RESTORASI GAMBUT

El Nino Datang, Saatnya Gambut Si ”Mesin Uap” Dijaga Kembali

Selama ini, rawa gambut dikenal sebagai biang kebakaran. Padahal, dari penelitian terbaru, gambut juga berfungsi sebagai ”mesin uap” alami yang mengatur hujan.

16 Jul 2026 07:00 WIB · Lingkungan

Dok Yayasan Hutan Alam Lingkungan Aceh

Oleh Dionisius Reynaldo Triwibowo

Tahun 2015 mungkin masih lekat dalam ingatan, terutama warga di Kalimantan dan Sumatera. Saat itu, kebakaran hutan dan lahan berujung bencana asap, kehidupan masyarakat pun diselimuti kabut tebal asap serasah. Gambut yang dibakar ”dituduh” menjadi penyebabnya.

Dari catatan Kompas, pada 2015 total area yang terbakar mencapai 2,6 juta hektar (ha) dengan 0,4 juta ha di antaranya merupakan area berhutan. Wilayah dengan area terbakar tertinggi adalah Sumatera Selatan (646.299 ha), disusul Kalimantan Tengah (583.833 ha), dan Papua (350.005 ha).

Laporan Bank Dunia menyebutkan, kerugian negara atas kebakaran hutan 2015 sebesar Rp 211 triliun. Kondisi demikian menyebabkan berkurangnya anggaran negara untuk menangani bencana tersebut (Kompas.id, 17/10/2022).

Pada periode kebakaran September dan Oktober 2015 saja, sebanyak 1.164 juta ton karbon dilepaskan dari lahan gambut yang hancur. Jumlah tersebut setara dengan 84 persen emisi tahunan Indonesia yang dilaporkan pada 2002.

Walakin, penelitian terbaru mengungkap fakta baru di mana ekosistem gambut memiliki fungsi sebagai ”mesin uap” alami yang menguatkan pembentukan hujan. Gambut yang terjaga, atau masih basah, membantu kestabilan iklim di wilayah tropis.

Temuan itu dipublikasikan dalam jurnal internasional Climate Dynamics terbitan Springer Nature pada Juli 2026 dengan judul ”The Role of Tropical Peat Islands in Modulating Land–Sea Breeze Circulation and Rainfall: a Theoretical and X-band Radar Study” oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Kyoto University, Kobe University, Hokkaido University, IPB University, dan GMIT Mongolia dengan lokasi studi di Pulau Bengkalis, Provinsi Riau.

Pola kebakaran hutan di kawasan penyangga cagar biosfer Riau sangat terpola. Kebakaran umumnya terjadi di lahan dekat kebun sawit atau perumahan penduduk. Jalur transportasi darat umumnya sulit, kecuali melewati kanal-kanal rawa gambut.

Salah satu peneliti utama, Albertus Sulaiman, menjelaskan, penelitian tentang gambut itu mengubah cara pandang terhadap fungsi ekologis hutan rawa gambut. Selama ini perhatian lebih banyak tertuju pada kemampuan gambut menyimpan karbon. Padahal, ekosistem gambut juga memainkan peran penting mengatur siklus hidrologi dan pembentukan hujan.

”Penelitian ini membuktikan hutan rawa gambut bukan hanya gudang karbon, melainkan juga berfungsi seperti mesin uap alami yang memperkuat sirkulasi angin darat-laut dan membantu menjaga ritme hujan harian di wilayah pesisir tropis,” ujar Albertus yang juga menjabat sebagai Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, di Jakarta, Selasa (14/7/2026).

Albertus mengatakan, tim peneliti memasang radar cuaca polarimetrik X-band buatan Jepang di kompleks STAIN Bengkalis sejak Februari 2020. Radar itu mampu memetakan distribusi hujan setiap 5 menit dengan resolusi ratusan meter dan dalam radius sekitar 50 kilometer. Menurut dia, alat itu memberikan data dengan tingkat ketelitian yang masih sangat jarang tersedia di Indonesia.

Hasil pengamatan sepanjang Mei–Desember 2024, lanjut Albertus, menunjukkan pola hujan harian yang konsisten. Curah hujan di wilayah pedalaman Bengkalis umumnya terjadi pada siang hingga sore hari, sedangkan kawasan pesisir dan laut mengalami hujan pada tengah malam hingga menjelang subuh. Pola tersebut mencerminkan sirkulasi angin darat-laut yang bekerja secara teratur setiap hari.

”Hasil simulasi menunjukkan bahwa keberadaan Pulau Bengkalis menciptakan konvergensi angin dari laut dan selat secara bersamaan sehingga pembentukan awan hujan menjadi jauh lebih kuat,” katanya.

Peta sebaran konsesi HGU sawit & PBPH dalam kawasan hidrologi gambut.

Pulau Bengkalis, kata Albertus, dipilih lantaran merupakan pulau dengan dataran rendah yang hampir seluruh wilayahnya didominasi ekosistem rawa gambut alami. Ekosistem itu menjadi laboratorium alam untuk memahami interaksi antara lahan gambut dan atmosfer.

Menurut Albertus, selama ini terjadi perdebatan di kalangan ilmuwan atmosfer tentang mekanisme distribusi hujan regional melalui proses evapotranspirasi. Evapotranspirasi merupakan gabungan antara evaporasi (penguapan dari tanah, genangan air, dan permukaan benda) dan transpirasi (pelepasan uap air dari jaringan tanaman). Temuan dari penelitian ini membuktikan ekosistem gambut memiliki pompa biotik yang melahirkan evapotranspirasi.

”Penelitian di Bengkalis memperlihatkan pola yang konsisten antara teori, model, dan pengamatan radar,” ujarnya.

Menurut Albertus, implikasi penelitian ini penting bagi kebijakan pengelolaan lahan gambut. Jika gambut dikeringkan, ditebang, atau terbakar, kerusakan yang terjadi bukan hanya berupa hilangnya cadangan karbon, melainkan juga hilangnya fungsi ekologis sebagai pengatur hujan.

”Menjaga gambut bukan hanya menjaga karbon, melainkan juga menjaga hujan. Degradasi gambut berpotensi mengganggu siklus hidrologi regional, dan dalam jangka panjang dapat memengaruhi stabilitas sistem iklim tropis,” katanya.

Para pengunjung dari Borneo Nature Foundation (BNF) menikmati perjalanan susur sungai di wilayah Sungai Koran, Taman Nasional Sebangau, Kalteng pada Kamis (11/11/2021). Tak hanya keindahan alam, susur sungai di wilayah itu menjadi pengalaman baru bagi mereka yang belum pernah masuk ke hutan gambut.

El Nino

Pada bencana asap 2015 terjadi fenomena alam yang membuat bumi jauh lebih panas dan kering. Fenomena itu disebut El Nino.

National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) atau Badan Administrasi Atmosfer dan Lautan Nasional AS bahkan menyebut fenomena El Nino pada 2015 merupakan yang terkuat jika dibandingkan pada tahun-tahun sebelumnya. Mereka menyebutnya dengan nama Super El Nino.

Saat ini, El Nino diprediksi menguat. Bahkan, banyak pihak menyebutnya dengan nama El Nino Godzilla. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), serta Copernicus Climate Change Service sama-sama memperingatkan meningkatnya peluang El Nino kuat pada 2026. Menurut WMO, saat ini El Nino dalam status siaga penuh atau El Nino Advisory.

Kondisi ini akan meningkatkan kemungkinan kekeringan dan curah hujan lebat serta risiko gelombang panas di darat dan gelombang panas di laut di banyak wilayah di dunia. BMKG juga memperkirakan puncak musim kemarau akan terjadi pada Juli–September 2026. Baik BMKG maupun WMO sepakat, musim kering kali ini berpotensi lebih panjang dan lebih intens dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Petugas gabungan dari BPBD Kota Palangkaraya dan Manggala Agni juga relawan pemadam kebakaran menyiapkan selang untuk melakukan pendinginan lahan gambut bekas terbakar, di Jalan Danau Rangas, Kota Palangkaraya, Kalteng, Selasa (06/10/2020). Hari itu terdapat 22 kejadian kebakaran di 14 kabupaten/kota di Kalteng.

Koordinator Nasional Pantau Gambut Iola Abas mengatakan, El Nino bukan penyebab utama kebakaran lahan. Api muncul ketika lahan gambut telah kehilangan cadangan air akibat kerusakan gambut. Kerusakan terjadi karena banyak faktor, seperti membuat drainase, pembukaan kanal, dan perubahan tutupan lahan.

Menurut Iola, ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam situasi saat ini. Pertama adalah dengan melanjutkan restorasi gambut yang rusak. Upaya restorasi harus diiringi dengan evaluasi konsesi perizinan yang ada di dalam wilayah gambut.

”Harus dipastikan kawasan gambut yang pernah terbakar benar-benar pulih. Evaluasi dan penegakan hukum perlu dijalankan, terutama di wilayah konsesi yang berulang kali mengalami kebakaran. Tanpa itu, kebakaran jadi siklus berulang,” ungkap Iola.

Kedua, lanjut Iola, keberhasilan restorasi yang sudah dilakukan selama ini tidak boleh diukur dari terbangunnya infrastruktur seperti sekat kanal dan sumur bor. Infrastruktur bukan tujuan restorasi, melainkan salah satu instrumen untuk memulihkan dan menjaga gambut.

”Ukuran keberhasilan harus dilihat dari pulihnya fungsi hidrologis dan kondisi ekosistem gambut,” ungkapnya.

Sebaran titik panas di seluruh Indonesia pada Selasa (14/7/2026) terpantai satelit.

Laporan Studi Pantau Gambut, kata Iola, menemukan 70 persen sekat kanal terpantau dalam kondisi rusak. Sementara 52 persen lokasi intervensi masih memiliki muka air tanah di bawah ambang aman. Temuan Pantau Gambut juga menunjukkan pemulihan ekologis masih jauh dari optimal, karena 97–99 persen lahan terbakar tidak kembali menjadi hutan.

Lebih jauh lagi, dalam laporan Pantau Gambut menyebutkan, kawasan gambut yang pernah terbakar pada periode 2015–2019 hampir tidak kembali menjadi hutan. Hanya berkisar 1–3 persen yang mengalami regenerasi alami, sedangkan sebagian besar berubah menjadi semak belukar atau perkebunan monokultur.

Terakhir, ungkap Iola, perlindungan gambut tidak bisa dibebankan kepada masyarakat saja. Gambut bekerja dalam satu Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG), sehingga kerusakan di satu titik akan memengaruhi seluruh bentang ekosistem.

”Perlu ada otoritas yang mampu mengoordinasikan pengelolaan lintas kementerian, lintas kawasan, dan lintas batas administrasi. Masyarakat adalah bagian penting dari solusi. Namun, tanggung jawab utamanya tetap ada di negara,” kata Iola.

Quote

Menjaga gambut bukan hanya menjaga karbon, melainkan juga menjaga hujan.

Dikutip dari siaran pers, Menteri Lingkungan Hidup atau Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat mengungkapkan, pencegahan menjadi kunci utama dalam pengendalian kebakaran lahan. Ia meminta semua perusahaan pemegang izin memperkuat kesiapsiagaan dan memastikan langkah mitigasi dilakukan secara konsisten agar tidak ada lagi titik panas yang berkembang jadi kebakaran.

”Kita ingin memastikan bahwa di wilayah konsesi mereka tidak boleh ada kebakaran. Tidak boleh ada titik-titik api yang berpotensi menjadi kebakaran, dan mitigasi itu harus dilakukan dengan berbagai cara,” kata Jumhur.

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari Chaniago mengecek kesiapan drone pemadam api untuk operasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan usai "Apel Kesiapsiagaan Personil dan Peralatan Penanganan Karhutla Sumsel 2026 dan Reaktivasi Desk Karhutla Nasional 2026" di Palembang, Sumsel, Rabu (6/5/2026). Tren luas wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus menurun dalam 10 tahun terakhir. Namun, setiap daerah rawan karhutla tetap tidak boleh lengah. Sebab, tahun ini, kerawanan karhutla berpotensi meningkat karena akan terjadi El Nino yang bisa memicu kemarau lebih cepat, lebih panjang, dan lebih kering.

Jumhur menambahkan, salah satu strategi yang dilakukan pemerintah adalah memperkuat tata kelola air melalui pembangunan dan pemeliharaan sekat kanal. Sekat kanal berfungsi menjaga tinggi muka air tanah.

”Upaya pembasahan kembali (rewetting) menjadi langkah penting untuk mempertahankan ekosistem gambut tetap basah, tidak mudah terbakar, serta lebih tangguh menghadapi kondisi cuaca ekstrem,” ungkap Jumhur.

Dari data Kementerian Lingkungan Hidup, pada areal gambut seluas sekitar 4,15 juta ha yang dikelola oleh 314 perusahaan telah terbangun sebanyak 34.989 unit sekat kanal. Sementara itu, di kawasan masyarakat, kawasan hutan, dan wilayah penyangga telah dibangun 8.857 unit sekat kanal, dengan kebutuhan tambahan sekitar 17.394 unit untuk memperkuat fungsi hidrologi gambut secara menyeluruh.

”Perusahaan juga kami minta ikut bertanggung jawab bersama masyarakat dan pemerintah daerah untuk melakukan pembasahan kembali lahan gambut di sekitar wilayah konsesinya,” ungkap Jumhur.


Kerabat Kerja

Penulis:

Dionisius Reynaldo Triwibowo
 | 

Editor:

Siwi Yunita Cahyaningrum
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto