Ketegangan sempat menyelimuti Gaza dan Israel saat, pada jam yang disepakati mulai gencatan senjata, Hamas tak kunjung menyerahkan 3 nama sandera yang akan dilepas.
20 Jan 2025 12:20 WIB · Internasional
RAMALLAH, SENIN — Perjalanan Bushra al-Tawil, perempuan wartawan Palestina, menghirup udara kebebasan dari penjara Israel butuh waktu hampir 24 jam. Ia dikeluarkan dari penjara asalnya, sehari sebelumnya pukul 03.00 dini hari, dan dipindahkan ke penjara Ofer, yang lebih dekat dengan tembok pembatas di wilayah Tepi Barat.
Hari Senin (20/1/2025) pukul 02.00, Tawil dan 89 tahanan Palestina lainnya dibebaskan sepenuhnya dalam pertukaran tahanan dan sandera warga Israel, sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata antara Hamas dan Israel. Total 90 tahanan Palestina di penjara-penjara Israel ditukar dengan tiga perempuan sandera warga Israel.
”Masa penantian itu sangat berat. Namun, alhamdulillah, kami yakin bahwa pada saatnya kami akan dibebaskan,” ujar Tawil. ”Pengacara memberi kabar bahwa kesepakatan (gencatan senjata) telah diumumkan dan berada dalam fase implementasi.”
Tawil—ditangkap dan dipenjara Israel pada Maret 2024—adalah gelombang pertama dari para tahanan Palestina yang akan dibebaskan pada masa gencatan senjata ini. Hingga 42 hari ke depan, sekitar 1.900 tahanan Palestina akan dibebaskan untuk ditukar dengan 33 warga Israel yang disandera di Gaza.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/20/0dfb40c46a25d659b089f5faa2afdce3-PALESTINIAN_ISRAEL_CONFLICT_CEASEFIRE_PRISONERS_126873144.jpg)
Dalam pertukaran tawanan itu, ribuan orang mengerumuni sejumlah kendaraan dalam konvoi di jalanan Gaza. Konvoi kendaraan bergerak lambat karena ribuan orang di jalan ingin melihat dari dekat tiga perempuan sandera yang dibebaskan Hamas. Ketiganya adalah Romi Gonen (25), Doron Steinbrecher (31), dan Emily Damari (28).
Anggota Hamas yang sebagian bersenjata lengkap dan menggunakan penutup wajah hitam mencoba menghalau kerumunan agar sedikit menjauh.
Tak lama, iring-iringan kendaraan berhenti di Alun-alun Saraya, tempat untuk pemindahan Gonen, Steinbecher, dan Damari. Alun-alun Saraya dibangun pada tahun 1930-an. Lokasi itu merupakan salah satu tempat berkumpul utama di Gaza. Di sekelilingnya terdapat sejumlah gedung administrasi pemerintahan Gaza yang selama ini dikelola Hamas.
Rekaman video yang dirilis oleh Hamas memperlihatkan petugas Komite Internasional Palang Merah (ICRC) dan perwakilan Hamas menandatangani sejumlah dokumen. Setelah itu, satu per satu, Gonen, Steincbrecher, dan Damari, keluar dari kendaraan yang mereka tumpangi dan masuk kendaraan Toyota Land Cruiser berbendera ICRC yang akan membawa mereka ke wilayah Israel.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/20/f9102780d2ce6c20895789756a3edef9-000_36UP7VL.jpg)
Ada satu momen yang menarik perhatian. Damari dan Gonen, masing-masing mengenakan baju terusan berwarna hijau dan merah muda, tampak tersenyum kepada seorang anggota Hamas yang berada di sisi kanan mereka saat turun dari kendaraan sebelum berpindah ke kendaraan yang disiapkan oleh ICRC.
Sorak-sorai membahana di sekeliling kendaraan-kendaraan tersebut ketika kendaraan ICRC mulai berjalan menjauh. Ini adalah langkah awal pelaksanaan gencatan senjata di Gaza antara Hamas dan Israel, yang dimulai sejak Minggu (20/1/2025).
Rencana semula, gencatan senjata mulai berlaku efektif pukul 08.30 waktu setempat atau 13.30 waktu Indonesia. Akan tetapi, pelaksanaannya mundur hampir tiga jam dari waktu semula.
Militer Israel menyebut penundaan itu karena Hamas belum memberikan daftar nama tiga orang yang akan dibebaskan. Menurut kesepakatan, Hamas memberikan tiga nama tersebut 24 jam sebelum waktu pembebasan.
Sampai pukul 08.30, tidak ada kejelasan sandera yang akan dibebaskan. Militer Israel menyerang kembali sejumlah wilayah Gaza.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/20/0b040a9272bd52bec857c9803d34c1f7-Israel_Palestinians_126865102.jpg)
Seperti dilaporkan Al Jazeera, sebanyak 19 warga Gaza tewas akibat serangan Israel itu: sembilan orang di kota Gaza, tiga orang di Gaza utara, enam orang di Khan Younis, dan satu orang di Rafah. Lebih dari 30 warga Gaza terluka akibat serangan itu.
Hamas dalam pernyataan tertulis mengatakan, keterlambatan penyerahan tiga nama sandera yang akan dibebaskan terkait faktor teknis di lapangan. Mereka menyatakan tetap berkomitmen pada kesepakatan gencatan senjata yang telah diumumkan pada Rabu (15/1/2025).
Ada satu momen yang menarik perhatian. Damari dan Gonen tampak tersenyum kepada seorang anggota Hamas yang berada di sisi kanan mereka saat turun dari kendaraan sebelum berpindah ke kendaraan yang disiapkan oleh ICRC.
Setelah berselang hampir dua jam, Hamas menyerahkan tiga nama sandera yang akan dibebaskan. Abu Obeida, juru bicara Brigade Qassam, sayap militer Hamas, melalui saluran telegram menyatakan bahwa mereka memutuskan membebaskan Romi Gonen, Emily Damari, dan Doron Steinbrecher.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/20/6bbe32f88a726da40478aca4d8c7848b-PALESTINIAN_ISRAEL_CONFLICT_HOSTAGES_126869017.jpg)
Butuh waktu sekitar 30 menit sebelum nama-nama itu diterima oleh kantor Perdana Menteri Israel. Sekitar pukul 09.15 waktu setempat, Pemerintah Israel mengonfirmasi telah menerima nama-nama tersebut dan memberi tahu keluarga para sandera yang akan dibebaskan.
Pada saat yang sama, kantor Perdana Menteri Israel menyatakan, gencatan senjata dimulai pukul 11.15 waktu setempat atau pukul 16.15 waktu Indonesia.
Hampir bersamaan waktunya, Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir dan dua menteri lainnya dari partai Otzma Yehudit mundur dari kabinet koalisi yang dipimpin Netanyahu. Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich—Ketua Partai Zionisme Agama—juga mengancam mundur jika Israel menghentikan perang melawan Hamas di Gaza.
Sementara di Gaza, di tengah puing-puing yang berserakan, ribuan warga meluapkan kegembiraannya. Di wilayah utara, yang rusak parah hingga menjadi kota tak bertuan setelah lebih dari 400 hari perang, kini mulai kembali dilalui warga untuk pulang ke rumah masing-masing.
Bagi mereka, gencatan senjata di Gaza saat ini bagai oase di tengah padang pasir. ”Saya merasa akhirnya menemukan air untuk diminum setelah tersesat di padang pasir selama 15 bulan,” kata Aya, perempuan pengungsi setelah pertempuran berhenti. ”Saya merasa hidup kembali.”
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/20/0cbbb2f9c45f6d366a06ee70532f25eb-Israel_Palestinians_126865015.jpg)
Seperti dilansir Al Jazeera, seorang pengungsi lain menyatakan kegembiraannya karena kini mereka bisa melanjutkan kehidupan meski kondisi Gaza tercabik-cabik. ”Saya sangat senang dengan ini karena kami layak untuk hidup,” katanya.
Seorang pemuda Palestina menambahkan, ”Sekarang kami bisa menarik napas lega dari kengerian yang tak henti kami alami. Dan, bagi saya pribadi, saya hanya ingin menyelesaikan pendidikan saya. Banyak sekali mimpi yang hancur selama genosida ini.”
”Sekarang semua orang senang, terutama anak-anak, sangat senang dengan hal itu. Namun, mudah-mudahan Israel tidak akan melanggarnya dalam beberapa hari ke depan,” lanjut pemuda itu.
Di Tel Aviv, ratusan warga Israel berkumpul di sebuah lapangan tidak jauh dari markas Angkatan Bersenjata Israel (IDF) untuk menyaksikan siaran langsung pembebasan sandera melalui layar raksasa. Kerumunan orang bersorak, berpelukan, dan menangis saat tiga sandera perempuan terlihat masuk ke dalam kendaraan ICRC.
Sebagai balasan, sebanyak 90 orang warga Palestina yang ditahan oleh Israel dibebaskan, Senin (20/1/2025) dini hari. Mereka diangkut dengan dua bus ICRC dan tiba di kota Beitunia, wilayah Tepi Barat, Senin dini hari.
Warga Palestina yang gembira memadati jalanan yang dilewati bus tersebut. Menurut laporan kantor berita AFP, sejumlah warga memanjat ke atap bus sambil mengibarkan sejumlah bendera, mulai dari bendera Hamas, bendera nasional Palestina, bendera Fatah, Jihad Islam Palestina, hingga kelompok-kelompok perlawanan bersenjata lainnya. Kembang api juga ditembakkan ke atas langit untuk merayakan kebebasan mereka.
Salah satu tahanan Palestina yang dibebaskan adalah Khalida Jarrar, pemimpin Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP) di Tepi Barat. Mantan anggota parlemen Palestina sejak tahun 2006 ini ditahan tanpa tuduhan oleh Israel sejak tahun 2019.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/20/00d96e1e29f7e0f64f6aacda66a0b03e-PALESTINIAN_ISRAEL_CONFLICT_CEASEFIRE_PRISONERS_126872723.jpg)
Tahun 2012, Jarrar juga pernah dijatuhi hukuman 15 bulan penjara karena dituduh menyebarkan teror terhadap pemerintah dan militer Israel. Saat itu, berkat tekanan internasional, ia dibebaskan Israel setelah enam bulan dibui.
Israel menerbitkan daftar 734 tahanan dari total 737 tahanan yang akan dibebaskan selama fase pertama dalam 42 hari ke depan. Dari jumlah tersebut, 236 tahanan akan dideportasi ke Turki atau Qatar dengan tuduhan mereka melakukan atau berpartisipasi dalam serangan mematikan terhadap warga Israel. Pengasingan secara permanen dipilih oleh Israel.
Walau begitu, perjalanan ke depan diyakini masih akan bergelombang. Masih ada 30 orang yang harus dibebaskan oleh Hamas dan lebih dari 1.000 tahanan Palestina di Israel yang juga masih mendekam di penjara.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz dalam sebuah pernyataan mengatakan, Israel tidak akan menghentikan perang sampai semua orang kembali ke rumah. Juru bicara pemerintah Israel David Mencer menambahkan, adalah hak Israel untuk kembali berperang jika mencapai kesimpulan bahwa tahap kedua negosiasi tidak efektif.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/20/b2b2cf1d97675f2856e21f4e1fc471cc-PALESTINIAN_ISRAEL_CONFLICT_HOSTAGES_126868969.jpg)
Pemimpin Umat Katolik Paus Fransiskus mengungkapkan rasa terima kasih atas gencatan senjata di Gaza dan memuji peran mediator. Ia berterima kasih kepada semua pihak yang terlibat dan bekerja keras untuk mewujudkan kesepakatan tersebut. Dia juga berdoa agar semua sandera dapat kembali ke rumah dan memeluk kembali orang-orang yang mereka cintai.
Paus berharap agar bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan dapat tiba di Gaza sesegera mungkin. Dia juga terus mendorong masyarakat internasional terus membantu kedua belah pihak untuk berdialog, memberi harapan pada terciptanya perdamaian abadi di Palestina. (AP/AFP/Reuters)
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Muhammad Samsul HadiPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .