Seorang dosen bergaji Rp 2 juta per bulan menjadi tulang punggung lima anggota keluarga. Ia putuskan bekerja sebagai pengemudi ”ojol” untuk menambah penghasilan.
19 Mei 2025 06:30 WIB · Investigasi
Gelar ”Ir” atau insinyur terpampang di layar panggilan telepon Whatsapp saat Didi (30) menceritakan kesehariannya. Pukul 07.00 hingga 17.00, ia berada di sebuah perguruan tinggi negeri di wilayah Jawa Barat sebagai dosen. Namun, sebelum dan sesudahnya dia mengaspal sebagai pengemudi ojek online atau ojol.
Jarak tempuh antara rumah dan kampus tempat mengajar sekitar 20 kilometer. Setiap pagi, ia berusaha mendapatkan pelanggan ojek yang searah dengan kampus agar mendapat uang tambahan sedini mungkin.
Begitu urusan kampus selesai, dia kembali mengaspal. Pesanan membawanya ke berbagai arah, dari ujung Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, hingga Bekasi. ”Setidaknya bisa buat makan,” ujar Didi, Sabtu (10/5/2025).
Didi lebih memilih bekerja sampingan sebagai pengemudi ojek dalam jaringan atau ojol karena memperoleh proyek di luar kampus penuh dengan ketidakpastian. Meskipun tidak seberapa, penghasilan dari ojol bersifat rutin setiap hari.
Setiap bulan, sebagai dosen perguruan tinggi negeri (PTN) berstatus calon pegawai negeri sipil (CPNS), dia memperoleh gaji Rp 2 jutaan per bulan. ”Di luar bensin, saya bisa mendapatkan penghasilan Rp 100.000-Rp 200.000 per hari dari ojol. Walaupun, kadang-kadang saya dapat di bawah Rp 100.000 per hari,” tuturnya.
Penghasilan dari ngojol ia pakai untuk membayar tagihan air dan listrik bulanan serta makan sehari-hari. Didi menjadi tulang punggung seluruh penghuni rumah yang beranggotakan ayah, ibu, seorang adik, dan dua keponakan. Adiknya yang lulusan paket C masih bergumul mencari pekerjaan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/09/16/959cc48d-29cf-4877-a164-319e76a2b9a3_jpg.jpg)
Yang dilakukan Didi sejalan dengan olahan data survei kualitatif Tim Jurnalisme Data Harian Kompas pada 36 dosen PTN. Pekerjaan sampingan menjadi salah satu sumber penghasilan bagi dosen untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebanyak 76,5 persen dari mereka memiliki pekerjaan sampingan di luar kampus.
Sebanyak 44 persen dosen PTN, menurut olahan Kompas, mempunyai pengeluaran untuk keluarga yang lebih besar dibandingkan dengan penghasilan bulanan. Rata-rata dosen menanggung lebih dari dua anggota keluarga.
Untuk makan siang, Didi mengandalkan jatah dari kampus sebesar Rp 600.000-Rp 900.000 per bulan. Penghasilannya juga digunakan untuk mencicil rumah bersubsidi, tempat tinggalnya saat ini. Karena penghasilannya tidak cukup, ia berencana mengoper kredit pemilikan rumahnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/29/a64cdf1a91b75849b27c831144ed4d67-FAK_7983.jpg)
Kompas menemukan fakta, sebanyak 50 persen dosen PTN memiliki cicilan untuk melunasi tempat tinggal pribadi. Besaran cicilan berkisar 10-50 persen dari total pengeluaran per kapita per bulan.
Demi menyambung hidup keluarganya dan menjalankan profesinya sebagai dosen, Didi membawa laptop dan sandal jepit setiap mengemudikan ojol. Ia khawatir laptopnya rusak karena kehujanan saat mengemudikan ojol. Jika rusak, ia tidak mempunyai tabungan untuk membeli laptop baru.
Untuk keluar uang Rp 100.000 saja, saya ’mikir’ berkali-kali.
Bila bentrok dengan jadwal mengajar, meneliti, atau pengabdian masyarakat, ia meminta adiknya untuk menggantikannya jadi ojol. Ia pernah kelelahan tak sanggup mengajar di kampus. Ia lalu meminta mahasiswa belajar secara virtual. Terkadang, dia merasa tak maksimal dalam menyiapkan bahan ajar karena waktu dan tenaganya terbatas.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/03/12/d7f0925f-4ca5-4e79-bd8d-987f67e7c38d_jpg.jpg)
Meskipun demikian, dia bertahan untuk menjadi dosen. ”Ada kepuasan tersendiri, khususnya ketika menjadi dosen pembimbing akademik bagi mahasiswa. Saya bisa membantu mahasiswa yang kekurangan dana agar bisa merasakan pendidikan dengan memberikan surat rekomendasi keringanan uang kuliah tunggal,” tuturnya.
Kini, Didi sedang berjuang mendapatkan beasiswa untuk studi strata III di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Jika dapat lulus strata III, dia berpeluang memperoleh gaji pokok yang lebih baik daripada saat ini.
Sementara itu, Rendro Laksmono (52), dosen di Daerah Istimewa Yogyakarta, beternak domba merino. Peternakan yang dirintis lima tahun lalu itu menjadi andalan Rendro untuk membiayai kuliah anaknya di luar kota, di tengah gajinya yang terbatas untuk kehidupan sehari-hari.
Rendro menjadi dosen aparatur sipil negara (ASN) tahun 2005, kemudian ditempatkan di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta hingga sekarang. Penghasilannya kini sebagai dosen ASN sekitar Rp 9 juta per bulan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/18/b97624d2-1457-410e-92f7-3b3f8dcf2cc7_jpg.jpg)
Ia menyadari gajinya tidak cukup untuk membiayai kuliah anak semata wayangnya. ”Gaji saya tidak akan cukup untuk membiayai kuliah anak saya. Jadi, untuk menyiapkan itu (tabungan kuliah), sejak tahun 2020, saya memutuskan memelihara domba,” katanya, awal Mei lalu.
Tempat tinggal Rendro di Desa Berbah, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, memberinya peluang untuk beternak domba. Apalagi, ia masih memiliki tanah luas di sekitar rumahnya yang berukuran 63 meter persegi.
Dosen program studi Hubungan Masyarakat ini mengawali ternak domba dengan satu ekor jantan dan empat induk betina. Lima domba merino sebagai bibit ternak itu dibelinya dari tempat pelatihan beternak di Godean, Yogyakarta. Hingga sekarang, dombanya sudah berkembang menjadi 70 ekor.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/15/d6c5dd29-c190-49b2-bb70-a059f2a90a00_jpg.jpg)
Modal awal beternak domba, sebesar Rp 20 juta, diperoleh Rendro dari pinjaman koperasi pegawai negeri. Cicilan utang tersebut ia bayar dengan menggunakan potongan gajinya selama 30 bulan. Modal itu digunakan untuk biaya pelatihan beternak domba, membangun kandang, dan membeli bibit domba.
Hari raya Idul Adha menjadi saat yang ditunggu Rendro untuk panen hasil ternaknya dalam jumlah besar. Selain itu, dalam sebulan, ia bisa menjual lima domba dengan masing-masing seberat 40-50 kilogram, dengan total harga Rp 15 juta. Jika ada domba dengan berat 100 kg, harganya bisa mencapai lebih dari Rp 10 juta per ekor.
Saat ini, hanya Rendro dan istrinya yang mengurus ternak domba, tanpa melibatkan karyawan. Meski demikian, aktivitas sampingan itu tidak menyulitkan Rendro membagi waktu untuk mengajar dan beternak.
Penghasilan Nurgo (36), dosen PTN di Kepulauan Riau, Rp 3,64 juta-Rp 9,9 juta per bulan hanya cukup untuk memenuhi biaya hidup keluarganya yang terdiri dari istri dan dua anak. Hal ini membuatnya membatasi pengeluaran keluarga supaya bisa menabung 10-20 persen dari satu-satunya penghasilan keluarga.
Karena itu, Nurgo rutin meminjam uang ke koperasi untuk berbagai keperluan. Tahun lalu, kedua anaknya bersamaan masuk sekolah TK dan SD. Total uang gedung yang harus ia bayar Rp 20 juta. Nurgo terpaksa berutang ke koperasi dengan jangka waktu pembayaran selama 1 tahun. Setiap mudik Lebaran bersama keluarga, ia juga berutang ke koperasi dengan kisaran Rp 10 juta hingga Rp 20 juta untuk menutup biaya transportasi pesawat.
”Nabung dari apa yang didapatkan memang sedikit. Jadi, kalau memaksakan mudik, setelah itu kita enggak punya simpanan lagi,” ujar Nurgo
Selain meminjam ke koperasi, bapak dua anak ini juga mempunyai cicilan kredit rumah bersubsidi dekat kampusnya, Rp 2.085.000 per bulan selama 10 tahun. Dosen yang sudah delapan tahun mengajar ini baru empat kali mendapat pekerjaan sampingan di luar kampus. Itu pun honor yang didapat paling banyak satu kali gajinya sebagai dosen ASN.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2018/05/17/f11b0c3e-d891-4f06-b594-d93928a11bf8_jpeg.jpg)
Kampusnya, yang masih berstatus PTN satuan kerja di bawah Kemendiktisaintek hingga akhir 2022, membuat Nurgo berhati-hati mengambil pekerjaan sampingan dengan lembaga pemerintahan lain. Ia khawatir aktivitasnya menjalani pekerjaan sampingan bakal menjadi masalah.
Menurut pendiri Nalar Institute, Yanuar Nugroho, fenomena dosen PTN yang memiliki pekerjaan sambilan, bahkan di sektor informal, menunjukkan kegagalan negara dalam mengapresiasi tenaga pendidik secara finansial. Apabila negara menjamin remunerasi, dosen tidak perlu mempunyai pekerjaan sambilan yang membuatnya tidak fokus dalam mengajar ataupun meneliti.
Kami ingin mendengarkan pandangan Anda tentang artikel ini melalui survei lewat berikut ini.
Penulis:
Margaretha Puteri Rosalina, Albertus Krisna, M Paschalia Judith JEditor:
Margaretha Puteri Rosalina, Andy Riza HidayatPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .