Di tengah hiruk-pikuk Piala Dunia 2026, diaspora Iran membawa dua simbol berbeda ke tribune stadion. Perdebatan tentang identitas, sejarah, dan masa depan Iran.
16 Jun 2026 11:30 WIB · Olahraga
AP Photo/Mark J. Terrill
Dua bendera Iran berkibar di antara riuh penonton yang memadati stadion di Los Angeles, Amerika Serikat. Dari kejauhan, keduanya tampak serupa karena sama-sama membawa warna hijau, putih, dan merah. Namun, bagi sebagian warga Iran, kedua bendera itu mewakili dua cerita berbeda tentang negara yang sama.
Pemandangan tersebut muncul menjelang dan pada saat laga perdana Iran pada Piala Dunia 2026. Ketika perhatian dunia tertuju pada sepak bola, sebagian diaspora Iran justru membawa perdebatan yang telah berlangsung selama puluhan tahun ke tribune stadion. Ada yang datang dengan bendera resmi Republik Islam Iran. Ada pula yang mengibarkan bendera Singa dan Matahari, simbol yang digunakan sebelum Revolusi Islam 1979, Selasa (16/6/2026) pagi WIB.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/16/d20846c740fa20dafc0781dcac14067d-1000952703.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/16/91bdc3fb524b0187ed4da0d8c9d8c2c1-1000952707.jpg)
Bagi banyak negara, Piala Dunia adalah panggung untuk merayakan sepak bola. Namun, bagi Iran, turnamen kali ini juga menjadi ruang tempat identitas, sejarah, dan politik saling berkelindan.
Associated Press melaporkan, sebagian komunitas Iran-Amerika di California memilih menggelar nonton bareng untuk mendukung tim nasional. Namun, sebagian lainnya berencana mengadakan aksi protes di sekitar stadion. Kota Los Angeles sendiri dikenal sebagai rumah bagi salah satu komunitas diaspora Iran terbesar di luar negeri.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/16/30b0328d1ec6f76e10618eac56f68885-1000952702.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/16/92858450813039c2e237d9d380d2f424-1000952735.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/16/0cfbfa90e32a9b60cab9a130228a89de-1000952737.jpg)
Perbedaan pandangan itu tecermin pada simbol yang mereka bawa. Bendera resmi Republik Islam Iran menjadi lambang negara yang digunakan saat ini. Sementara bendera Singa dan Matahari bagi sebagian diaspora dipandang sebagai representasi identitas Iran sebelum revolusi yang mengubah arah politik negara tersebut pada 1979.
Meski demikian, tidak semua perbedaan bermuara pada penolakan terhadap tim nasional. Sejumlah warga Iran yang diwawancarai AP menyatakan tetap memberikan dukungan kepada para pemain. Bagi mereka, tim nasional mewakili rakyat Iran, bukan pemerintah yang sedang berkuasa.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/16/bdc6d94955a3a532166c968ff90f9233-1000952705.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/16/5dba900d6d6b194f41d9c7cd9f58cbed-1000952736.jpg)
Di tengah situasi tersebut, skuad Iran datang ke Piala Dunia dengan membawa beban yang tidak sepenuhnya berkaitan dengan sepak bola. Tim asuhan Amir Ghalenoei tiba di Los Angeles di tengah ketegangan politik yang masih membayangi Iran. Mereka sebelumnya juga sempat tertahan karena urusan visa. Sementara aksi protes diaspora juga menyertai kedatangan mereka menjelang pertandingan pembuka.
Pelatih Amir Ghalenoei dan kapten Mehdi Taremi berulang kali menegaskan bahwa tim nasional bermain untuk semua warga Iran. Pesan itu ditujukan kepada jutaan warga Iran di dalam negeri ataupun diaspora yang tersebar di berbagai belahan dunia, termasuk mereka yang memiliki pandangan politik berbeda.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/16/6a2380e7e2206cb3c7ca802ccf3953e9-1000952706.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/16/e314f1fce7c3ca6f49239afedb970a7e-1000952709.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/16/9a3d73a4d3773ef1a08ab36c4abd7aa5-1000952783.jpg)
Saat pertandingan berlangsung itu, perhatian sebagian penonton tetap terbagi antara apa yang terjadi di lapangan dan pesan yang mereka bawa ke tribune. Laga Iran dan Selandia Baru bermain imbang 2-2. Namun, bagi sebagian diaspora Iran yang hadir di stadion, papan skor bukan satu-satunya hal yang mereka perhatikan malam itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/16/35368e4dc341e20b0eeaf4c425ee5f3e-1000952784.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/16/cd4ab18d080840c445b9521e4bde6f11-1000952785.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/16/26689227a166fa4061e0050694b7a772-1000952786.jpg)
Karena itu, kisah Iran di Piala Dunia 2026 tidak hanya berbicara tentang hasil pertandingan atau peluang lolos dari fase grup. Di tribune stadion, dua bendera yang berkibar bersamaan menjadi pengingat bahwa sepak bola kerap memantulkan cerita yang lebih besar daripada permainan itu sendiri. Cerita tentang sejarah, identitas, dan pergulatan sebuah bangsa dalam memaknai negaranya.
Penulis:
Raditya Mahendra YasaEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
Nur Adji