PIALA DUNIA 2026

Argentina Melawan Beban Sejarah

Argentina datang ke Amerika dengan dibayangi kutukan juara bertahan. Gejolak di federasi dan badai cedera juga menjadi rintangan Messi di ”tarian terakhirnya”.

09 Jun 2026 09:30 WIB · Olahraga

Meredith Seaver/College Station

Oleh Yulvianus Harjono

Berbeda dengan empat tahun lalu di Qatar, Argentina bukan yang paling difavoritkan juara pada Piala Dunia 2026. Sang juara bertahan datang ke Amerika Utara dengan persiapan yang kurang ideal. Sejarah pun kurang berpihak kepada mereka.

Di Piala Dunia, status juara bertahan lebih terasa sebagai beban, bahkan bak kutukan, alih-alih keunggulan. Sepanjang sejarah, hanya Italia pada 1938 dan Brasil pada 1962 yang bisa mempertahankan trofi Jules Rimet. Namun, dua capaian itu diraih di konfederasi mereka.

Setelah 1962, juara bertahan terus berguguran. Sindrom itu mendera tim-tim hebat, seperti Spanyol dan Perancis. Era emas Spanyol, yang menjadi juara pada 2010, misalnya, hancur lebur di fase grup edisi 2014. Empat tahun sebelumnya, Italia gagal memenangi satu pun laga fase grup setelah menjuarai edisi 2006.

Kutukan itu berlanjut pada 2018. Jerman, yang berjaya pada 2014, pulang dengan rasa malu setelah hanya menjadi juru kunci penyisihan grup di Rusia. Adapun Perancis, yang berjaya di Rusia pada 2018, gagal mengulangi kejayaan setelah dikalahkan Argentina melalui laga final yang sengit di Qatar, empat tahun silam.

Beban ekspektasi, skuad yang menua, dan hilangnya rasa lapar gelar, menjadi kombinasi faktor di balik fenomena ”sindrom juara bertahan” itu. Menyadari beratnya tantangan tersebut, Pelatih Argentina Lionel Scaloni sempat dikabarkan ingin mundur pada November 2023. ”Ini bukan selamat tinggal. Tapi, saya harus mengkajinya ulang (posisi pelatih) karena target terlalu tinggi dan sulit untuk melanjutkannya,” ujarnya saat itu.

Para pemain timnas Argentina berlatih di Sporting KC Training Centre, Kansas, AS, Rabu (3/6/2026), sebagai persiapan menjelang Piala Dunia 2026.

Atas bujukan sejumlah pihak, Scaloni memutuskan bertahan. Ia mencoba melampaui prestasi dua pendahulunya, César Luis Menotti dan Carlos Bilardo, yang mundur setelah tim ”Tango” gagal mempertahankan gelar juara, yaitu masing-masing pada 1982 dan 1990.

Namun, keteguhan Scaloni itu tidak bisa menutupi sejumlah masalah dalam upaya persiapan Argentina menuju Piala Dunia 2026. Ia kecewa dengan sikap sejumlah pemain senior timnya dalam pemusatan latihan menjelang melawan Uruguay di kualifikasi Piala Dunia 2026. Tim Tango lantas kalah 0-2 di kandang pada laga itu.

Meskipun kalah, Argentina mampu menutup kualifikasi zona Amerika Selatan sebagai juara grup. Mereka mengemas 38 poin dari 18 laga berkat 12 kali menang dan 2 imbang. Namun, dominasi mereka tak lepas dari anjloknya kualitas rival-rival tradisional, seperti Brasil, Chile, dan Uruguay, di wilayah itu.

Setahun terakhir, nyaris tak ada lawan sepadan di luar konfederasi yang dihadapi Argentina. Padahal, laga-laga uji coba melawan tim-tim besar itu penting untuk persiapan mereka tampil di Piala Dunia. Faktor geopolitik, yaitu perang di Timur Tengah, pun membatalkan laga yang paling dinanti, yaitu melawan juara Eropa, Spanyol, di Finalissima 2026.

Skandal korupsi

Ketidakmampuan Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) mencari lawan-lawan sepadan pada uji coba tak terlepas dari masalah yang menjerat lembaga itu. AFA tengah didera skandal dugaan korupsi dan pencucian uang yang melibatkan pemimpinnya, Claudio Tapia. Gonjang-ganjing itulah yang ditengarai membuat Scaloni sempat berpikir untuk mundur.

Di sisi lain, Scaloni juga dipusingkan dengan pilihan 26 pemain untuk dibawa ke Piala Dunia 2026. Sejumlah pemain pilihannya tengah bermasalah dengan kebugarannya. Bek Christian Romero, Gonzalo Montiel, dan Nahuel Molina, masih pemulihan setelah cedera. Situasi itu kian diperburuk dengan cederanya kiper andalan, Emiliano Martinez.

Suasana di luar hotel yang menjadi markas timnas Argentina selama Piala Dunia 2026 di Kansas City, Missouri, AS, Rabu (3/6/2026).

Kiper yang menjadi pahlawan kemenangan Argentina dalam adu penalti melawan Perancis di final edisi 2022 itu menderita patah jari tangan saat membela klubnya, Aston Villa, pada final Liga Europa 2026. Tampil heroik dengan kondisi itu, Martinez membawa Villa juara dengan kemenangan 3-0 atas Freiburg. Ia membuat dua penyelamatan.

Argentina sangat membutuhkan Martinez, kiper yang juga jago mengoper bola, di Amerika. Dia bak jimat bagi tim Tango. Bayangkan, dari tujuh final yang diraihnya dalam kariernya di klub ataupun timnas, Martinez tujuh kali juara, termasuk Copa America 2021 dan 2024. Tak ada yang menandingi rekor sempurna itu.

Beruntung, media lokal mengabarkan, ia tak membutuhkan operasi jari tangan. Ia hanya perlu beristirahat 20 hari. Maka, Martinez kemungkinan besar sudah bisa dimainkan saat Argentina memulai penyisihan Grup J dengan melawan Aljazair pada 16 Juni mendatang.

Scaloni masih mempertahankan sebagian besar pemain yang menjadi juara di Qatar. Pemain itu termasuk megabintang mereka, Lionel Messi (38). Mantan striker Barcelona itu berupaya mengukir sejarah sebagai manusia pertama yang tampil di enam edisi Piala Dunia, yaitu sejak 2006. Ia juga tercatat sebagai pemain yang paling sering berlaga di Piala Dunia, yaitu 26 kali.

Peran Messi

Pertanyaannya, sejauh mana Scaloni bakal mengoptimalkan peran Messi di Amerika? Pada 2022, ia menjadi aktor utama di balik kejayaan Argentina. Bukan hanya lewat gol, visi dan kedewasannya bermain juga menjadi inspirasi tim Tango. Namun, Messi kini di akhir karier cemerlangnya. Menjaga motivasi Messi dan menit bermain di Amerika menjadi tantangan.

Pemain timnas Argentina Lionel Messi sedang berlatih bersama timnya di Sporting KC Training Centre, Kansas, AS, Rabu (3/6/2026) sebagai persiapan menjelang Piala Dunia 2026.

Messi memang belum tergantikan di ruang ganti tim. Namun, perannya di lapangan mulai bisa diisi sejumlah pemain yang lebih muda, seperti Nico Paz. Playmaker klub Como itu bisa beroperasi di banyak area di sepertiga akhir lapangan lawan, seperti diperlihatkan Messi di Qatar. Gelandang terbaik di Liga Italia musim 2025-2026 itu menyumbang 12 gol dan 6 asis untuk Como.

Sayangnya, Paz tengah didera cedera. Selain itu, lini tengah tim Tango pun tampak tak lagi setangguh di Qatar dengan inkonsistennya duo gelandang andalan, Enzo Fernandez dan Alexis Mac Allister, bersama klub masing-masing. Gelandang lainnya, Rodrigo De Paul, pun menua. Begitu pula dengan barisan bek tengah mereka, seperti Nicolas Otamendi (38).

Penggemar Argentina tentu ingin melihat Messi kembali ke final dalam ”tarian terakhir” sang bintang senja di Piala Dunia. Namun, target realistis mereka adalah perempat final dalam edisi 2026 yang bisa disebut peralihan generasi tim Tango....

Skuad Argentina:

Kiper: Emiliano Martínez (Aston Villa), Gerónimo Rulli (Marseille), Juan Musso (Atlético Madrid)

Bek: Gonzalo Montiel (River Plate), Nahuel Molina (Atlético Madrid), Lisandro Martínez (Manchester United), Nicolás Otamendi (Benfica), Leonardo Balerdi (Marseille), Cristian Romero (Tottenham), Facundo Medina (Marseille), Nicolás Tagliafico (Olympique Lyon)

Gelandang: Leandro Paredes (Boca Juniors), Rodrigo De Paul (Inter Miami), Exequiel Palacios (Bayer Leverkusen), Enzo Fernández (Chelsea), Alexis Mac Allister (Liverpool), Giovani Lo Celso (Real Betis), Valentín Barco (Strasbourg)

Penyerang: Lionel Messi (Inter Miami), Nico Paz (Como), Thiago Almada (Atlético Madrid), Nicolás González (Atletico Madrid), Giuliano Simeone (Atlético Madrid), Lautaro Martínez (Inter Milan), Jose Manuel López (Palmeiras), Julián Álvarez (Atlético Madrid)

Pelatih: Lionel Scaloni


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulvianus Harjono
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata, Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati