Dongchoon, Sirkus Terakhir di Korsel Bertahan hingga 100 Tahun

Sejak awal didirikan pada tahun 1925, sirkus ini telah melibatkan banyak pemain dan seniman tradisional Korea. Namun saat ini semua pemain sirkus berasal dari China.

21 Jun 2025 10:48 WIB · Internasional

Oleh Raditya Helabumi Jayakarna

Panggung itu terasa sunyi. Tidak ada lagi atraksi gajah dan monyet. Tidak ada lagi atraksi menantang maut dengan sepeda motor. Bahkan, tidak ada lagi nyanyian atau akting di atas panggung. Namun, ratusan penonton masih bersorak dan memberikan tepuk tangan terus-menerus saat para pemain sirkus beraksi di atas panggung.

Mereka adalah anggota Dongchoon Circus Troupe, sirkus yang telah berusia 100 tahun dan menjadi kelompok sirkus terakhir yang masih bertahan di Korea Selatan.

Para pemain berakrobat dengan berputar di atas kain panjang yang digantung, memainkan tongkat di atas roda besar yang berputar, dan mengendarai sepeda roda tunggal di atas tali. Pertunjukan sirkus itu digelar di bawah tenda besar.

Park Sae-hwan, pemimpin sirkus Dongchoon, dalam wawancara kepada Associated Press mengatakan, ”Rasanya sangat berat ketika harus melalui masa-masa sulit bersama sirkus ini”.  

”Tetapi, saya merasa sangat bertanggung jawab atas sirkus ini karena jika Dongchoon berhenti, maka satu-satunya sirkus yang dimiliki negara ini akan hilang,” ungkap Park.

Acrobats from Dongchoon Circus Troupe perform during a daily regular performance in Ansan, South Korea, Wednesday, June 11, 2025. (AP Photo/Lee Jin-man) Lima pemain sirkus laki-laki saat menampilkan atraksi topi
Acrobat Du Zhaofei, 15, performs during a daily regular performance in Ansan, South Korea, Tuesday, June 10, 2025. (AP Photo/Lee Jin-man) Akrobat berjalan di atas tali ditampilkan oleh Du Zhaofei yang berusia 15 tahun,
An acrobat from Dongchoon Circus Troupe performs during a daily regular performance in Ansan, South Korea, Wednesday, June 11, 2025. (AP Photo/Lee Jin-man) Menggunakan kain
An acrobat from Dongchoon Circus Troupe performs during a daily regular performance in Ansan, South Korea, Wednesday, June 11, 2025. (AP Photo/Lee Jin-man) Atraksi keterampilan tangan

Dongchoon didirikan pada tahun 1925 dan merupakan sirkus tertua di Korea. Era keemasan sirkus di Korea Selatan berlangsung pada kurun 1960-an. Saat itu, sebagian besar rumah tangga di Korea Selatan masih belum memiliki TV sehingga semua orang memilih mencari hiburan di luar rumah, terutama dengan menonton beragam pertunjukan.

Pada masa itu, Dongchoon berkelana ke seluruh negeri dan penampilannya senantiasa memukau penonton. Tak ketinggalan pula pada masa-masa itu sirkus turut menampilkan atraksi dengan hewan-hewan eksotis, seperti gajah dan jerapah.

Selain itu, berbagai pertunjukan, termasuk sandiwara, komedi, nyanyian, tarian, dan pertunjukan sulap, turut menghiasi panggung. Pada tahun-tahun puncak kejayaan, sirkus ini memiliki lebih dari 200 seniman, pemain akrobat, dan staf lainnya.

Seperti di banyak negara lain, TV dan film kemudian menyedot perhatian penonton Dongchoon dan sirkus lainnya di Korea Selatan. Para aktor, penyanyi, dan komedian lantas berbondong-bondong pindah ke stasiun TV. Beberapa di antaranya menjadi bintang panggung yang lebih besar.

Munculnya internet, permainan video, dan olahraga profesional merupakan pukulan lain bagi kelompok sirkus untuk bertahan. Dalam beberapa tahun terakhir, sirkus Korea Selatan juga sudah menghentikan pertunjukan dengan hewan karena menghadapi protes dari para pegiat hak-hak hewan.

The big top of Dongchoon Circus Troupe, South Korea's last-remaining circus, is seen in Ansan, South Korea, Tuesday, June 10, 2025. (AP Photo/Lee Jin-man) *** Local Caption *** Tampak luar tenda sirkus
Artists from Dongchoon Circus Troupe perform during a daily regular show in Ansan, South Korea, Tuesday, June 10, 2025. (AP Photo/Lee Jin-man) Pertunjukan harian di Ansan
Spectators wait for the start of a performance at the big top of Dongchoon Circus Troupe, South Korea's last-remaining circus, in Ansan, South Korea, Tuesday, June 10, 2025. (AP Photo/Lee Jin-man) Lorong panggung
Spectators leave after watching a daily regular performance in Ansan, South Korea, Tuesday, June 10, 2025. (AP Photo/Lee Jin-man) Penonton melewati loket tiket setelah berakhirnya pertunjukan
An old newspaper that shows Park Sae-hwan, 80, head of the circus, is placed near the Dongchoon Circus Troupe big top entrance gate in Ansan, South Korea, Tuesday, June 10, 2025. (AP Photo/Lee Jin-man) Kliping koran yang memperlihatkan sosok Park Sae-hwan (80) pimpinan sirkus Dongchonn diletakkan di pintu masuk tenda sirkus.

Kini, Dongchoon menjadi satu-satunya sirkus di Korea Selatan yang tersisa setelah semua pesaingnya gulung tikar. Lantas bagaimana Dongchoon tetap bertahan hidup?

Park mengatakan bahwa ia hampir menutup sirkus tersebut pada tahun 2009 setelah pertunjukannya hanya menarik 10-20 penonton setiap pertunjukan digelar. Kondisi tersebut diperparah dengan wabah flu yang meluas selama berbulan-bulan. Sirkus ini bertahan setelah laporan media lokal yang bersimpati dengan kesulitan yang dihadapi Dongchoon. Hal itu mendorong banyak orang berbondong-bondong dan memadati lagi pertunjukan selama berminggu-minggu.

Park mulai bergabung dengan Dongchoon pada tahun 1963 sebagai pembawa acara dan terkadang bernyanyi serta berakting dalam program drama sirkus tersebut. Ia meninggalkan sirkus pada tahun 1973 untuk menjalankan bisnis supermarket. Pada tahun 1978, ia kembali ke industri sirkus dengan mengambil alih Dongchoon.

Sejak tahun 2011, Dongchoon telah tampil di atas tenda sirkus besar di kawasan wisata tepi pantai di Ansan, di selatan Seoul. Pengelola sirkus Dongchoon mengatakan, bisnis mereka berjalan cukup baik. Saat hari kerja mampu menarik ratusan orang dan sekitar 2.000 penonton datang pada akhir pekan di Ansan.

Kehadiran Dongchoon ini turut mendongkrak pariwisata lokal. Pertunjukan Dongchoon populer terutama di kalangan generasi tua yang ingin mengingat kembali kenangan masa kecil tentang sirkus. Bagi generasi muda yang mencari sesuatu yang baru, pertunjukan sirkus menjadi salah satu pilihan

Yang menarik, saat ini hampir semua pemain atau 35 pemain akrobat sirkus Dongchoon adalah orang China. Pekerjaan sirkus umumnya dijauhi oleh orang Korea Selatan yang menganggapnya terlalu berbahaya dan bergaji rendah. Melihat realita itu, Park berharap dapat membangun sekolah sirkus untuk membina seniman-seniman sirkus dari Korea Selatan sendiri.

Xing Jiangtao (37) mulai bekerja untuk Dongchoon sejak 2002. Pada awalnya, Jiangtao adalah pemain akrobat, tetapi sekarang telah memegang posisi sebagai direktur pertunjukan. Dia ingat bahwa ketika pertama kali datang ke Korea Selatan, dia dan rekan-rekannya dari China bekerja sebagai asisten bagi 50 pemain akrobat Korea Selatan di Dongchoon.  Namun, mereka semua kemudian pergi meninggalkan Dongchoon satu per satu.

”Sekarang sirkus ini menjadi satu-satunya sirkus di Korea Selatan, dan saya berharap kami dapat menciptakan pertunjukan sirkus yang bagus bagi para penonton sehingga kami dapat membantu Dongchoon bertahan selama 100 tahun lagi,” kata Xing.

Acrobats from Dongchoon Circus Troupe, South Korea's last-remaining circus, perform in Ansan, South Korea, Wednesday, June 11, 2025. (AP Photo/Lee Jin-man) Pertunjukan sirkus Dongchoon di Ansan, Korea Selatan, Rabu (11/6/2025) *** Local Caption *** Pertunjukan sirkus Dongchoon di Ansan, Korea Selatan, Rabu (11/6/2025)
Spectators arrive at the big top of Dongchoon Circus Troupe in Ansan, South Korea, Tuesday, June 10, 2025. (AP Photo/Lee Jin-man) Bangku penonton
An acrobat from Dongchoon Circus Troupe warms up ahead of a daily regular performance in Ansan, South Korea, Tuesday, June 10, 2025. (AP Photo/Lee Jin-man) Pemanasan
Dongchoon Circus Troupe acrobats warm up ahead of a daily regular performance in Ansan, South Korea, Tuesday, June 10, 2025. (AP Photo/Lee Jin-man) Persiapan di belakang panggung

Sementara itu seorang pakar sejarah di All That Heritage Research Institute, Heo Jeong Joo, sangat menghargai warisan Dongchoon, yang menurutnya melibatkan banyak pemain dan seniman tradisional sejak awal didirikan pada tahun 1925.

”Sirkus ini sudah berdiri lebih dari 100 tahun. Dari sudut pandang sejarah, menurut saya, sirkus ini layak ditetapkan sebagai aset budaya tak benda,” kata Heo.


Kerabat Kerja

Penulis:

Raditya Helabumi Jayakarna
 | 

Editor:

Maria Susy Berindra
 | 

Foto:

AP Susetyo Wijatmoko
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji