Dunia yang Kepanasan karena Perang

Dunia seolah kembali ke masa sebelum Perang Dunia I: negara-negara besar mengabaikan norma dan merasa nyaman dengan penaklukan teritorial.

22 Jun 2025 10:30 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

Dunia sedang memasuki salah satu periode terpanas dalam sejarah. Penyebabnya, bukan karena suhu meningkat akibat perubahan iklim semata. Perang pecah di mana-mana.

Di Eropa, Ukraina melawan Rusia. Timur Tengah kisruh gara-gara Israel sibuk bertempur dengan Hamas sekaligus Iran. Amerika Serikat tak ketinggalan membantu Israel. Perang sipil meletus di berbagai lokasi, termasuk Myanmar dan Sudan.

Titik panas global pun terpantau selalu mengkhawatirkan, sebutlah Selat Taiwan, Laut China Selatan, dan Semenanjung Korea. Tidak perlu jauh-jauh, di Asia Tenggara, pertengkaran Thailand dan Kamboja soal perbatasan sedang bereskalasi.

Jika salah kata atau langkah sedikit, negara-negara terkait tampaknya tidak segan untuk angkat senjata. Kita seolah tidak punya waktu untuk menghela napas sejenak.

Tim penyelamat Israel mencari di antara puing-puing lokasi serangan rudal Iran di Bat Yam, Israel, Minggu (15/6/2025). Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa Iran akan membayar harga yang sangat mahal atas tewasnya warga sipil Israel.

Ben Rhodes, mantan Penasihat Presiden AS Barack Obama, mengatakan, dunia berada di masa ketika tidak ada lagi tatanan internasional yang mengatur geopolitik selama beberapa dekade terakhir. Terjadi normalisasi konflik.

”Jika melihat Ukraina, Timur Tengah, dan Taiwan, kemungkinan konflik antarnegara besar sangat tinggi sekarang. Kita kembali ke masa tanpa aturan seperti sebelum Perang Dunia I, negara-negara besar mengabaikan norma dan merasa nyaman dengan penaklukan teritorial tanpa mekanisme penyelesaian konflik karena sistem tidak lagi berfungsi,” ujar Rhodes kepada Harvard Gazette, Februari 2025.

Di beberapa lokasi, setidaknya konflik berangsur mereda. India dan Pakistan, umpamanya, akhirnya sepakat gencatan senjata setelah sempat bertempur selama empat hari. Namun, akar permasalahan keduanya tentang sengketa Kashmir tetap saja masih tanpa solusi.

Seorang penyelamat Ukraina berjalan melewati mobil yang terbakar di depan bangunan yang rusak di lokasi serangan rudal Rusia di Sumy, Ukraina timur laut, Minggu (13/4/2025). Perang Ukraina-Rusia berlanjut. Pihak berwenang Ukraina mengatakan dua rudal balistik menghantam pusat kota di timur laut, dekat perbatasan Rusia, menewaskan sedikitnya 34 orang,.

Penulis Christopher Blattman menjabarkan, lima alasan orang berperang dalam buku Why We Fight: The Roots of War and The Paths to Peace (2022). Pertama, kepentingan yang tidak terkendali. ”Para penguasa yang tidak terkendali adalah salah satu pendorong konflik terbesar dalam sejarah,” katanya.

Alasan kedua adalah insentif yang tidak berwujud, seperti status, dominasi, balas dendam. Dalam kasus tertentu, orang melakukan kekerasan karena melihatnya sebagai satu-satunya jalan menuju kebenaran, seperti kemuliaan Tuhan, kebebasan, atau memerangi ketidakadilan.

Ketiga, ketidakpastian yang membuat kesepakatan gagal. Alasan keempat ialah masalah komitmen.

Terakhir, persepsi yang salah sehingga mengganggu kompromi. ”Kita adalah makhluk yang terlalu percaya diri. Kita berasumsi orang lain berpikir seperti kita, dan menganggap musuh memiliki motif terburuk,” tutur Blattman.

Perang Dunia III

Setelah Perang Dunia II berakhir pada 1945, dunia gelisah tentang potensi Perang Dunia III beberapa tahun terakhir. Jajak pendapat YouGov pada 6 Mei 2025 menunjukkan, warga AS dan negara-negara Eropa percaya perang dunia ketiga dapat terjadi dalam 5-10 tahun ke depan.

Kisaran warga yang memercayai hal itu mencapai 41 persen-55 persen di setiap negara. Mayoritas dari mereka melihat ketegangan dengan Rusia sebagai penyebab utama.

Beberapa pemimpin negara pun menyerukan kekhawatiran serupa, antara lain Presiden AS Donald Trump, Presiden Perancis Emmanuel Macron, dan, terbaru, Presiden Rusia Vladimir Putin. Mereka mengaku tidak ingin Perang Dunia III pecah.

”Ini mengkhawatirkan. Saya berbicara tanpa ironi, tanpa lelucon. Tentu saja, ada banyak potensi konflik, potensi itu terus berkembang, dan potensi itu ada di depan mata kita dan berdampak langsung kepada kita,” kata Putin pada 20 Juni 2025.

Warga Palestina memeriksa lokasi serangan Israel di Jabaliya, Jalur Gaza utara, Rabu (14/5/2025). Badan Pertahanan Sipil Gaza mengatakan, sedikitnya 29 orang tewas dan puluhan lainnya terluka dalam serangan Israel di wilayah Palestina yang dilanda perang pada 14 Mei.

Kekhawatiran itu sedikit ironis lantaran mereka terlibat perang, baik secara langsung maupun tidak langsung. Progres kesepakatan damai Rusia-Ukraina, contohnya, terantuk persyaratan ketat Rusia. Sejak perang Iran-Israel pecah pada 13 Juni 2025, AS membantu melindungi Israel sembari ikut menyerang Iran.

Pengamat Brian Kerg dari Atlantic Council menjelaskan, tanda paling jelas Perang Dunia III sedang berlangsung adalah perang antara negara adikuasa. Perang itu melelahkan, lalu cenderung meluas sampai menjerat wilayah lain.

Emergency and rescue personnel operate and clear the rubble of the destroyed building of Ohmatdyt Children's Hospital following a missile strike in the Ukrainian capital of Kyiv on July 8, 2024, amid the Russian invasion of Ukraine. Russia struck cities across Ukraine on July 8, 2024, with a missile barrage that killed three dozen people and ripped open a children's hospital in Kyiv, an assault condemned as a ruthless attack on civilians. (Photo by Roman PILIPEY / AFP) *** Local Caption *** Personil darurat dan penyelamatan beroperasi dan membersihkan puing-puing bangunan Rumah Sakit Anak Ohmatdyt yang hancur menyusul serangan rudal di ibu kota Ukraina, Kyiv, Senin (8/7/2024), di tengah invasi Rusia ke Ukraina. Rusia menyerang kota-kota di seluruh Ukraina pada tanggal 8 Juli 2024, dengan serangan rudal yang menewaskan tiga lusin orang dan menghancurkan sebuah rumah sakit anak-anak di Kyiv.

Dunia bisa saja sedang menuju Perang Dunia III atau malahan sudah tiba. Mantan Penasihat Kebijakan Luar Negeri Presiden Trump, Fiona Hill, berpendapat, Perang Dunia III mungkin telah dimulai. Sebab, perang Ukraina-Rusia telah menarik cukup banyak aktor global, termasuk AS, China, Korea Utara, dan negara-negara Eropa. Namun, ada pula yang tak sepakat.

Gavriel Rosenfeld, Presiden Pusat Sejarah Yahudi, berdasarkan sejarah, istilah perang dunia muncul ketika orang-orang secara subyektif setuju bahwa perang itu telah terjadi. Bisa saja peringatan berkelanjutan tentang Perang Dunia III justru mencegah konflik semacam itu menjadi nyata.

Terlepas dari apakah Perang Dunia III sudah berlangsung atau tidak, ada satu hal yang pasti. Dunia sedang tidak baik-baik saja.


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .