Iga Swiatek menjadi lawan sangat berat bagi Cori ”Coco” Gauff. Namun, Coco memiliki peluang menang pada pertemuan di ajang Final WTA.
05 Nov 2024 11:48 WIB · Olahraga
Oleh Yulia Sapthiani - [email protected]
RIYADH, SENIN — Cori ”Coco” Gauff kalah telak, 1-11, berdasarkan statistik pertemuan dengan Iga Swiatek. Namun, pada pertemuan dalam penyisihan grup turnamen tenis Final WTA 2024, Coco bisa saja menambah kemenangan atas lima kali juara Grand Slam itu jika mampu memanfaatkan momentum.
Pertemuan itu akan terjadi di King Saud University Indoor Arena, Riyadh, Arab Saudi, Selasa (5/11/2024). Coco dan Swiatek bersaing di Grup Oranye pada babak penyisihan bersama Barbora Krejcikova dan Jessica Pegula. Adapun pada persaingan Grup Ungu, Aryna Sabalenka menjadi petenis pertama yang lolos ke semifinal sebagai juara grup setelah dua kali menang. Satu tiket semifinal lainnya dari Grup Ungu akan diperebutkan melalui pertandingan Zheng Qin Wen melawan Jasmine Paolini, Rabu.
Kedelapan peserta ajang di pengujung musim sejak 1972 ini adalah petenis berperfoma terbaik sepanjang musim kompetisi 2024. Selain posisi terbaik dalam Daftar Peringkat Final WTA, hak untuk bermain diberikan pada juara Grand Slam, seperti Krejcikova. Petenis Ceko ini berada di luar peringkat delapan besar, tetapi diprioritaskan lolos karena menjadi juara Wimbledon.
Mereka memulai persaingan dalam format round robin di penyisihan grup. Dua peringkat teratas dari setiap grup berhak lolos ke semifinal.
Laga Coco melawan Swiatek menjadi pertemuan dua petenis yang memenangi pertandingan pertama mereka di Grup Oranye pada Minggu. Jika menang straight sets atas Swiatek, seperti yang didapat saat bertemu Pegula, Coco akan lolos ke semifinal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/04/54978c5d33cdce45b0fdaaaafa3d97ae-AFP_36LG83G.jpg)
Swiatek juga bisa tampil di semifinal jika mengalahkan Coco. Namun, karena kemenangan pertama Swiatek (atas Krejcikova) didapat dalam tiga set, ada syarat lain yang bisa langsung meloloskannya ke empat besar, yaitu jika Krejcikova menang atas Pegula.
Jika semua skenario itu gagal dicapai Coco dan Swiatek, tiket semifinal Grup Oranye bisa ditentukan melalui persaingan terakhir, Kamis.
Menjadi petenis nomor satu pada akhir tahun menjadi motivasi saya. (Aryna Sabalenka)
Berdasarkan rekam jejak pertemuan, yang hanya sekali menang dari 12 pertandingan atas Swiatek, tampaknya sulit bagi Coco untuk mengalahkan petenis Polandia berusia 23 tahun tersebut. Namun, bukan berarti peluang itu tak ada. Coco, yang tiga tahun lebih muda dari Swiatek, bisa memanfaatkan dua momentum baik yang bisa membawanya ke semifinal ajang Final WTA untuk dua kali beruntun.
Juara Amerika Serikat Terbuka 2023 itu tampil konsisten sejak akhir September. Coco memenangi sepuluh dari 11 pertandingan terakhir yang menghasilkan gelar juara WTA 1000 Beijing dan menjadi semifinalis WTA 1000 Wuhan. Dua turnamen itu berlangsung di lapangan keras, jenis lapangan yang juga digunakan di Final WTA.
Dia juga bisa memanfaatkan celah yang ada pada Swiatek saat ini. Saat Coco tampil baik dalam Tur Asia, Swiatek beristirahat dari turnamen karena performanya menurun setelah menjuarai Perancis Terbuka. Swiatek tak bertanding selama dua bulan setelah tersingkir pada perempat final AS Terbuka dan dia mengganti Tomasz Wiktorowski dengan Wim Fisette untuk menjadi pelatih, yaitu pada Oktober.
Swiatek pun membutuhkan waktu untuk beradaptasi kembali dengan suasana kompetisi hingga dia hampir kalah saat melawan Krejcikova. Dia kehilangan set pertama dan tertinggal 0-3 pada set kedua meski akhirnya menang 4-6, 7-5, 6-2.
”Melawan Iga selalu menjadi pertandingan berat. Namun, jika bisa menampilkan permainan saya dengan maksimal, saya bisa saja menang,” ujar Coco.
Servis akan menjadi faktor kunci penampilan Coco. Dia membawa Matt Daly sebagai pelatih baru, menggantikan Brad Gilbert, untuk memperbaiki kelemahan pada servis. Coco bisa melancarkan servis begitu keras, tetapi sering membuat double fault.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/05/ab40e4dab2aaf6178f1d9cd94ab331a4-AFP_36LK2VT.jpg)
Pada Grup Ungu, kemenangan dengan skor 6-3, 7-5 atas Paolini, pada Senin, tak hanya mengantarkan Sabalenka ke semifinal. Petenis Belarus itu mendekatkan diri pada status petenis nomor satu dunia akhir 2024.
Sabalenka tinggal membutuhkan satu kemenangan, yaitu atas Elena Rybakina, untuk mempertahankan posisinya di puncak peringkat dunia hingga akhir tahun. Dengan demikian, poin peringkatnya tak akan tersalip Swiatek yang juga memiliki peluang di peringkat teratas pada akhir 2024.
”Menjadi petenis nomor satu pada akhir tahun menjadi motivasi saya. Namun, dalam pertandingan tadi, saya hanya fokus memanfaatkan setiap peluang mendapat poin dengan baik karena melawan Jasmine sangat sulit secara fisik. Pukulannya begitu datar dan dia bisa bergerak dengan cepat,” tutur Sabalenka yang 22 kali menang dari 23 pertandingan terakhir.
Petenis yang memiliki tiga gelar juara Grand Slam di lapangan keras (Australia dan AS Terbuka) itu bahkan telah berpikir akan menjalani set ketiga. Dia pun lega ketika bisa menang dua set.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/05/9333c17e13bf76646a577be384269452-AFP_36LG9UZ.jpg)
Ketika Sabalenka telah dipastikan menjadi juara Grup Ungu (akan melawan peringkat kedua Grup Oranye pada semifinal), Paolini dan Zheng akan berebut peringkat kedua. Laga tersebut menjadi persaingan dua petenis yang menjalani debut di Final WTA.
Performa kedua petenis itu meningkat pada 2024 sehingga bisa tampil di final Grand Slam, meskipun belum juara. Paolini mencapai final dua Grand Slam beruntun, yaitu di Perancis Terbuka dan Wimbledon. Adapun Zheng tampil di final Australia Terbuka dan mencapai hasil terbaik ketika mendapat medali emas Olimpiade Paris 2024. (AP/AFP)
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan