PT Kereta Api Indonesia terus bertransformasi. Tantangan dan peluang menjadi kawan seperjalanan dari masa ke masa.
17 Mei 2025 07:00 WIB · Ekonomi
PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI berupaya terus bertransformasi. Kini, ragam perbaikan yang telah dilakukan ternyata memberi kesan mendalam bagi masyarakat. Hal ini terlihat dari jumlah penumpang yang tembus angka ratusan juta orang, bebarengan dengan frekuensi yang mencapai ratusan ribu perjalanan.
KAI Group telah mengangkut 464,1 juta penumpang pada 2024. Sebanyak 80,7 persen disumbang KAI Commuter. Setahun sebelumnya, KAI membawa 371,54 juta orang. KAI telah melayani 850.068 perjalanan dengan tingkat ketepatan waktu (on time performance) mencapai 99,8 persen.
”Tahun ini mungkin akan lebih (jumlah penumpangnya),” ucap Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo dalam peluncuran perdana bukunya berjudul Masinis yang Melintasi Badai di Jakarta, Jumat (16/5/2025).
Pencapaian KAI ini tak lepas dari proses berbenah yang dilakukan, khususnya saat pandemi Covid-19 menerpa. Transformasi akan terus terjadi.
”Transformasi itu peningkatannya bukan satu level, dua level, tetapi terus berkelanjutan. Nah, pembelajaran apa yang diambil dari pandemi, bahwa berhasil melewati tentu saja dengan kemampuan, kapasitas, dan kompetensi, terutama manusianya,” kata Didiek.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/16/1cbb4d6d7c8d750e43c56981c776e713-20250516_100326.jpg)
Salah satu keputusan besar yang diambil adalah tetap mempertahankan semua karyawan KAI kala krisis pandemi melanda. Padahal, saat itu, banyak perusahaan lain terpaksa melakukan pemutusan hubungan karyawan (PHK) karena mandeknya perekonomian.
Pada saat bersamaan, tagihan untuk biaya angkutan dan perawatan terus berdatangan. Arus kas pun mau tak mau wajib dipantau saban hari. Sebagai gantinya, efisiensi harus dilakukan, termasuk memangkas anggaran.
Pekerjaan rumah yang kini menjadi fokus KAI adalah mengoptimalkan angkutan logistik. Target angkutan barang pada 2025 mencapai 69 juta ton. Sebanyak 55 juta ton di antaranya mengangkut batubara di Sumatera Selatan.
Didiek mengatakan, membangun ekosistem transportasi logistik di Pulau Jawa tidaklah mudah karena berhubungan dengan banyak pemangku kepentingan. Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan menyatakan bahwa penertiban truk berlebih muatan dan dimensi (ODOL) akan diterapkan mulai 2026.
”KAI siap sambut itu. Semoga ekosistem transportasi berbasis rel bisa memberikan efisiensi, menekan biaya logistik di Pulau Jawa,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/16/2431d57423e8264eb701e61eb61957c8-WhatsApp_Image_2025_05_16_at_17.03.10.jpeg)
Secara terpisah, Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah Masyarakat Transportasi Indonesia Djoko Setijowarno berpendapat, logistik merupakan aspek yang perlu dimaksimalkan KAI untuk turut mengambil peran.
Ada jalan raya yang dirancang untuk ke pelabuhan yang bisa dimanfaatkan dalam pengiriman logistik. Untuk jalur KA di Jawa, misalnya, lajur kereta logistik dapat melalui Cilacap, justru bukan Tanjung Priok, Jakarta. Akses ke pelabuhan sebagai jalan alternatif perlu dimanfaatkan sehingga tidak semua angkutan tumpah ruah melalui jalan raya.
Djoko menilai, jalan rel dapat menyokong industri logistik dalam skala besar. Jika investasinya terlalu mahal, semestinya dapat dicari cara untuk menekan biayanya. Berkaca dari kemacetan panjang yang terjadi di sekitar Pelabuhan Tanjung Priok pada pertengahan April 2025, imbasnya adalah perekonomian merugi.
Kemacetan panjang terjadi pada sejumlah ruas jalan menuju Pelabuhan Tanjung Priok pada April 2025. Arus mulai terurai pada Jumat sore. Imbasnya, banyak pengendara terjebak hingga berjam-jam di jalan akses menuju pelabuhan (Kompas.id, 19/4/2025).
Tidak hanya itu, KAI dapat terus berinovasi dengan memaksimalkan kereta wisata. Perjalanan sepanjang Pulau Jawa dapat dimanfaatkan untuk berwisata, seperti halnya kapal pesiar yang beroperasi di Indonesia, dengan target untuk berwisata.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/23/a44492ee-54e8-4e33-a2fa-1ba01cc31f41_jpeg.jpg)
Pembenahan stasiun-stasiun di daerah juga diapresiasi banyak pihak. Sebab, tak dapat dimungkiri, tampilan fisik penting untuk menarik penumpang guna menghidupkan jalur transportasi.
Stasiun Gubug di Grobogan, Jawa Tengah, misalnya, dibenahi secara sederhana. Djoko mengatakan, lokalitas tetap dipertahankan, tetapi kebaruan juga ditonjolkan.
Kereta-kereta lokal juga diharapkan terus tumbuh, seperti yang telah beroperasi di Jawa Tengah. Bandung Raya di Jawa Barat dan Surabaya Raya di Jawa Timur juga bisa mendapat percepatan kereta perkotaan. Hal ini seperti yang telah dioperasikan di Jawa Tengah dan Jakarta dengan kereta rel listrik (KRL).
Stasiun-stasiun yang kini direnovasi juga menjadi daya tarik tersendiri bagi penumpang. Salah satunya adalah seorang penulis, Mahwi Air Tawar, yang kondang dengan puisi-puisinya. Baginya, KA bukan sekadar moda transportasi, melainkan laboratorium sekaligus museum untuk melihat ke masa lalu dan masa depan.
”Saya membayangkan, kereta tidak hanya mengantarkan penumpang, tetapi juga mengantarkan pengetahuan ke kota-kota,” ucap Mahwi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/12/20/e2d98609-4ed0-4d97-8e5d-a1c39166769c_png.png)
Melalui buku Masinis yang Melintasi Badai yang ditulis Zulfikar Akbar dan Wisnu Nugroho, Didiek berbagi pengalaman sejak mengemban tugas sebagai Direktur Utama KAI pada 2020. Pandemi Covid-19 memberi pelajaran yang amat berharga bagi perkembangan KAI, mulai dari masa krisis, pemulihan, hingga membangun sistem berkelanjutan.
Proses berbenah tidak akan selesai pada satu titik sebab perubahan merupakan sesuatu yang akan terus terjadi dari masa ke masa. Upaya ini jadi cara mempertahankan eksistensi sekaligus jurus untuk bersaing dengan moda lain. Siapa pun pemimpinnya, tantangan zaman perlu dijawab dengan perubahan melalui caranya masing-masing.
Penulis:
Yosepha Debrina Ratih PusparisaEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti