Ekonomi Triwulan II-2025 Tumbuh 5,12 Persen, Lampaui Ekspektasi Ekonom dan Publik

Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi 5,12 persen pada triwulan II-2025, lebih tinggi dari prediksi konsensus pasar. Konsumsi domestik dan investasi jadi penopang.

05 Agt 2025 12:23 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Dimas Waraditya Nugraha

JAKARTA, KOMPAS — Perekonomian Indonesia tumbuh 5,12 persen secara tahunan pada triwulan II-2025. Angka pertumbuhan ini berada di atas konsensus sejumlah lembaga ekonomi yang memproyeksi pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2025 berada di bawah 5 persen.

Konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2025 mencapai 2,64 persen.

Meski demikian, pertumbuhannya tetap di bawah 5 persen, yakni 4,97 persen. Hanya meningkat tipis dibandingkan triwulan I-2025 (4,95 persen) dan triwulan II-2024 (4,93 persen).

Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik, Badan Pusat Statistik (BPS), Edy Mahmud, dalam konferensi pers yang berlangsung secara hibrida di Jakarta, Selasa (5/8/2025).

Ia memaparkan, produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku (ADHB) pada triwulan II-2025 tercatat sebesar Rp 5.947 triliun. Sementara itu, pada periode yang sama, PDB atas dasar harga konstan (ADHK) mencapai Rp 3.396,3 triliun.

”Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi triwulan II-2025 dibandingkan triwulan II-2024 tumbuh sebesar 5,12 persen secara tahunan,” ujarnya.

Edy menjelaskan, selain konsumsi rumah tangga, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi memberikan kontribusi sebesar 2,06 persen terhadap pertumbuhan ekonomi. PMTB tercatat tumbuh 6,99 persen, melonjak dari pertumbuhan 2,12 persen pada triwulan I-2025 dan 4,42 persen pada triwulan II-2024.

Ekspor juga tumbuh 10,67 persen dan memberi kontribusi 0,22 persen pada pertumbuhan ekonomi. Sayangnya, konsumsi pemerintah tercatat memberikan kontribusi negatif sebesar -0,02 persen dengan pertumbuhan tahunan yang juga negatif sebesar 0,33 persen.

Ia menyimpulkan, pertumbuhan ekonomi pada periode ini ditopang oleh peningkatan aktivitas domestik yang masih tumbuh subur. Capaian tersebut juga melampaui ekspektasi sejumlah kalangan yang sempat memperkirakan pertumbuhan ekonomi triwulan II-2025 berada di bawah 5 persen secara tahunan.

Perkembangan pertumbuhan ekonomi Indonesia lima tahun terakhir.

Secara triwulanan (quarter to quarter/qtq), perekonomian Indonesia tumbuh 4,04 persen pada triwulan II-2025. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan triwulan I-2025 yang mengalami kontraksi sebesar 0,98 persen.

”Pertumbuhan ekonomi secara quarter to quarter sejalan dengan pola musiman yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya, yaitu pertumbuhan triwulan II cenderung lebih tinggi dibandingkan triwulan I,” ujar Edy.

Proyeksi lebih rendah

Dalam laporan ”Seri Analisis Makroekonomi Indonesia Economic Outlook” yang dirilis awal pekan ini, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2025 ada di kisaran 4,78–4,82 persen secara tahunan.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 4,87 persen.

Dalam laporan tersebut tertulis juga bahwa perlambatan pertumbuhan dipengaruhi sejumlah faktor, di antaranya penurunan daya beli masyarakat, transisi pemerintahan, ketergantungan terhadap komoditas alam, rendahnya produktivitas, hingga iklim usaha yang dinilai belum mendukung.

Lebih lanjut, terus berkembangnya tensi perang dagang akibat ancaman tarif oleh Presiden Trump berpotensi memperburuk perlambatan ekonomi dalam negeri saat ini.

Ia menambahkan, berbagai subsidi dan insentif yang digulirkan pemerintah belum mampu mengatasi persoalan struktural, seperti lesunya daya beli dan minimnya perbaikan iklim investasi. Kondisi ini turut menghambat pertumbuhan industri dan menghambat peningkatan produktivitas dunia usaha.

”Stabilitas pertumbuhan ekonomi akan diraih jika pertumbuhan lapangan pekerjaan formal terjaga. Pasalnya, pekerjaan semacam ini tidak hanya menyediakan penghasilan stabil, tetapi juga memfasilitasi akses yang lebih baik ke jaminan sosial dan peningkatan standar hidup,” ujarnya.

Paparan Menteri Dalam Negeri terkait realisasi belanja APBD Provinsi se-Indonesia Tahun Anggaran 2025 dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah serta Pembahasan Strategi Menjaga Pertumbuhan Ekonomi dan Evaluasi Dukungan Pemda dalam Program Tiga Juta Rumah, Senin (7/7/2025).

Sementara itu, konsensus 30 ekonom dalam survei Bloomberg memperkirakan pertumbuhan ekonomi triwulan II-2025 hanya 4,8 persen secara tahunan. Proyeksi perlambatan tak terhindarkan kendati pemerintah telah berupaya mengatasi tren perlambatan ekonomi dengan melanjutkan stimulus ekonomi senilai Rp 24,4 triliun pada akhir triwulan II-2025.

Dihubungi dari Jakarta, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perindustrian Saleh Husin menilai pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2025 yang berada di atas 5 persen sebagai hasil yang mengejutkan. Pasalnya, pada periode ini, konsumsi masyarakat belum sepenuhnya pulih, serta investasi masih menunggu kepastian arah kebijakan.

”Ditambah lagi sektor ekspor tengah menghadapi menghadapi tekanan dari luar negeri,” ujarnya.

Ia menilai realisasi pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2025 telah mencerminkan daya tahan ekonomi nasional di tengah tantangan global. Saleh meyakini percepatan belanja pemerintah dan dukungan dunia usaha akan membuat pertumbuhan ekonomi pada paruh kedua tahun 2025 dapat tumbuh lebih tinggi.


Kerabat Kerja

Penulis:

Dimas Waraditya Nugraha
 | 

Editor:

Agnes Theodora
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto