3d662ebc6_jpg.jpg)
Dalam lima tahun terakhir, nyaris tidak ada ajang olahraga berskala besar yang diselenggarakan di JSC. Saat Indonesia akan menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 pada 2023, JSC sempat berbenah. Namun, Indonesia akhirnya batal menjadi tuan rumah ajang tersebut. Sebaliknya, Palembang tidak dipilih menjadi salah satu kota penyelenggara Piala Dunia U-17 di Indonesia pada 10 November-2 Desember 2023.
Mengenai pembangunan Masjid Raya Sriwijaya, salah satu penyebab mangkraknya proyek itu karena tersandung kasus korupsi yang menelan kerugian negara hingga Rp 130 miliar pada 2021. Bahkan, kasus itu menyeret Gubernur Sumsel 2008-2018, Alex Noerdin, yang divonis bersalah pada 15 Juni 2022. Seusai banding, hukuman penjara Alex Noerdin berkurang dari 12 tahun menjadi 9 tahun.
Saat ini, di lokasi proyek yang dimulai pada 2014 tersebut, hanya tampak separuh fondasi bangunan dan tiang-tiang pancang yang sekelilingnya dipenuhi semak belukar. Pemprov harus menunggu legal opinion dari Kejaksaan Tinggi Sumsel terkait dengan aset dan kepemilikan tanah kalau ingin melanjutkan proyek tersebut.
Untuk Pasar Cinde, arkeolog, sejarawan, budayawan, dan masyarakat yang peduli sempat memprotes pemprov yang ingin merobohkan pasar yang arsitekturnya mirip Pasar Johar Semarang, Jawa Tengah, tersebut. Akan tetapi, pemerintah bergeming dan tetap melanjutkan proyek tersebut pada 2016. Nyatanya, pada 2018, proyek itu terhenti.
Kini, bangunan asli Pasar Cinde hanya bersisa fasad bagian depan, sedangkan bagian lainnya sudah dirobohkan. Pada bagian yang dirobohkan tersebut, timbul kubangan air dan semak belukar. Akibatnya, para pedagang yang telah telanjur direlokasi ke sisi depan, kanan, dan kiri proyek harus tetap berjualan berdesak-desakan di lokasi darurat itu hingga waktu yang tidak bisa dipastikan.
Penulis:
Adrian FajriansyahEditor:
C. Wahyu Haryo PPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .