Dunia seolah kembali ke masa sebelum Perang Dunia I: negara-negara besar mengabaikan norma dan merasa nyaman dengan penaklukan teritorial.
22 Jun 2025 10:30 WIB · Internasional
Dunia sedang memasuki salah satu periode terpanas dalam sejarah. Penyebabnya, bukan karena suhu meningkat akibat perubahan iklim semata. Perang pecah di mana-mana.
Di Eropa, Ukraina melawan Rusia. Timur Tengah kisruh gara-gara Israel sibuk bertempur dengan Hamas sekaligus Iran. Amerika Serikat tak ketinggalan membantu Israel. Perang sipil meletus di berbagai lokasi, termasuk Myanmar dan Sudan.
Titik panas global pun terpantau selalu mengkhawatirkan, sebutlah Selat Taiwan, Laut China Selatan, dan Semenanjung Korea. Tidak perlu jauh-jauh, di Asia Tenggara, pertengkaran Thailand dan Kamboja soal perbatasan sedang bereskalasi.
Jika salah kata atau langkah sedikit, negara-negara terkait tampaknya tidak segan untuk angkat senjata. Kita seolah tidak punya waktu untuk menghela napas sejenak.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/20/ae716ef5-b27e-402e-aab9-ccb8258a6b9f_jpg.jpg)
Ben Rhodes, mantan Penasihat Presiden AS Barack Obama, mengatakan, dunia berada di masa ketika tidak ada lagi tatanan internasional yang mengatur geopolitik selama beberapa dekade terakhir. Terjadi normalisasi konflik.
”Jika melihat Ukraina, Timur Tengah, dan Taiwan, kemungkinan konflik antarnegara besar sangat tinggi sekarang. Kita kembali ke masa tanpa aturan seperti sebelum Perang Dunia I, negara-negara besar mengabaikan norma dan merasa nyaman dengan penaklukan teritorial tanpa mekanisme penyelesaian konflik karena sistem tidak lagi berfungsi,” ujar Rhodes kepada Harvard Gazette, Februari 2025.
Di beberapa lokasi, setidaknya konflik berangsur mereda. India dan Pakistan, umpamanya, akhirnya sepakat gencatan senjata setelah sempat bertempur selama empat hari. Namun, akar permasalahan keduanya tentang sengketa Kashmir tetap saja masih tanpa solusi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/14/9a4a95df-6b5b-4137-ac25-3282aade02f8_jpg.jpg)
Penulis Christopher Blattman menjabarkan, lima alasan orang berperang dalam buku Why We Fight: The Roots of War and The Paths to Peace (2022). Pertama, kepentingan yang tidak terkendali. ”Para penguasa yang tidak terkendali adalah salah satu pendorong konflik terbesar dalam sejarah,” katanya.
Alasan kedua adalah insentif yang tidak berwujud, seperti status, dominasi, balas dendam. Dalam kasus tertentu, orang melakukan kekerasan karena melihatnya sebagai satu-satunya jalan menuju kebenaran, seperti kemuliaan Tuhan, kebebasan, atau memerangi ketidakadilan.
Ketiga, ketidakpastian yang membuat kesepakatan gagal. Alasan keempat ialah masalah komitmen.
Terakhir, persepsi yang salah sehingga mengganggu kompromi. ”Kita adalah makhluk yang terlalu percaya diri. Kita berasumsi orang lain berpikir seperti kita, dan menganggap musuh memiliki motif terburuk,” tutur Blattman.
Setelah Perang Dunia II berakhir pada 1945, dunia gelisah tentang potensi Perang Dunia III beberapa tahun terakhir. Jajak pendapat YouGov pada 6 Mei 2025 menunjukkan, warga AS dan negara-negara Eropa percaya perang dunia ketiga dapat terjadi dalam 5-10 tahun ke depan.
Kisaran warga yang memercayai hal itu mencapai 41 persen-55 persen di setiap negara. Mayoritas dari mereka melihat ketegangan dengan Rusia sebagai penyebab utama.
Beberapa pemimpin negara pun menyerukan kekhawatiran serupa, antara lain Presiden AS Donald Trump, Presiden Perancis Emmanuel Macron, dan, terbaru, Presiden Rusia Vladimir Putin. Mereka mengaku tidak ingin Perang Dunia III pecah.
”Ini mengkhawatirkan. Saya berbicara tanpa ironi, tanpa lelucon. Tentu saja, ada banyak potensi konflik, potensi itu terus berkembang, dan potensi itu ada di depan mata kita dan berdampak langsung kepada kita,” kata Putin pada 20 Juni 2025.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/15/c0cdf1a1-3080-4452-a130-8596c7d09e5f_jpg.jpg)
Kekhawatiran itu sedikit ironis lantaran mereka terlibat perang, baik secara langsung maupun tidak langsung. Progres kesepakatan damai Rusia-Ukraina, contohnya, terantuk persyaratan ketat Rusia. Sejak perang Iran-Israel pecah pada 13 Juni 2025, AS membantu melindungi Israel sembari ikut menyerang Iran.
Pengamat Brian Kerg dari Atlantic Council menjelaskan, tanda paling jelas Perang Dunia III sedang berlangsung adalah perang antara negara adikuasa. Perang itu melelahkan, lalu cenderung meluas sampai menjerat wilayah lain.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/09/9d392e2d-5e22-412b-ac29-321d703a2de8_jpg.jpg)
Dunia bisa saja sedang menuju Perang Dunia III atau malahan sudah tiba. Mantan Penasihat Kebijakan Luar Negeri Presiden Trump, Fiona Hill, berpendapat, Perang Dunia III mungkin telah dimulai. Sebab, perang Ukraina-Rusia telah menarik cukup banyak aktor global, termasuk AS, China, Korea Utara, dan negara-negara Eropa. Namun, ada pula yang tak sepakat.
Gavriel Rosenfeld, Presiden Pusat Sejarah Yahudi, berdasarkan sejarah, istilah perang dunia muncul ketika orang-orang secara subyektif setuju bahwa perang itu telah terjadi. Bisa saja peringatan berkelanjutan tentang Perang Dunia III justru mencegah konflik semacam itu menjadi nyata.
Terlepas dari apakah Perang Dunia III sudah berlangsung atau tidak, ada satu hal yang pasti. Dunia sedang tidak baik-baik saja.
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .