Kunci keberhasilan penanganan fenomena alam El Nino adalah pemberitahuan lebih awal dan koordinasi lintas lembaga.
02 Jul 2026 07:00 WIB · Tajuk Rencana
KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH
Di tengah berbagai upaya kita menangani berbagai masalah, kita tidak boleh lengah untuk hal lain. Salah satunya adalah mewaspadai ancaman El Nino.
El Nino di Indonesia diperkirakan berlangsung pada Mei 2026 hingga Mei 2027. Fenomena kenaikan suhu Samudra Pasifik yang menjadi pemicu kekeringan itu dapat menyebabkan produksi pangan anjlok sehingga menyebabkan kenaikan inflasi pangan. Selain itu, El Nino yang berkepanjangan juga dapat mengancam ketersediaan air. Pemerintah memastikan ketersediaan air masih surplus hingga Agustus 2026 dan siap menggelar operasi modifikasi cuaca atau menciptakan hujan buatan.
Dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar Kementerian Dalam Negeri secara hibrida di Jakarta, Senin (29/6/2026), disebutkan, peluang terjadinya El Nino intensitas kuat telah mencapai 98 persen. Kendati nanti akan turun secara perlahan, El Nino diperkirakan berakhir pada Mei 2027 (Kompas, 30/6/2026).
Kita mengapresiasi pemerintah yang mengabarkan persoalan ini lebih awal. Kita tak perlu cemas dengan kabar ini. Karena dengan pemberitahuan yang lebih cepat, persiapan yang dilakukan akan lebih cepat pula sehingga dampak El Nino bisa diminimalkan. Setidaknya pemerintah juga telah bersiap seperti kemungkinan akan menggelar operasi modifikasi cuaca.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/27/eb94e56b9cc96904ecab7ccd59d4e543-29.jpg)
Meski demikian, sosialisasi dan upaya lainnya masih perlu dilakukan terus agar semua pihak menyadari masalah ini sehingga persiapan bisa dilakukan oleh level terbawah, yaitu masyarakat umum dan petani. Kita memiliki pengalaman saat El Nino melanda. Kita pernah berhasil, tetapi kita juga pernah berantakan menangani El Nino. Kunci keberhasilan penanganan fenomena alam ini adalah, seperti disebut di atas, pemberitahuan lebih awal dan koordinasi lintas lembaga.
Secara khusus di bidang produksi pangan, meski pemerintah disebut memiliki cadangan beras mencapai 5,39 juta ton, pemerintah tak boleh lengah. El Nino bisa membuyarkan cadangan itu ketika produksi pangan musim pertama Oktober 2026-Maret 2027 terdampak. Padahal, selama ini kita mengandalkan musim produksi pertama ini. Stok akan menyusut karena digunakan untuk operasi pasar dalam rangka menahan harga beras. Apalagi, harga beras saat ini sudah tinggi. Kenaikan harga beras bulan Juni lalu mencapai 3,98 persen dibandingkan dengan Juni tahun lalu. Angka ini aneh di tengah stok yang dikabarkan melimpah.
Sekali lagi, kita yakin pemerintah akan bersiap lebih baik lagi menghadapi El Nino. Koordinasi yang baik antarlembaga akan mengurangi tekanan fenomena alam ini. Memang ada masalah seperti infrastruktur perairan yang rusak di beberapa tempat sehingga bila terjadi kekeringan akut maka masyarakat akan terdampak lebih parah. Namun, sekali lagi dampak bisa ditekan bila persiapan lebih awal dan lebih baik. Mengabaikan persoalan ini berarti kita menyambut malapetaka.
Penulis:
RedaksiEditor:
Marcellus HernowoPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto