Salah satu kapal itu adalah VLCC Pertamina Pride yang membawa pasokan minyak mentah jenis ”light crude oil” untuk memenuhi konsumsi dalam negeri.
10 Mar 2026 15:46 WIB · Ekonomi & Bisnis
ARIS PRASETYO
JAKARTA, KOMPAS — Dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping masih tertahan di kawasan Teluk Persia akibat situasi keamanan di sekitar jalur pelayaran Timur Tengah yang belum sepenuhnya kondusif. Kedua kapal tersebut kini menunggu situasi aman untuk melintas keluar melalui Selat Hormuz.
Pelaksana Tugas Corporate Secretary PT Pertamina International Shipping (PIS) Vega Pita mengatakan, dari empat kapal milik perusahaan yang sebelumnya beroperasi di kawasan tersebut, dua kapal telah berhasil keluar dari area konflik. Kedua kapal itu yakni PIS Rinjani dan PIS Paragon.
”Saat ini masih terdapat dua unit kapal yang berada di Teluk Arab, yaitu VLCC Pertamina Pride dan kapal Gamsunoro. Keduanya dalam kondisi aman dan sedang menunggu situasi yang lebih kondusif untuk dapat keluar melalui Selat Hormuz,” ujar Vega dalam keterangan tertulis, Selasa (10/3/2026).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/02/10/Tanker-Raksasa-PERTAMINA-PRIDE-Siap-Salurkan-Energi-Nasional-6_1612954514.jpeg)
Vega menjelaskan, kapal Gamsunoro yang masih tertahan di Teluk Persia saat ini tengah melayani pengangkutan kargo milik konsumen pihak ketiga. Sementara itu, kapal tanker sangat besar (very large crude carrier/VLCC) Pertamina Pride sedang menjalankan misi membawa pasokan minyak mentah jenis light crude oil untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global. Perang antara Israel-AS dan Iran yang pecah sejak 28 Februari lalu, diikuti dengan penutupan jalur sempit tersebut.
Akibatnya, ratusan kapal yang mengangkut energi dan berbagai komoditas tertahan di Teluk Persia sampai sekarang. Kapal-kapal itu melepas jangkar di kedua sisi Selat Hormuz sambil menunggu situasi aman untuk keluar dari kawasan itu.
Perusahaan intelijen maritim Windward menyebut, lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz tercatat hanya lima kapal pada 4 Maret 2026 dibandingkan dengan 120 penyeberangan pada 26 Februari 2026.
Kapal-kapal yang berada di sana pun, sekitar 1.100, mengalami serangan elektronik yang mengganggu sistem navigasi. Serangan seperti ini memang sering terjadi pada masa ketegangan geopolitik. Akibatnya, kapal-kapal tampak berada di lokasi yang berbeda dari posisi sebenarnya pada platform pelacakan.
”Dalam 48 jam terakhir, situasinya menjadi ’sulit ditembus’,” kata Mark Douglas, analis domain maritim di Starboard Maritime Intelligence. Ia menambahkan bahwa mencoba menentukan posisi kapal mana pun di sekitar selat menggunakan data pelacakan kini hampir mustahil.
Aramco CEO Amin Nasser, Selasa (10/3/2026), mengatakan, pasar minyak dunia akan menghadapi malapetaka jika Iran terus mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz. ”Akan ada konsekuensi yang sangat besar bagi pasar minyak dunia, dan semakin lama gangguan ini berlangsung, semakin serius pula dampaknya bagi perekonomian global,” ujarnya, dikutip Reuters.
Nasser mencatat, persediaan minyak global saat ini berada pada level terendah dalam lima tahun terakhir. Krisis ini akan menyebabkan pengurasan stok terjadi dengan lebih cepat. Oleh karena sangat penting agar aktivitas pelayaran di selat itu segera kembali normal.
Dari Teheran, Garda Revolusi Iran, Senin (9/3/2026), menegaskan, negara-negara Arab dan Eropa yang mau mengusir duta besar Israel dan AS dari wilayahnya akan mendapat otoritas penuh dan bebas untuk melalui Selat Hormuz. Demikian dikutip dari Bloomberg.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/24/f7095963058ca841dbca733798b50817-AFP_97QE8T3_1.standard_136178705.jpg)
Meski dua kapalnya tertahan dan masih menunggu kondisi aman untuk keluar dari Teluk Persia, Pertamina memastikan rantai pasok energi nasional tetap berjalan. Pasalnya, Pertamina didukung oleh ratusan armada kapal lain yang dikelola oleh entitas di bawah Pertamina Group.
Vega mengatakan, perseroan setidaknya memiliki 345 unit kapal untuk mendukung distribusi energi, baik di perairan internasional maupun di wilayah Indonesia. ”Rantai pasok dan distribusi energi tetap solid karena didukung oleh armada kapal Pertamina Group yang beroperasi di berbagai wilayah,” katanya.
Pertamina juga menerapkan sejumlah skema pengamanan rantai pasok energi dengan berkoordinasi bersama pemerintah. Perusahaan menerapkan pendekatan yang disebut metode regular, alternative, dan emergency untuk memastikan distribusi energi tetap berjalan dengan aman dan efektif. Metode tersebut memungkinkan perusahaan mengatur ulang jalur pelayaran atau strategi distribusi apabila terjadi gangguan di jalur utama.
Selain itu, PT Pertamina International Shipping memantau secara intensif selama 24 jam setiap hari semua armada, kru kapal, serta aktivitas operasional melalui sistem pemantauan real-time.
”Kami terus berkoordinasi dengan otoritas maritim dan pihak berwenang setempat guna memastikan keamanan dan keselamatan kru kapal serta muatan yang dibawa,” ujar Vega.
Ia menambahkan, situasi keamanan di kawasan Timur Tengah masih sangat dinamis sehingga perusahaan terus memperbarui langkah mitigasi risiko operasional.
”Kami memohon doa serta dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia bagi keselamatan para kru kapal dan pekerja kami yang tetap menjalankan tugasnya di kawasan tersebut,” katanya berpesan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, ditemui wartawan di Jakarta, Senin (9/3/2026), mengatakan, ketersediaan stok BBM nasional relatif aman di tengah tantangan pengadaan minyak oleh Pertamina dan kenaikan harga minyak dunia.
”Pasokan enggak ada masalah. Untuk bulan puasa dan hari raya Idul Fitri, semuanya terjamin, enggak ada masalah,” ujarnya.
Sebelumnya, ia menyampaikan bahwa stok BBM dan minyak masih tersedia dalam fasilitas penampungan (storage) milik Pertamina sesuai kapasitas mereka lebih dari 20 hari.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/10/e585e7ae53b3d9ec6f303db73bfcca80-wti_crude_2026_03_10_1_.png)
Menurutnya, pemerintah lebih serius mengantisipasi dampak peningkatan harga yang sudah melampaui asumsi makro APBN 2026 di harga 70 dolar AS per barel.
Seperti diketahui, harga minyak dunia sempat melonjak di atas 100 dolar AS per barel sebelum hari ini merosot ke kisaran 80-90 dolar AS per barel.
”Problem kita sekarang bukan stok. Stok tidak ada masalah, sudah ada semua. (Problem) kita itu sekarang tinggal di harga. Nah, kita sekarang sedang meng-exercise untuk melakukan langkah yang komprehensif,” tuturnya.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
Budi SuwarnaPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto