Duduk Perkara Pembatalan Pameran Yos Suprapto di Galeri Nasional

Yos Suprapto menolak permintaan kurator yang ditunjuk Galeri Nasional untuk menurunkan lima lukisan tentang kritik sosial pada tema kedaulatan pangan.

20 Des 2024 11:50 WIB · Nasional

Oleh Stephanus Aranditio

JAKARTA, KOMPAS - Pameran lukisan tunggal karya Yos Suprapto bertajuk "Kebangkitan: Tanah Untuk Kedaulatan Pangan" di Galeri Nasional yang seharusnya dibuka pada Kamis (19/12/2024) malam, terpaksa dibatalkan. Pameran batal karena kurator meminta lima lukisan Yos untuk diturunkan.

Pengunjung yang sudah hadir sebelum pembukaan pameran dilarang masuk ke area pameran, pintu dikunci dan lampu digelapkan. Penyebabnya, kurator yang ditunjuk Galeri Nasional, Suwarno Wisetrotomo, meminta lima di antara 30 lukisan untuk diturunkan.

Quote

Ini ekspresi ketakutan kurator yang berlebihan.

Namun, Yos menolak. Alasannya, jika kelima lukisan tersebut termasuk dalam narasi latar belakang situasi dari tema kedaulatan pangan. Jka diturunkan, narasi pameran akan menjadi tidak utuh. Lima lukisan itu berkaitan dengan tokoh yang pernah sangat populer di masyarakat Indonesia.

"Saya tidak mau lagi berurusan dengan Galeri Nasional dan Kementerian Kebudayaan,” kata Yos, Jumat (20/12/2024).

Sejumlah lukisan karya Yos Suprapto yang diminta diturunkan dari pameran tunggalnya bertajuk Kebangkitan: Tanah Untuk Kedaulatan Pangan  di Galeri Nasional, Pameran ini sedianya dibuka pada Kamis (19/12/2024) tetapi terpaksa dibatalkan.
Sejumlah lukisan karya Yos Suprapto yang diminta diturunkan dari pameran tunggalnya bertajuk Kebangkitan: Tanah Untuk Kedaulatan Pangan di Galeri Nasional, Pameran ini sedianya dibuka pada Kamis (19/12/2024), namun terpaksa dibatalkan.
Lukisan karya Yos Suprapto yang diminta diturunkan dari pameran tunggalnya bertajuk  Kebangkitan: Tanah Untuk Kedaulatan Pangan di Galeri Nasional, Pameran ini sedianya dibuka pada Kamis (19/12/2024), namun terpaksa dibatalkan.
Lukisan karya Yos Suprapto yang diminta diturunkan dari pameran tunggalnya bertajuk  Kebangkitan: Tanah Untuk Kedaulatan Pangan di Galeri Nasional, Pameran ini sedianya dibuka pada Kamis (19/12/2024), namun terpaksa dibatalkan.

Dalam rekam jejak pamerannya, karya Yos tidak pernah lepas dari masalah sosial. Pada 1994, ia mengangkat isu lingkungan melalui pameran tunggal bertajuk "Bersatu Dengan Alam" di Taman Ismail Marzuki.

Kemudian tahun 2001, ia kembali menggelar pameran tunggal bertema "Barbarisme: Perjalanan Anak Bangsa" di Galeri Nasional yang melontarkan kritik atas budaya kekerasaan dalam realitas kebangsaan kontemporer. Pada 2005, ia kembali mengangkat isu sosial, mengkritik korupsi di lingkungan elit birokrasi melalui pameran tunggal "Republik Udang" di Tembi Gallery, Yogyakarta.

Pameran kali ini bertumpu pada harapan "Kebangkitan Tanah dan Kedaulatan Pangan" yang lebih baik. Hal itu hanya akan terwujud bila kita berhenti membunuh tanah dan kembali menghidupkan budaya kemandirian agraris.

Di lukisan-lukisannya, komentar dan kritik sosial dihadirkan Yos dalam bahasa simbolisme. Permainan garis dan warna, termasuk hitam, merah, biru, hijau, coklat, kuning, ungu, jingga, dan putih, dianggap jadi ciri khas dari lukisan Yos.

Melalui pameran kali ini, Yos ingin menghadirkan sebuah narasi visual, layaknya cerita novel mengalir dalam bentuk sapuan warna yang mengundang penikmatnya mengimajinasikan sebuah cerita. Ia ingin menyajikan kanvas cerita yang mengandung "masalah" yang bisa mengusik "ketentraman" kita.

Pameran yang rencananya dibuka dari 19 Desember 2024 hingga 19 Januari 2025 ini sudah dipersiapkan Yos sejak setahun terakhir. Namun, kini resmi dibatalkan dan Yos membawa pulang seluruh lukisannya ke Yogyakarta.

Pelukis Yos Suprapto saat pameran lukisan tunggalnya bertajuk "Kebangkitan: Tanah Untuk Kedaulatan Pangan" di Galeri Nasional yang seharusnya dibuka pada Kamis (19/12/2024) malam, terpaksa dibatalkan.

Tidak sejalan tema

Sementara itu, kurator Suwarno Wisetrotomo mengatakan, lukisan-lukisan yang menggambarkan opini seniman tentang praktik kekuasaan itu diminta turun. Alasannya lukisa-lukisan tersebut tidak sejalan dengan tema kuratorial dan berpotensi merusak fokus terhadap pesan yang sangat kuat dan bagus dari tema pameran.

"Menurut pendapat saya, dua karya tersebut ‘terdengar’ seperti makian semata, terlalu vulgar, sehingga kehilangan metafora yang merupakan salah satu kekuatan utama seni dalam menyampaikan perspektifnya," kata Suwarno.

Namun, Yos tetap mempertahankan lukisan tersebut, perbedaan pendapat antara keduanya pun terjadi selama proses kurasi dari Oktober 2024 sampai menjelang acara pembukaan pameran. Dan akhirnya, karena tidak ada titik tengah, Suwarno memutuskan mundur sebagai kurator, disaksikan pengelola Galeri Nasional Indonesia.

Suwarno meyakini kurator bertanggungjawab terhadap kesesuaian antara tema yang disepakati dengan materi pameran. Selain itu, dia merasa pendapat kurator seharusnya penting untuk dipertimbangkan seniman.

"Saya menghargai pendirian seniman, namun saya tetap memutuskan mundur. Dan pengunduran diri saya sebagai kurator tidak bermaksud untuk menghentikan pameran," ucapnya.

Ekspresi berlebihan

Budayawan, Erros Djarot yang hadir saat acara pembukaan yang dibatalkan tersebut menilai ini sebagai ekspresi ketakutan kurator yang berlebihan. Dia meyakini, kritik sosial dalam lukisan Yos masih dalam kaidah yang benar.

"Ada maksud apa sih? Saya kenal Fadli Zon (Menteri Kebudayaan) secara pribadi, saya yakin 100 persen kalau Fadli Zon lihat lukisan itu juga tidak apa-apa," kata Erros.

Suasana di kompleks Galeri Nasional Indonesia (GNI), Jakarta, Sabtu (30/10/2021). Setelah ditutup sejak bulan Juni lalu karena pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat dan PPKM level 4 untuk mengendalikan pandemi Covid-19, Galeri Nasional Indonesia kembali dibuka untuk publik mulai 28 Oktober 2021 seiring pemberlakuan PPKM level 2 di Jakarta. Jadwal kunjungan dalam satu hari terbagi dalam enam sesi dengan durasi waktu 55 menit setiap sesi dan kuota 50 orang per sesi. KOMPAS/RADITYA HELABUMI 30-10-2021

Penanggung Jawab Unit Galeri Nasional Indonesia, Jarot Mahendra menambahkan, rencana pameran tunggal Yos telah disetujui sejak 2023 dan direncanakan dengan tema awal "BANGKIT!". Pameran ini bertujuan untuk menyajikan karya seni lukis dan instalasi dari Yos dengan fokus pada tema kedaulatan pangan dan budaya agraris Indonesia.

Setelah melalui proses seleksi dan evaluasi kuratorial, tema pameran dipertegas dengan tajuk “Kebangkitan: Tanah untuk Kedaulatan Pangan”. Tema kurasi ini ditetapkan karena disepakati mencerminkan pesan besar pembangunan dan kerja pemerintahan saat ini.

Namun, seperti yang diterangkan Suwarno, Jarot menyebut pameran terpaksa ditunda. Pihak Galeri Nasional pun menghargai proses kreatif antara seniman dan kurator tersebut.

"Kami berkomitmen untuk terus berkoordinasi dan berkomunikasi dengan kedua belah pihak dalam rangka mencari solusi yang kolektif dan konstruktif," ucap Jarot.

Dia menegaskan, Galeri Nasional selalu mengedepankan transparansi, akuntabilitas, dan profesionalisme. Selain itu, Galeri Nasional juga berkomitmen untuk memastikan bahwa proses kuratorial dilakukan dengan integritas dan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, serta serta memastikan keberagaman ekspresi seni di ruang publik.

"Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan akibat penundaan ini dan berharap dapat menyambut publik kembali di pameran Galeri Nasional Indonesia lainnya di masa depan," tutur Jarot.


Kerabat Kerja

Penulis:

Stephanus Aranditio
 | 

Editor:

Ichwan Susanto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .