Meliput Piala Dunia di New York-New Jersey dan Philadelphia seperti merasakan atmosfer dua dunia yang berbeda. Satu gemerlap modern, satu lagi kental aroma sejarah.
22 Jun 2026 17:26 WIB · Olahraga
Kompas/Prasetyo Eko Prihananto
Setelah sekitar seminggu meliput Piala Dunia 2026 di New York-New Jersey, akhirnya kesempatan tiba untuk pindah sejenak ke Philadelphia menyaksikan laga antara Brasil dan Haiti. Meski hanya berjarak dua setengah jam naik bus, memasuki Philadeplhia terasa seperti memasuki dunia yang berbeda.
Philadelphia menewarkan dunia yang terasa bertolak belakang dalam penyelenggaraan Piala Dunia dibandingkan dengan New York-New Jersey. Hal pertama yang bisa bikin fans sepak bola internasional garuk-garuk kepala adalah soal geografi politik di wilayah metropolitan New York-New Jersey. Soal ini memang sedikit membingungkan.
Meski FIFA menyebutnya sebagai satu host city New York New Jersey, tetapi sebenarnya ada dua negara bagian yang terlibat di sini. Jadi, jika hendak menikmati Piala Dunia di sini, barangkali Anda memilih menginap di Manhattan, New York, tetapi ketika menyaksikan pertandingan, harus menyeberangi Sungai Hudson ke East Rutherford, yang berada di Negara Bagian New Jersey. Stadion MetLife terletak di East Rutherford dan selama turnamen, stadion yang menjadi kandang dua klub NFL New York Jets dan New York Giants ini akan berganti nama menjadi Stadion New York New Jersey.
Ini seperti mengaku tinggal di Jakarta yang gemerlap, tetapi ketika menonton pertandingan harus menyeberang ke Depok. Ya, New York–New Jersey adalah dua negara bagian yang terpisah, meskipun saling berdampingan dan hanya terpisah sungai.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/22/137539fb44972b36ae6db3247c464279-IMG_20260619_110617666.jpg)
Berbeda dengan Phily, begitu Philadelphia sering disebut, tidak ada krisis identitas tersebut. Stadion yang dipakai untuk pertandingan berada di dalam batas kota. Itu adalah sebuah kompleks stadion raksasa. Meski kapasitas stadion yang dipakai tak sebesar di New Jersey, tetapi ada tiga stadion di kompleks tersebut yang sangat masif, yang adalah markas klub sepak bola Amerika, bisbol, basket, hoki es, dan lacrose.
Stadion untuk gelaran Piala Dunia adalah Stadion Philadelphia, sehari-hari disebut Lincoln Financial Field, merupakan kandang klub NFL Philadelphia Eagles dan tim NCAA Temple Owls. Kemudian ada Citizens Bank Park yang menjadi markas klub bisbol Philadelphia Phillies yang bermain di MLB. Adapun Wells Fargo Center adalah markas klub NBA Philadelphia 76ers, klub NHL Philadelphia Flyers, dan klub NLL (liga lacrose) Philadelphia Wings.
Kapasitas Stadion Licoln Financial hanya sekitar 68.000, sedangkan Stadion MetLife mencapi 82.000 penonton. Kompleks MetLife sebenarnya juga sangat masif karena di lokasi tersebut ada bekas kandang klub basket NBA New Jersey Nets yang sekarang menjadi Brooklyn Nets dan sejumlah cabang olahraga lain.
Perbedaan yang sangat terasa di antara dua kota tuan rumah ini adalah soal suasana. New York-New Jersey menawarkan gengsi global, gemerlap kota, dan keramaian metropolitan di Manhattan, yang merupakan pusat bisnis, keuangan, dan budaya global. Meski stadion berada di East Rutherford di New Jersey relatif sepi, tetapi para suporter berkumpul seperti laron mengelilingi gemerlap lampu neon Times Square serta distrik teater Broadway di jantungnya Big Apple.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/13/f46350f35a6e8286f7b03828b25ededc-1000115734.jpg)
Itu berbeda 180 derajat dengan Philadelphia yang berada di negara bagian Pennsylvania. Kota ini lebih menawarkan identitas lokal yang kuat dan menawarkan aroma sejarah yang sangat kental. Ketika saya berada di kota ini untuk menunggu pertandingan Brasil versus Haiti, pendukung tidak berkumpul mengelilingi layar atau lampu neon seperti di Times Square, melainkan berkunjung ke situs-situs bersejarah.
Ribuan pendukung Brasil dan sebagian kecil pendukung Haiti berjalan-jalan ke lokasi-lokasi yang sangat bersejarah di Philies. Harap diketahui, Philadelphia sering disebut sebagai kota kelahiran Amerika Serikat.
Dan kebetulan, pertandingan Brasil lawan Haiti jatuh pada 19 Juni, yang di AS adalah hari libur nasional yang disebut Juneteenth, gabungan dari June dan nineteenth (19 Juni), untuk memperingati berakhirnya perbudakan di AS. Mengutip laman museum Smithsonian, pada hari tersebut tahun 1865, Union Army memasuki Galveston, Texas, di bawah kepemimpinan Jenderal Gordon Granger, yang kemudian mengumumkan kepada masyarakat Texas bahwa seluruh warga Afrika-Amerika yang diperbudak telah merdeka.
”Bagi kami, hari ini adalah soal kebebasan,” kata Jon McKay, seorang warga Afrika Amerika di kompleks Liberty Bell.
Pendukung Brasil mengantre berkunjung ke Indepence Hall dan Liberty Bell Center. Independence Hall adalah bangunan bersejarah tempat lahirnya Amerika Serikat karena menjadi tempat deklarasi Kemerdekaan (4 Juli 1776) dan didebatkan dan ditandatanganinya konstitusi Amerika Serikat (1787). Kalau di Indonesia barangkali bisa disamakan dengan Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, tempat dibacakannya teks proklamasi.
Berseberangan dengan Independence Hall, ada Liberty Bell, sebuah lonceng bersejarah yang ramai dikunjungi. Lonceng ini merupakan simbol utama kemerdekaan dan kebebasan bagi Amerika Serikat. Di lonceng berusia ratusan tahun itu, ada tulisan yang berbunyi ”Proclaim liberty throughout all the land unto all the inhabitants thereof” (Maklumkan kebebasan di seluruh negeri bagi seluruh penduduknya).
Philadelphia tidak menjual gemerlap kosmopolitan New York-New Jersey, melainkan kepekatan sejarah dan identitas lokal. Soal kuliner juga sangat jauh berbeda. Jika New York-New Jersey adalah soal potongan pizza setipis kertas kardus dan bagel, di Philadelphia adalah philly sheesesteak, roti lapis ikonik yang isinya irisan tipis daging sapi yang diselimuti keju leleh.
Memang dari sisi skala, harus diakui New York-New Jersey jauh lebih besar. Di kota ini, akan ada delapan pertandingan Piala Dunia, termasuk partai paling ditunggu-tunggu, yaitu pertandingan final yang akan berlangsung pada 19 Juli mendatang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/22/ef11198a2a35dd00fb1339028a3fc6ac-IMG_20260619_100408794_HDR.jpg)
Di sini jauh lebih murah untuk ke stadion.
Di Philadelphia hanya akan menggelar enam pertandingan. Akan tetapi, satu pertandingan babak 16 besar akan tepat berlangsung pada 4 Juli, bertepatan dengan tema perayaan besar di AS saat ini, yaitu peringatan kemerdekaan semiquincentennial atau peringatan kemerdekaan yang ke-250 AS.
Dan ini yang terpenting, ada satu perbedaan sangat mencolok antara kedua kota tuan rumah, yaitu soal biaya. Bagi fans yang terbiasa dengan kultur sepak bola Eropa atau Amerika Latin di mana stadion barangkali berada di jantung kota, logistik di New York-New Jersey adalah sebuah ujian kesabaran. Mahal dan agak merepotkan.
Di New York-New Jersey, untuk menuju lokasi pertandingan, suporter harus membayar tiket yang sangat mahal, mencapai 98 dolar AS untuk naik kereta yang hanya berjarak sekitar 13 kilometer. Belum lagi tarif hotel di kawasan Manhattan yang sudah pasti sangat mahal.
Karena lokasi parkir di Stadion MetLife dilarang untuk publik, warga mau tak mau harus naik angkutan umum. Jika memang nekat mau naik kendaraan pribadi, bisa parkir di American Dream Mall yang tarif parkirnya paling murah disebut mencapai 250 dolar AS. Bagi jurnalis memang sedikit tertolong karena ada bus media yang disediakan secara gratis meskipun harus berkejaran dengan waktu yang terbatas.
”Di sini jauh lebih murah untuk ke stadion,” kata Roberto, suporter Brasil yang tengah berkunjung ke Independence Hall bersama rekan-rekannya menjelang laga Brasil lawan Haiti.
Di Philly, Anda tidak perlu menyeberangi sungai atau membeli tiket transportasi khusus turnamen yang harganya mencekik. Otoritas transportasi setempat (SEPTA) memilih untuk menjaga dompet suporter agar tidak terlalu bolong. Hanya dengan membayar tarif reguler kereta bawah tanah Broad Street Line seharga 2,90 dollar AS, pendukung bisa meluncur langsung dari pusat kota (City Hall) menuju Stasion NRG di kompleks stadion dalam waktu 15 menit.
Jadi meskipun ada bus media, saya lebih memilih berbesak-desakan dengan para suporter naik kereta ke stadion. Selain karena murah, saya bisa merasakan atmosfer Samba suporter Brasil.
Pulangnya, saya juga lebih memilih naik kereta bersama suporter dibanding naik bus media. ”Langsung saja masuk, tidak usah tap kartu kredit lagi,” kata seorang petugas stasiun ketika melihat saya hendak membayar di gerbang nirkontak. Ternyata, tarif sebesar itu sudah untuk bolak-balik!
Di Philadelphia, warga juga masih bisa melakukan tradisi lokal tailgating, berpesta barbeku di belakang bagasi mobil sebelum pertandingan, karena lahan parkir stadion masih boleh dipakai untuk publik. Sebaliknya, di New Jersey, hal itu tidak bisa dilakukan karena lahan parkir stadion tertutup untuk umum.
Itulah dua dunia yang berbeda dari dua kota tuan rumah Piala Dunia. Satu menawarkan atmosfer gemerlap kosmopolitan modern, satu lagi menawarkan aroma sejarah yang kental.
Penulis:
Prasetyo Eko Prihananto, dari Philadelphia, Amerika SerikatEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase