Skenario ideal terjadi pada salah satu bagian undian tunggal putra turnamen Australia Terbuka. Novak Djokovic akan berhadapan dengan Carlos Alcaraz.
19 Jan 2025 21:03 WIB · Olahraga
MELBOURNE, MINGGU — Pertemuan Novak Djokovic dan Carlos Alcaraz menjadi salah satu laga yang dinanti penggemar tenis pada turnamen Grand Slam Australia Terbuka 2025. Pertandingan tersebut akan terwujud, tetapi kali ini bukan pada persaingan memperebutkan gelar juara.
Djokovic akan bertemu Alcaraz untuk pertama kalinya di Melbourne Park pada babak perempat final yang akan berlangsung Selasa (21/1/2025). Djokovic lolos ke perempat final Australia Terbuka untuk ke-15 kali dari 20 keikutsertaan sejak debut pada 2005. Pada babak keempat, Minggu (19/1/2025), dia mengalahkan Jiri Lehecka dengan skor 6-3, 6-4, 7-6 (4).
Alcaraz memastikan lolos ke perempat final lebih dulu dari laga melawan Jack Draper dengan kemenangan 7-5, 6-1. Draper tak dapat menyelesaikan pertandingan karena tubuhnya kesakitan.
Pertandingan lima set pada babak pertama hingga ketiga, dengan total waktu sekitar 13 jam, akhirnya berdampak pada tubuh Draper. Durasi tersebut berbeda jauh dengan Alcaraz yang menyelesaikan tiga babak sekitar enam jam. ”Bagaikan bom waktu, hari ini, seluruh bagian tubuh saya terasa sakit,” kata Draper.
Bagi Alcaraz, babak delapan besar nanti hanyalah yang kedua di Australia Terbuka setelah 2024. Petenis Spanyol ini tinggal membutuhkan gelar dari Melbourne Park untuk melengkapi trofi juara dari tiga Grand Slam lain, yaitu Perancis Terbuka, Wimbledon, dan Amerika Serikat Terbuka.
Jika bisa melakukannya, dia akan menyamai Djokovic dan nama-nama besar lain seperti Rafael Nadal dan Roger Federer yang mempunyai gelar juara dari semua Grand Slam. Alcaraz bahkan bisa lebih baik dibandingkan dengan para senior tersebut karena masih berusia 21 tahun. Nadal mendapatkan gelar Grand Slam secara lengkap pada usia 24 tahun, Federer pada 27 tahun, adapun Djokovic pada usia 29 tahun.
Perjumpaan Djokovic dan Alcaraz untuk kedelapan kalinya ini menjadi big match yang berlangsung dini mengingat mereka selalu bertemu pada dua babak terakhir turnamen, yaitu empat kali di final dan tiga dalam laga semifinal. Semua berlangsung dalam turnamen besar, yaitu ATP Masters 1000, Final ATP, Grand Slam, dan Olimpiade.
Status big match layak disematkan berdasarkan rekam jejak mereka. Djokovic adalah pemilik 24 gelar Grand Slam, 10 di antaranya dari Australia Terbuka, dan peraih emas Olimpiade Paris 2024. Adapun Alcaraz mengoleksi empat gelar Grand Slam, yaitu dari AS Terbuka 2022, Wimbledon 2023 dan 2024, serta Perancis Terbuka 2024.
Catatan tersebut membuat Djokovic dan Alcaraz menjadi petenis aktif dengan gelar Grand Slam terbanyak. Sebanyak 16 petenis di antara mereka berstatus pensiun, termasuk Nadal (22 gelar) dan Federer (20).
”Saya rasa, Novak bukan pemain yang tepat untuk dihadapi di perempat final. Tetapi, melawan petenis sekelas dia pada babak berapa pun, tidak akan mengubah penampilan saya. Mungkin akan sedikit berbeda jika terjadi di final. Yang pasti, saya harus tampil seperti pada pertandingan-pertandingan sebelumnya,” tutur Alcaraz, yang berandai-andai akan melawan Djokovic saat memenangi babak keempat lebih dulu.
Alcaraz bercerita bahwa dia tak pernah mengingat reputasi Djokovic saat mereka menjadi lawan. ”Jika saya mengingat bahwa dia mempunyai 24 gelar Grand Slam, menjadi petenis nomor satu dunia terlama, dan punya banyak rekor lain, saya tak akan bisa melawannya. Saya hanya harus berusaha menang, yakin bahwa saya bisa bermain baik dan mengalahkan Novak,” kata Alcaraz.
Djokovic tak bersedia diwawancarai di lapangan setelah memenangi pertandingan meski mantan petenis, Jim Courier, yang bertugas mewawancarainya telah menunggu. Djokovic mengambil mikrofon dari tangan Courier dan hanya berterima kasih pada pendukungnya.
Dalam konferensi pers, terungkap bahwa penolakan Djokovic untuk diwawancarai di lapangan adalah bentuk protes pada komentator saluran TV Channel Nine yang memegang hak siar turnamen untuk wilayah Australia. Dari orang lain yang memberi tahu Djokovic, komentator tersebut dinilai menghina pendukung Serbia.
”Saya tidak punya masalah dengan Courier dan publik Australia. Saya pun telah mengatakan ini pada direktur turnamen dan bersedia didenda. Selama tidak ada permintaan maaf, saya akan tetap menolak wawancara di lapangan,” kata petenis asal Serbia tersebut.
Djokovic akhirnya memberikan keterangan pada Eurosport dan dia bercerita tentang performanya yang naik-turun pada babak keempat. Adapun dalam laman resmi ATP, petenis berusia 37 tahun tersebut mengatakan bahwa persaingannya dengan Alcaraz berlangsung semakin menarik. Djokovic unggul 4-3 dari tujuh pertemuan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/19/e6614bc692133e3b05d38841e4a9b0d2-wires_photo_41_.jpg)
Salah satu momen yang paling disesali adalah kekalahan pada final Wimbledon 2023 yang berlangsung lima set. Pada final tahun berikutnya, Alcaraz kembali mengalahkan Djokovic, kali ini, dalam tiga set.
Sementara kemenangan yang paling berkesan baginya berlangsung pada final Olimpiade Paris 2024. Medali emas dari ajang multicabang terbesar di dunia itu menjadi penyempurna prestasi Djokovic setelah dia gagal mewujudkan ambisinya di Tokyo 2020.
Pemenang dari big match tersebut akan berjumpa dengan unggulan kedua, Alexander Zverev, atau Tommy Paul pada semifinal. Jika Zverev menang, laga semifinal pada paruh bawah undian berpotensi menjadi pertandingan ketat lainnya. Zverev belum pernah menjuarai Grand Slam, tetapi petenis Jerman ini selalu menjadi petenis yang sulit dikalahkan.
Pada persaingan tunggal putri, empat perempat finalis pada paruh atas undian telah dipastikan berdasarkan pertandingan babak keempat, Minggu. Aryna Sabalenka, yang menang telak atas petenis 17 tahun, Mirra Andreeva, 6-1, 6-2, akan melawan Anastasia Pavlyuchenkova. Adapun Cori Gauff akan berhadapan dengan Paula Badosa. (AP/AFP)
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Prasetyo Eko Prihananto