Gelombang Peritel Asing Menyerbu Pasar Indonesia

Gelombang ekspansi peritel dari Asia, terutama dari China dan Jepang, untuk membuka toko di pusat belanja di Jabodetabek masih akan berlanjut.

17 Mar 2026 07:00 WIB · Ekonomi & Bisnis

Kompas/Wisnu Widiantoro

Oleh Brigita Maria Lukita G.

Kendati dibayangi tekanan ekonomi dan geopolitik global, minat ekspansi peritel di Jabodetabek diprediksi terus bertumbuh. Ekspansi peritel internasional yang baru masuk dan peritel lokal Indonesia terus mengisi ruang-ruang pusat perbelanjaan yang ramai pengunjung.

Konsultan properti Colliers Indonesia mencatat beberapa peritel asing membidik pusat perbelanjaan atas dan premium untuk membuka toko pertamanya di Indonesia dan Asia Tenggara. Minat ekspansi peritel di Jabodetabek semakin menguat meskipun secara umum kondisi ekonomi membuat pelaku bisnis lebih berhati-hati.

Tidak hanya peritel dari Barat, belakangan peritel China, Korea Selatan, dan Jepang terus masuk, terutama di segmen gaya hidup, hobi, serta makanan dan minuman (F&B). Masuknya jenama baru dan dibukanya toko-toko ritel akan menambah daya tarik pengunjung ke mal.

Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto mengemukakan, perubahan geopolitik dan ekonomi yang meluas memungkinkan semakin banyak perusahaan Asia memprioritaskan ekspansi ke wilayah Asia Tenggara, terutama Indonesia, yang muncul sebagai destinasi utama dengan cakupan pasar dan populasi yang besar. Didukung faktor demografi, sektor ritel Indonesia tetap menawarkan potensi jangka panjang yang menguat.

Kolaborasi peritel dan pusat perbelanjaan telah memperkuat posisi pusat belanja menjadi destinasi gaya hidup dan hiburan keluarga. Upaya pusat perbelanjaan untuk mengubah konsep dan atraksi yang relevan dengan gaya hidup memberikan pengalaman lebih dari sekadar belanja.

”Di masa mendatang, pasar ritel akan ditandai masuknya lebih banyak merek global yang melakukan debut di Indonesia. Namun, untuk bisa berkembang di pasar yang semakin kompetitif, peritel perlu tetap fleksibel dan cepat beradaptasi dengan perubahan pasar,” ujar Ferry dalam keterangan tertulis, akhir pekan lalu.

Per triwulan III (Juli-September) 2025, tercatat 17 jenama ritel asing bakal membuka toko pertama di Indonesia. Beberapa toko yang dibuka di Jakarta merupakan gerai pertama di Asia Tenggara, seperti Nickelodeon Playtime asal AS di kategori hiburan, Atelier Rebul asal Turki untuk produk kecantikan, serta Lifework asal Korea Selatan untuk produk mode.

Toko olahraga Wilson asal AS serta Pierre Herme dan AMI Paris asal Perancis juga membuka toko pertama di Jakarta. Selain itu, ada pula Leekaja Hair Salon dan Sappun asal Korea Selatan serta jenama olahraga Anta dan merek teh Chagee asal China.

Puluhan pengunjung antre untuk membeli makanan di restoran yang terdapat pusat perbelanjaan di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, Minggu (1/3/2026). Menjelang waktu berbuka puasa, gerai-gerai penjual makanan diserbu pengunjung.

Kompas/Wisnu Widiantoro

Pada 2026, segmen F&B bakal ditambah masuknya jaringan restoran asal China, yakni seperti Hi Hi Huat Pot by Haidilao serta Sizzling Hotspot by Haidilao yang membuka toko pertama. Di segmen mode ada Hollister asal AS dan COS asal Inggris serta perhiasan Tudor.

Head of Retail Services Colliers Indonesia Sander Halsema menambahkan, tren masuknya peritel asing masih terus berlanjut tahun ini. Bukan hanya dari peritel China, melainkan juga dari Jepang, Australia, dan Eropa.

”Indonesia merupakan pasar yang sangat menarik bagi bisnis-bisnis (ritel) ini karena populasinya yang besar. Selain itu, karena kondisi ekonomi di beberapa negara, seperti China dan Jepang, saat ini tidak terlalu baik sehingga mereka akan melihat negara-negara lain untuk melakukan ekspansi,” kata Sanders.

Warga mengiri liburan tahun baru dengan mengelilingi pusat perbelanjaan di Kota Bekasi, Jawa Barat, Kamis (1/1/2026). Selain lebih irit dari pada keluar kota, mal menjadi pilihan mengisi liburan tahun baru karena kenyamanan dan beragam aktivitas dalam satu tempat yang bisa dilakukan. 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
1-2-2026

Konsep ritel

Ferry mengemukakan, gelombang masuknya peritel asing dari Asia ke pusat perbelanjaan di Jabodetabek juga bakal diimbangi peritel lokal yang semakin berkembang dan beradaptasi terhadap konsumen yang semakin sensitif terhadap harga. Peritel lokal Indonesia memperkuat posisi dengan menawarkan produk-produk berkualitas dengan harga yang kompetitif sekaligus membangun identitas yang kuat dan relevan dengan pasar.

Riset Colliers memperlihatkan perubahan cara peritel dalam konsep dan pemanfaatan ruang. Sebagian peritel memperbesar ukuran tokonya untuk menghadirkan konsep yang lebih ”berbasis pengalaman” bagi pengunjung.

Konsep yang berkaitan dengan gaya hidup sehat, aktivitas sosial, dan hiburan semakin banyak bermunculan dan mulai menjadi daya tarik utama di mal. Ke depannya, keberlangsungan bisnis peritel masih akan dipengaruhi oleh kolaborasi yang erat antara peritel dan pengelola mal.

”Perpaduan antara kuliner, fashion, dan area interaktif dirancang untuk membuat pengunjung betah lebih lama di mal dan mendorong pengunjung untuk datang kembali,” ujarnya.

Pada 2026, mal-mal kelas atas dan premium diprediksi memiliki okupansi tenant (penyewa) yang tinggi dengan mempertahankan tingkat hunian sewa di atas 80 persen. Sebaliknya, mal-mal kelas menengah yang minim inovasi, revitalisasi, dan peningkatan kualitas diprediksi mengalami stagnasi kepenghunian di 50 persen.

Per Januari 2026, luas pusat perbelanjaan di Jakarta tercatat stabil 5 juta meter persegi (m2). Dari sisi pasokan, terdapat proyek baru dalam tahap pengembangan dan diperkirakan menambah pasokan 44.000 m2 ruang ritel pada 2026.

Di wilayah Bodetabek, total pasokan kumulatif mencapai 3,2 juta meter persegi. Bodetabek diprediksi potensial untuk proyek ritel di masa depan, didukung oleh meningkatnya permintaan di kawasan pinggiran kota. Saat ini terdapat dua proyek pengembangan yang sedang dibangun yang diperkirakan menambah pasokan ruang baru 133.000 m2 pada 2026-2028.

Suasana spot yang dijadikan lokasi peragaan busana Purana kolaborasi dengan Sutjipto Adi di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (27/2/2026). Pengelola mal membuat acara peragaan busana muslim dan mempercantik ruang-ruang bernuansa Ramadhan untuk menarik pengunjung. 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
27-2-2026

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja, secara terpisah, mengemukakan, minat peritel produk atau barang berkategori asing untuk membuka usaha di Indonesia tak dimungkiri karena pasar Indonesia yang besar dengan tren pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil.

Keberadaan jenama produk atau barang merek asing kelas atas dan premium di Indonesia merupakan hal yang positif bagi industri usaha ritel di Indonesia karena menambah banyaknya alternatif pilihan berbelanja bagi masyarakat khusus kelas menengah atas.

”Indonesia memiliki pangsa pasar yang besar dengan populasi lebih dari 280 juta penduduk yang disertai dengan situasi dan kondisi politik yang relatif kondusif,” ujar Alphonzus, Sabtu (14/3/2026).

Masuknya jenama produk atau barang merek asing kelas atas dan premium di Indonesia dinilai tidak akan mengganggu produk ataupun merek dalam negeri karena tidak banyak produk dan barang serta merek dalam negeri yang memproduksi ataupun mengisi pangsa pasar kelas atas apalagi yang premium.

Pengunjung memilih kurma yang dijajakan di pusat perbelanjaan Thamrin City, Jakarta, Minggu (1/3/2026). Selama Ramadhan kurma banyak dicari warga sebagai menu untuk berbuka puasa. Berbagai macam kurma dijual mulai dari Rp. 50 ribu hingga Rp. 250 ribu per kilogram, tergantung dari jenis dan ukurannya.

Manfaatkan momentum

Alphonzus menambahkan, di tengah pertumbuhan perekonomian nasional yang masih belum maksimal seperti saat ini, semua momentum penjualan akan dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh industri usaha ritel untuk meningkatkan kinerja setinggi-tingginya, terutama pada saat Ramadhan dan Idul Fitri yang mana adalah merupakan puncak penjualan (peak season) ritel di Indonesia.

Triwulan I- 2026 menjadi sangat penting bagi industri usaha ritel karena akan menjadi pembuka tahun 2026 yang mempengaruhi kinerja sepanjang tahun 2026. Beberapa faktor pendukung yang dapat mendorong kinerja ritel pada triwulan I-2026 antara lain Tahun Baru, kenaikan upah minimum, Imlek, bonus, Ramadhan, Tunjangan Hari Raya ( THR ), dan Idul Fitri.

Quote

Orang masih akan datang ke mal, ”food traffic” secara umum masih terjaga, tetapi belanjanya lebih hati-hati.

Namun, berkumpulnya banyak momentum penting pada triwulan pertama tahun 2026 memiliki dampak positif dan sekaligus juga berdampak negatif terhadap industri usaha ritel. Dampak negatif itu yakni penyebaran kinerja penjualan yang tidak merata sepanjang tahun 2026.

”Diperlukan upaya-upaya khusus setelah triwulan pertama tahun 2026, khususnya pada triwulan kedua dan ketiga tahun 2026 yang akan menjadi low season yang panjang,” lanjutnya.

Head of Property & Asset Management JLL Indonesia Naomi Patundungan, secara terpisah, mengemukakan, kunjungan ke mal saat ini relatif stabil pada hari kerja ataupun akhir pekan. Tingkat kunjungan ke mal diharapkan paling rendah 3.000 orang per hari untuk bisa mendorong penjualan ritel. Pusat perbelanjaan kelas atas dan pemium rata-rata memiliki tingkat kunjungan tinggi.

”Kita berharap kunjungan ini tidak hanya datang, tidak hanya sebagai rojali (rombongan jarang beli), tetapi juga berbelanja,” ujarnya.

Hal senada dikemukakan Ferry. Kondisi makro ekonomi diprediksi dapat memicu pergeseran pola belanja konsumen dengan belanja yang lebih hati-hati. Pengelola pusat perbelanjaan perlu relevan untuk menjadikan mal sebagai tempat hiburan, olahraga, dan gaya hidup.

”Orang masih akan datang ke mal, food traffic secara umum masih terjaga, tetapi belanjanya lebih hati-hati. Pengeluaran itu mulai fokus ke kebutuhan harian dan F&B. Jadi, bukan lagi belanja-belanja yang sifatnya impulsif,” katanya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Brigita Maria Lukita G.
 | 

Editor:

Siwi Yunita Cahyaningrum
 | 

Penyelaras Bahasa:

Yuliana Karim