Duel Rahmat dan Rizki yang Tak Seharusnya Terjadi Lagi di Angkat Besi…

Dua lifter terbaik Indonesia, Rahmat Erwin Abdullah dan Rizki Juniansyah, berduel hanya untuk SEA Games Thailand 2025. Kelas baru tetap menimbulkan dilema.

20 Agt 2025 20:05 WIB · Olahraga

Oleh Rebiyyah Salasah

”Ayo, Rahmat, ayo!” 

Suara dukungan bersahutan di sasana pemusatan latihan nasional angkat besi di Mess Kwini, Jakarta, Rabu (20/8/2025) siang, ketika Rahmat Erwin Abdullah hendak tampil. Namun, apa yang terjadi di platform perlombaan itu terasa singkat, bahkan kurang dari 10 detik.

Rahmat tersujud di sana. Percobaan keduanya untuk angkatan jenis snatch seberat 155 kilogram kembali gagal. Barbel sudah bisa diangkat ke atas kepala, tetapi Rahmat tidak bisa mempertahankannya hingga posisi berdiri tegak. 

Kedua tangan Rahmat kesulitan menahan berat barbel hingga akhirnya melemparnya ke belakang. Rahmat, yang berat badannya 78,93 kilogram untuk mengangkat beban di kelas 79 kilogram, lantas nyaris jatuh tersungkur. 

Lifter putra Indonesia, Rahmat Erwin Abdullah, melakukan percobaan pertama angkatan "snatch" pada seleksi nasional angkat besi untuk SEA Games Thailand 2025 di pemusatan latihan nasional angkat besi di Mess Kwini, Jakarta, Rabu (20/8/2025).
Lifter putra Indonesia, Rahmat Erwin Abdullah, gagal pada percobaan pertama angkatan snatch pada seleksi nasional angkat besi untuk SEA Games Thailand 2025 di pemusatan latihan nasional angkat besi di Mess Kwini, Jakarta, Rabu (20/8/2025).
Lifter putra Indonesia, Rahmat Erwin Abdullah, gagal pada percobaan pertama angkatan snatch pada seleksi nasional angkat besi untuk SEA Games Thailand 2025 di pemusatan latihan nasional angkat besi di Mess Kwini, Jakarta, Rabu (20/8/2025).
Layar yang menampilkan jumlah angkatan para atlet yang ikut seleksi nasional angkat besi untuk SEA Games Thailand 2025 di pemusatan latihan nasional angkat besi di Mess Kwini, Jakarta, Rabu (20/8/2025).

Pada kesempatan pertama angkatan snatch, Rahmat bahkan hanya bisa mengangkat barbel hingga dada. Lifter peraih medali perunggu Olimpiade Tokyo 2020 ini kemudian menjatuhkan barbel ketika berusaha mengangkatnya ke atas kepala.

Padahal, berat 155 kilogram bukanlah bobot yang sulit untuk diangkat seorang Rahmat. Saat berlomba di kelas 73 kilogram, ia bahkan pernah melakukan angkatan snatch hingga 160 kg. Capaian itu terjadi di Piala Dunia Angkat Besi 2024 di Phuket, Thailand. 

Rahmat bahkan sudah bisa mengangkat beban 155 kg sejak 2022 lalu saat berlomba di kelas 73 kg di SEA Games Vietnam 2021. Angkatan itu memecahkan rekor SEA Games dan membantunya meraih medali emas. 

Namun, situasinya berbeda. Rahmat bukan sedang tampil di ajang internasional seperti SEA Games atau Piala Dunia. Rahmat tampil di seleksi nasional untuk SEA Games Thailand 2025. Lawannya? Sesama lifter putra terbaik Indonesia, Rizki Juniansyah. 

Infografik angkat besi

Bagi atlet sekaliber Rahmat, olimpian dan pemegang rekor dunia clean and jerk pada kelas 73 kg dan 81 kg, sebenarnya seleksi tak diperlukan lagi. Akan tetapi, seleksi akhirnya digelar karena Rahmat harus ”berduel” dengan Rizki Juniansyah demi menjadi atlet terbaik yang akan mewakili Indonesia pada kelas 79 kg di SEA Games Thailand 2025. 

Duel dimenangi Rizki yang sudah memasang beban 157 kg pada kesempatan pertama angkatan snatch dan menuntaskannya dengan meyakinkan. Peraih medali emas kelas 73 kg di Olimpiade Paris 2024 ini juga menyelesaikan angkatan kedua seberat 162 kg tanpa kendala sebelum memilih tak mengangkat pada percobaan terakhir. 

Pada angkatan clean and jerk, Rizki semakin ”menyala”. Sasana Mess Kwini yang riuh oleh dukungan dan pekikan semangat untuk Rizki seolah menambah kekuatan lifter asal Banten ini. Ia mampu mengangkat 190 kg, 200 kg, hingga 205 kg. 

Semua angkatan itu diselesaikan dengan begitu emosional. Rizki berteriak, meluapkan kegembiraan seperti baru meraih gelar juara di ajang bergengsi. Memang, ”duel” ini begitu bergengsi meskipun yang diperebutkan ”hanya” tempat di SEA Games. 

Lifter putra Indonesia, Rizki Juniansyah, melakukan percobaan ketiga angkatan "clean and jerk" pada seleksi nasional angkat besi untuk SEA Games Thailand 2025 di pemusatan latihan nasional angkat besi di Mess Kwini, Jakarta, Rabu (20/8/2025).
Lifter putra Indonesia, Rizki Juniansyah, meluapkan kegembiraan selepas berhasil melakukan percobaan ketiga angkatan "clean and jerk" pada seleksi nasional angkat besi untuk SEA Games Thailand 2025 di pemusatan latihan nasional angkat besi di Mess Kwini, Jakarta, Rabu (20/8/2025).
Lifter putra Indonesia, Rizki Juniansyah, meluapkan kegembiraan selepas berhasil melakukan percobaan ketiga angkatan "clean and jerk" pada seleksi nasional angkat besi untuk SEA Games Thailand 2025 di pemusatan latihan nasional angkat besi di Mess Kwini, Jakarta, Rabu (20/8/2025).
Penonton yang terdiri dari para atlet dan pelatih daerah serta keluarga atlet menyaksikan seleksi nasional angkat besi untuk SEA Games Thailand 2025 di pemusatan latihan nasional angkat besi di Mess Kwini, Jakarta, Rabu (20/8/2025).

Pertarungan kedua lifter terbaik Indonesia dan bahkan dunia ini lebih dari sekadar tiket tampil di kelas 79 kg SEA Games. Duel ini seperti mengulang pertarungan serupa setahun lalu ketika Rahmat dan Rizki bersaing demi satu tempat ke Olimpiade Paris 2024. 

Duel yang disebut banyak orang sebagai pertarungan paling dramatis sekaligus momen paling membuat patah hati di dunia angkat besi itu terpaksa harus terjadi karena Rahmat dan Rizki berada di kelas yang sama, yakni 73 kg. Sementara hanya ada satu tiket kelas 73 kg bagi Indonesia untuk ke Paris. 

Padahal, Rahmat dan Rizki adalah dua mutiara angkat besi di kelas 73 kg. Potensi mereka bahkan sudah terlihat sejak jauh-jauh hari. Kedua atlet itu juga menjadi dua lifter terkuat dunia di kelas tersebut. Hal itu terbukti dari dominasi mereka di puncak daftar peringkat kualifikasi Olimpiade.

Seolah tak cukup dengan duel yang baru berlalu setahun itu, pertarungan serupa harus terjadi lagi. Pemandangan yang nyaris sama juga terulang lagi. Rahmat sudah dipastikan kalah setelah memutuskan tidak mengangkat pada percobaan ketiga snatch dan tidak mengambil sama sekali kesempatan melakukan angkatan clean and jerk. 

comparison left
comparison right
before-after-arrow

Adapun Rizki, meski keluar sebagai pemenang setelah mencatatkan total 367 kg, mengatakan bahwa sebenarnya duel itu tidak perlu terjadi. Sejak awal, Rahmat dan Rizki memang sudah seharusnya dipisah mengingat mereka sama-sama punya potensi memberikan medali. 

Apalagi, pertarungan ini secara tidak langsung juga memantik persaingan yang tidak hanya di dalam arena perlombaan. ”Kami sama-sama punya performa yang bagus sehingga harapannya bisa berpisah sejak awal. Jangan sampai terjadi lagi seperti yang sudah-sudah, kami yang satu negara ini harus bersaing. Kan, saling enggak enak hati, iri, dan dengki juga jadinya. Saya tidak bisa memungkir, perasaan itu pasti ada,” ucap Rizki. 

”Jangan dulu bicara Olimpiade, kita bicara SEA Games dulu saja. Alangkah lebih baik kalau memang sudah langsung ditentukan. Karena, toh, menurut saya, mau di kelas 79 kg atapun 88 kg, potensinya sama-sama emas,” ujarnya. 

Sejak Juni 2025, angkat besi menerapkan perubahan kategori berat badan baru yang terdiri dari delapan kelas, meliputi 60 kilogram, 65 kg, 71 kg, 79 kg, 88 kg, 98 kg, 110 kg, dan +110 kg. Jumlah ini lebih sedikit dari kategori sebelumnya yang terdiri dari 10 kelas, mulai dari 55 kg, 61 kg, 67 kg, 73 kg, 81 kg, 89 kg, 96 kg, 102 kg, 109, dan +109 kg. 

Lifter putra Indonesia, Rizki Juniansyah, melakukan percobaan pertama angkatan clean and jerk pada seleksi nasional angkat besi untuk SEA Games Thailand 2025 di pemusatan latihan nasional angkat besi di Mess Kwini, Jakarta, Rabu (20/8/2025).

Rizki dan Rahmat sama-sama merupakan lifter putra andalan Indonesia di kategori berat badan 73 kg. Mereka juga sama-sama memegang rekor dunia pada kelas ini. Rahmat adalah pemilik rekor clean and jerk dengan 205 kg, sedangkan Rizki pemegang rekor total angkatan 365 kg. 

Kelas dipisah

Dalam beberapa momen, mereka biasanya dipisah kelas agar mempeluas potensi medali bagi Indonesia. Di SEA Games Kamboja 2023, misalnya, Indonesia bisa mendapatkan dua emas dari Rizki dan Rahmat. Rizki meraih medali emas di kelas 73 kg, sedangkan Rahmat meraih medali emas di kelas 81 kg. 

Setelah perubahan kelas, baik Rahmat ataupun Rizki sama-sama menargetkan turun di kelas 79 kg. Preferensi mereka pada kategori berat badan ini bisa dipahami. Kelas ini paling memungkinkan bagi kedua atlet itu untuk diikuti ketimbang turun di kelas yang lebih ringan (71 kg) atau lebih berat (88 kg). 

Jika berlomba di kelas 88 kg, Rahmat atau Rizki harus menambah berat badan hingga 15 kg. Tak hanya itu, mereka juga harus bersaing dengan lifter Eropa dan Amerika Selatan yang secara fisik lebih unggul dan kerap mendominasi kelas berat. 

Delapan lifter putra, termasuk Rahmat Erwin Abdullah (tiga dari kiri) dan Rizki Juniansyah (empat dari kiri) melakukan perkenalan sebelum tampil pada seleksi nasional angkat besi untuk SEA Games Thailand 2025 di pemusatan latihan nasional angkat besi di Mess Kwini, Jakarta, Rabu (20/8/2025).

Perubahan kelas yang awalnya dinilai akan memberikan harapan bagi pemisahan Rahmat dan Rizki justru tetap menimbulkan dilema. Apabila Rahmat atau Rizki turun ke kelas 71 kg pun, banyak pelatih menilainya tidak memungkinkan. Alasannya, kedua lifter ini punya postur tinggi sehingga biasanya sulit bersaing di kelas bawah karena perbedaan proporsi tubuh dan keunggulan biomekanik yang dimiliki oleh atlet dengan postur lebih pendek. 

Apalagi, di antara kelas 71 kg, 79 kg, dan 88 kg, ada kemungkinan kategori berat yang dilombakan di Olimpiade nantinya hanya kelas 79 kg. Jika kemungkinan ini terwujud, sudah pasti duel akan kembali terjadi. 

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia Djoko Pramono mengatakan, seleknas sebenarnya justru adalah solusi yang ditawarkan pihak federasi karena kedua atlet berkukuh tampil di kelas 79 kg. Menurut Djoko, pertarungan di platform adalah cara paling adil untuk menentukan siapa yang berhak berlomba di kelas tersebut. 

“Memang harapannya tidak perlu sampai duel. Namun, mereka juga punya pertimbangan untuk ngotot di kelas 79 kg. Jadi, kita tentukan saja lewat duel dengan catatan bahwa yang kalah harus berbesar hati untuk berlomba di kelas yang lain. Jadi, bagi Rahmat, ini bukan akhir dunia,” kata Djoko. 

Lifter putra Indonesia, Rizki Juniansyah, bersalaman dengan Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia Djoko Pramono selepas seleksi nasional angkat besi untuk SEA Games Thailand 2025 di pemusatan latihan nasional angkat besi di Mess Kwini, Jakarta, Rabu (20/8/2025).

”Setelah ini, saya akan memanggil Rahmat dan pelatihnya untuk menentukan akan ke kelas mana nantinya, apakah turun ke 71 kg atau di 88 kg. Bagi saya, di mana pun itu, sama-sama berpotensi medali,” ucapnya. 

Masalahnya, ”duel” tahun lalu untuk memperebutkan tiket ke Paris 2024 telah membuktikan bahwa patah hati terberat bisa datang dari mana saja, termasuk arena olahraga. Apakah kita akan patah hati lagi jika kedua lifter terbaik ini harus saling bertarung dan mengalahkan meski tujuannya sama-sama membela Indonesia? 


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono