Nilai investasi Australia di Indonesia meningkat 34 persen. Kerja sama ekonomi ini pun bersifat dua arah.
11 Feb 2025 17:35 WIB · Internasional
Duta Bisnis Australia untuk Indonesia Jennifer Westacott kembali mengunjungi Indonesia setelah kunjungan pertama pada Juni 2024. Kali ini, ia membawa delegasi perdagangan dari ”Negeri Kanguru” sebanyak 39 orang. Menurut Westacott, ini delegasi bisnis terbesar yang pernah dibawa oleh Australia.
Dalam Konferensi Tingkat Tinggi Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) 2022 di Jakarta, Australia membentuk skema kerja sama pembangunan Australia-ASEAN yang dibidani oleh pakar ekonomi dan bisnis Nicholas Moore. Guna melancarkan program tersebut, untuk setiap negara ASEAN, Australia menunjuk seorang duta bisnis. Khusus Indonesia, kepercayaan itu diberikan kepada Westacott, guru besar sekaligus Rektor Universitas Western Sydney.
Dalam kunjungan pada 10-13 Februari 2025, Westacott membawa delegasi Australia bertemu, antara lain, dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir, dan Komisaris Utama Bank Mandiri Chatib Basri. Delegasi yang dibawa oleh Westacott bergerak di sejumlah bidang, antara lain perbankan, pertambangan, dan dana pensiun. Mereka berminat untuk berinvestasi di sektor-sektor infrastruktur, kesehatan, pendidikan, dan pertambangan mineral.
”Sejak tahun 2024, investasi Australia ke Indonesia meningkat 34 persen. Antusiasme pengusaha Australia terhadap Indonesia naik, demikian pula sebaliknya,” kata Westacott di Jakarta, Selasa (11/2/2025).
Neraca perdagangan Indonesia dan Australia pada 2023 sebesar 26,7 miliar dollar Australia. Jumlah ini meningkat dari tahun 2022 yang senilai 18,3 miliar dollar Australia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/11/2ac5b978-f7a3-409f-abc2-1003a414bce8_jpg.jpg)
Ia menjelaskan, minat ini tumbuh pesat setelah para pengusaha Australia mempelajari bahwa Indonesia negara yang stabil. Di tengah berbagai gejolak politik dan perang dagang internasional, Indonesia terbukti selalu tenang. Bahkan, di setiap pergantian pemerintahan pun tidak ada persoalan besar yang mengganggu iklim investasi dan perdagangan antarnegara.
Selain itu, setiap pemerintahan yang baru tetap memiliki ambisi untuk meningkatkan perekonomian. Garis merah yang dicermati oleh Australia ialah komitmen Indonesia membangun kompetensi sumber daya manusia dan peningkatan penguasaan teknologi.
Westacott menyebutkan, sektor pertambangan masih menjadi idola. Baik perusahaan Australia maupun Indonesia saling berinvestasi di kedua negara. Tujuan dari peningkatan kerja sama ekonomi ini dua arah agar Indonesia tidak hanya menjadi negara penerima manfaat, tetapi turut membangun kiprah di perekonomian global dengan berinvestasi di Australia.
BNI, misalnya, kini memiliki kantor cabang di Australia. Sejumlah perusahaan Indonesia juga berinvestasi di perusahaan-perusahaan tambang di Australia utara.
Salah satu kesempatan besar di sektor pertambangan ialah pengolahan mineral untuk baterai kendaraan listrik. Ekspor Indonesia ke Australia di sektor ini tidak dikenai tarif. Westacott mengakui, masih ada pertanyaan dari para pengusaha Australia kenapa pengolahan dan hilirisasi harus dilakukan di Indonesia. Beberapa pengusaha masih berpikir hanya mau mengimpor bahan baku.
”Kami menjelaskan, justru di dalam proses hilirisasi di Indonesia itu ada banyak sekali ruang bagi Australia untuk berinvestasi. Ini situasi win-win. Investasi bisa di bidang sumber daya manusia sampai dengan alih teknologi,” ujarnya.
Perusahaan-perusahaan di Australia terbiasa dengan standar aturan, terutama perihal lingkungan, yang tinggi. Itu saja bisa menjadi bidang kerja sama. Di sisi lain, Pemerintah Indonesia dan Australia juga berusaha merampingkan aturan untuk mempermudah investasi tanpa mengorbankan hal-hal esensial.
Westacott menerangkan, di luar pertambangan dan mineral, sektor pendidikan, kesehatan, dan energi bersih juga diminati. Selama di Indonesia, Westacott akan meresmikan pembukaan Universitas Western Sydney Surabaya di Jawa Timur. Ini adalah perguruan tinggi asing pertama yang diizinkan membuka program sarjana strata satu di Indonesia.
Menyusul Universitas Western Sydney, ada Universitas Deakin di Bandung, Jawa Barat, dan Universitas Central Queensland di Balikpapan, Kalimantan Timur. Menurut dia, semua universitas itu mengembangkan program 2+2, yaitu dua tahun berkuliah di Indonesia dan dua tahun di Australia. Tujuannya, agar mahasiswa memiliki wawasan internasional.
”Kami kini mengupayakan agar para mahasiswa bisa magang di perusahaan-perusahaan Australia supaya benar-benar mengalami pengalaman kerja yang global,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/05/39da9ad2-1481-4d40-ad86-9cb96e16b023_jpg.jpg)
Terdapat pula minat untuk mengembangkan kerja sama pendidikan pada jurusan keguruan dan keperawatan. Skemanya tidak hanya untuk program sarjana dan pascasarjana, tetapi juga program kursus singkat ataupun pertukaran yang lebih intensif. Perusahaan Aspen Medical dari Australia termasuk yang berminat mendalami lebih lanjut sektor kesehatan di Indonesia.
”Sumber daya manusia ini modal dasar dalam kemajuan bangsa,” katanya.
Australia pun memantau perkembangan program Makan Bergizi Gratis. Jumlah 80 juta porsi makanan bergizi gratis per hari sangat menarik dari segi rantai pasok. Westacott mengatakan, Australia adalah salah satu negara penghasil produk susu terbesar di dunia. Mereka juga mencari kesempatan berdagang dan berinvestasi.
Presiden Prabowo Subianto mengatakan ingin membuat Indonesia berdaulat pangan. Oleh sebab itu, lanjut Westacott, salah satu strategi yang ditawarkan Australia ialah investasi dalam pendidikan nutrisi, peningkatan kapasitas logistik, dan kapasitas pengelolaan program.
Sektor-sektor lain yang belum terlalu populer terus dikembangkan. ”Di aspek energi baru dan bersih, ada perusahaan-perusahaan kecil yang berminat membangun kerja sama,” kata Westacott.
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Fransisca Romana Ninik W