”Drone” Shahed-136, Legenda Baru Persenjataan Iran

Iran punya ”drone” paling populer di dunia saat ini, yakni Shahed-136. Ikon baru pertempuran masa kini yang efektif dan murah.

24 Nov 2024 06:00 WIB · Politik & Hukum

Oleh M Toto Suryaningtyas

Drone Shahed-136 buatan Iran menjadi salah satu simbol baru pertempuran masa kini yang diwarnai dengan teknologi tanpa awak, massal, efektif, dan berbiaya murah. Semua itu syarat penting bertahan di medan perang dalam ”perang daya tahan” atau artrition war  di era modern.

Jika ditanya drone kamikaze apa yang paling dicari saat ini oleh negara-negara di dunia, jawabannya bisa jadi mengejutkan. Bukan drone canggih kelas kakap nan mahal seperti MQ-9 ”Reaper” atau drone MQ-1 ”Predator” buatan Amerika Serikat.

Bukan pula drone canggih Hermes atau Heron buatan Israel atau Bayraktar TB-2 buatan Turki yang sedang laris. Namun, yang sedang hits dan viral adalah drone sederhana dan murah meriah, yakni Shahed-136 buatan Iran. Ya, Iran sedang di atas angin dalam popularitas drone serang-kamikaze.

Saking populernya drone ini, bahkan negara superpower sekelas China dan Rusia pun segera menyalinnya dengan berbagai cara. Kedua negara adidaya berupaya mereplikasi dan menggandakan tiruan Shahed-136 sesegera mungkin dengan membangun pabrik-pabrik khusus.

Rusia akan menggunakannya untuk menggempur Ukraina, sedangkan China tampaknya bakal menggunakannya terhadap Taiwan jika terjadi konflik peperangan di Selat Taiwan. 

Bahkan, demi mengimbangi rencana Rusia mem-bully Ukraina dengan drone Geran-2 di musim panas mendatang, militer Ukraina pun bertekad memproduksi versi domestik drone itu.

Puing - puing drone Syahid yang dlincurkan Rusia jatuh di dekat Kupiansk, Ukraina yang berhasil ditembak jatuh pihak Ukraina. (Direktorat Komunikasi Strategis Ukraina/AP) FILE – This undated photograph released by the Ukrainian military shows the wreckage of a Russian-fired Shahed drone that it said was downed near Kupiansk, Ukraine. (Ukrainian military's Strategic Communications Directorate via AP, File) *** Local Caption *** Puing - puing drone Syahid yang dlincurkan Rusia jatuh di dekat Kupiansk, Ukraina yang berhasil ditembak jatuh pihak Ukraina. (Direktorat Komunikasi Strategis Ukraina/AP)

Fokus pengembangan drone Ukraina itu diarahkan pada keseimbangan kekuatan tempur drone dalam hal berat hulu ledak, jarak tempuh, dan kemampuan teknis sebagaimana keterangan Menteri Industri Strategis Ukraina Olesandr Kamyshin pada Februari 2024 lalu.

Rusia teridentifikasi sudah menggunakan drone ini sejak September 2022 ketika perang dengan Ukraina telah berjalan 7 bulan. Pada bulan itu, Rusia terdesak di ibu kota provinsi Kharkiv, kota terbesar kedua Ukraina.

Kota itu dibebaskan pasukan Ukraina dengan serangan cepat hingga ke wilayah perbatasan Rusia-Ukraina. Sejumlah laporan media memberitakan terjadi kemerosotan moral yang diindikasikan dengan keengganan pasukan Rusia untuk bertempur (Kompas, 12/9/2022).

Drone Shahed-136 yang digunakan Rusia saat itu telah ditembak jatuh di wilayah Kupiansk, Oblast Kharkiv. Dari sisa-sisa drone saat itu, Rusia terlihat sekadar mengubah nama drone Iran menjadi nama Rusia Geran-2, dan tampaknya mengimpor unitnya secara utuh dari Iran dengan hanya mengubah nama tanpa memproduksi sendiri di Rusia.

Setahun kemudian, Washington Post edisi Agustus 2023 melaporkan bahwa Rusia sedang mengejar produksi Geran-2 melalui perjanjian perdagangan senjata bernilai triliunan rupiah dengan Iran. Pejabat Rusia diketahui membeli lisensi resmi Shahed-136 dari Iran dan memproduksi dengan tambahan fitur avionik.

Parts of downed Shahed drones launched by Russia are piled in a storage room of a research laboratory in Kyiv, Ukraine, on Aug. 28, 2024. (AP Photo/Evgeniy Maloletka)

Dilaporkan, Rusia mengejar target produksi sebanyak 6.000 drone Geran-2 hingga musim panas tahun 2025 sehingga ketika musim panas tiba peperangan bisa dilakukan dengan lebih leluasa.

Informasi yang bocor dari e-mail atau surat elektronik Pasukan Garda Republik Islam Iran menunjukkan bahwa terjadi kesepakatan Rusia dan Iran untuk membeli ribuan drone Shahed-136 pada Februari 2023. Setelah negosiasi, diperoleh harga 193.000 dollar AS untuk pembelian 6.000 unit atau 290.000 dollar AS jika membeli 2.000 unit. Harga pasaran yang banyak diketahui umum atas sebuah unit Shahed-136 adalah 20.000 dollar AS atau sekitar Rp 320 juta.

Lain Rusia lain pula China yang bertindak lebih progresif. Negara ”Tirai Bambu” itu mencoba membuat sejumlah varian tiruan dari Shahed-136 demi menemukan racikan terbaik drone kamikaze versi China. Namun, akhirnya,  yang muncul sangat mirip dengan Shahed-136, yaitu yang bernama Sunflower 200 yang terekam diluncurkan China pada Agustus 2023.

Tak hanya bentuknya, drone itu juga memiliki spesifikasi sangat mirip dengan Shahed-136, baik dari penggunaan mesin bensin 2 tak, jangkauan maksimum sekitar 2.000 km, daya tahan maksimum terbang 12 jam, maupun kecepatan maksimum 220 km per jam. Perbedaannya ada pada bobot total lepas landas di mana Sunflower200  berbobot 175 kg, lebih ringan dari Shahed-136 yang mencapai 240 kg (militarydrones.org.cn).

Dalam sejumlah gambar yang beredar di laman militer, tampak China berupaya meluncurkan Shahed-136 dengan posisi tegak lurus 90 derajat ketimbang miring sekitar 30 derajat seperti di kendaraan pengangkut aslinya dari Teheran. Keunggulannya, jumlah drone per kendaraan pengangkut bisa lebih banyak karena posisi inventori yang lebih ringkas.

Infografik ”Drone” Iran Shahed 136

”Drone” segitiga berwajah jelek

Drone Shahed-136 berukuran cukup besar, panjang sekitar 3 meter dan lebar 2,5 meter, terlalu besar dan berat untuk diangkat satu orang, tetapi lebih kecil jika dibanding drone ukuran medium, seperti Bayraktar TB-2 milik Turki dengan ukuran panjang dan bentangan sayap beberapa kali lipat lebih besar dari Shahed-136.

Shahed-136 diproduksi dan dipergunakan Angkatan Bersenjata Iran (IAF) dalam tiga model, kendaraan anti-personel dan lapis baja, anti-benteng (armor), dan pencari radar.

Dengan bentuk badan sekaligus merangkap sayap berdesain segitiga, Shahed-136 kerap disebut berdesain delta wings. Dibandingkan drone berbentuk pesawat seperti Bayraktar TB-2, badan drone Shahed-136 terlihat seperti segitiga alumunium dengan ujung berbentuk pipa bulat pejal.

Bentuk badan drone Iran tersebut bahkan terbilang ”jelek”. Drone tersebut juga tanpa sayap tegak (rudder) yang layak sehingga terlihat kaku karena ibarat tanpa leher body (fuselage), terlalu sederhana, dan tanpa lekukan atau antena apa pun.

Iranian President Masoud Pezeshkian (R) and commander of the Islamic Revolutionary Guard Corps' Aerospace Force Amir Ali Hajizadeh look on as Iran's new Shahed 136-B drone is displayed during the annual military parade marking the anniversary of the outbreak of the 1980-1988 war with Saddam Hussein's Iraq, in Tehran on September 21, 2024. (Photo by ATTA KENARE / AFP)

Tak ayal, Shahed-136 terbilang sangat ”culun” dibandingkan drone-drone canggih negara Barat yang biasanya memiliki desain eksotik ala kepala capung dengan berbagai antena, tonjolan kamera, dan sensor yang menggambarkan kesangaran dan kecanggihannya. Kesederhanaan itu dilengkapi dengan bentuk motor bensin 2-tak dan baling-baling kayu dua bilah tanpa ditutup dengan lapisan apa pun.

Sekilas, sepertinya meragukan bahwa desain semacam itu mampu terbang dengan stabil dan andal, apalagi untuk jarak sejauh ribuan kilometer. Namun, di balik kesederhanaan dan kejelekannya itu, drone Shahed-136 terbukti efektif mematahkan semua keraguan dan sukses menggempur pasukan lawan.

Mulai dari menggempur pasukan Ukraina dan kota-kota utama Ukraina dalam perang Rusia-Ukraina hingga menyerang pasukan Israel dan kota-kota Israel dalam perang Hamas-Israel, Shahed-136 telah menjadi momok bagi pihak lawan.

Menurut Justin Bronk, analis penerbangan di Royal United Services Institute, drone Shahed-136 memiliki badan serat karbon (carbon fibre) yang ringan sehingga memungkinkan Rusia menerbangkannya dari jarak hingga 1.000 mil lebih dari wilayah Belarus untuk menyerang kota-kota di Ukraina. ”Drone dapat membawa 20-40 kg bahan peledak yang cukup untuk meledakkan lubang yang cukup besar pada struktur yang tidak diperkeras,” ujar Justin.

”Drone” Kamikaze Shahed-136 dan Rudal Hipersonik Fattah Andalan Iran Serang Israel

Sistem avionik, penginderaan, dan kendali drone Shahed-136 juga terbukti mampu secara akurat mengenali sasaran dalam jarak ribuan kilometer. Para ahli percaya drone tersebut juga menggunakan prosesor komputer, modul, dan cip yang diproduksi perusahaan AS.

Komponen-komponen itu tampaknya diperoleh Iran dengan berbagai cara baik resmi maupun secara gelap karena perusahaan Barat dilarang mengekspor komponen peralatan militer untuk negara-negara seperti Iran dan Rusia.

Pada Desember 2023, Badan Nasional Pencegahan Korupsi Ukraina menyatakan bahwa Geran-2 yang diproduksi Rusia mencakup 55 suku cadang buatan Amerika Serikat, 15 suku cadang dari China, 13 suku cadang dari Swiss, dan 6 suku cadang dari Jepang. Untuk sistem kendali penerbangan, Shahed-136 menggunakan sistem navigasi satelit GLONASS Rusia yang setara dengan GPS Amerika Serikat.

Dengan berat hulu ledak 20-40 kg, Rusia sukses menggunakan drone ini untuk menyerang Ukraina sejak September 2022 hingga hari ini. Shahed-136 punya kemampuan menyerang artileri diam, pusat komando, infrastruktur energi, hingga wilayah pemukiman, baik di kota-kota garis depan maupun kota yang berada jauh di belakang garis depan.

Catatan Angkatan Bersenjata Ukraina menunjukkan, selama 2 tahun pertempuran habis-habisan antarkedua negara (Februari 2022-Februari 2024), sudah 4.600 drone Shahed-136 yang diluncurkan Rusia. Dalam satu kali serangan, Rusia bisa meluncurkan 90-130 drone sekaligus.

Drone ini memang dirancang untuk menggempur sasaran dalam jumlah banyak sehingga jika terkena proyektil penangkis serangan udara, tetap mampu meloloskan beberapa di antara puluhan drone yang melakukan penyerangan serempak (swarm) untuk menghancurkan sasaran.

A handout picture released by the Iranian Army media office on January 23, 2024 shows drones displayed at a Defence Ministry showroom in Tehran. (Photo by Iranian Army Media Office / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / Iranian Army media office " - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Efektif dan ”licin”

Shahed-136 dirancang untuk terbang ”sekali untuk selamanya”. Tidak ada roda pendarat, tidak ada mekanisme menangkap drone ini jika batal menyerang musuhnya. Dengan karakter kemampuan loitering alias berputar-putar di langit mengamati sasaran selama berjam-jam, maka sekali diluncurkan Shahed-136 bekerja ibarat burung elang pemangsa yang mengamati mangsa dari langit sebelum menukik tajam ke arah mangsanya untuk meledakkan diri dengan hulu ledaknya.

Laman aeronautika Airhubstore mencatat, pasukan Rusia meluncurkan sebanyak 238 unit Shahed-136 sepanjang Oktober 2022, sebanyak 154 unit sepanjang Mei 2023, dan 108 unit sepanjang Januari 2023. Sementara itu, jumlah terbanyak drone Shahed-136 yang berhasil ditembak jatuh tercatat 45 unit. 

Meski Ukraina mengklaim bisa menangkal sebagian besar di antaranya dengan senjata antiserangan udara, selalu ada drone yang lolos dan menimbulkan kerusakan cukup besar. Terhadap sistem antiserangan udara canggih, drone ini mudah mengakalinya dengan terbang relatif sangat rendah, hanya 20-30 meter di atas permukaan tanah jika diperlukan. Di sisi lain, drone ini sekaligus bisa pula terbang setinggi 17.000 feet (5,2 km) jika diperlukan.

Rekaman video keefektifan serangan Shahed-136 itu banyak diedarkan di media sosial yang menggambarkan ketidakberdayaan menghadapi Shahed-136. Dengan hulu ledak tergolong lumayan besar, antara 20-40 kg, ledakan yang dihasilkan Shahed-136 saat menyerang akan menghasilkan kehancuran yang cukup besar. Meski tak sebesar dampak kehancuran dari sebuah rudal dengan hulu ledak yang sama, hal itu cukup untuk memberikan dampak moril signifikan.  

Artileri pertahanan udara Ukraina menghantam drone Syahid yang diluncurkan Rusia ke arat Kota Kyiv, Ukraina, Sabtu (7/9/2024). (AP/Evgeniy Maloletka) FILE - Ukrainian air defenses intercept a Shahed drone during a Russia aerial attack on Kyiv, Ukraine, on Saturday, Sept. 7, 2024. (AP Photo/Evgeniy Maloletka, File) *** Local Caption *** Artileri pertahanan udara Ukraina menghantam drone Syahid yang diluncurkan Rusia ke arat Kota Kyiv, Ukraina, Sabtu (7/9/2024). (AP/Evgeniy Maloletka)

Sebuah rekaman video dari helikopter serang Ukraina beredar di media sosial pada September 2024 lalu memperlihatkan sebuah drone Shahed-136 sedang dalam penerbangan rendah. Prajurit Ukraina di dalam heli kemudian menembakkan senapan mesin yang dengan segera membuat drone Shahed-136 itu berasap dan menukik jatuh. 

Dari sejumlah video amatir di media sosial Ukraina, pada saat terbang mendatar di ketinggian rendah, sangat sulit menembak drone Shahed-136 itu menggunakan senapan serbu biasa meskipun bentuk drone sudah terlihat jelas berupa segitiga hitam kecil.

Demikian pula suaranya, terdengar sangat keras seperti mesin pemotong rumput, tetapi faktanya sangat sulit mengenai benda itu yang sepertinya melayang cukup pelan di kecepatan sekitar 200 kilometer per jam. Apalagi, pada saat menukik, kecepatannya tiba-tiba bertambah dan waktu yang tersedia untuk membidik secara manual sangatlah singkat, hanya 1-2 detik.

Uniknya, dari analisis sejumlah sumber laman militer diketahui bahwa kemampuan drone ini menghindari deteksi sistem pertahanan udara canggih adalah karena sistem navigasi yang digunakan justru sudah tidak sesuai (comply) dengan kecanggihan radar-radar terbaru saat ini.

Ahli militer Ukraina tengah menjelaskan pada sejumlah perwakilan diplomatik negara sahabat soal drone milik Rusia yang digunakan untuk menyerang berbagai wilayah Ukraina di Kyiv, Kamis (15/12/2022). . (Photo by Sergei SUPINSKY / AFP) Ukrainian military experts show to representatives of diplomatic missions in Ukraine downed drones that Russia allegedly uses for striking critical infrastructure and other targets in Ukraine during a press-conference in Kyiv on December 15, 2022. - Ukraine said on December 14, 2022, it had shot down more than a dozen drones in Moscow's latest assault on Kyiv. (Photo by Sergei SUPINSKY / AFP)

Hal itu ditambah penggunaan bahan badan pesawat yang terbuat dari serat karbon membuat kemampuan stealth drone bertambah. Geran-2 dari Rusia bahkan menggunakan bahan badan yang lebih canggih lagi dan sistem pengacak radar (jamming) untuk menghindari sistem antiperang elektronik (EW-electronik warfare).

Oleh karena itu, untuk menundukkan drone ”jadul” yang efektif ini akhirnya pasukan militer lawan menggunakan teknik yang juga jadul. Pasukan Ukraina, misalnya, menggunakan sistem antiserangan udara sederhana, seperti memasang meriam antiserangan udara atau bahkan senapan mesin di atas bak mobil terbuka.

Setelah kedatangan bantuan persenjataan Jerman, kini pasukan Ukraina juga mengandalkan flakpanzer bersenjatakan kanon 20 mm di atas basis tank Leopard, dan itu semua terbukti lebih efektif menjatuhkan Shahed-136.

Infografik ”Drone” Iran Shahed 136

Kecerdikan rancangan Iran

Perancang dan produsen drone Shahed-136 adalah Shahed Aviation Industries Research Center, perusahaan Iran spesialis pembuat pesawat tak berawak (UAV) dan helikopter, di bawah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran.

Selain Shahed-136, dibuat juga berbagai varian lainnya, seperti Shahed-131, Shahed-141, dan lebih dari 10 varian Shahed lainnya. Banyak dari varian UAV memiliki spesifikasi lebih tinggi dan canggih dari Shahed-136, tetapi tak ada yang sepopuler seri tersebut.

Kepopuleran drone Shahed-136 jauh di atas berbagai drone yang saat ini bersliweran di arena peperangan ataupun dalam gudang-gudang persenjataan, membuat drone jadul buatan Iran ini akhirnya mirip kisah senapan serbu AK-47 (Avtomat Kalashnikov) buatan Uni Soviet.

Meski senapan itu kalah akurat ketimbang M-16 buatan Amerika Serikat, pada akhirnya popularitas AK-47 tak mampu ditandingi M-16. Senjata AK-47 dikenal mudah dan murah diproduksi, andal dan yang penting, bisa mematikan serdadu lawan.

Filosofi itu agaknya yang juga menginspirasi pencipta desain Shahed-136 yang memiliki filosofi murah, mudah dibuat dengan komponen gado-gado, dan andal-mematikan dengan jarak terbang jauh dan hulu ledak cukup besar. Lihat saja bagaimana motor penggerak baling-baling kayu Shahed-136 adalah motor bakar 2-tak tiruan produk China (dan Iran) dari motor Limbach L550E buatan Jerman.

Di Iran, tiruan mesin produksi dalam negeri ini diberi nama MADO MD-550. Meski mesin tiruan itu tak semulus mesin aslinya buatan Jerman, secara umum sudah mampu memberi tenaga yang cukup dan cukup andal untuk mengemban misi tempur jarak jauh.

Limbach L550E (China) adalah mesin bensin empat silinder, berpenggerak langsung, menggunakan pengapian magneto tunggal, empat karburator, yang dilumasi dengan campuran oli. Semua spesifikasi teknis mesin tersebut menunjukkan betapa sederhana dan iritnya mesin penggerak Shahed-136.

The Guardian mencatat Iran memiliki sejarah panjang dalam pengujian dan penerapan drone, sejak perang Iran-Irak pada tahun 1980-an, didorong oleh kurangnya akses negara tersebut terhadap teknologi canggih Barat yang memungkinkan negara tersebut membeli, mengembangkan, dan memelihara drone yang canggih.

Kemampuan Iran menciptakan berbagai jenis drone menggambarkan keuletan negara Islam Syiah itu dalam memanfaatkan apa pun sumber daya yang tersedia di pasar bebas dunia untuk kemajuan industri pertahanannya. Bagaimana dengan industri pertahanan Indonesia? (LITBANG KOMPAS)


Kerabat Kerja

Penulis:

M Toto Suryaningtyas
 | 

Editor:

Andreas Yoga Prasetyo