Dunia 2025 Tidak Sedang Baik-baik Saja

Lanskap geopolitik global ditandai oleh beberapa perkembangan utama, dinamika kekuatan yang berubah, dan tantangan berkelanjutan dalam hubungan internasional.

05 Feb 2025 05:25 WIB · Opini

Oleh Dian Wirengjurit

Kata-kata bijak ”lupakan masa lalu dan jangan hiraukan masa depan karena tidak ada yang tau apa yang akan terjadi” tampaknya tidak dapat berlaku dalam geopolitik dan hubungan antarnegara.

Dalam geopolitik, adagium ”sejarah akan berulang” sangat diperhatikan dan masa depan harus dipelajari sebagai bagian sikap hati-hati dan antisipatif karena masa depan sekalipun dapat diprediksi, dipengaruhi, atau bahkan dibentuk.

Pada 2008, US National Intelligence Council telah meluncurkan studi Global Trends 2025: A Transformed World, berupa pemikiran strategis tentang masa depan, mengidentifikasi faktor-faktor pendorong, ke mana arahnya, dan bagaimana tren itu berinteraksi.

Tren ini menggambarkan bagaimana faktor pendorong—misalnya, globalisasi, demografi, munculnya kekuatan baru, kemunduran lembaga internasional, perubahan iklim, dan geopolitik energi—menghasilkan tantangan dan peluang di masa mendatang.

Secara keseluruhan, studi ini merupakan deskripsi faktor-faktor yang mungkin membentuk peristiwa dan prediksi tentang apa akan terjadi pada 2025 (yaitu sekarang!).

Poin-poin penting

Studi ini secara akurat menggambarkan bahwa sistem internasional pasca-Perang Dunia II telah sangat berbeda dengan 2025 karena munculnya kekuatan-kekuatan baru (new players), globalisasi ekonomi, yang dibarengi dengan transfer kekayaan dan kekuatan dari Barat ke Timur, dan meningkatnya peran aktor-aktor non-negara.

Tatanan internasional yang berubah dengan cepat di tengah tantangan geopolitik meningkatkan kemungkinan terjadinya diskontinuitas, guncangan, dan kejutan. Model liberalisme, demokrasi, dan sekularisme Barat, misalnya, yang diasumsikan tidak dapat dihindari, tampaknya telah kehilangan daya tariknya atau berubah.

Munculnya new players itu diikuti dengan munculnya konflik-konlik baru, dan terjadinya pembagian kekuasaan (power-sharing) sehingga menjadikan dunia yang multipolar.

Sistem internasional yang ”baru” ini ditandai dengan kecenderungan ke arah ”world without West” yang kini semakin kuat karena Amerika Serikat yang telah kewalahan (overburdened) sehingga menarik diri dari Asia Tengah. Sementara Eropa belum mampu menggantikan (take up the plate) dan memimpin (take the lead).

Pemain baru, khususnya Rusia dan China, muncul dan mengambil alih spill over dan ketidakstabilan yang ditinggalkan AS; yang dalam studi ini digambarkan sebagai berikut: ”Rusia dan China memasuki hubungan yang nyaman; negara-negara lain—India dan Iran—bersatu di sekitar mereka.”

Hingga akhir 2024, lanskap geopolitik global ditandai oleh beberapa perkembangan utama, dinamika kekuatan yang berubah, dan tantangan berkelanjutan dalam hubungan internasional. Secara historis, sistem multipolar yang muncul lebih tidak stabil daripada sistem bipolar atau unipolar. Dinamika ini dipengaruhi oleh konflik regional, persaingan ekonomi, kemajuan teknologi, dan interaksi lembaga global.

Ilustrasi

Tidak baik-baik saja

Melihat kilas balik geopolitik utama dan peristiwa penting dunia sepanjang 2024 dapat disimpulkan bahwa rivalitas antara AS dengan Rusia-China semakin nyata dan keras.

Dua perang besar yang tejadi di Eropa dan Timur Tengah jelas melibatkan secara langsung AS dan Rusia, sementara konfliknya dengan China dikhawatirkan akan menyulut perang lainnya.

Di Eropa, AS dan sekutunya tampaknya terkejut bahwa aneksasi Krimea oleh Rusia (2014) tidak berhenti di situ dan berlanjut dengan invasi terhadap Ukraina (2022). Ramifikasi perang Rusia-Ukraina ternyata sangat luas karena bukan hanya menyangkut persenjataan militer canggih dan dampaknya merasuk ke berbagai bidang, seperti energi dan pertanian, yang menyangkut harkat hidup rakyat di banyak negara.

AS dan sekutu Eropa telah menjatuhkan sanksi ekonomi yang berat terhadap Rusia, membuat negeri Beruang Merah beralih ke negeri Tirai Bambu, dan negara-negara non-Barat lainnya untuk dukungan ekonomi dan militer.

Di Timteng, negara-negara kawasan terkejut dengan agresi militer Hamas ke Israel pada 2023. Yang tidak diperkirakan, reaksi Israel yang didukung AS yang begitu brutal menyebabkan tragedi kemanusiaan dan dampaknya meluas ke berbagai negara sekitarnya (Lebanon, Jordania, dan Suriah).

Di Yaman, perang di Yaman antara pasukan pemerintah, yang didukung Arab Saudi, dan pemberontak Houthi, yang didukung Iran, menjadi konflik dahsyat di kawasan dan memperumit situasinya. Pada akhir 2024 memang terlihat tanda- tanda ke arah perundingan damai meski resolusi yang langgeng belum terbayangkan.

Quote

Seiring dengan terus berubahnya dinamika kekuatan global, kelincahan diplomatik dan penataan ulang strategis akan menjadi hal yang penting untuk menavigasi kompleksitas sistem internasional.

Terkini, jatuhnya pemerintahan Bashar Assad di Suriah akibat serangan berbagai kelompok perlawanan yang dikoordinasi Hayat Tahrir al-Sham membuka mata bahwa sejumlah negara (AS, Rusia, Israel, Iran, Turki) punya kepentingan.

Asia-Pasifik telah menjadi episentrum persaingan AS-China, dan persaingan keduanya menjadi isu geopolitik yang menentukan dalam dekade ini dan kian intensif di bidang ekonomi, militer, dan teknologi. Untuk melawan pengaruh China, AS membentuk aliansi strategis (Quad dan Aukus) dan kemitraan bilateral (dengan Filipina, Korea Selatan, dan Vietnam).

Meningkatnya ketegangan di Taiwan akibat dukungan AS yang semakin kuat, diimbangi China dengan memberikan tekanan militer dan diplomatik yang tegas. Manuver AS atas dasar kebebasan navigasi di Laut China Selatan (LCS) kerap memicu respons militer yang sama dari China. Sementara China terus berupaya memperluas pengaruhnya melalui Belt and Road Initiative dan klaim teritorial yang agresif di LCS.

Di LCS, Selat Taiwan, dan perbatasan China-India, konflik militer berpotensi menjadi perang terbuka. Sementara Korea Utara tetap menjadi ancaman di kawasan tersebut, dengan uji coba rudal dan provokasi nuklir yang terus berlanjut. Pada 2024, pembicaraan diplomatik dengan Korea Selatan, Jepang, dan AS terhenti, dan rezim Kim Jong-un terus melanjutkan program senjata nuklirnya.

Kedua, perubahan iklim telah muncul sebagai ranah kritis geopolitik global pada 2024, di mana negara-negara berjuang melawan dampak cuaca ekstrem, naiknya permukaan air laut dan degradasi lingkungan; serta perpindahan penduduk karena krisis lingkungan.

Di wilayah Afrika dan Timteng, dampak kekeringan, penggurunan, dan perubahan pola curah hujan berkontribusi pada ketidakstabilan politik dan arus migrasi. Perjanjian Paris tetap menjadi platform utama bagi negara-negara untuk menegosiasikan pengurangan emisi dan perlindungan lingkungan.

Ilustrasi

Transisi energi juga merupakan titik persaingan utama, terutama karena negara seperti China dan India menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan tujuan pembangunan berkelanjutan.

Ketiga, persaingan teknologi global antara AS dan China terus meningkat, khususnya dalam hal semikonduktor, 5G, dan kecerdasan buatan (artificial intelligence). AS telah menerapkan kontrol ekspor semikonduktor canggih untuk membatasi kemajuan teknologi China. Sementara China dengan cepat mengembangkan kemampuan manufaktur semikonduktornya sendiri untuk mengurangi ketergantungan kepada Barat.

Keempat, keamanan siber kini telah menjadi aspek utama keamanan nasional di berbagai negara. Meningkatnya serangan siber, kampanye disinformasi, dan peretasan mendorong negara-negara berinvestasi besar dalam kemampuan pertahanan siber. AS dan NATO semakin berfokus pada siber di bidang militer, sementara China dan Rusia telah membangun kemampuan siber yang kuat untuk operasi ofensif dan defensif.

Kelima, terorisme tak mungkin hilang di 2025. Bagi kelompok teroris yang aktif, penyebaran teknologi canggih dan sensitif akan menguntungkan mereka. Terorisme, bersama dengan proliferasi senjata dan konflik, akan tetap menjadi perhatian utama, bahkan saat isu sumber daya menjadi agenda internasional.

Teori konspirasi?

Bentang geopolitik tahun 2024 ditandai dengan meningkatnya multipolaritas, dengan AS, China, dan Rusia menegaskan dominasi mereka di berbagai wilayah.

Persaingan strategis kemungkinan besar akan berputar di sekitar perdagangan, investasi, dan inovasi serta akuisisi teknologi, tetapi kita tidak dapat mengesampingkan skenario seperti abad ke-19 berupa perlombaan senjata, perluasan wilayah, dan persaingan militer.

AS akan tetap menjadi aktor tunggal yang paling kuat, tetapi kekuatan relatifnya—termasuk dalam bidang militer—akan menurun dan pengaruhnya akan menjadi lebih terbatas.

Dengan demikian, membentuk kembali tatanan global dan aliansi serta kemitraan baru merupakan respons terhadap tantangan ini. Seiring dengan terus berubahnya dinamika kekuatan global, kelincahan diplomatik dan penataan ulang strategis akan menjadi hal yang penting untuk menavigasi kompleksitas sistem internasional.

Para pembuat kebijakan perlu menghadapi dorongan kerja sama multilateral yang semakin meningkat ketika sistem internasional yang ada tertekan oleh transisi dari tatanan lama ke tatanan baru yang pembentukannya masih berproses.

Meskipun dibuat tujuh belas tahun lalu, Global Trends 2025 membuktikan banyak analisisnya yang akurat dan prediksinya kini terbukti. Hal ini sangat mungkin dicapai berdasarkan data yang melimpah, alat dan metode analisis yang canggih, kemampuan intelijen yang hebat, para pakar yang kredibel dan teamwork yang solid.

Apakah kita siap mengantisipasi perkembangan 20 tahun ke depan dan menyiapkan jawabannya dari sekarang mengingat 2045, katanya, kita mencapai Indonesia Emas?

Atau, jangan-jangan masa depan geopolitik dunia memang bisa dirancang atau dibuat. Teori konspirasi banyak beredar untuk menghadapi fenomena semacam ini di dunia.

Teori konspirasi pada intinya merupakan penjelasan atas suatu peristiwa atau situasi yang didasarkan pada keyakinan adanya rencana rahasia, yang sering kali jahat, dari sekelompok orang atau organisasi.

Varian teori ini menyatakan bahwa tokoh-tokoh atau kelompok-kelompok yang berkuasa secara sengaja menyembunyikan kebenaran atau memanipulasi peristiwa untuk keuntungan mereka sendiri.

Namun, menurut kolumnis New York Times, Roger Cohen, ”Conspiracy theory is the ultimate refuge of the powerless. If you cannot change your life, it must be that of some greater force controls the world” (Teori konspirasi adalah tempat berlindung terakhir bagi mereka yang tidak berdaya. Jika Anda tidak dapat mengubah hidup Anda, itu pasti karena ada kekuatan yang lebih besar yang mengendalikan dunia”.

Lalu, apakah Global Trends 2025 merupakan hasil studi atau teori konspirasi? Mungkin banyak pakar berpendapat itu ”teori konspirasi”, tetapi kalangan awam mungkin akan menjawab ”wallahualam bisawab”.

Dian Wirengjurit, Duta Besar, Diplomat Utama. Analis Geopolitik dan Hubungan Internasional Institut Peradaban


Kerabat Kerja

Penulis:

Dian Wirengjurit
 | 

Editor:

Sri Hartati Samhadi, Yohanes Krisnawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .