Dunia harus bersiap atas potensi gelombang panas, kekeringan, dan curah hujan lebat yang lebih buruk pada tahun ini.
02 Jun 2026 19:15 WIB · Internasional
AFP/JOHAN ORDONEZ
GENEVA, SELASA - Organisasi Meteorologi Dunia atau WMO memperkirakan El Nino dapat meningkatkan suhu global. Dunia harus bersiap atas potensi gelombang panas, kekeringan, dan curah hujan lebat yang lebih buruk pada tahun ini.
El Nino adalah pemanasan periodik suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang biasanya berlangsung antara 9-12 bulan. Fenomena El Nino secara alami terjadi setiap 2-7 tahun.
Menurut WMO, El Nino kemungkinan 80 persen akan berkembang antara Juni-Agustus 2026 serta kemungkinan berlangsung hingga November 2026. Fenomena ini sedang atau kemungkinan kuat dapat memanaskan suhu global. Dengan demikian, risiko cuaca ekstrem dapat meningkat selama beberapa bulan mendatang.
“Kita perlu bersiap untuk potensi peristiwa El Nino yang kuat, yang akan memperburuk kekeringan dan curah hujan lebat serta meningkatkan risiko gelombang panas baik di darat maupun di laut,” kata Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo di Geneva, Swiss, Selasa (2/6/2026).
El Nino terakhir terjadi selama tahun 2023-2024. El Nino yang masuk kategori “kuat” ini ikut berkontribusi dalam menjadikan tahun 2024 sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat dalam sejarah.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/06/02/640a685b-b3b3-429b-ab1b-44f778c03d55_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/06/02/59276bf7-6b60-4e1b-8116-92f138cccd83_jpg.jpg)
Pergeseran El Nino saat ini telah diamati di Pasifik Khatulistiwa. Suhu permukaan laut meningkat pesat dari akhir April hingga pertengahan Mei 2026.
Kondisi bawah permukaan laut tercatat hangat di seluruh Pasifik tropis dengan suhu melebihi 6 derajat Celcius di atas rata-rata sehingga menciptakan cadangan panas yang mendorong pemanasan permukaan. WMO mencatat, kondisi El Nino sedang berkembang.
Pola cuaca akibat El Nino tersebut mengganggu iklim regional secara berbeda-beda. Wilayah selatan dari Amerika Selatan, selatan Amerika Serikat, sebagian Tanduk Afrika, dan Asia Tengah berpotensi mengalami peningkatan curah hujan. Sementara Australia, Amerika Tengah, Indonesia, dan sebagian Asia bagian selatan bisa merasakan kekeringan.
WMO memperingatkan, El Nino juga dapat berdampak pada pemanasan iklim global. El Nino bisa juga memicu badai di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur.
“Dunia harus memperlakukan El Nino sebagai peringatan iklim mendesak. Kondisi El Niño dapat memperburuk pemanasan global,” kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres yang turut mendesak peralihan dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan.
Sejauh ini, belum ada bukti bahwa perubahan iklim turut meningkatkan frekuensi atau intensitas El Nino. Namun, menurut WMO, perubahan iklim dapat memperburuk dampak yang terkait dengan El Nino, seperti gelombang panas ekstrem dan curah hujan lebat.
Kepala Prediksi Iklim di WMO, Wilfran Moufouma Okia mengatakan, WMO memprediksi bahwa El Nino akan memicu cuaca yang lebih ekstrem. Namun, sulit untuk mengira-ngira intensitasnya.
Beberapa model memprediksi El Nino yang “kuat”, sementara model lainnya tidak. Pada model dengan hasil yang kuat, WMO memperkirakan suhu permukaan laut di Pasifik timur naik setidaknya 1,5 derajat Celcius di atas rata-rata.
“El Nino memiliki efek pemanasan sementara. Meskipun berasal dari daerah tropis, fenomena ini mempengaruhi sebagian besar planet,” tutur Okia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/06/02/d89001f5-5537-4039-b7ff-b59c35e75cf9_jpg.jpg)
Okia menekankan, El Nino tidak bertindak secara terisolasi. Akan tetapi, interaksi El Nino dengan fenomena cuaca lain dapat memperkuat dan melemahkan intensitasnya. Oleh sebab itu, WMO secara umum memproyeksikan bumi akan mengalami peristiwa El Nino yang berkisar dari sedang hingga kuat.
“Tetapi penting untuk menekankan bahwa setiap peristiwa El Nino itu unik. Orang mungkin berpikir bahwa El Nino yang lemah tidak akan menimbulkan konsekuensi, tetapi itu salah. Bergantung dari negara dan konteksnya, konsekuensi dari El Nino bisa sama merusaknya seperti peristiwa yang kuat,” kata Okia.
Intensitas El Nino yang kuat membawa dampak besar bagi produksi pangan, pasokan energi, dan industri. Di Afrika bagian selatan, perubahan pola cuaca mengurangi curah hujan selama musim hujan sehingga membatasi kapasitas pembangkit listrik tenaga air dan mengurangi hasil panen.
Kehidupan manusia juga terancam. Selama April-Mei 2024, misalnya, banjir di Rio Grande do Sul, Brasil, menewaskan lebih dari 180 orang dan menyebabkan 600.000 orang mengungsi.
“El Nino yang kuat tahun ini berisiko menyebabkan bencana serupa. Ketika El Nino terjadi di atas dampak perubahan iklim yang sudah ada, risikonya sangat besar,” ujar Francisco Aquino, Kepala Pusat Iklim Universitas Rio Grande do Sul.
WMO berencana membagikan analisis dan temuan kepada negara-negara. Namun, upaya untuk mengolah informasi tersebut ke tingkat lokal bergantung dari masing-masing negara.
“Saya berharap negara-negara akan mempertimbangkan data tersebut dalam mempersiapkan diri menghadapi El Nino. Model WMO mampu membuat prakiraan enam bulan sebelumnya. Jadi kami berharap negara-negara akan memiliki waktu untuk mengantisipasinya,” tutur Okia.
Belakangan, Okia mencatat ada kemajuan kerja sama terkait El Nino. Negara-negara bertukar lebih banyak informasi. Alhasil, jumlah korban jiwa saat El Nino terjadi pada 2023-2024 lebih sedikit ketimbang tahun 1997.
“Jadi kita dapat berasumsi bahwa negara-negara lebih siap, atau telah belajar dari peristiwa lalu. Negara-negara memahami perlunya berbagi data, dan bahkan negara-negara yang sedang berkonflik pun bekerja sama. Untuk memprediksi fenomena di belahan dunia lain, Anda membutuhkan data dari belahan dunia lain,” ucap Okia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/06/02/be392760-8a67-4856-b75b-4440b6ea4c48_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/04/30/42edf305-7f91-4a9f-b281-2a93b64aef60_jpg.jpg)
Belajar dari pengalaman lalu, terkadang kemampuan suatu negara untuk merespons tetap tidak bisa mengimbangi konsekuensi dari El Nino. Fenomena ini terlihat ketika fenomena terjadi antara tahun 2023-2024.
“Saat itu, terjadi penurunan curah hujan di Panama yang memengaruhi kanal, dan karenanya ekonomi global ikut terpengaruh,” kata Okia.
Beberapa ilmuwan mengatakan, kerusakan akibat El Nino pada tahun ini dapat memberikan gambaran awal tentang kondisi ekstrem yang akan menjadi hal biasa dalam waktu lima tahun mendatang, bahkan tanpa El Nino terjadi. "Ini memang memberikan gambaran tentang masa depan,” ujar Piers Forster, profesor Perubahan Iklim Fisik di Universitas Leeds. (AFP/Reuters)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Yuliana Karim