Dunia Sambut Hangat ”Gencatan Senjata” Tarif AS-China

Euforia masih terasa di sejumlah pasar saham, Selasa (13/5/2025). Meski demikian, ekonom dan investor masih berhati-hati dalam menentukan langkah.

13 Mei 2025 19:45 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

NEW YORK, SELASA — Dunia menyambut hangat ”gencatan senjata” tarif antara Amerika Serikat dan China. Pasar saham dunia menguat tipis, investor menjadi sedikit tenang dengan harapan yang terbit setelah AS dan China mau bernegosiasi.

Di sisi lain, masih ada pula kekhawatiran tentang proses kesepakatan lanjutan di antara kedua negara. China pun melanjutkan kampanye untuk menekan aksi unilateral AS.

Pada Senin (12/5/2025), Beijing dan Washington mengumumkan kesepakatan untuk menurunkan bea masuk impor di antara satu sama lain selama 90 hari. Washington memangkas tarif untuk barang China dari 145 persen menjadi 30 persen. China mengurangi tarif balasan atas barang AS dari 125 persen menjadi 10 persen. Kebijakan ini berlaku mulai 14 Mei 2025.

Selama 90 hari itu, AS-China akan terus berunding. Hasil perundingan sementara itu melampaui ekspektasi pasar dan investor. 

”Jangan salah, ini adalah diplomasi yang sangat diatur. Namun, hasilnya bagus dan implikasinya nyata. Ini menandakan bahwa pemerintahan ini pun menyadari hambatan ekonomi dari tarif yang tak henti-hentinya,” kata Stephen Innes, Kepala Perdagangan dan Strategi Pasar SPI Asset Management.

Alhasil, euforia masih terasa di sejumlah pasar saham, Selasa (13/5/2025). Sebagian besar pasar saham Asia Pasifik mengawali hari dengan positif. Tokyo menutup perdagangan dengan kenaikan 1,4 persen. Penguatan juga tampak pada pasar saham Shanghai, Sydney, Taipei, Singapura, Seoul, Wellington, Bangkok, dan Manila.

Pejalan kaki berjalan melewati papan elektronik yang menunjukkan harga saham selama perdagangan pagi di Bursa Efek Tokyo di sepanjang jalan di pusat kota Tokyo, Jepang, Selasa (13/5/2025). Pasar saham dunia membaik setelah perang tarif Amerika Serikat dan China mereda.

Wall Street juga menyambut kesepakatan AS-China dengan antusias. Nasdaq Composite meroket 4 persen lebih, S&P 500 melonjak 3,3 persen, dan Dow naik 2,8 persen. Sementara itu, indeks saham China yang terdaftar di AS melonjak lebih dari 5 persen.

Di Eropa, FTSE 100 di Inggris naik 0,1 persen, sedangkan CAC di Perancis naik 0,2 persen. Akan tetapi, Hang Seng Index di Hong Kong turun 1,4 persen dan Sensex di India jatuh ke 1,5 persen.

Sementara itu, dollar AS melemah tipis. Dollar AS turun 0,45 persen terhadap yen dan 0,56 persen terhadap franc. Euro naik 0,18 persen dan pound sterling naik 0,22 persen atas dollar AS.

Sebaliknya, yuan mencapai titik tertinggi dalam enam bulan, yaitu 7,1855 per dollar AS. Kondisi ini turut mengangkat dollar Australia naik 0,55 persen dan dollar Selandia Baru naik 0,5 persen. Kedua mata uang ini sering digunakan sebagai proksi likuid untuk yuan.

”Kita akan melihat tren jangka panjang di mana dollar AS akan melemah karena orang-orang menyadari telah berinvestasi berlebihan pada aset-aset AS secara besar-besaran. Dan itu semacam ’pergeseran tektonik’. Yuan jelas merupakan mata uang yang paling diuntungkan saat ini,” ujar Kit Juckes, Kepala Strategi Valas di Societe Generale.

Adapun harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) naik 0,2 persen menjadi 62,06 dollar AS per barel. Harga minyak mentah jenis Brent North Sea naik 0,1 persen menjadi 65,04 persen per barel.

Tetap khawatir

Para pengamat, ekonom, dan investor di seluruh dunia menyikapi kabar baik itu dengan hati-hati. Sebab, tidak ada yang bisa memperkirakan proses dan hasil negosiasi lanjutan antara AS dan China di masa mendatang.

Para ekonom HSBC mengingatkan, situasi saat ini mungkin tidak berjalan mulus. ”Keadaan dapat dengan mudah berubah sedikit lebih sulit dalam negosiasi perdagangan di masa mendatang,” tulis mereka.

Direktur Phillip Securities Group di Hong Kong, Louis Wong, menambahkan, investor menyadari proses untuk mencapai kesepakatan perdagangan belum selesai. ”Saya akan menyarankan investor untuk tetap berhati-hati dalam waktu dekat dan bersiap menghadapi berita tak terduga dari sisi perdagangan,” tambahnya.

Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent (kanan) dan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer mengadakan konferensi pers di Geneva, Swiss, Senin (12/5/2025). Mereka memberikan rincian "kemajuan substansial" setelah pertemuan tertutup dua hari antara pejabat tinggi AS dan China guna mengakhiri perang dagang.

Kepala Analis Pasar IG Chris Beauchamp menambahkan, pembicaraan AS-China menunjukkan kesadaran dua pihak untuk memperbaiki hubungan. Kedua negara sadar untuk menghindari kerusakan lebih lanjut dari pengenaan tarif yang sangat besar.

”Bahkan, di tingkat jeda 10 persen dan 30 persen, tarif ini masih lebih tinggi dari bayangan investor beberapa bulan lalu. Belum genap enam minggu sejak tarif ini berlaku, dampaknya belum benar-benar terlihat baik dalam data ekonomi maupun pendapatan perusahaan. Dampak penuh baru akan terlihat jelas seiring berjalannya waktu,” ucap Beauchamp.

Gubernur Federal Reserve (The Fed) Adriana Kugler memperingatkan, meskipun ada pengurangan tarif, kebijakan perdagangan Trump kemungkinan akan tetap mendorong inflasi lebih tinggi. Pertumbuhan ekonomi tetap terbebani.

Kampanye China

Kemarahan China atas kebijakan tarif yang sepihak dari AS masih terlihat. Beijing terus memperkuat aliansi dengan negara-negara lain, termasuk dari kawasan Eropa, Asia Tenggara, dan, terbaru, Amerika Latin.

Saat berbicara dengan pejabat China dan Amerika Latin di Beijing, Selasa (13/5/2025), Presiden China Xi Jinping menegaskan kembali prinsip negaranya bahwa tidak ada yang menang dalam perang dagang.

”Penindasan atau hegemonisme hanya mengarah pada isolasi diri,” ujar Xi dalam Forum China-CELAC (Komunitas Negara-negara Amerika Latin dan Karibia)

Xi melanjutkan, China siap ”bergandengan tangan” dengan negara-negara Amerika Latin dalam menghadapi konfrontasi politik dan blok, gelombang unilateralisme, serta proteksionisme yang melonjak. ”Tidak ada pemenang dalam perang tarif atau perang dagang,” kata Xi mengulangi frasa saat merujuk pada kebijakan Trump.

Presiden China Xi Jinping (tengah) berpose bersama Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva (depan ketiga dari kanan), Presiden Cile Gabriel Boric (depan kedua dari kiri), Presiden Kolombia Gustavo Petro (depan ketiga dari kiri), dan perwakilan CELAC lainnya saat menghadiri sesi foto bersama sebelum upacara pembukaan Pertemuan Tingkat Menteri Keempat Forum China dan Komunitas Negara-negara Amerika Latin dan Karibia (CELAC) di Beijing, China, Selasa (13/5/2025)

Dalam forum tersebut, Xi mengumumkan rencana pendalaman kerja sama dengan Amerika Latin melalui pertukaran politik, ekonomi, akademis, dan keamanan. Dalam kerja sama ekonomi, dia berjanji meningkatkan impor, mendorong investasi ke kawasan tersebut, serta menjalin kerja sama di bidang energi bersih, telekomunikasi 5G, serta kecerdasan buatan.

Xi juga mengumumkan jalur kredit baru senilai 66 miliar yuan (9,2 miliar dollar AS) untuk mendukung pembiayaan Amerika Latin dan Karibia.

Perdagangan China dengan Amerika Latin berkembang pesat, yaitu melampaui 500 miliar dollar AS untuk kali pertama pada 2024. China mengimpor banyak produk pertanian, seperti kacang kedelai dan daging sapi serta sumber daya energi, seperti minyak mentah, bijih besi, dan mineral penting. (AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar