Domba Garut hingga ”Susu” Ikan Menanti Giliran di Panggung Makan Bergizi Gratis

Selain memperbaiki kualitas gizi, program Makan Bergizi Gratis diharapkan ikut memanggungkan potensi pangan lokal.

06 Jan 2025 11:56 WIB · Nusantara

Oleh Cornelius Helmy Herlambang

Program Makan Bergizi Gratis atau MBG yang dimulai perdana Senin (6/1/2025) diharapkan bisa memperbaiki kualitas asupan gizi dan protein anak. Selain itu, MBG dinantikan banyak kalangan ikut menjadi jalan memanggungkan kekayaan pangan lokal.

Saat ini, asupan protein warga Indonesia terbilang rendah, hanya 62,3 gram per kapita per hari. Hal ini di bawah asupan protein negara maju yang 100 gram per kapita per hari. Bahkan, Indonesia ada di bawah Filipina, Thailand, dan Kamboja.

Indonesia sejatinya tidak kekurangan sumber protein. Di Jawa Barat, misalnya, berbagai sumber protein menunggu dimaksimalkan. Dari domba garut dan sapi pasundan di Priangan Timur hingga potensi susu ikan di pantura.

Dombagarut (Ovies aries) menjadi salah satu yang paling populer. Sesuai dengan namanya, domba ini menyebar dari Garut ke sejumlah daerah. Berdasarkan data Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Garut diperkirakan ada 1,4 juta domba di Garut pada 2023. Dari jumlah itu, sekitar 350.000 individu merupakan jenis domba garut.

Menu dalam Program Makanan Bergizi Gratis di SD Negeri 193 Caringin, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (6/1/2025). Program ini diikuti sebanyak 500 pelajar di sekolah tersebut dengan menu ayam goreng, susu, sayur dan buah-buahan.
Quote

Harapannya, selain bisa menjadi pasokan sumber pangan, domba garut ikut menyejahterakan peternaknya.

Meski masih terbilang sedikit, potensi penyediaan pangan dan protein domba garut lebih tinggi ketimbang domba lainnya. Seekor domba garut, misalnya, berbobot 60 kilogram dan mampu menghasilkan 25 kilogram daging dan 25 kg tulang. Kemampuan itu hampir dua kali lipat lebih besar ketimbang domba biasa.

Suasana di UPTD Balai Pengembangan Pembibitan Ternak Domba dan Kambing Margawati di Garut, Sabtu (4/1/2025). Domba garut adalah salah satu sumber protein lokal plasma nutfah Jabar.

Sekretaris Daerah Jabar Herman Suryatman mengatakan, upaya menjadikan domba garut sebagai sumber ketahanan pangan masih terus dilakukan. Salah satu caranya mengoptimalkan peran UPTD Balai Pengembangan Pembibitan Ternak Domba dan Kambing Margawati di Garut.

Saat ini, di UPTD tersebut, ada 1.500 domba garut yang dikembangkan. Setiap tahun tempat itu menghasilkan rata-rata 600 bibit domba garut. Hasilnya, katanya, sebagian didistribusikan ke kelompok ternak masyarakat kurang mampu dan peternak mandiri di Jabar. Harapannya, selain bisa menjadi pasokan sumber pangan, domba garut ikut menyejahterakan peternaknya.

”Balai ini juga akan menjadi pusat penelitian dan pengembangan teknologi peternakan domba menuju Jabar sebagai lumbung pangan nasional,” kata Herman, Sabtu (4/1/2025).

Sapi pasundan

Sapi pasundan adalah primadona lainnya. Diyakini berasal dari Rancah, salah satu daerah di Ciamis, sapi pasundan bisa diandalkan memenuhi asupan protein. Namun, seperti domba garut, jumlahnya tidak banyak, diperkirakan 50.000 ekor, di sejumlah daerah di Jabar.

Meski sedikit, sapi ini terbilang tangguh. Saat wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) tahun 2022, misalnya, banyak sapi pasundan dilaporkan selamat dari kematian. Daya tahan tubuhnya jauh lebih baik dibandingkan dengan sapi ras.

”Sakit kembung atau cacingan yang biasanya dialami sapi impor sangat jarang terjadi pada sapi rancah,” ujar Dayat, salah satu peternak di Rancah, Ciamis.

Kualitas sapi pasundan saat ini mulai ditingkatkan dengan menggunakan bioteknologi berupa inseminasi buatan di Unit Pelaksana Teknis Daerah Balai Perbibitan dan Pengembangan Inseminasi Buatan Ternak (BPPIBT) Sapi Potong Ciamis, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat, Jumat (3/5/2024).

Sebagai sumber pangan, biaya pemeliharaan sapi pasundan lebih murah ketimbang sapi impor. Sapi rancah tumbuh sehat memakan rumput tanpa konsentrat. Rata-rata konsumsi rumput 30-40 kg atau setara Rp 6.600-Rp 8.800 per hari per ekor.

Sementara sapi impor butuh biaya yang lebih banyak, tidak hanya cukup rumput, tetapi juga harus ditambah konsentrat. Rata-rata butuh konsentrat Rp 1.500-Rp 1.700 per ekor per hari.

Tulang sapi rancah yang relatif lebih kecil juga memberikan karkas yang tinggi sekitar 53-55 persen, jauh lebih tinggi ketimbang karkas sapi impor yang hanya 47-48 persen.

Tidak hanya bagi peternak minim modal, sapi rancah juga menjadi tumpuan banyak peternak usia lanjut. Dengan kebutuhan rumput yang tidak terlalu banyak, petani berusia lanjut bisa tetap berpenghasilan dengan memelihara sapi pasundan.

”Potensi keuntungan semakin besar karena jeda antara melahirkan dan birahi sapi rancah tergolong lebih singkat hanya 4-5 bulan. Bandingkan dengan sapi impor yang butuh 18 bulan untuk birahi setelah melahirkan,” kata Dayat.

Yaya Sugiartio (53) menggendong pedet Sapi Pasundan yang dia ternakkan di Desa Mekarbuana, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Sabtu (17/6/2023).

Kini, peningkatan mutu sapi pasundan ini dilakukan di Unit Pelaksana Teknis Daerah Balai Perbibitan dan Pengembangan Inseminasi Buatan Ternak (BPPIBT) Sapi Potong Ciamis dari DKPP Jabar sejak 2014.

Di tempat seluas 13 hektar itu, 192 ekor sapi pasundan hidup dan dikembangbiakkan untuk tujuan pemurnian genetik. Tujuannya, agar pemurnian ini diharapkan bisa menghadirkan kembali keunggulan sapi lokal yang bisa dinikmati masyarakat luas.

Susu ikan

Tidak hanya di darat, Jabar juga punya potensi melimpah di lautan. Di beberapa daerah di pantura Jabar, hasil perikanan tangkapnya melimpah. Hasil perikanan di Indramayu pada 2023, misalnya, mencapai 551.632 ton, atau tertinggi di Jabar. Pabrik pengolahan ikan menjadi ”susu” juga berdiri di Indramayu.

Pabrik PT Berikan Bahari Indonesia di Kecamatan Kandanghaur itu sejak Agustus 2023 telah memproduksi ”susu” ikan. Produk itu pernah ramai diperbincangkan karena dicanangkan masuk program MBG.

”Susu” ikan adalah minuman berprotein yang diolah dari ikan. Susu ini adalah produk turunan dari hidrolisat protein ikan (HPI) yang diolah dan disajikan menyerupai susu. Penggunaan kata ”susu” diharapkan memudahkan publik mengenali produk itu.

Karyawan menunjukkan Surikan, produk minuman berprotein turunan dari hidrolisat protein ikan (HPI) yang dikenal dengan susu ikan di Pabrik PT Berikan Bahari Indonesia di Jalan Kertawinangun, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Rabu (18/9/2024). Dalam sebulan, pabrik ini bisa memproduksi maksimal 30 ton HPI per bulan atau sekitar 3,5 juta botol kemasan 120 mililiter.

Pembuatan ”susu” atau sari ikan dimulai dari pemilahan ikan yang nilai ekonominya rendah, seperti petek. Ikan itu dibeli dari nelayan setempat dengan harga sekitar Rp 5.000 per kilogram. Setelah itu, ikan digiling, kemudian dimasukkan ke mesin pemanas khusus dengan suhu tertentu.

Selanjutnya, ikan yang melalui proses hidrolisis enzim protein ikan itu memasuki mesin pengering hingga menjadi bubuk HPI. HPI ini lalu dikemas dalam karung khusus yang kemudian dibawa ke pabrik di Bekasi, Jabar. Di sana, HPI dijadikan ”susu” dengan rasa cokelat dan stroberi serta telah dikemas.

Yogie Arry, pendiri PT Berikan Bahari Indonesia, mengklaim ”susu” ikan dapat terserap ke dalam tubuh lebih cepat dan lebih banyak, yakni 95 persen. ”Produk turunan HPI ini juga bisa tahan hingga dua tahun dan tidak butuh rantai dingin yang mahal seperti ikan,” kata Yogie (Kompas.id, 26/9/2024)

”Susu” ikan pun jadi cara lain untuk menikmati ikan. Angka Kecukupan Gizi, yaitu setiap takaran 35 gram atau 165 mililiter produk itu mengandung 28 persen kalsium, 20 persen vitamin C, 33 miligram (mg) DHA, 9 mg EPA, 49 mg omega 3, 5 mg omega 6, 11 persen protein, dan 4.380 mg asam amino.

Pekerja mengukur ikan petek yang menjadi bahan baku pembuatan hidrolisat protein ikan atau HPI di Pabrik PT Berikan Bahari Indonesia di Jalan Kertawinangun, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Rabu (18/9/2024). HPI inilah yang menjadi bubuk minuman berprotein atau disebut susu ikan. Dalam sebulan, pabrik ini bisa memproduksi maksimal 30 ton HPI per bulan.

Yogie tidak menyebutkan harga produknya. Akan tetapi, produk susu bubuk yang dilabel sebagai ”susu” ikan dengan kemasan 350 gram tersebut dijual Rp 126.000. Lebih jauh lagi, ia menyebut bahwa ”susu” ikan sebagai jalan menuju otonomi protein yang proteinnya dari, oleh, dan untuk masyarakat.

”Artinya, bagaimana bisa memenuhi asupan protein sendiri dengan menciptakan industrinya sendiri dan targetnya warga itu sendiri,” kata Yogie. Apalagi, susu sapi masih mengandalkan impor. Pemerintah pun berencana mengimpor sebanyak 2,15 juta sapi perah (Kompas, 18/4/2024).

Seharusnya tidak ada alasan anak-anak Indonesia kekurangan asupan protein. Bila impor terbilang berbiaya tinggi dan tidak berpihak kepada pelaku usaha lokal, upaya memaksimalkan potensi negeri sendiri sangat dinantikan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Editor:

Irma Tambunan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .