Eko Yuli Irawan Menuju SEA Games Kesembilan

Eko Yuli Irawan adalah lifter paling senior saat ini. Namun, jika tujuannya prestasi, Eko masih jadi andalan karena angkatannya belum bisa disaingi yuniornya.

21 Agt 2025 19:38 WIB · Olahraga

Oleh Rebiyyah Salasah

Ajang olahraga multicabang se-Asia Tenggara, SEA Games, idealnya menjadi wadah unjuk gigi atlet-atlet muda. Namun, atlet senior yang merasa masih bisa bersaing pun sering kali masih mau mencoba dan tak jarang jadi tumpuan harapan meraih medali. Lifter veteran Indonesia, Eko Yuli Irawan, salah satu dari atlet senior itu. 

Di antara delapan lifter putra yang bertarung di seleksi nasional angkat besi untuk SEA Games Thailand 2025, Kamis (21/8/2025), hanya tiga nama kelahiran 90-an. Eko Yuli Irawan adalah lifter paling senior, kelahiran 1989 atau menginjak usia 36 tahun. Adapun Zul Ilmi kelahiran 1996 dan M Ripqy kelahiran 1998. 

Pada seleknas yang digelar di sasana pemusatan latihan nasional angkat besi di Mess Kwini, Jakarta, itu, Eko bersaing dengan yuniornya yang kelahiran 2004, Leonardo Adventino. Tidak seperti Eko yang merupakan atlet pelatnas, Leonardo merupakan atlet daerah yang berasal dari Jawa Barat. 

Kedua atlet berduel untuk menjadi lifter terbaik di kelas 65 kg, kategori berat badan baru yang ditetapkan per Juni 2025. Siapa yang memenangi duel, dialah yang berangkat ke SEA Games Thailand 2025 yang digelar pada akhir tahun mendatang. 

Lifter putra Indonesia, Eko Yuli Irawan, melakukan angkatan snatch pada seleksi nasional angkat besi untuk SEA Games Thailand 2025 di pemusatan latihan nasional angkat besi di Mess Kwini, Jakarta, Rabu (20/8/2025).

Olahraga angkat besi melibatkan dua jenis angkatan utama, yakni snatch yang dilakukan dengan mengangkat barbel dari lantai ke atas kepala dalam satu gerakan. Lalu, jenis angkatan clean and jerk dengan mengangkat barbel dari lantai ke bahu (clean) dan kemudian mengangkatnya ke atas kepala (jerk) dalam dua gerakan terpisah.

Leonardo sebenarnya tampil meyakinkan. Pada percobaan pertama angkatan snatch seberat 132 kilogram, peraih tiga medali emas kelas 65 kg di Kejuaraan Nasional Angkat Besi Senior 2025 pada Mei lalu ini bisa menuntaskannya dengan baik. 

Begitu juga saat Leonardo mencoba angkatan kedua seberat 135 kg dan 137 kg. Namun, pada percobaan terakhir itu, waktu Leonardo habis sehingga angkatannya tidak sah. 

Lifter punya waktu satu menit untuk menyelesaikan angkatan yang dihitung sejak masuk ke platform perlombaan. Jika dalam waktu semenit itu tidak mengangkat barbel, angkatannya dianggap gagal. 

Kegagalan itu disayangkan mengingat keunggulan hingga lima kilogram dari angkatan terbaik Eko Yuli akan menjadi modal berharga Leonardo saat angkatan clean and jerk. Meskipun begitu, Leonardo tetap unggul atas Eko yang angkatan terbaiknya seberat 132 kg. 

Lifter Jawa Barat, Leonardo Adventino, melakukan angkatan snatch 137 kg ketika waktu sudah habis pada seleksi nasional angkat besi untuk SEA Games Thailand 2025 di pemusatan latihan nasional angkat besi di Mess Kwini, Jakarta, Rabu (20/8/2025).

Saat mencoba angkatan 136 kg, Eko pun sebenarnya berhasil. Namun, juri menganggapnya tidak sah. Gerakan tangannya dianggap press-out atau tidak merentang penuh. Alhasil, pada angkatan snatch, Leonardo unggul dengan angkatan terbaik 135 kg.

Duel pun dilanjutkan ke angkatan clean and jerk. Namun, Leonardo justru mangkir dari dua kali pemanggilan. Leonardo mengaku kram. Para penonton pun terheran-heran dengan ketidakmunculan sang atlet. 

Lalu, pada percobaan ketiga, Leonardo muncul. Leonardo tampil dan tidak kehabisan waktu, tetapi gagal mengangkat 163 kg. 

Eko Yuli, yang mencoba angkatan 164 kg pada kesempatan pertama, berhasil menuntaskannya. Dengan kegagalan Leonardo, Eko tak butuh percobaan kedua dan ketiga untuk memastikan keunggulan. 

Kendati diwarnai anomali performa Leonardo, pertarungan itu akhirnya menjadi milik Eko. Dengan demikian, untuk kesembilan kalinya secara beruntun sejak debut pada edisi 2007 di Nakhon Ratchasima, Thailand, Eko akan kembali tampil di SEA Games. 

Lifter Jawa Barat, Leonardo Adventino, bersiap melakukan angkatan clean and jerk pada seleksi nasional angkat besi untuk SEA Games Thailand 2025 di pemusatan latihan nasional angkat besi di Mess Kwini, Jakarta, Rabu (20/8/2025).

Dalam delapan edisi sebelumnya, Eko selalu meraih medali emas dari kategori berat badan 56 kg, 61 kg, dan 62 kg. Hanya di SEA Games Kuala Lumpur 2017, lifter asal Lampung ini meraih perak.

Quote

Sedikitnya ada 7 atlet putri dan 6 atlet putra yang akan diajukan berdasarkan hasil seleksi. Sebagian besar dari mereka merupakan atlet dengan usia 25 tahun ke bawah.

Eko memang berkali-kali mengatakan dia belum ”habis”. Jika masih punya kesempatan untuk berlomba di kancah internasional, pengoleksi tujuh medali emas di SEA Games ini mengaku akan memanfaatkannya. Apalagi, masih belum ada yunior yang mampu mengalahkan Eko seperti yang terbukti di seleknas. 

Regenerasi berjalan

Padahal, sudah sejak lama pertanyaan terkait pencarian penerus Eko Yuli mengemuka. Atlet dengan angkatan paling mendekati Eko sebenarnya adalah Ricko Saputra yang usianya 25 tahun. Kedua atlet itu bahkan bersaing di kelas 61 kg pada kualifikasi Olimpiade Paris 2024.

Eko dan Ricko sama-sama tampil di kelas 61 kg dan memenuhi syarat lain untuk lolos ke Paris. Total angkatan Eko dan Ricko pun hanya terpaut 2 kilogram. Eko memiliki total angkatan 300 kg, sementara Ricko 298 kg. 

Namun, pada kesempatan terakhir untuk menyalip sang senior di Piala Dunia Angkat Besi, Phuket, Thailand, Ricko gagal dalam tiga kesempatan snatch sehingga tidak bisa membukukan total angkatan. Maka, otomatis, tiket ke Paris tetap dalam genggaman Eko. 

Lifter Papua Tengah, Ricko Saputra, melakukan angkatan snatch pada seleksi nasional angkat besi untuk SEA Games Thailand 2025 di pemusatan latihan nasional angkat besi di Mess Kwini, Jakarta, Rabu (20/8/2025).

Tak lama setelah persaingan itu, Ricko juga terdegradasi dari pelatnas karena dinilai tidak menunjukkan perbaikan performa. Ricko ikut seleksi nasional, tetapi turun di kelas 60 kg.

Harapan lain sempat muncul dari lifter yang lebih muda, Satrio Adi Nugroho (23) dan Muhammad Ibnul Rizqih (19). Adi sempat meraih tiga medali perak di IWF Grand Prix II 2023 di Doha, Qatar, dan meraih emas dan memecahkan rekor di Kejuaraan Dunia Remaja 2022 di Jeddah. Adapun Ibnul meraih satu medali perunggu di IWF Grand Prix II 2023.

Namun, sejak akhir 2024, mereka tidak lagi menghuni pelatnas. Ibnul bahkan terkena sanksi larangan keikutsertaan dalam kegiatan olahraga selama empat tahun akibat terbukti menggunakan doping berupa furosemide sesuai pemeriksaan oleh Laboratorium Antidoping di Bangkok. 

Kendati demikian, Kepala Bidang Pembinaan Prestasi Pengurus Besar Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PB PABSI) Hadi Wihardja mengatakan, regenerasi sebenarnya tetap berjalan. Leonardo, misalnya, meskipun kalah duel dengan Eko, merupakan atlet potensial yang akan meneruskan kiprah sang Olimpian. 

Delapan lifter putra, termasuk Rahmat Erwin Abdullah (tiga dari kiri) dan Rizki Juniansyah (empat dari kiri) melakukan perkenalan sebelum tampil pada seleksi nasional angkat besi untuk SEA Games Thailand 2025 di pemusatan latihan nasional angkat besi di Mess Kwini, Jakarta, Rabu (20/8/2025).

”Stok” penerus Eko ataupun lifter-lifter di kelas lain, kata Hadi, berlimpah. Hal itu terlihat dari berbagai ajang di dalam negeri, termasuk Kejuaraan Nasional. Jadi, tidak perlu ada kekhawatiran kehilangan penerus. 

Adapun seleknas diikuti total 8 lifter putra lain dan 14 lifter putri. Para lifter ini tidak hanya atlet yang kini menghuni pemusatan latihan nasional, tetapi juga atlet daerah seperti dari Aceh, Jambi, DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Papua Tengah. 

Hadi mengatakan, seleksi nasional bersifat terbuka dengan PB PABSI mengirim undangan ke seluruh pengurus provinsi PABSI. Namun, atlet yang mengikuti seleksi harus memenuhi minimal angkatan total pertama (MATP), yakni berat total yang berhasil diangkat dalam percobaan pertama pada angkat besi.

Pada kategori putra, ada tujuh kelas yang dilombakan. Sementara pada kategori putri, terdapat enam kelas. Pada setiap kelas, ada MATP masing-masing yang harus dipenuhi setiap atlet. MATP ini juga harus dicapai ketika seleksi untuk satu kelas tertentu hanya diikuti oleh satu atlet, seperti kelas 60 kg yang cuma diikuti Ricko Saputra. 

MATP untuk kelas 60 kg adalah 275 kg. Ricko mampu melampauinya dengan menorehkan total angkatan 280 kg (snatch 128 kg, clean and jerk 152 kg). 

Lifter Jawa Barat, Leonardo Adventino, bersiap melakukan angkatan clean and jerk pada seleksi nasional angkat besi untuk SEA Games Thailand 2025 di pemusatan latihan nasional angkat besi di Mess Kwini, Jakarta, Rabu (20/8/2025).

Ketua Bidang Penelitian, Pengembangan, dan Data PB PABSI Dikdik Zafar Sidik mengatakan, MATP juga sekaligus menjadi acuan apakah atlet bisa meraih medali nantinya. Perhitungan ini didasarkan dari berbagai elemen, termasuk hasil di SEA Games sebelumnya meskipun dengan kelas berbeda. 

Setelah seleknas, PB PABSI langsung menggelar rapat dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga untuk menyerahkan rekomendasi atlet yang akan dibawa ke SEA Games Thailand 2025. Sedikitnya ada 7 atlet putri dan 6 atlet putra yang akan diajukan berdasarkan hasil seleksi. Sebagian besar dari mereka merupakan atlet dengan usia 25 tahun ke bawah.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar