Sejumlah pengendara sepeda motor yang melintas di depan Gedung DPR, Jakarta, terpaksa berhenti. Efek gas air mata yang ditembakkan polisi masih terasa.
30 Agt 2025 13:46 WIB · Metropolitan
JAKARTA, KOMPAS — Efek gas air mata yang ditembakkan polisi saat mengamankan unjuk rasa, Jumat (29/8/2025) malam, masih terasa di depan Gedung DPR, Jakarta, Sabtu (30/8/2025) malam. Hal ini mengganggu pengendara dan warga yang melintasi kawasan tersebut.
Hingga pukul 12.30, efek pedih dari gas air mata masih dirasakan. Sejumlah pengendara pun menutup wajah dengan tangan untuk mengurangi efek gas air mata itu. Namun, ada pula pengendara yang menepi untuk membasuh wajahnya dengan air.
”Perih sekali rasanya. Padahal, sudah lewat satu malam gas air matanya ditembakkan. Kasihan itu yang bawa anak kecil,” ujar Sunyoto (47), pengendara yang menepikan sepeda motornya. Awalnya Sunyoto mencoba menahan efek perih dari gas air wata itu. Namun, setelah sekitar 100 meter melewati gerbang Gedung DPR, ia memutuskan berhenti karena matanya mulai berair.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/30/b219a85375a72996791b14b84beb4911-PSX_20250830_122849.jpg)
Warga Pancoran, Jakarta Selatan, tersebut membasuh wajahnya menggunakan air mineral. Setelah itu ia mengelap wajahnya dengan handuk dan mengeringkannya beberapa saat.
”Kalau dipaksakan (berkendara) takutnya pandangan semakin kabur karena mata semakin perih. Bisa-bisa kecelakaan karena pandangan terganggu,” ucapnya.
Sunyoto berharap unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa, pengemudi ojek daring, dan elemen rakyat lainnya bisa berjalan damai. Menurut dia, jika demonstrasi berujung ricuh dan menyebabkan kerusakan fasilitas umum, masyarakat juga yang akan rugi.
Salah satu pemicu demonstrasi itu adalah insiden tewasnya pengemudi ojek daring Affan Kurniawan setelah dilindas kendaraan taktis (rantis) milik Brimob pada Kamis malam.
”Gerbang tol, halte Transjakarta, dan gedung-gedung banyak yang rusak. Perbaikannya kan pakai uang rakyat juga. Jadi, kalau bisa jangan sampai merusak fasilitas umum,” katanya.
Azis Harun (28), pengendara lainnya, memilih mengoleskan pasta gigi ke kedua pipinya. Ia meminta pasta gigi kepada personel TNI yang masih berjaga di sekitar Gedung DPR.
”Biar dingin (dioles pasta gigi). Ini perih sekali terasa di mata. Kalau dilanjutkan jalan (berkendara), bisa berair mata,” katanya.
Meskipun menyesalkan unjuk rasa berakhir ricuh, bapak dua anak itu dapat memahami kemarahan pengunjuk rasa. Salah satu pemicu demonstrasi itu adalah insiden tewasnya pengemudi ojek daring Affan Kurniawan setelah dilindas kendaraan taktis (rantis) milik Brimob pada Kamis malam.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/30/58964ede74d92ba0cc887b075473ade6-PSX_20250830_122749.jpg)
”Mungkin ini solidaritas dari pengemudi ojek online lainnya untuk menuntut keadilan. Di samping itu, mahasiswa dan masyarakat juga kecewa dengan anggota DPR karena dapat tunjangan yang besar sementara rakyat sedang susah,” ucapnya.
Menurut Azis, anggota DPR dan pejabat pemerintah mesti lebih berempati dengan kondisi masyarakat. Pernyataan-pernyataan yang melukai hati rakyat akan memancing kemarahan dan berpotensi menyebabkan gelombang demonstrasi lebih besar.
”Unjuk rasanya sudah sampai merusak fasilitas publik. Ini mesti diredam sebelum efeknya lari ke mana-mana. Semoga tidak terjadi benturan antarmasyarakat,” ucapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/29/718a8bb25322738dddecb4e40ca35c9a-20250829AGS9.jpeg)
Sebelumnya, Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Asep Edi Suheri berjanji akan mengusut kasus kematian Affan secara profesional dan transparan. Ia mengatakan, sejak Kamis malam, ia bersama Kapolri telah menemui ayah korban untuk menyampaikan belasungkawa. ”
”Saya memohon maaf, kami akan memperbaiki. Saat ini saya dan pimpinan Polda Metro mohon maaf kepada masyarakat Jakarta. Masalah ini mudah-mudahan bisa kita kelola dengan baik,” ujarnya.
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Ichwan SusantoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari