Ekonomi kreatif adalah alat diplomasi lunak yang paling ampuh di akar rumput. Indonesia kaya akan potensi tersebut.
20 Nov 2024 17:17 WIB · Internasional
JAKARTA, KOMPAS — Memperingati 75 tahun hubungan bilateral Indonesia-Perancis, Kedutaan Besar Perancis di Jakarta mencanangkan pendekatan baru di dalam menjalin relasi. Selain meneruskan pendekatan-pendekatan tradisional, aspek budaya dan perekonomian kreatif kini menjadi sorotan karena dinilai memiliki nilai diplomasi lunak yang bisa menjangkau hingga ke masyarakat akar rumput.
”Setelah meninjau ulang hubungan Perancis-Indonesia yang kuat di bidang pertahanan, ekonomi, dan sektor tradisional lainnya, ternyata pengetahuan masyarakat kedua negara mengenai satu sama lain masih minim. Ini sungguh disayangkan,” ujar Duta Besar Perancis untuk Indonesia, Timor Leste, dan Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) Fabien Penone saat berkunjung ke Redaksi Kompas di Jakarta, Rabu (20/11/2024).
Indonesia, lanjut Penone, menjadi fokus diplomasi luar negeri Perancis. Alasannya tidak hanya karena nilai dan posisi strategis Indonesia di Asia Tenggara dan Indo-Pasifik, tetapi juga karena kuatnya vitalitas dan kreativitas masyarakatnya. Oleh sebab itu, di dalam pendekatan baru ini, hubungan antarmasyarakat diperkuat dengan fokus pada pendidikan, vokasi, seni, dan ekonomi kreatif.
Perancis adalah bangsa yang sangat memahami pentingnya ekonomi kreatif sebagai diplomasi lunak yang efektif. Negara ini merupakan pusat mode dunia. Jenama-jenama bergengsi mayoritas bermarkas di Paris, ibu kota Perancis. Film-film produksi Perancis juga dikenal bermutu tinggi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/20/145eea20-999b-4f68-b4d5-1db51a120456_jpg.jpg)
Ada lima sektor di dalam kerja sama baru ini, yaitu industri perfilman, gim video dan daring, kuliner, desain, dan mode. Lima sektor ini sejatinya menilik kerja sama Perancis dengan Jepang dan Korea Selatan.
Para sineas Asia Timur pada tahun 1950-an hingga 1970-an banyak yang menimba ilmu ke Perancis di bidang film, televisi, seni, dan komik. Dari pengetahuan tersebut, mereka mengembangkan industri hiburan dan ekonomi kreatif yang kuat di negara masing-masing.
”Indonesia itu potensi ekonomi kreatifnya luar biasa. Jika digarap serius dan memiliki jejaring internasional, pasti bisa menjadi pemain besar di dunia,” kata Penone.
Sutradara asal Makassar, Sulawesi Selatan, Khozy Rizal, adalah salah satu sineas yang berhasil membawa film ke Festival Cannes. Film Basri and Salma in A Neverending Comedy juga sudah diplot untuk ditayangkan di stasiun televisi lokal. Sebagai bentuk komitmen, Perancis melibatkan diri dengan mengadakan berbagai festival film di Indonesia dan mempertemukan sineas-sineas Indonesia dengan sineas Perancis.
”Diskusinya bukan mengenai cara berkarya karena para seniman di Indonesia ahli di bidang masing-masing. Perancis mendatangkan para profesional yang bisa berbagi ilmu mengenai membangun jejaring internasional untuk berkolaborasi, memproduksi, dan memasarkan karya,” kata Penone.
Ia menjelaskan, kerja sama ini tidak berdasarkan pandangan satu arah Perancis terhadap budaya Indonesia. Kedubes Perancis dan lembaga-lembaga di bawahnya, termasuk Institut Francais Indonesia (IFI), berkolaborasi dengan mitra-mitra lokal. Mereka adalah seniman, akademisi, pegiat, dan profesional dari berbagai wilayah di Indonesia. Para mitra lokal ini yang mempromosikan aspek ataupun karya yang patut dikolaborasikan dengan Perancis.
Demikian pula di sektor kuliner. Menyambut perayaan 75 tahun hubungan bilateral, berbagai acara kuliner mendatangkan koki-koki dari Perancis yang bekerja sama dengan 150 restoran lokal. Kolaborasi dilakukan untuk saling menghargai makanan dari kedua kebudayaan.
Hal baru di dalam perayaan hubungan bilateral ini adalah napak tilas Arthur Rimbaud (1854-1891), pujangga paling terkenal di Perancis. Rimbaud pada Juni 1876 tiba dengan kapal di Batavia. Ia bergabung dengan tentara kolonial Belanda meskipun jiwanya antiperang. Jamie James dalam bukunya, Rimbaud in Java: The Lost Voyage (2011) menerangkan bahwa alasan Rimbaud ke Nusantara semata-mata demi uang dan petualangan ke tanah yang jauh dari kampung halamannya.
Dua pekan kemudian, sebelum ia dikirim berperang ke Aceh, Rimbaud menghilang. Ia terakhir terlihat di Salatiga, Jawa Tengah. Setelah itu, ia tidak diketahui keberadaannya sampai pada Desember 1876 ketika ia tahu-tahu sudah kembali ke Perancis. Kehidupan dia selama enam bulan di Jawa masih menjadi misteri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/05/09/f6391145-bb4a-441e-84bd-3e9abb785747_jpg.jpg)
”Saya akan napak tilas ke Tuntang (Kabupaten Semarang), Semarang, dan Salatiga mengikuti jejak Rimbaud. Di sana, nanti saya berdialog dengan akademisi dan sastrawan lokal,” kata Penone. Kegiatan ini dimulai pada 5 Desember 2024.
Selain Rimbaud, Kedubes Perancis bekerja sama dengan penerbit Gramedia akan meluncurkan buku tokoh-tokoh penting di Perancis yang pernah meneliti soal Nusantara dalam dua abad terakhir. Mereka adalah sastrawan, seniman, ilmuwan, dan orang-orang yang menulis mengenai Nusantara dan Indonesia. Salah satunya adalah ahli kelautan Jacques Cousteau.
Jules Irmann, Direktur IFI, mengatakan, Festival Film Perancis tahun ini diselenggarakan di tujuh kota secara serentak. Film-film yang diputar juga bisa diakses secara gratis melalui laman daring sehingga masyarakat Indonesia tidak perlu khawatir tidak bisa menonton.
Ada pula kerja sama dengan perusahaan Summarecon mensponsori sejumlah perancang busana Indonesia mengikuti berbagai kegiatan di Pekan Mode Paris (Paris Fashion Week). Mereka belajar mengenai ilmu pemasaran internasional dan membangun kelanggengan jenama.
Sejumlah seniman dan perancang mode Perancis juga menunjukkan ketertarikan pada wastra Nusantara. Mereka berminat belajar mengenai seni dan produksi kain-kain tradisional Indonesia. Ada pula kolaborasi dengan para perajin di Bandung terkait pengembangan kulit imitasi berbahan dasar jamur.
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari